
POV. Ayuna Maharani
Kebingungan yang tengah aku hadapi kali ini benar-benar membuat otakku buntu. Hingga akhirnya aku pun memutuskan mengalah. Mengalah bukan berarti kalah apalagi menyerah. Ini semua karena keadaan yang sedang tak berpihak kepadaku.
Baiklah, meski pun aku gigih untuk menjauhi Danu. Sekarang aku bersedia untuk pulang dengannya. Hal ini juga menjadi pertimbangan. Karena kami berdua sama-sama berangkat ke Bogor. Jika pulang tak bersama mungkin ada penilaian lain dari Pak Robert pada tim kerja kami.
"Baiklah, kita berangkat lima menit lagi!"
Karena ucapan persetujuanku. Danu tersenyum simpul. Aku bisa melihat bagaimana cara dia menatapku. Aku juga bisa menilai arti dari tatapan yang tidak biasa itu.
"Nah, kalo gitu jangan lupa oleh-oleh dari Ibuk dibawa, Ya."
Bu Lasmi menyodorkan dua kantung plastik besar yang isinya adalah oleh-oleh khas Bogor.
"Terimakasih, Bu,"
Entah ini kebetulan atau apa, ucapan terimakasih kami secara spontan langsung bersamaan.
Senyum simpul Bu Lasmi pun terpancar, "ciye, udah mulai kompak!"
Aku tak ingin memperpanjang situasi ini. Terlebih lagi Danu yang sejak tadi hanya terus mengulum senyumannya. Membuatku kesal, bahkan semakin kesal terhadapnya.
Apalagi jika mengingatnya telah melakukan perbuatan lancang kepadaku malam itu. Sungguh, aku merasa telah berdosa besar. Apalagi jika mengingat statusku yang belum resmi bercerai secara negara dari Mas Bagus. Meski aku telah di talak dan menandatangani surat cerai. Jika belum dilakukan sidang, aku merasa masih belum lega.
Setelah selesai berpamitan dengan Pak Kurdi dan Bu Lasmi. Aku dan Danu pun segera berangkat menuju ke Jakarta.
"Pas banget jam tujuh," ucap Danu sembari memutar setir mobilnya.
Tak ada yang bisa aku jawab, menurutku ucapan Danu hanya basa-basi semata. Dia selalu ingin mengajakku berbicara padahal sudah jelas jika aku telah membuat batasan untuknya.
"Aku puterin musik boleh nggak?"
Pertanyaan macam apa ini? Memangnya ini mobilku? Kenapa harus minta izin denganku?
"Aku cuma nggak mau kalo kamu ngerasa nggak nyaman aja. Makanya aku izin dulu,"
Hmm, apa dia bisa baca isi hatiku? Kenapa jawabannya pas sekali dengan apa yang baru saja aku rutuki dalam hati.
"Yuna, kalo kamu diem berarti tanda setuju!"
Ya ampun. Anak muda satu ini benar-benar membuatku muak. Apa dia tidak bisa diam sebentar? Kepalaku yang pusing pun jadi bertambah pusing tujuh keliling dibuatnya.
🎶
Matamu melemahkanku
Saat pertama kali kulihatmu
Dan jujur, ku tak pernah merasa
Ku tak pernah merasa begini
Matamu melemahkanku
Saat pertama kali kulihatmu
Dan jujur, ku tak pernah merasa
Ku tak pernah merasa begini
Oh, mungkin inikah cinta pandangan yang pertama?
Kar'na apa yang kurasa ini tak biasa
__ADS_1
Jika benar ini cinta, mulai dari mana? (Dari mana?)
Oh, dari mana?
Dari matamu, matamu, ku mulai jatuh cinta
Ku melihat-melihat ada bayangnya
Dari mata, kau buatku jatuh
Jatuh, terus jatuh ke hati (jatuh ke hati)
(Dari Mata, Jazz)
Danu pun ikut mengumandangkan lagu yang tengah mengalun. Jujur, suara Danu menurutku lumayan bagus dan tak memekikkan telinga. Sepertinya Danu juga begitu hafal dengan lirik lagu ini.
"Bagus ya suaraku?"
Aku hanya menyebikkan bibir. Pertanyaannya itu sangat tak bermutu. Namun aku mengakui jika suaranya memang bagus. Aku pun menganggukkan kepalaku pelan.
"Aku dulu pernah jadi anak band,"
Aku hanya mengerlingkan mata mendengarnya berbicara. Meski alunan musik masih bisa terdengar ditelinga, tetapi Danu juga terus berbicara.
"Kamu mau request lagu apa? Biar aku nyanyiin!"
Dih, emangnya aku anak kecil yang mau tidur terus dinyanyiin lagu segala. Aku tak mau mengeluarkan sepatah katapun untuk meladeni Danu. Karena semakin ditanggapi, Maka Danu semakin melaju.
Bahkan tak ditanggapi pun, Danu terus saja berbicara. Kenapa ada lelaki semacam dia? Apa dia tidak lelah?
"Kamu nggak capek diemin aku terus, Yuna?" Danu kembali bertanya. Seolah masih mengharapkan suaraku ini keluar.
Aku hanya menghembuskan nafas pelan. Kemudian memilih memejamkan mata meski sebenarnya aku belum mengantuk.
Tiba-tiba aku merasa mobil ini terhenti. Aku pun mencoba membuka mata. Dan kulihat Danu sudah berada diluar mengitari mobil hingga membuka pintu.
"Maaf, kursinya agak direndahin dikit biar kamunya nyaman, jadi nggak pegel." Jelasnya sembari tangan yang menekan sesuatu di samping kursi.
Aku sedikit terkejut, tanpa kata disertai mata yang membola ketika melihat Danu sudah membungkukkan tubuhnya kearahku. Ternyata dia hanya mengatur tinggi rendah kursi yang tengah aku duduki.
"Dah nyaman belum??" Tanya Danu memastikan.
Dengan cepat aku segera menganggukkan kepala. Merasakan ketegangan dalam diri ini yang entah mengapa tak tahu penyebabnya.
"Oke, kamu boleh tidur. Nggak perlu khawatir, aku janji nggak bakal macem-macem!" Danu menutup pintu dan kembali lagi mengitari mobil menuju ke tempat duduknya yang berada disebelah kanan.
Senyum mengembang saat dia menatapku sebentar, kemudian kembali melajukan mobilnya.
Tuhan, tolong jaga diriku. Aku hanya ingin menjaga diri ini dengan meminta perlindungan darimu. Aku pun segera memejamkan mata. Mendengarkan alunan lagu yang mengayun ditelingaku. Menghantarkan tidurku.
Entah berapa lama aku tertidur, sayup-sayup dapat kudengar alunan musik dan suara lembut Danu yang lemah lembut mengikuti irama. Suara yang membangunkan tidurku, tetapi tidak menggangguku.
🎶
Tertegun ku memandangmu
Saat kau tinggalkanku menangis
Bodohnya ku mangharapmu
Jelas sudah tak kau pedulikan cintaku
Mestinya telah kusadari
__ADS_1
Betapa perih cinta tanpa balasmu
Harusnya tak ku paksakan
Bila akhirnya kan melukaiku
Mungkin ku tak akan bisa jadikan dirimu kekasih
Yang seutuhnya mencintaiku
Namun kurelakan diri
Jika hanya setengah hati
Kau sejukkan jiwa ini
Ku hanya terus berharap
Satu hari kau mampu sadari
Tiada yang pernah mengerti
Sepertiku setulus hati mencintaimu
Mestinya telah kusadari
Betapa perih cinta tanpa balasmu
Harusnya tak ku paksakan
Bila akhirnya kan melukaiku ...
(Setengah hati, Ada Band)
"Loh, udah bangun?" Tanya Danu menatapku intens.
"Sampe mana?" Tanyaku ketika aku merasa mobil ini terhenti dan banyaknya suara klakson yang begitu mengilukan telinga.
"Baru aja keluar Tol, tapi kayaknya di depan ada kecelakaan. Jadi macet!" Jawab Danu menjelaskan perihal kecelakaan di depan.
"Kecelakaan?" Mataku pun mencoba terbuka lebih lebar. Menelisik dari jendela mobil. Tetapi ternyata tidak dapat kutemukan apapun.
"Udah tidur lagi aja. Nanti aku bangunin, kalo dah sampe."
Danu kembali memintaku untuk tidur. Tetapi karena sudah berada di Jakarta, aku pun memilih untuk bangun.
"Kamu muter lagu itu, lagi galau?"
"Galau berat gara-gara kamu!" Celetuk Danu.
"Gara-gara Fathin kali!" Aku merasa tak terima atas tuduhan Danu. Bukankah dia baru saja mengetahui kekasihnya berselingkuh? Mengapa harus aku yang menjadi penyebab kegalauannya.?
"Aku sama dia udahan. Aku kemaren abis nemuin Ibunya, jelasin soal hubungan aku sama Fathin yang sudah berakhir."
"Terus?" Tidak tahu darimana keberanianku ini. Padahal sejak tadi aku berpuasa berbicara dengan Danu. setelah bangun tidur, puasaku jadi batal.
"Terus aku pulang, mabok. Jadilah aku galau gara-gara abis berbuat lancang sama kamu," ucap Danu dengan suara beratnya.
"Dan, rasa bersalah itu terus menuhin diri aku. Sampe sekarang, Ayuna!"
Tidak adalagi suara yang memenuhi mobil kecuali alunan musik yang terdengar perlahan.
"Ayuna, I'am Sorry."
__ADS_1