Senior Cantik Incaranku

Senior Cantik Incaranku
Pembelaan Danu


__ADS_3

Pov. Danu Narendra


Sepertinya sang dewi pagi sedang tidak berpihak padaku. Dari jalan yang terlampau macet, hingga aku harus menaiki ojek online akibat ban mobilku yang yang bocor. Aku berusaha terburu-buru untuk tiba di kantor. Syukurlah, kali ini aku tepat waktu.


Ah, tetapi sialnya sepagi ini aku harus menyaksikan sebuah keakraban dua orang di sana. Bahkan keakraban itu terlihat mesra.


Aku buang dengan cepat nafas ini, kemudian menghirup oksigen baru. Agar sirkulasi oksigen di dalam tubuhku ini segera berganti. Tidak lagi menimbulkan sesak nafas.


Oke, akan kulewati pertunjukan di depan sana yang telah membuat hatiku kalang-kabut. Aku yakin bisa. Meski mataku ini tak bisa beralih sedikitpun memandanginya. Seorang Ayuna yang masih terlihat sama. Sama-sama cantik seperti pertama kali aku bertemu dengannya.


"Pagi, Danu," sapa Syifa yang ternyata sudah berada di dalam ruangan kerja kami.


"Pagi," ucapku membalas sapaan Syifa.


Tak selang lama, Ayuna pun masuk ke dalam. Kemudian duduk pada kursi kerjanya tepat disebelahku.


"Danu, ini buat kamu," Syifa memberikan sebuah kotak makanan di mejaku.


"Apa ini, Fa?" Tanyaku tak mengerti.


"Aku buatin bubur sum-sum," ucapnya dengan tertatih, "Kemaren kamu keliatan nggak sehat, jadi aku ..."


"So sweet!" Timpal Gita memotong ucapan Syifa yang masih menggantung.


"Danu doang yang dibuatin? Aku enggak???" Lanjut Gita lagi. Dengan nada bicara sedikit sewot.


Syifa hanya nyengir, menampilkan sederet gigi-gigi putihnya kehadapan Gita.


"Makasih ya, Fa," ucapku dengan tulus.


"Sikat Danu!!" Timpal Gita.


"Hah???" Aku dan Syifa secara bersamaan memasang wajah melongo, tak mengerti arah perkataan Gita kemana.


Namun di balik tampang kami yang melongo itu, Ayuna tiba-tiba keluar dari ruangan kerja. Membuatku tak bisa berhenti menatap punggungnya yang kini sudah menghilang dari balik gawang pintu.


"Danu, di makan, ya," Syifa menyadarkan lamunanku. "Mumpung masih anget!"


"Oh, i-iya," ucapku terbata.


Aku memilih untuk menyantap bubur sum-sum pemberian Syifa. Lumayan untuk mengisi perutku yang masih kosong ini. Karena kebetulan aku belum sarapan.


Semalaman otakku selalu bertempur dengan hati, tak ada yang mau mengalah bahkan hingga saat ini. Membuat tenagaku kian melemah akibat terlalu keras memikirkan wanita itu.


Ayuna Maharani. Wanita yang selalu mengusikku. Membuat otak dan hati ini terus berkelahi. Menimbulkan riuh dan ruwetnya diri, hingga merasakan nyeri sesakit ini.

__ADS_1


" Di mana Ayuna?" Tiba-tiba Pak Robert datang mencari Ayuna yang kami pun tak tahu di mana keberadaannya.


Matanya menelisik setiap sudut ruangan dengan tatapan tajam.


"Enggak tahu, Pak!" Ucap Gita ketus.


Sementara Syifa hanya menggeleng berulang kali. Sembari menatap ke arahku, seolah membutuhkan sebuah pertolongan.


"Ke Pantry, Pak!" Jawabku lugas, cepat dan pastinya berbohong.


Untuk apa aku melakukan ini? Apakah untuk melindungi Ayuna?


Pak Robert berjalan, mendekat ke arah mejaku, "kamu selalu tahu di mana Ayuna berada, Danu?"


"Iya, Pak. Kami duduk bersebelahan," ucapku sembari menunjuk ke arah meja kerja Ayuna.


"Heuh," Pak Robert tersenyum menyeringai, "oh. Apakah di luar juga kamu selalu duduk bersebelahan dengannya?" Ucapnya sedikit berbisik.


Aku merasa pertanyaan Pak Robert menjurus ke arah lain. Apakah ada hal lainnya yang ia ketahui antara aku dan Yuna?


Semoga saja tidak.


"Kalau Ayuna sudah kembali, minta dia segera ke ruangan saya!!"


Pak Robert pun pergi, setelah berhasil membuat seisi ruangan jadi kalang kabut dan menjadi takut.


Jangan sampai Ayuna memiliki masalah dengan Boss player itu. Jika sampai itu terjadi, aku tidak bisa membiarkannya.


"Danu, kok kamu tahu Ayuna ke Pantry? Bukannya tadi dia nggak ngomong sepatah kata pun?"


Gita kembali keppo. Aku bahkan malas menjawab pertanyaannya itu.


"Tadi bilang, cuma suaranya pelan," belaku.


Aku masih tetap ingin membelanya. Meski pembelaanku ini tak pernah dihargai.


"Gini, nih!" Gita sudah kembali menonjolkan sikap ketusnya.


"Sok kuat kayak besi! Pura-pura tegar, pura-pura damai. Akhirnya semua orang kena imbasnya!" Lanjutnya lagi merutuki Ayuna yang entah kemana rimbanya.


"Jangan berlebihan, Git. Ayuna kan cuma ke Pantry."


Ada sesuatu yang mengganjal pada hatiku ketika mendengar ucapan Gita barusan. Seolah jiwa ingin membelaku ini meronta-ronta. Andai saja Gita adalah lelaki. Misalnya, namanya diganti menjadi Gito. Pasti sudah kubungkam mulut nyinyirnya itu dengan kepalan tanganku.


Tanpa ampun!

__ADS_1


"Gita, aku udah kirim E-mail. Coba cek dulu, bener nggak?"


Syifa menyelamatkanku. Aku bangga padanya. Karena dia bukanlah tipe orang yang suka menyulut api saat sedang kemarau panjang. Dia mampu menghilangkan topik panas dengan mengalihkan pembahasan.


Wajar saja, aku dengar Syifa adalah wanita lulusan pesantren. Penampilan dengan hijabnya itu menambah adem mata siapa saja yang memandang.


Tapi, tidak denganku. Karena memandang Ayuna adalah hal yang tak bisa teralihkan. Satu-satunya hanyalah Ayuna.


"Arghhh!!" Gita menjadi semakin kesal.


"Gara-gara dia kerjaan aku jadi berantakan!" Lanjutnya lagi.


Hampir satu bulan, aku bekerja dengan mereka berdua. Aku jadi semakin paham watak dan karakter masing-masing.


"Eh, itu Mba Yuna," ucap Syifa yang kini melihat Ayuna sudah masuk. "Mba dari mana?" Tanya Syifa penasaran.


"Toilet," jawab Ayuna singkat. Dengan mata yang menatap heran Syifa.


"Kata Danu tadi ke pantry??" Tanya Syifa lagi.


"Oh," mata Ayuna pun mengarah padaku yang hanya bisa menggaruk tengkuk leher.


Satu detik, dua detik .......


"Iya, abis minum air anget, terus ke toilet sekalian," lanjutnya.


Tidak tahu itu sungguhan atau karena dia pun ingin menyelamatkanku atas kebohongan yang sudah kubuat.


"Oh, yaudah. Mba ditunggu Pak Robert," jelas Syifa.


"Sekarang???" Tanya Ayuna meyakinkan sekaligus menampakkan wajah khawatir.


"Taoooon depannnn!!!" Sahut Gita dengan nada yang menurutku kurang sopan. Sangat kasar.


"Taooon depan aja kesono!! Biar kita didamprat semua!!!" Lanjut Gita lagi kini dengan nada marah.


Ayuna tak menanggapi ucapan Gita. Ia pun memilih segera keluar ruangan. Mungkin hendak menuju ruangan Pak Robert.


"Gita, kamu masih marah sama Mba Ayuna?" Suara syifa terdengar sayup-sayup.


"Jangan gini dong, kita kan satu team?" lanjutnya.


"Satu team?? Team apaan? Tempeee!!!" Ucapan Gita makin kesini makin kesana. Semakin kasar tak lagi disaring.


"Kalau kita tempe! Di tumis aja, kalau nggak sekalian dibuat oreg, kayak di warteg-warteg!!!" Lanjutnya lagi dengan menelan tuts keyboard kuat-kuat.

__ADS_1


"Ya ampun," aku cuma bisa bergumam lirih. Merutuki sikap Gita yang menurutku sudah melampaui batas.


Tanpa bisa membela Ayuna lagi. Karena jika itu aku lakukan, mungkin saja Gita malah akan semakin membenci Ayuna.


__ADS_2