
Pov. Danu Narendra
[Dek, pulang kerja bisa langsung ke rumah? Ada hal penting yang mau Mba omongin. Penting PAKE banget!!!]
Aku langsung terburu-buru ketika mendapat pesan dari Mba Hana. Jika sudah begini, Mba Hana sudah di luar sifat jahilnya. Alias mode serius.
Kira-kira apa yang mau Mba Hana bahas? Sepenting itukah?
Yah, namanya saja kota sejuta umat. Dari Sabang sampai Merauke tinggal di kota padat ini. Jangan heran, di jam segini macet di mana-mana.
Setengah jam perjalanan, akhirnya aku tiba di kediaman Mba Hana dan Mas Pandu suaminya.
"Eh, Mas?" Aku menepuk pundak Mas Pandu dari belakang yang sedang asyik menonton televisi. "Mana, Mba?" Tanyaku sembari menaik-turunkan alis.
"Baru nyampe yang ditanyain Mba-mu mulu, sesekali Mas dong yang dicari!!" sungut Mas Pandu.
Aku terkikik, "ngapain aku nyariin Mas, kan udah ada di depan mata!"
"Dasar, adik kesayangan Hana Paramitha." Sungutnya lagi.
"Tuh, lagi bikin kue di dapur!" Lanjut Mas Pandu dengan memonyongkan bibirnya ke arah dapur.
Aku masih sedikit terkikik, kemudian langsung menuju ke dapur untuk menemui Mba Hana, "di lanjut lagi nontonnya, Mas!"
Mas Pandu hanya menggelengkan kepala, melihatku sudah berlari menuju dapur.
"Dor!!!!"
"Ayam, kadal, buaya buntung!!!!!" Mba Hana spontan langsung kaget. Menyebutkan beberapa nama hampir seluruh penghuni kebun binatang.
Aku tertawa lepas, senang sekali telah berhasil menjahilinya.
"Ish! Danuuuuu!!!!!!" Teriak Mba Hana yang langsung melemparku dengan centong sayur.
Untung aku bisa mengelak, jika tidak kepalaku mungkin akan bocor.
"Ngagetin!" Umpat Mba Hana.
"I'm so sorry, My sist," ucapku dengan penuh rayuan.
Mba Hana hanya meromet di dalam hati, menampilkan mulutnya yang komat-kamit. Pasti sedang merutukiku.
"Mba, mau ngomong apa tadi? Kenapa ..."
"Nggak nelpon aja??" Potong Mba Hana. Dengan mulut yang masih bersungut-sungut.
Aku kian terkikik melihat mulutnya itu, "persis, kayak bebek!" Timpalku.
"Kalau Mba kayak bebek, berarti kamu adiknya bebek?" Timpal Mba Hana tak mau kalah.
"Atau, kamu itu ...."
"Ini pada kenapa sih, kok ribut-ribut?" Mas Pandu datang dari arah luar. "Berisik tau nggak? Sampe Mas nggak fokus nonton sinetronnya!"
Aku hanya bisa menepuk dahi sendiri, "seorang pebisnis, kok sukanya nonton sinetron?"
"Eh, adek kesayangan!" Mas Pandu langsung memelototiku, "pebisnis juga manusia biasa, butuh referensi!" Umpatnya sedikit kesal.
"Apalagi kalau lihat mertua yang jahat-jahat," lanjutnya sembari bergidik.
__ADS_1
"Emang kenapa sama mertua yang jahat, Mas?" Tanyaku.
"Ya kasihan menantunya, untung aja Mas punya mertua baik pake banget!" Sahut Mas Pandu yang kini sedang memuji kedua orangtuaku.
"Nggak pernah ikut campur urusan aku, selalu ngasih bantuan tanpa di minta, cuma nggak tahan satu ..."
"Apa??" Tanyaku dan Mba Hana secara bersamaan.
"Anaknya pada agak miring-miring." Sambung Mas Pandu dengan satu jari telunjuk menyilang dikeningnya.
"Wwoooooooo!" Aku dan Mba Hana merasa tak terima hingga meneriaki Mas Pandu bersamaan.
"Tuh, kan? Miringnya kompak banget! Bentar lagi meslek!!!"
Mas Pandu langsung berhambur keluar setelah selesai mengganggu aku dan Mba Hana. Yah, seperti inilah ketika kami bertiga sudah berkumpul. Ada saja kejahilan-kejahilan yang berkepanjangan jika salah satu tak mengalah.
Meski usia pernikahan Mas Pandu dan Mba Hana sudah terbilang tiga tahun lamanya, namun mereka berdua belum dipercaya mendapat momongan dari sang pencipta.
Sebenarnya Mas Pandu adalah seorang duda, yang telah memiliki satu anak berusia sekitar lima tahun. Tetapi anaknya lebih memilih tinggal bersama mantan istrinya ketimbang Mas Pandu. Meskipun sesekali, Mas Pandu sering mengajak anaknya bertandang ke rumah.
"Mba, kembali ke topik awal!" Ucapku mengingatkan Mba Hana yang kini masih sibuk dengan oven.
Mba Hana terlihat enggan dan berat mengatakan ini, "dari mana mulainya, ya?? Mba bingung, Dek!"
Aku pun di ajak Mba Hana ke meja makan, "kita duduk aja yuk, mumpung kuenya lagi di oven,"
Setelah mendudukkan bokong pada kursi, Mba Hana menarik ulur nafasnya secara teratur.
"Mba, ada apa sih? Aku jadi was-was!" Ungkapku khawatir.
"Apa ini tentang Mama, Mba?" Tanyaku dengan perasaan takut.
Mba Hana menggeleng.
Mba Hana masih menggeleng.
"Atau, Mas Pandu??" Tebakku.
Namun Mba Hana masih menggelengkan kepalanya, dengan bola mata yang menatapku dalam-dalam.
Oh, dari tatapannya aku bisa mengerti, "A-yuna?" Tanyaku tertatih.
Mba Hana mengangguk kali ini.
Ya Tuhan, fakta apa lagi yang akan membuat jantungku ini runtuh?? Masih adakah hal tersembunyi lainnya tentang Ayuna?
"Dek," Mba Hana mencoba membuatku tenang terlebih dahulu.
Namun, aku malah semakin merasa tegang. Tidak siap mendengar fakta yang akan diungkapkan olehnya.
"Mba dapet kabar dari dokter yang kemaren Mba temuin di rumah sakit,"
"Apa, Mba? Apa dia bilang??" Aku langsung bertanya tak sabar.
Takut jika ini ada kaitannya dengan kesehatan Ayuna.
"Ternyata Ayuna baru aja kehilangan anaknya,"
"Mak-sud, Mba??" Aku belum mengerti.
__ADS_1
"Anaknya meninggal, kena DBD sebulan yang lalu," jelasnya.
"A-apa?" Aku langsung menyandarkan pundak pada sandaran kursi. Lemas rasanya mendengar fakta yang baru saja keluar dari mulut Mba Hana.
Ayuna sudah memiliki anak?
Danu, heyyy! Kemana saja kamu?
"Dan, parahnya lagi ..."
"Masih ada lagi, Mba??" Tanyaku.
Tak menyangka jika masih ada fakta lain yang akan Mba Hana katakan.
Mba Hana mengangguk perlahan, "parahnya lagi, suaminya tersandung kasus obat-obatan teralarang!"
"A-apa???"
Dari sini, aku semakin terkejut. Tidak menyangka jika ujian Ayuna seberat ini.
Oh, Tuhan.
Berikanlah ketabahan pada hati wanita itu.
"Ternyata Ayuna itu diceraikan suaminya, bukan menceraikan!" Lanjut Mba Hana.
Ayuna, ternyata sebesar ini ujianmu. Pantas saja waktu itu dia terlihat terpukul. Bahkan beberapa kali aku melihatnya menangis sesak.
"Kamu beneran nggak tahu masalah ini, Dek?"
Aku mengangguk, lebih baik jujur terhadap Mba Hana. Karena jika berbohong, aku berada pada orang yang salah.
"Aku nggak tahu apapun tentang Ayuna, Mba." Aku menunduk malu. Meratapi kebodo-hanku.
Bisa-bisanya aku tak mengetahui apapun tentang Ayuna. Tapi sudah berani menyukainya sedalam ini.
Mba Hana menggelengkan kepalanya heran ketika mengetahui jika aku tak tahu apapun, "ini penting buat kamu tahu, Dek."
"Dari beberapa fakta ini, kamu jadi tahu latar belakang dia, masalah apa yang menimpanya, sampai-sampai dia terlihat serapuh sekarang." Tutur Mba Hana.
"Mba aja yang ngelihatnya ngerasa iba banget," lanjutnya lagi.
Aku hanya diam. Tak bisa lagi mengeluarkan kata-kata. Mengetahui fakta sebesar ini yang Ayuna sembunyikan, membuatku semakin merasa bersalah.
Bersalah, karena tak bisa lebih memahaminya.
Bersalah, karena bebrapa hari ini malah menjauhinya. Padahal, dia butuh seseorang untuk lebih kuat lagi.
"Apa ada hal lainnya lagi, Mba?"
Aku ingin segera menuntaskan hal ini. Tak ingin melewati segala sesuatu yang menyangkut Ayuna.
"Sejauh ini cuma itu yang Mba tahu," jawab Mba Hana.
"Eum," aku mengangguk perlahan, sembari terus membungkam mulut ini dengan penuh rasa penyesalan.
"Dek, kamu beneran suka sama Ayuna? Apalagi, setelah tahu tentang fakta yang baru aja Mba ...."
"Mba, aku masih tetap, dan akan terus tetap menyukai Ayuna. Nggak peduli sama latar belakang dia apapun dan gimanapun!" Potongku tegas.
__ADS_1
Karena semakin aku tahu, semakin dalam rasa di hati ini untuk terus menjaga, melindungi dan membelanya.
You are everything, Ayuna.