Senior Cantik Incaranku

Senior Cantik Incaranku
Misteri dalam diri


__ADS_3

Pov. Danu Narendra


Aku dan Ayuna terkejut ketika Pak Robert meminta kami untuk ikut dengannya ke Bogor besok. Ini semua gara-gara manager yang secara sembarangan mengirim laporan kepada Pak Robert. Aku penasaran terhadap manager yang bahkan tidak bisa membuat laporan. Siapa sebenarnya yang mengangkatnya menjadi seorang manager? Aku tidak habis fikir.


Pagi ini, kami bertiga akan berangkat dinas ke luar kota. Entah apa maksud Pak Robert menyertakanku juga untuk ikut di perjalanan bisnis ini. Aku mengikuti perintah Boss saja. Karena karyawan biasa sepertiku ini hanyalah seorang bawahan bak remahan rengginang di dalam toples biskuit.


Aku dan Ayuna sudah mempersiapkan barang-barang bawaan kami dan memasukkannya ke dalam mobilku. Menurut keterangan, kami akan pergi berempat. Satria akan ada satu mobil dengan Pak Robert, sementara aku akan bersama Ayuna dengan membawa mobilku sendiri.


Sebenarnya Pak Robert sudah mempersiapkan mobil lain, beserta sopirnya. Namun aku lebih nyaman membawa mobil milikku sendiri.


"Yuna!"


Satria sedikit berlari menghampiri aku dan Ayuna yang sudah siap menunggu Pak Robert di depan mobilku.


"Kenapa, Sat?"


Ayuna menatap Satria penuh keheranan. Begitu pula dengan diriku. Sepertinya ada hal yang menghambat perjalanan kami.


"Yuna, Pak Robert nggak bisa ikut. Jadi, dia minta kalian berdua aja yang berangkat ke Bogor."


"What???"


Ekspresi Ayuna dapat terlihat jelas. Dengan menaikkan kedua alisnya, seakan ia tak terima jika hanya pergi berdua denganku.


"Kenapa? Apa ada masalah dengan Pak Robert?"


Aku pun memberanikan diri bertanya kepada Satria yang sejak kemarin hanya mendiamkanku. Seperti ada kesalahan yang telah aku perbuat padanya.


"Neneknya masuk rumah sakit." jawabnya ketus.


"Haduh, masa aku pergi berdua doang sama Danu? Apa nggak ada orang lain yang bisa gantiin Pak Robert? Misalnya kamu, Sat?"


Penuturan Ayuna jelas sekali. Dia memang tak ingin pergi berdua denganku. Tapi aku bisa apa? Aku hanya diam, biarlah dia yang memutuskan semuanya. Jika tidak jadi berangkat pun, tak masalah bagiku. Toh, aku ikut dalam perjalanan bisnis ini karena permintaan Pak Robert.


"Nggak bisa, Yuna. Aku ditugasin buat handle kantor dan klien!"


Satria dan Ayuna seperti sedang terbebani dengan masalah ini. Sementara aku hanya santai, mengikuti alur saja.


"CK! Terus gimana ini, Sat? Apa nggak bisa di tunda?" Ayuna sedikit terlihat kesal.

__ADS_1


"Nggak bisa, pokoknya kalian harus berangkat hari ini juga. Pak Robert ngandelin kamu, Yuna,"


"Kalo cuma pergi berdua, aku ..."


"Kenapa emangnya kalo cuma berdua dengan aku? Apa aku terlihat nggak bisa dipercaya, Yuna?"


Sedikit nyeri dihati aku ketika mendengar setiap penuturan Yuna yang memberatkan hatinya jika pergi berdua denganku. Seakan tampangku ini jahat. Sehingga Yuna tidak memiliki kepercayaan terhadap diriku.


Padahal, aku bisa jaga dia. Aku jamin, dia tidak akan lecet sedikitpun jika pergi denganku. Apalagi ini adalah perjalanan bisnis. Bukan sebuah liburan yang mengharuskan kami untuk bersenang-senang.


"Danu, jaga bicara kamu!!"


Aku bicara dengan Ayuna. Tetapi di sini Satria yang seakan tidak bisa terima. Entah Pak Robert, Satria, mereka berdua sama-sama membuatku curiga.


"Kalo bukan keinginan Pak Robert, aku juga nggak akan rela kamu pergi berdua dengan Ayuna!"


Satria terlihat semakin panas. Jadi benar dugaanku. Sepertinya dia memiliki dendam terselubung denganku. Aku mencoba mengingat -ingat kembali, rasanya tidak memiliki kesalahan yang mengganggu dirinya. Tetapi mengapa dia bersikap seperti ini terhadapku? Padahal awal pertemuan kami, dia terlihat wellcome dengan semua orang.


"Kenapa, Pak Satria nggak rela? Apa karena Pak Satria suka sama Ayuna???"


Aku membalas tatapan Satria yang penuh dengan amarah dan dendam. Sementara Ayuna hanya bisa bungkam sembari menatap aku dan Satria secara bergantian.


"Danu, Satria, nggak perlu ribut!"


Ayuna tidak banyak bicara lagi, ia pun masuk ke dalam mobilku. Aku pun hendak menyusul Ayuna. Namun tanganku di tarik oleh Satria.


"Kalo kamu berani macem-macem sama Yuna, aku habisin kamu!!"


Ancaman yang tidak masuk akal. Berani sekali sekretaris Bossku ini. Aku hanya diam, tak mengindahkan ancamannya. Karena aku tidak ingin meladeni ucapannya. Aku lebih memilih menuju ke dalam mobil dan segera berangkat bersama Ayuna.


Aku menyalakan mesin mobil, tak lupa ku tekan klakson sebagai tanda masih menghargai Satria yang menyaksikan kepergian kami berdua. Namun hatiku sungguh masih mengganjal, mungkinkah benar dugaanku jika Satria menyukai Ayuna?? Mana mungkin, melihat tampangnya saja dia tidak pantas bersanding dengan Ayuna. Sungguh, perkara ini membuat hatiku semakin kesal.


Hampir setengah perjalanan, aku mau pun Yuna tidak berbicara sepatah kata pun. Aku hanya fokus menyetir mobil hingga tiba ke kota Bogor. Di mana kantor cabang yang pernah aku tempati berada. Bahkan, jalannya pun aku masih sangat hafal. Karena hampir setiap minggu aku pulang ke Jakarta untuk menemui orangtuaku.


"Rest area, Danu,"


Kudengar Yuna akhirnya berbicara. Hingga aku pun menuruti keinginannya untuk memasuki kawasan rest area dan memarkirkan mobilku di dekat toilet. Aku yakin, Ayuna ingin ke toilet.


Setelah mematikan mesin mobil, aku melihat Ayuna mengeluarkan satu bungkusan kecil yang aku tahu apa itu. Sempat kulihat ekspresi wajah Ayuna yang seperti sedang merasa kesakitan. Yuna pun keluar dari mobil dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


Aku tahu apa yang Ayuna alami, aku melihat sekitar dan menuju ke minimarket. Aku membeli sebungkus rok*k dan sebotol jamu yang bisa meredakan nyeri saat wanita datang bulan.


Entah benar atau tidak perkiraanku ini, tetapi aku sudah sering membelikan jamu pereda nyeri ini kepada Fathin saat ia mengalami sakit yang luar biasa saat sedang datang bulan.


Karena aku dapat melihat jika Ayuna tadi mengambil bungkusan kecil, jadi aku sangat yakin jika saat ini ia juga sedang nyeri akibat datang bulan.


Sembari menunggu Ayuna, aku membakar sebatang rok*k. Sebenarnya aku bukan perokok aktif, aku hanya menghisapnya ketika dirasa sedang membutuhkannya. Apalagi, di saat seperti ini. Saat banyaknya fikiran yang mengusikku.


"Kamu ngerok*k?"


Ayuna tiba-tiba sudah datang dan menatapku seolah semakin benci.


"He'eum," aku hanya menjawab seadanya. Tanpa ingin memperpanjang pembicaraan kami.


Dapat terdengar helaan nafas panjang Ayuna. Hingga ia pun masuk terlebih dahulu ke dalam mobil. Aku yang belum sempat menghabiskan hisapanku, segera mematikan puntung rok*k itu dan menyusul Ayuna ke dalam mobil.


Kunyalakan mesin mobil, namun mataku juga melirik ke arah Yuna yang terus mengusap bagian pinggulnya.


Aku merasa kasihan, sepertinya wanita di sebelahku ini memang malang dan kurang beruntung. Kenapa dia terus saja merasakan sakit? Aku sungguh tak tega melihatnya. Aku pun memutuskan menyerahkan satu kantung plastik berisi jamu dan juga permen yang sempat ku beli tadi di mini market.


"Ini,"


"Apa?"


"Minum, biar reda nyerinya,"


Aku langsung fokus nenyetir ketika Ayuna sudah menerima bungkusan plastik dariku. Lama sekali ia menatap jamu yang ada di dalam plastik itu, mungkinkah dia akan menolak pemberianku kali ini?


"Makasih,"


Tidak ku duga, Ayuna menerima jamu pereda nyeri itu. Dan mencoba memutar tutup botol. Namun, lagi-lagi hal ini terulang. Ayuna benar-benar tidak punya tenaga untuk membuka tutup botol itu.


Aku menepikan mobilku di bahu jalan tol, aku merebut botol yang Yuna pegang dan memutar tutupnya hingga berbunyi 'krek'.


"Makasih, Danu,"


Ucapan terimakasih itu terdengar kaku di telingaku. Sepertinya Yuna sangat berat mengucapkan hal itu.. Aku hanya menanggapinya dengan mengangguk pelan dengan mata yang hanya fokus pada jalan. Jujur, aku memang masih kesal terhadap Yuna semenjak berdebat dengan Satria tadi.


Perasaan kesal macam apa ini? Kenapa aku bersikap seperti ini? Yuna, apakah kamu tahu? Karena kamu aku tidak bisa memecahkan misteri dalam diriku sendiri.

__ADS_1


__ADS_2