Senior Cantik Incaranku

Senior Cantik Incaranku
Bukan gebetan Boss


__ADS_3

Pov. Danu Narendra.


"Ngelamun aja," sapa Mba Hana yang menemuiku di gazebo taman samping rumah.


"Mba, kapan nyampe?" Tanyaku berbasa-basi.


"Baru aja. Kamu nginep, Dek?" 


"Mba, berenti manggil aku Dak Dek Dak Dek! Aku dah dewasa, Mba." 


Mba Hana hanya nyengir, "bagi seorang kakak, adik laki-laki itu akan tetap jadi adik kecilnya. Meskipun sudah segede ini!!" 


"Sakit, Mba!" Aku mengaduh saat Mba Hana menjewer telingaku dengan gemas. Hingga kuusap telinga ini berulang kali karena terasa sedikit panas. 


"Kenapa sih, Dek? Kok kelihatannya galon?"  Garut Mba Hana.


"Galau!" Ucapku membenarkan perkataannya.


"Nah, itu dia," Mba Hana terkikik menatapku. Membenarkan posisinya, kemudian duduk pada kursi di sebelahku.


Aku hanya tersenyum miring, mengetahui kelakuan Mba Hana. kemudian mataku menatap kearah bunga tanaman Mama yang kini mulai bermekaran. "Nggak apa-apa, Mba."


"Pasti gara-gara cewek!" Tebak Mba Hana. "Iya, 'kan?"


"Ck!" Aku berdecak. 


"Enggak, lah!" Jawabku mengelak.


"Yang bener??" Tanya Mba Hana dengan menatap mataku lebih dekat.


"Bener, lah!" Aku masih mengelak. Kemudian membuang pandangan kearah lain.


"Kalau mau bohong, kamu salah orang, Dek!" Ucap Mba Hana dengan senyuman mengejek. 


Aku hanya mengganggukkan kepala perlahan. Benar kata Mba Hana. Jika aku berbohong pada orang yang salah. Karena dia bisa membaca ekspresi, bahkan mungkin fikiranku yang sedang kacau ini. 


"Masih ngincer gebetan Boss, Dek?" 


"Apaan sih, Mba."


Aku merasa tak terima jika Mba Hana melebeli Ayuna sebagai gebetan Pak Robert, "dia bukan gebetannya!"


"Ciye, marah? Cemburu ya??" Olok Mba Hana. 


Aku hanya mengerlingkan mata malas. Jika sudah berhadapan dengan Mba Hana, semua yang tertutup rapat pasti akan terbuka lebar.


"Oke, oke. Kita bahas Fathin aja, gimana?" Tanya Mba Hana lagi.


"Aku udahan sama Fathin," jawabku to the point.


"Lah, iya pantes. Orang cantikan Ayuna kemana-mana!" Mba Hana terkikik. Anehnya, aku pun ikut tersenyum karena ucapan Mba Hana memang ada benarnya. 


"Kok bisa udahan, kenapa??" Tanya Mba Hana, kali ini lebih serius. 


"Mungkin nggak jodoh, Mba." Jawabku malas. Apalagi jika mengingat penghianatan yang Fathin lakukan di depan mata kepalaku sendiri. Belum lagi disaksikan oleh Ayuna. Aku merasa sangat malu.


"Em, gitu?" Mba Hana bergumam.


"Bukan karena Ayuna??" Tanyanya lagi. 


"Nggak ada hubungannya dengan Yuna, Mba." 

__ADS_1


Aku baru sadar, selama ini tidak pernah memberitahu nama Ayuna pada Mba Hana. "Mba tahu darimana kalau namanya, Ayuna?"


"Mba tahu namanya, bahkan Mba juga tahu hal lain tentangnya." Jawab Mba Hana dengan senyuman lagi.


"Kalau kamu, udah tahu apa aja tentang Ayuna, Dek?" Mba Hana memberiku pertanyaan yang sedikit membuatku sulit berfikir.


"Aku tahu dia pekerja keras, pantang menyerah, kuat, keras kepala, pendiam, cuek, dan ...."


"Kamu cuma tahu kepribadian dan karakternya aja, Dek?" Potong Mba Hana.


"Maksud, Mba??" Aku menatapnya melongo.


Tak banyak hal yang ku kettahui tentang Yuna, tetapi aku merasa cemas saat Mba Hana mengajukan pertanyaan seperti itu. Apalagi jika Mba Hana tahu kalau aku sudah ....


"Hayo, mikirin apa??" Mba Hana mengejutkan lamunanku.


"E-enggak Mba!" Jawabku kaku, sembari menggelengkan kepala.


"Dek, kamu mungkin udah ngenalin karakternya. Tapi kamu juga harus tahu seluk-beluk atau latar belakangnya,"  


"Latar belakang?" Aku menatap kearah Mba Hana dengan wajah yang lebih melongo dari sebelumnya.


Mba Hana mengangguk, "latar belakang itu penting. Nggak bermaksud buat ngukur silsilah keluarga atau bobot bebetnya, ya?" Ucap Mba Hana membuat pembenaran.


"Seenggaknya kamu tahu dulu, apa sih yang membuat Ayuna bersikap keras kepala, pendiam, cuek dan ..." Mba Hana mengangkat kedua alisnya, mengharapkan aku bisa melanjutkan perkataannya.


"Banyak lagi!" Lanjutnya. Setelah sepersekian detik aku tak mengatakan apapun. 


Benar ucapan Mba Hana. Aku perlu tahu latar belakang Ayuna. Mungkin banyak hal berat yang membebani Yuna hingga ia terlihat menderita. 


"Kamu beneran nggak tahu latar belakang dia sebelumnya, Dek?" 


Aku menggeleng. Aku memang tak tahu apapun tentang Ayuna. Yang aku yakini sampai saat ini, Ayuna adalah wanita incaranku di masalalu. Jika memang benar wanita itu adalah Ayuna. Maka aku tidak akan melepaskannya lagi. Namun jika bukan, maka aku akan memikirkan bagaimana nanti.


"Asik banget ngobrolnya," sapa Mama yang baru saja tiba membawa dua gelas jus jeruk ditangannya.


"Minum dulu," Mama menyuguhkan minuman segar itu untuk kami berdua. 


"Makasih, Ma. Terbaik pokoknya," pujiku.


Sementara Mba Hana hanya tersenyum menatapku.


"Malem ini, nginep di sini lagi. Biar Mama buatin wedang jahe," tawar Mama. 


Namun aku hanya diam, tak memberi jawaban. Karena malam ini aku punya rencana yang lain. 


"Ma, Hana nggak bisa nginep," tolak Mba Hana. 


"Mama nggak nyuruh kamu, Mama mau Danu yang nginep!" Timpal Mama dengan nada juteknya.


Mba Hana terkikik, "Hana ngabisin berasnya Mama, ya??" Ledeknya.


"Bukan cuma beras, bahkan air galon pun habis sama kamu," 


Aku hanya menggeleng, melihat Mama dan Mba Hana yang tidak pernah berubah dalam  menyampaikan rasa sayang satu sama lain. Meski berupa sebuah candaan, hal itu malah semakin mempererat tali kasih dan sayang diantara kami.


"Ma, semalem kan Danu udah nginep," ucapku berhati-hati. Mencari celah agar Mama mengizinkanku untuk pergi. 


"Sekarang Danu ada urusan, jadi ..."


"Ya, ya." Mama memotong perkataanku sembari bibirnya kian mengerucut.

__ADS_1


"Ma, minggu depan Danu bakal nginep lagi," rayuku. Berharap hati Mama tidak sedih.


Drtttttt..... Drttt.....


Ponsel Mba Hana bergetar. 


"Hallo, selamat siang," sapanya.


Kemudian menoleh kearahku, menatapku sedikit lama, seprtinya ia sedang mendengarkan sang penelpon berbicara.


"Baiklah, aku ke kantor, sekarang!" 


Mba Hana bergegas, berpamitan dengan Mama untuk pergi ke kantornya sekarang. Sepetinya ada hal darurat.


"Dek, kamu nggak mau ikut?" Mba Hana menoleh kearahku. 


"Aku??"


Masih tak yakin dengan permintaan Mba Hana. Untuk apa aku ikut dengannya? Apakah telepon tadi ada hubungannya denganku?


Mba Hana menoleh ke arah Mama, kemudian tersenyum kepadaku "nanti Mba kabarin, oke?" Lanjutnya dengan mengedipkan sebelah mata.


Ada apa sebenarnya? Apa ada hal penting yang ingin Mba Hana katakan kepadaku? 


Setelah Mba Hana pergi, kali ini Mama yang harus aku ladeni. 


"Katanya mau kenalin Fathin, kapan??" 


Aku tertunduk lesu, ketika Mama sudah berharap seperti ini berarti Mama sangat menyukai Fathin. Ini semua salahku, yang selalu bercerita baik tentang Fathin kepada Mama. 


"Ntar ya, Ma. Tunggu waktunya," jawabku tak ingin melihat kekecewaan pada wajah Mama.


"Dari dulu nunggu waktu terus. Kamu udah dewasa, Danu. Harus lebih serius lagi ngejalanin hubungan. Apalagi wanita itu nggak mau kalo digantung-gantung tanpa kepastian!" 


Nasihat Mama dapat masuk dengan baik ditelinga dan merasuk kedalam hatiku. Tetapi, alasan apa yang harus aku katakan jika aku dan Fathin sudah mengakhiri hubungan kami. 


"Ma, Danu nggak ngegantung. Tapi ..." 


"Tapi apa?? Tanya Mama tak sabar.


"Tapi, ada sedikit kendala. Nanti, kalau waktunya udah tiba Danu ceritain." 


"Kenapa nggak sekarang aja? Kenapa nunggu nanti?" Mama masih tak sabar. 


"Sabar, ya Ma. Ada hal yang harus Danu lurusin!" Jawabku.


"Yah, sudah. Mama percaya sama kamu. Mama yakin kamu laki-laki yang bertanggung jawab!" Ucap Mama memberi dukungan padaku.


"Makasih, Ma," jawabku mengusap punggung tangannya dengan lembut.


...****************...


Hari ini setelah dari rumah Mama, aku langsung melajukan mobilku menuju ke suatu tempat. Tempat yang mungkin bisa membuatku sedikit melepaskan kepenatan setelah beberapa minggu ini sibuk dengan urusan pekerjaan. Belum lagi urusan hati. Hati yang tak menentu lagi rasanya.


Saat di jalan, belum juga sampai di tempat yang akan ku tuju. Ponselku berdering, nama kakak perempuanku satu-satunya itu muncul pada layar.


Mba Hana calling ....


"Iya, Mba," sapaku setelah memasang earphone ditelingaku.


"Danu, kamu di mana??" suara Mba Hana terdengar tak seperti biasanya. Bahkan terbilang panik. Ada apa dengannya?

__ADS_1


"Di jalan, Mba. Kenapa??" Tanyaku.


"Ke kantor Mba sekarang! Cepetan!"


__ADS_2