Senior Cantik Incaranku

Senior Cantik Incaranku
Hanya Ayuna


__ADS_3

Pov. Danu Narendra


"Kamu bisa pulang," pintaku pada Laras, setelah merasa keadaan aman karena Mama kini tak terlihat lagi.


"Hah???" Laras menampilkan wajah tak mengertinya.


"Danu, maksud kamu aku....."


"Aku minta kamu pulang, sekarang!!!"


Laras tersenyum getir. Menatapku dengan penuh kemarahan. Aku fikir dengan sikapku barusan ia akan segera pergi. Ternyata tak mudah untuk mengatasinya.


"Danu, bisa kita ngomong di dalem??"


Laras malah menawarkan pilihan lain kepadaku. Pilihan yang tidak mungkin aku ambil.


"Aku nggak pernah bawa masuk perempuan lain ke dalem rumahku," elakku. Padahal kenyataannya, aku pernah membawa wanita lain masuk dan hanya menjadi wanita satu-satunya yang kuizinkan untuk masuk.


Hanya Ayuna.


"Oke, kalau nggak mau ngobrol berdua di dalem kita bisa ke cafe di luar?"


Saran Laras tak menggoyahkanku. Aku malah semakin malas untuk berkompromi dengannya.


"Laras, dengerin aku," aku menatapnya dengan tajam. Agar ia bisa mengerti perkataanku kali ini.


"Aku bisa terima kedekatan antara keluarga kita," Aku membuang pandanganku, tak lagi menatapnya seperti semula.


"tapi, NGGAK untuk kedekatan kita berdua. Kamu paham 'kan???"


Sejak saat itu, wajah Laras kian memerah padam. Mungkin kekesalan di hatinya saat ini sudah tak bisa ditahan lagi.


Laras membalikkan tubuhnya, kemudian berlari menjauh dariku. Mungkinkah ia sudah merasakan sakit hati akibat ucapanku barusan?


Aku mungkin tak perlu mengejarnya. Biarlah ia merasakan sakit sejak awal. Daripada ia terus menaruh harapan kepada orang yang jelas tak akan pernah bisa membuka hati untuk wanita manapun.


Selain, Ayuna.


Hanya untuk Ayuna


Aku menarik nafas panjang, menghembuskannya dengan cepat. Merasa jika urusan dengan Laras sudah selesai.


Tetapi aku yakin, urusan dengan Mama dan Papa akan terus berlanjut. Itu akan menjadi PR-ku nanti. Saat ini yang harus aku fikirkan adalah, memperbaiki masalahku dengan Ayuna terlebih dahulu.


Aku menekan bell pintu unit miliknya. Dan, tak butuh waktu lama, pintu itu pun langsung terbuka.


Ayuna mencoba mendorong pintu, agar tertutup kembali. Namun, aku segera menahan dan menggagalkan uapayanya itu.


"Aku mau ngomong," ucapku tanpa basa-basi lagi.


Ayuna tak menjawab apapun. Matanya kini tak menatapku, meski sedetik saja. Ia terus membuang pandangannya. Hal ini sungguh menggangguku, aku tak menyukai sikapnya.


"Sebentar aja," lanjutku dengan sedikit memohon.


Karena Ayuna tak juga bicara, aku segera mendorong pintu dengan kuat hingga tubuh Ayuna yang berada di dalam pun ikut terdorong.


"Danu!!!"


Terlihat jelas jika Ayuna saat ini tak ingin berada di dekatku. Padahal jika mengingat semalam, keadaannya sangat berbanding terbalik.


"Maaf," aku langsung menutup pintu rapat. Kemudian melangkah mendekatinya.

__ADS_1


"Yuna, kita perlu ngomong," aku memilih duduk di sofa. Meski ia tak mempersilahkan.


"Yuna, tadi itu Mamaku,"


Ayuna masih tak berbicara, ia masih memilih untuk tetap berdiri.


Apakah mungkin Ayuna tak ingin membahas soal Mama? Haruskah aku membahas soal semalam?


"Apa kamu tidur nyenyak semalem?" Kuberanikan menoleh ke arahnya yang masih menutup kepalanya dengan hoodie yang ia pakai. Hingga wajahnya pun tak begitu terlihat jelas.


"Yuna, apa kamu udah nggak mau ngomong sama aku??"


Aku mulai kesal. Karena sejak tadi ia hanya bungkam tak bersuara. Yang ada, aku malah terkesan berbicara dengan patung.


Aku beranjak dari dudukku, dan berdiri tepat di hadapannya, membuka hoodie yang sejak tadi menutupi wajahnya dengan cepat.


Dapat aku lihat bagaimana terkejutnya ia ketika aku melihat jelas tampangnya saat ini.


Wajahnya yang seakan layu, mata sembab dan......


Bibirnya. Bibirnya kini bengkak, membuatnya terlihat semakin menggodaku.


"Ternyata kamu juga nggak bisa tidur semalem??" Selorohku. Terus memperhatikan setiap sudut wajahnya.


"Jangan sok tahu!" Ayuna kembali membenahi hoodienya.


"Kalau udah selesai, silahkan pulang!"


Ini adalah kesekian kalinya ia mengusirku.


Aku mengangkat tubuhnya ala bridalstyle, membuatnya memberontak dan memukul dadaku hingga beberapa kali.


"Danu!!!!!!"


Ayuna terus berteriak, namun aku tak mempedulikan teriakannya. Aku lebih memilih membawanya keluar, menuju unit Apartementku.


"Danu, turunin aku!!!!"


Aku hanya diam, dengan cepat membuka pintu dan masuk. Setelah itu menurunkan tubuh Ayuna.


"Danu, apa-apaan kamu??" Tanya Ayuna dengan nada marah.


"Kenapa bawa aku ke rumah kamu?" Tanyanya lagi.


Aku diam, tak menjawab pertanyaannya.


"Danu, jawab!!!!"


Aku menoleh kearahnya, "gimana? nggak enak 'kan kalau didiemin??"


Mata Ayuna membola, menatapku kesal kemudian membuang pandangannya ke arah lain.


"Itu yang aku rasain, Ayuna."


Aku berjalan mendekatinya, menatapnya dengan intens, "cuma, bedanya aku nggak mau ngusir kamu,"


Aku tersenyum, melihat gelagat dan ekspresi Ayuna saat ini. Ternyata aku tak bisa marah dengannya. Padahal, aku sudah berniat menghukumnya. Entah hukuman apa yang akan aku berikan.


I don't know.


"Kenapa kamu bawa aku ke sini??" Tanya Ayuna menantang.

__ADS_1


"Aku mau kasih hukuman......"


"Jangan ngawur kamu, Danu!!!!" Potongnya.


"Jangan bertindak sesuka kamu, Danu!" Lanjutnya lagi dengan nada semakin tinggi.


"Oke," aku mengangkat kedua tanganku, sebagai tanda menyerah. Aku hanya tidak tahan jika melihatnya terus-menerus marah.


"Aku cuma mau ngomong,"


"Kenapa nggak ngomong aja di rumah aku? Kenapa kamu malah bawa aku ke sini?"


Ayuna bertanya-tanya, bahkan gestur tubuhnya pun bisa menunjukkan jika saat ini ia menyimpan banyak tanya di otak atau pun hatinya.


"Ayuna, kalau aku di rumah kamu, yang ada kamu terus ngusir aku, iya 'kan??"


Ayuna mengerlingkan mata, menatapku malas kemudian membuang pandangannya jauh-jauh. Pertanda jika ia mengakui apa yang aku katakan adalah sebuah kebenaran.


"Sekarang, kamu tenangin diri dulu. Kalau udah tenang baru kita ngomong," pintaku dengan nada lembut.


"Aku mau pulang!!" Ayuna kini berjalan cepat. Rupanya ia sudah tak betah berada di dalam rumahku.


"Hey, mau kemana??" Aku menghadang jalannya, menutupi pintu dengan tubuhku agar ia tak kabur begitu saja.


"Minggir!!!" Pintanya dengan wajah kesal.


"Nggak!" Jawabku masih menghalangi jalannya.


"Minggir, atau aku teriak???"" Pintanya lagi memberi pilihan yang sama sekali tidak aku inginkan.


"Jangan ngasih aku pilihan kayak gini," jelasku.


"Aku nggak akan mau....."


"Kalau gitu aku teriak!" Ancamnya, memotong ucapanku.


"Ayuna," aku tak punya pilihan lain selain menenangkannya lebih dulu. Daripada ia berteriak, membuat semua penghuni apartemen ini akan salah sangka. Karena aku yakin jika teriakannya lumayan cukup keras.


Sekeras kepalanya.


"Tolonggg!!!!" Tetiaknya.


"Ayuna!!" Aku membolakan mata. Berharap ia tak melanjutkan berteriak.


"Toooo......"


Cup!


Aku tak memiliki cara yang lain agar ia bungkam, aku rasa hal ini justru menjadi penyelamat agar ia tak lagi berteriak.


Benar saja, ia pun langsung bungkam.


Dapat aku lihat dengan jelas, seperti apa wajahnya kali ini. Bukan tak mungkin jika saat ini ia pun merasakan desiran halus karena penyatuan bibir kami.


Beberapa detik, tak ada pergerakan yang menandakan sebuah perlawanan darinya. Hingga aku memilih untuk melakukannya lebih dalam lagi.


Perlahan kulepaskan tautan bibir ini, menatapnya dirinya yang masih mematung dengan dalam.


"Ayuna," aku mengangkat tubuhnya ala bridalstyle kembali. Namun kali ini dengan cara perlahan, tak memaksa seperti bagaimana tadi aku membawanya masuk ke dalam rumahku.


Aku angkat tubuhnya, membawa tubuh itu ke dalam kamarku, dan merebahkannya di atas ranjang dengan pelan. Anehnya, perlakuanku ini tak mendapatkan perlawanan sedikitpun.

__ADS_1


Aku membuka hoodie yang masih menutupi kepalanya, agar wajahnya bisa terlihat jelas oleh mataku yang sedang haus ini.


"Sangat cantik,"


__ADS_2