
Pov. Danu Narendra
Perjalanan panjang sudah kami tempuh. Aku dan Yuna akhirnya sampai. Aku menepikan mobilku di parkiran tepat depan kantor cabang berada. Ayuna yang sejak tadi sudah siap pun segera turun dari mobil membawa tas berisi beberapa berkas. Sementara aku membawa peralatan lainnya dan juga laptop yang kami butuhkan.
Banyak yang menyambut kedatangan kami, namun aku tidak melihat Pak Ruslan, atasanku waktu itu.
"Selamat datang, Pak Danu dan Bu Yuna," sapa seorang wanita berdandan menor, berpenampilan sedikit seksi. Sepertinya ada bagian yang perlu di sensor.
Yuna hanya menepiskan senyuman tipisnya. Sementara aku tak berekspresi sama sekali. Hanya wajah datar yang ku tunjukkan. Karena sejak tadi, tak ada satu orang pun yang ku kenal diantara empat orang yang menyambut kedatangan kami.
"Saya, Mitha, Manager baru di kantor ini,"
Oh, jadi wanita menor ini yang mengirim laporan berantakan kepada Pak Robert kemarin. Bahkan aku ingin tertawa jika mengingat hal itu. Penampilan dan kinerja yang tidak berbanding lurus.
"Di mana, Pak Ruslan?" Tanyaku pada Mitha.
"Pak Ruslan sudah resign, minggu lalu. Apa ada hal yang bisa saya bantu, Pak Danu?"
Ucapannya terdengar genit dan menggelikan telingaku. Wanita ini mungkin salah menempatkan diri. Bagiku, dia tidak pantas menjadi manager di perusahaan iklan. Menurutku, dia lebih pantas menjadi bintang iklan pakaian dewasa.
"Tidak perlu!"
Akhirnya kami pun tiba di meeting room. Di sana dapat aku lihat banyak sekali makanan. Seperti akan menyambut tamu besar saja. Pantas saja kerja mereka berantakan. Yang mereka fikirkan hanya penampilan dan makanan.
"Singkirkan ini semua! Di meja hanya boleh ada air mineral!" Perintah Ayuna yang tegas.
Dengan segera, orang-orang itu pun menyingkirkan banyaknya berbagai makanan di atas meja.
"Kita akan meeting, bukan piknik!"
Aku hanya bisa mengulum senyumanku mendengar ucapan Ayuna. Ucapan tegasnya ini bisa membuat seisi ruangan menjadi takut.
Setelah semua selesai, aku dan Yuna pun duduk. Memulai pembahasan di pertemuan ini.
"Hari ini saya, Ayuna dan Danu, rekan saya. Perwakilan dari kantor pusat, kami ditugaskan langsung oleh Pak Robert selaku pimpinan kita untuk melakukan training kepada semua orang di kantor ini."
"Training? Dalam hal apa kalau boleh tahu, Bu Ayuna?"
"Dari titik nol, sampai selesai, dalam hal kinerja kalian semua!"
Ayuna menjawab pertanyaan Mitha yang terlihat mengesalkan itu. Baguslah Ayuna bersikap sedikit keras, karena menurutku Mitha begitu mengesalkan.
"Bu, untuk apa? Kenapa kami harus menerima training ini?"
"Silahkan simak penjelasan saya, dari awal hingga akhir pertemuan! Karena setelah ini, akan ada tes tertulis!"
"Tes tertulis? Kami bekerja, bukan sekolah, Bu Ayuna!"
Ada seorang wanita lagi yang merasa tak terima akan penjelasan Ayuna.
"Bekerja? Tapi membuat laporan saja kalian tidak bisa?"
"Apa maksud, Bu Ayuna?"
Aku pun segera menampilkan slide yang menunjukkan hasil laporan mereka yang sudah terhubung dengan proyektor. Hingga semua itu terpampang jelas. Tulisan mereka yang masih begitu berantakan.
Semua orang terdiam setelah menyaksikan ini. Sepertinya mereka mulai sadar, jika mereka memang belum bisa bekerja.
"Tolong simak baik-baik, training ini kami lakukan demi kepentingan bersama. Demi perusahaan yang sudah mempekerjakan dan menggaji kita. Jika kinerja kalian seperti ini, bagaimana perusahaan ini akan bertahan?? Lalu bagaimana nasib kalian, apa kalian mau menjadi pengangguran?"
Semua orang kembali terdiam, wejangan yang Yuna katakan mungkin bisa membuat mereka tersadar kali ini. Aku tidak menyangka kantor cabang akan seberantakan ini. Kemana sebenarnya Pak Ruslan? Mengapa orang-orang di sini terlihat asing bagiku? Padahal, belum lama aku meninggalkan kantor ini.
__ADS_1
...****************...
Selesai melakukan training, aku dan Yuna menuju ke sebuah villa yang rupanya sudah di persiapkan oleh Pak Robert untuk penginapan kami. Villa Davidson, villa milik keluarga Davidson ini memang terkenal. Bahkan, aku yang sudah dua tahun tinggal di Bogor pun tak pernah masuk ke area villa yang begitu famous ini.
Sekarang, dengan gratis dan tanpa di pungut biaya aku bisa merasakan langsung fasilitasnya.
"Berapa hari kita akan di sini?" Tanyaku pada Yuna sembari menarik koper menuju ke kawasan villa.
"Tiga hari,"
Singkat sekali jawaban Yuna.
"Apa? Lama sekali, ya?"
"Pak Robert minta, kita perlu memberi pelatihan lebih dengan karyawan-karyawan baru itu."
"Melelahkan,"
"Sangat,"
Aku memberanikan diri menoleh ke arah Ayuna yang kini berdiri di sebelahku sembari menatap ke arah pintu di mana kami akan masuk.
Cantik, tetapi susah sekali di taklukan.
"Yuna, sebaiknya kamu segera istirahat," aku segera membuang jauh-jauh hayalanku barusan. Dan kembali berjalan menuju ke dalam villa.
Di sana, kami di sambut oleh dua orang pasutri paruh baya. Orang yang menjaga villa ini. Pak Kurdi dan istrinya, Bu Lasmi.
Mereka menunjukkan kamar kami masing-masing. Dan kamar kami pun tepat bersebelahan di lantai dua. Dengan pemandangan kolam renang. Wow, fasilitas orang kaya memang seperti ini. Beruntung aku bisa merasakannya.
Aku pun memutuskan untuk berenang menyegarkan diri dan meregangkan otot-ototku yang kaku setelah seminggu ini tidak berolahraga.
Byurrrrr!!!
Segar sekali rasanya, tubuhku yang kaku ini akhirnya bisa merasa rileks.
Sementara aku berenang, aku mendengar suara pintu kamar Yuna terbuka. Dia keluar dengan kaus putih polos serta celana hitam panjang berbahan katun. Hal itu menunjukkan penampilan sederhana nya yang membuatku semakin terpukau.
Apalagi, rambut panjang kecokelatannya yang digelung ke atas. Lehernya pun terlihat semakin jenjang. Dia menggerak-gerakkan kecil tangan dan kakinya. Sepertinya dia sedang melakukan peregangan.
"Yuna," panggilku.
"Astaga!!"
Ayuna terlihat terkejut, ternyata dia tak menyadari keberadaanku di kolam renang yang sejak tadi memperhatikannya.
"Kamu mau berenang?"
"Nggak!"
Ayuna menutup kedua mata dengan tangannya. Mungkin dia merasa malu karena melihatku bertelanjang dada. Ia pun menuju anak tangga dan turun ke lantai satu.
Ya ampun, Ayuna. Harus kuapakan dia? Aku hanya bisa tersenyum-senyum sendiri. Tingkahnya, tingkahku, semakin tidak jelas. Sebenarnya apa yang aku mau darinya?
Setelah selesai berenang, aku pun mengganti pakaianku dengan kaus putih polos dan celana jeans panjang. Aku turun mencari keberadaan Ayuna. Dan ternyata dia sedang meminum segelas susu hangat di meja makan.
"Yuna, mau ikut?"
"Astaghfirullah! Danu, bisa nggak sih jangan ngagetin terus!"
"Kaget ya? Maaf, makanya jangan ngelamun!"
__ADS_1
Ayuna tak memberikan jawaban atau reaksi apapun lagi. Dia hanya menatapku sebentar, kemudian membuang pandangannya ke arah lain.
"Yuna, ikut nggak?"
Aku kembali mengajak Yuna untuk keluar malam ini. Lumayan, setidaknya keliling kota bogor mencari udara malam yang segar.
"Mau kemana?"
"Ayok ikut, kamu belum pernah keliling Bogor 'kan?"
Aku langsung menarik paksa tangan Ayuna. Hingga tubuhnya yang lebih mungil dariku pun ikut bersamaku.
"Danu, mau kemana sih?"
"Udah, ikut aja,"
Aku membukakan pintu mobil, berharap Yuna akan masuk. Benar saja, dia pun masuk ke dalam mobil. Tanpa kata penolakan seperti biasanya.
Yess!!
Aku sangat senang. Entah perasaan macam apa ini? Yang jelas rasa kesal yang melanda hatiku sejak pagi tadi, kini perlahan pudar.
Aku menuju ke taman kota yang berada di pusat kota Bogor. Tempat di mana aku dan Fathin suka mencari berbagai macam wisata kuliner. Bahkan, ada bakso langganan kami di tempat ini.
Bersama Yuna, mengapa aku jadi ingat dengan kekasihku itu? Di mana dia sekarang? Mengapa pesan yang ku kirimkan tak pernah mendapat balasan?
Aku kembali fokus dengan Ayuna, menghilangkan fikiranku sejenak terhadap Fathin.
"Yuna, mau yang anget-anget?"
Yuna menoleh ke arahku, menatapku penuh tanya.
"Jangan macem-macem!" Ancam Yuna sembari mengarahkan kepalan tangannya kehadapanku.
"Wow! Slow, slow. Kamu fikir apa?" Aku hanya bisa mengulum senyumanku menerima perlakuannya yang terkesan galak.
Lagi-lagi hanya helaan nafas panjang yang dapat aku dengar. Ayuna memang susah diajak bicara. Dia lebih banyak diam, tak penting maka tak akan bicara. Mungkin sikapnya memang seperti itu sejak masih orok.
"Mau makan bakso? Di sini ada bakso yang enak!"
"Kok kamu tahu?"
"Ya, tentu. Aku 'kan, maksudku aku pernah tinggal di sini dua tahun,"
Hampir saja aku menceritakan kisahku bersama Fathin. Untung saja mulutku ini dapat di rem. Tetapi, jika aku menceritakan ini memangnya kenapa? Fathin itu kekasihku, hal itu tidak mungkin membuat Yuna marah.
Aku merasa tengah berselingkuh kali ini. Padahal jelas, aku dan Yuna tidak memiliki hubungan apapun. Hanya sebatas rekan kerja antara senior dan junior. Tetapi, mengapa rasa takut melanda hatiku saat ini?
Kami berjalan, menuju ke tempat tukang bakso langgananku. Dan tiba di tempat itu, mata ku langsung membola tertuju dengan seseorang di sana.
"Ini tempatnya?? Lumayan rame, pasti baksonya enak!"
Ayuna melajukan langkahnya, semakin mendekat ke arah tukang bakso. Sementara aku segera menyusul Yuna dan mencegahnya.
"Yuna, kita makan di tempat lain aja!"
Aku mencekal tangan Yuna dengan erat. Pandanganku tertuju ke arah tempat duduk yang sudah diisi oleh banyak orang. Bahkan, ada hal yang mengejutkanku. Di mana terdapat dua orang sedang menikmati bakso disertai aksi suap-suapan.
Tangan kanan mencekal Yuna, sementara tangan kiriku sudah mengepal dengan keras, ingin sekali melepaskan pukulanku terhadap pria di sana.
"Danu, kenapa??"
__ADS_1