Senior Cantik Incaranku

Senior Cantik Incaranku
Robert Davidson


__ADS_3

Pov. Ayuna Maharani


"Mba Yuna, kenapa?"


Begitu perhatiannya Syifa, sepagi ini dia sudah menanyakan keadaanku. Padahal, dia baru saja datang.


Aku menatapnya disertai senyum kecil, tanpa kata. Hanya gelengan kepala saja yang menjadi bahasa tubuhku, aku harap Syifa mengerti maksudku ini.


"Yuna, kamu sakit?? Istirahat aja sana, ngedrop tuh badan kalo dipaksain kerja mulu," sambung Gita.


Baik Syifa dan Gita, mereka sama-sama perhatian padaku. Sejak pertama kami saling mengenal, kami memang mengutamakan kepedulian satu sama lain.


"Aku nggak papa," jawabku perlahan.


Seperti biasa, aku menyalakan komputer dan mulai beraktivitas kembali. Aku meminta Gita dan Syifa kembali ke meja masing-masing dan tak perlu mengkhawatirkanku.


Berbeda dengan orang yang ada di sebelahku, Danu masih diam tak berkata apapun. Sejak kedatangannya pagi ini, hanya ponsel yang selalu ia mainkan. Sepertinya pagi ini ia nampak tak baik-baik saja. Ah, mungkin itu hanya perasaanku saja.


Aku tak pandai dalam menebak perasaan seorang pria. Tetapi jika ada satu kesalahan yang ia buat, maka seribu tahun pun aku akan mengingatnya.


Aku merasa kepala ini semakin berat, pandanganku menjadi tak fokus akibat rasa sakit yang melanda kepalaku sejak semalaman. Aku pun memutuskan menuju pantry kantor untuk mengambil air hangat. Mungkin dengan meminumnya, tubuhku akan membaik.


Setibanya di pantry, aku mengambil gelas kaca. Saat tubuhku berbalik menuju dispenser untuk mengambil air hangat, aku dikejutkan dengan keberadaan Danu.


"Astaga!!"


Jantungku rasanya ingin jatuh. Tubuhku pun rasanya ingin terhuyung ke lantai akibat kepalaku yang semakin berdenyut, serta pandangan yang mulai berkunang-kunang.


"Yuna,"


Danu menahan tubuhku dengan memegang kedua pundakku. Setelah itu ia menuntunku menuju kursi dan memintaku untuk duduk di sana.


"Tunggu di sini,"


Danu mengambil gelas kaca dari tanganku dan menuangkan air hangat kedalamnya.


"Ini," Danu menyerahkan segelas air hangat itu padaku.


"Makasih," ucapku lemah.


Ingin segera ku minum air hangat itu, namun Danu masih memegangi gelas, padahal aku sudah memegangnya kuat. Mungkin Danu berniat untuk membantuku. Tetapi, rasanya tak etis jika seorang lelaki membantu wanita yang sudah bersuami sepertiku.


"Kamu nggak ap-apa 'kan?"


Pertanyaan Danu serta tatapannya menunjukkan sebuah kekhawatiran. Yang hanya membuat aku semakin merasa dikasihani. Aku tak menyukai itu.


"Aku nggak apa-apa,"


Aku menarik gelas dari tangan Danu, berharap dia akan mengerti jika aku mampu memegang gelas itu sendiri tanpa bantuan dari tangannya.


"Aku anter kamu ke klinik, ya,"


Lagi-lagi Danu menawarkan bantuan kepadaku. Kemarin dia sudah banyak membantuku, dan sekarang dia ingin membantuku lagi.


Selemah inikah aku di mata orang lain? Sehingga banyak sekali yang ingin mereka lakukan untuk membantuku. Sungguh, bukannya aku sombong. Tetapi aku tak ingin jika orang-orang mengasihaniku, aku tak menyukai hal seperti ini.


"Danu, kamu balik aja ke ruangan. Aku bisa ke klinik sendiri," tolakku.


"Emangnya kamu kuat jalan?"


"Aku bisa sendiri, Danu. Makasih dah bantuin,"


Sebenarnya aku tidak ingin seramah ini dengan Danu, juniorku. Tetapi aku harus mengucapkan terima kasih kepadanya. Jika dia tak menolongku, mungkin aku sudah jatuh tersungkur. Bisa jadi kepalaku sudah benjol atau tanganku akan terkilir karena terjatuh di lantai.


Aku berjalan perlahan menuju ke klinik perusahaan. Ku tinggalkan Danu sendiri di pantry, karena aku tak ingin merepotkan dirinya lagi. Bukan hanya dirinya, aku memang tak ingin merepotkan orang lain. Karena jika aku masih sanggup mengerjakannya sendiri, aku tak ingin mengganggu atau melibatkan orang lain.


Selesai sudah kegiatanku di klinik, setelah melakukan pemeriksaan dan menebus obat, aku segera kembali ke ruang kerjaku.


"Yuna, kamu dari mana?" Tanya Satria yang saat ini berpapasan denganku.


Ternyata Satria sudah kembali dari Singapura. Bukan tidak mungkin jika pak Robert juga sudah kembali. Untung saja laporanku sudah selesai dikerjakan meski dengan bantuan Danu.


"Eum," aku tak banyak berkata. Hanya kutunjukkan saja kantung obat kearahnya.


"Kamu sakit? Aku anter pulang, yuk," tawar Satria.


"Nggak perlu, Sat," tolakku.


Aku dan Satria masuk ke dalam ruangan yang di dalamnya sudah ada ketiga rekan kerjaku.


"Mba, gimana? Apa kata dokter?" Tanya Syifa.


"Yuna, kamu sakit? Mendingan pulang aja deh," sambung Gita.


"Iya, Yuna. Jangan bandel, aku anterin," Satria kini bicara kembali.


"Ho'o, kamu sakit perusahaan nggak bakal peduli," ucap Gita lagi.


"Betul, aku anterin yuk. Mumpung aku lagi baik nih," ujar Satria lagi.


Ucapan mereka semua membuat aku semakin pusing. Aku hanya bisa memegangi kepalaku yang kini semakin terasa berdenyut.

__ADS_1


"Ck! Biarin Yuna istirahat dan minum obat dulu,"


Danu menuntunku menuju kursi kerjaku, memintaku untuk duduk. Satu persatu ia ambil pil di dalam kantung plastik dan membukanya.


"Ini, minum dulu obatnya,"


Semua orang di dalam ruangan menatap heran kearahku dan juga Danu. Aku pun heran dengan perlakuan Danu kali ini. Di depan semua orang dia berani menyentuhku dan membuat semua mata tertuju pada kami. Aku merasa tengah tertangkap basah, hingga semua orang memberikan tatapan aneh ke arah kami berdua.


"Yuk, yuk," Gita berbisik kepada Syifa agar kembali ke kursi kerja mereka masing-masing.


Sementara Satria, dia masih berdiri memandang kearah Danu dan aku secara bergantian.


"Yuna, minum dulu,"


Beberapa jenis pil sudah ada ditelapak tangan Danu. Air minum pun ia suguhkan untukku.


"Danu, aku bisa sendiri," ucapku dengan membolakan mata kearahnya. Aku mulai kesal dengan perlakuan Danu, apalagi tindakannya ini pasti akan membuat seisi ruangan salah paham.


Meja, kursi, komputer mungkin akan menilai jelek padaku, apalagi ketiga orang rekan kerjaku. Mereka pasti memiliki perasaan curiga. Harus ku apakan pria satu ini? Sungguh, perlakuannya sudah melewati batas.


Kudengar Danu hanya menghela nafas, ia pun meletakkan air mineral itu di meja kerjaku dan kembali ke tempat duduknya.


"Sejak kapan Danu ngomongnya santai gitu ke kamu, Yuna?" Tanya Satria penuh selidik.


"Sat, aku mau kerja. Bukan mau diselidikin gini," ucapku ketus.


Tak ingin memberi kesempatan lebih pada keingintahuan Staria, aku segera melanjutkan pekerjaanku setelah selesai meminum obat.


"Kita ngobrol nanti," ucap Satria kesal. Ia kemudian keluar dari ruangan kerja divisiku.


Dapat aku lihat jelas Satria terus menatap kearah Danu meski ia sedang berjalan. Tatapan yang menandakan jika dirinya begitu membenci Danu.


DUGH!


"Aduh!!!" Satria berteriak kesakitan akibat menabrak pintu.


Bukannya membantu, seisi ruangan malah menertawainya. Namun, tidak denganku. Aku lebih memilih menatap fokus layar komputer dan melanjutkan pekerjaan.


"Makanya, Mas. Kalo jalan pake mata!" Celetuk Syifa sembari terkikik kecil.


"Bukannya mata Satria sudah ada empat ya, Fa?" Gita pun ikut meledek Satria karena ia telah memakai kacamata.


"Syifa, Gita, poin kalian akan aku kurangi!!"


Sepertinya Satria marah, dan mengancam Gita juga Syifa. Ia pun segera keluar dari ruangan kami sembari mengusap-usap keningnya yang mungkin terasa sakit.


...****************...


Baiklah, aku akan datang ke sana. Sebelum itu aku meminta izin pada Satria, namun dia tidak berada di dalam ruangannya. Aku pun mencari Satria, ternyata dia sedang bersama Pak Robert.


Tok! Tok!


"Yuna?"


"Permisi, Pak, saya ..."


"Satria, kamu bisa kembali," perintah Robert pada Satria.


"Baik, Pak," pamit Satria.


Aku mencoba ikut dengan Satria, namun Pak Robert menghentikan langkahku.


"Yuna, bisa bicara sebentar?"


"Oh,"


Hanya itu tanggapanku, karena aku tidak berfikir jika Pak Robert akan memanggilku. Mudah-mudahan dia tak banyak bicara dan mempermudah urusanku.


Sedikit deg-degan, karena aku belum tahu apa yang akan Pak Robert bahas. Aku berharap hanya masalah pekerjaan saja. Karena, aku sudah menyelesaikan tugasku minggu ini.


"Silahkan duduk," Pak Robert mempersilahkanku untuk duduk. Aku pun duduk tepat berseberangan dengannya.


"Yuna, bagaimana kabarmu?"


"Baik, Pak," jawabku singkat.


Siapapun yang akan berhadapan dengannya, tak akan berani berkata banyak. Semua karyawan di sini hanya mampu berkata seadanya, dan paham betul bagaimana sikap Boss kami ini.


"Aku turut berduka cita, maaf baru bisa mengucapkannya," Pak Robert menyerahkan amplop putih di atas meja. Yang aku tidak tahu apa isinya.


"Apa ini, Pak?"


"Ambillah, maaf jika aku hanya bisa membantu ini,"


Entah apa isi dari amplop itu, tapi menurutku Pak Robert terlalu merendahkan dirinya. Banyak hal yang ia lakukan saat Dinda meninggal kemarin.


Biaya rumah sakit, Ambulance dan masih ada uang santunan yang ia berikan padaku. Meski melalui Satria, dan itu mengatasnamakan perusahaan. Bagiku, tetap Pak Robert lah yang membantuku banyak.


"Pak, anda sudah banyak membantu saya. Saya sangat berterimakasih," aku menggeser amplop putih itu, mengarahkannya kepada Pak Robert kembali.


Kulihat Pak Robert hanya mengerenyitkan keningnya. Dan jujurly, aku tidak tahu apa arti dari bahasa tubuhnya itu.

__ADS_1


"Pak, saya harus pergi," tidak ingin berlama-lama, aku pun pamit kepada Pak Robert.


"Apa kamu akan pergi ke kantor polisi?"


Sejak tadi aku tidak berani mengarahkan mataku ke arah wajah Pak Robert. Namun, pertanyaannya ini membuatku mengangkat kepala dan menatapnya.


Baru kali ini aku dapat melihat lebih lama wajah Bossku yang terkenal dingin dan player ini. Wajahnya memang tegas, tetapi bagiku terkesan menyebalkan.


"Heuh," Pak Robert tersenyum miring.


"Bisa saya pergi sekarang, Pak?" Aku bangun dari kursi, berharap dia akan mengizinkanku pergi.


"Untuk apa kamu pergi ke sana, kamu tahu dia bukan suami yang baik. Kamu hanya membuang-buang waktu, Ayuna,"


Deg!!


Apa maksud Pak Robert. Apa dia sudah mengetahui apa yang telah terjadi dengan Mas Bagus?


"Yuna, Yuna. Sayang sekali wanita cantik, cerdas, tangguh dan seksi seperti kamu berbaik hati pada lelaki semacam Bagus!"


"Apa maksud Bapak?"


Ucapan Pak Robert sangat menggangguku. Aku tidak menyukai perkataannya barusan. Meski saat ini aku masih kesal dengan suamiku, tetapi aku tidak akan pernah bisa menerima bila orang lain merendahkan atau menghinanya.


Jika dia bukan atasanku, mungkin aku sudah melemparnya dengan vas yang berisi bunga di atas meja ini.


"Biarkan saja dia di penjara, Yuna. Kamu bisa nikmati hidup bebasmu!"


"Pak Robert, anda memang atasan saya. Tapi anda tidak berhak mencampuri urusan pribadi saya!"


Aku menegaskan hal ini, karena aku tidak suka orang lain mencampuri urusan keluargaku. Apalagi ini menyangkut rumah tangga dan privasiku.


"Yuna, kamu terlalu baik, pantas saja jika lelaki itu ..."


"Apa Bapak yang telah melaporkan suami saya kepada polisi?"


"Ayuna, setiap yang bersalah, pasti akan mendapat hukumannya sendiri,"


Apa yang aku tanya, tidak dijawab oleh Pak Robert. Hingga aku pun kembali bertanya dengan penuh penekanan.


"Apakah PAK ROBERT yang sudah melaporkan Suami saya??"


"Kamu tahu itu,"


"A-apa??"


Aku sungguh tak menyangka, jika masuknya Mas Bagus di dalam penjara ada kaitannya dengan atasanku ini. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku, tidak terima memang. Namun mau bagaimana lagi, suamiku sudah masuk ke dalam penjara.


"Dia pantas di hukum, Yuna."


"Apa urusannya dengan Bapak?"


"Tidak ada. Tidak ada urusan apapun denganku, dia memang pantas mendapatkan hukuman,"


"Oh,"


Tidak ada tanggapan lain untuk Pak Robert. Karena aku sudah tidak tahu harus berkata apa lagi. Sekarang aku tahu siapa penyebab Mas Bagus masuk ke dalam penjara, tetapi kenapa harus seorang Robert Davidson?


Selama ini aku merasa tidak ada urusan dengannya, pekerjaanku pun baik selama lima tahun di perusahaannya. Sungguh, aku tidak menyangka jika dia mengusik kehidupanku.


Aku tidak sanggup lagi membendung air mata ini karena kesal dan sedikit malu. Kesal karena Pak Robert mencampuri urusanku, malu karena kini aib keluargaku diketahui orang lain.


"Yuna, jangan menangisinya,"


Segera ku seka air mata ini dari wajahku, setelah sadar Pak Robert terus memperhatikanku.


"Tolong, jangan urusi kehidupan pribadi saya, Pak, terimakasih,"


Aku memilih meninggalkan Pak Robert, namun saat tiba di depan pintu aku kembali mendengar Pak Robert mengeluarkan perkataan.


"Yuna, jika kau butuh bantuan, aku akan selalu siap!"


Mungkin aku akan di nilai sebagai karyawan yang kurang ajar, namun aku tak mengindahkan perkataan Bossku itu. Aku lebih baik pergi, karena sejak tadi ponselku terus berdering. Sekali kutengok, ternyata itu adalah telepon dari kantor polisi.


Aku menuju ke luar kantor, tetapi sepertinya aku masih harus dihadapkan dengan pria di lobby depan, dialah Danu.


"Yuna??"


Banyak sekali yang mengganggu fikiranku, berurusan dengan orang-orang ini membuatku merasa jemu. Bahkan mereka malah semakin menambah beban di otakku.


"Yuna, ada apa? Kenapa kamu menangis?" Danu semakin menatapku lebih dekat.


"Danu, banyak pekerjaan yang harus kamu selesaikan, bukan? Jangan membuang waktu hanya untuk mengurusi urusan orang lain,"


Aku kembali melajukan langkah kakiku, meninggalkan Danu. Namun, lagi-lagi langkahku terhenti akibat Danu yang mengejar dan menarik lenganku.


Berani sekali juniorku ini, aku segera menghempaskan tangannya dengan kuat.


"Ayuna!!!"


Aku berlari cepat, banyak sekali orang-orang yang kurang ajar kepadaku. Sungguh aku tak menyukai sentuhan tangan Danu barusan.

__ADS_1


"Ayuna! Tunggu!"


__ADS_2