
Pov. Danu Narendra
Karena batasan yang sudah Ayuna buat, kami berdua benar-benar seperti orang yang tak saling mengenal. Padahal kami adalah rekan kerja yang berada dalam satu divisi. Bukannya banyak berkomunikasi, kami malah terlihat seperti bermusuhan.
Bukan tak ingin berbicara dengannya, demi Tuhan mulutku ini sudah gatal ingin segera menyapanya. Tetapi hatiku harus bisa menahan, karena aku tak ingin jika Ayuna akan bertambah marah. Jika melihat wajahnya yang masam, sungguh sangat tak sedap di pandang mata. Bukan karena tak cantik, tapi karena ia malah terlihat menakutkan bagiku. Aku takut jika Ayuna akan semakin menjauh dariku.
Seperti ini saja aku merasa sudah beruntung. Aku masih diizinkan untuk tetap dekat dengannya. Ayuna pun memegang teguh batasan yang ia buat. Ia sama sekali tidak berbicara padaku selain tentang pekerjaan. Itu pun hanya beberapa patah kata saja. Jujur, aku kesal jika berada didekatnya tetapi tak bisa berbicara dengannya.
Setelah hari ini melakukan training dan pembelajaran untuk Mitha dan kawan-kawannya di kantor cabang, Aku dan Ayuna kembali pulang menuju Villa Davidson.
Canggung sekali, di dalam mobil aku tak berbicara dengannya. Meski pagi ini aku bisa menahan mulutku, tapi untuk siang ini aku tidak tahan lagi.
"Ayuna," panggilku lirih.
Sembari menyetir, aku melirik kearahnya sebentar. Kemudian kembali fokus pada laju mobilku.
Tak ada jawaban apapun dari Ayuna. Aku tidak habis fikir, ada wanita sedingin ini didekatku. Apakah lama-lama dia akan menjadi wanita Es? Ayuna, mulai sekarang haruskah aku menyebutmu sebagai wanita Es?
"Yuna, aku ingin bicara masalah pekerjaan."
"Apa?"
"Sampai kapan kita akan berada di Bogor?"
"Besok."
"Owh,"
Setelah itu, aku kehabisan kata-kata. Hatiku masih belum berani membahas masalah lain. Aku berharap batasan yang Ayuna buat ini takkan bertahan lama. Hingga aku dan dia tak perlu bersikap canggung seperti ini lagi.
Setelah memarkirkan mobil, Ayuna keluar begitu saja meninggalkanku. Rasanya aku tidak tahan akan sikapnya yang seperti ini. Aku bertambah kesal, aku memilih untuk tetap berada di dalam mobil.
Sejenak aku berfikir, ada hal lain yang harus kuurus. Aku memilih untuk tidak masuk ke dalam Villa. Aku kembali melajukan mobil menuju rumah Fathin untuk menyelesaikan masalah kami. Setidaknya aku ingin bersilaturahmi dengan orang tuanya sekaligus membicarakan masalah hubunganku dengan Fathin yang sudah berakhir.
Benarkah sudah berakhir? Ya. Aku bahkan tak memiliki niat sama sekali untuk memperbaikinya.
...****************...
Jam sebelas malam, aku memutuskan kembali menuju Villa Davidson. Sebenarnya aku ingin pulang lebih cepat setelah kembali dari rumah Fathin. Tetapi aku tidak ingin bertemu dengan Ayuna lebih awal. Aku tidak sanggup jika melihat wajah jutek dan sikap cueknya kepadaku. Jika aku pulang malam, mungkin dia sudah tertidur dan kami tidak akan bertemu. Ya, lebih baik aku menghindarinya dulu untuk saat ini.
Kepalaku sedikit terasa pusing, karena sempat mampir ke club malam milik temanku, Redo. Aku tidak bisa menolak tawaran Redo untuk minum sedikit. Meski sebenarnya aku sangat ingin menghabiskan satu atau bahkan dua botol.
Tetapi jika itu terjadi, aku mungkin akan terkapar dan mati. Aku tak ingin mati muda, aku harus bisa menahan diri. Hingga kuputuskan meminum satu gelas saja. Itu pun sudah membuatku pusing tujuh keliling. Untung saja aku bisa menyetir mobilku menuju ke Villa dengan selamat.
__ADS_1
Kuparkirkan mobil lebih dulu, kemudian aku menuju ke dalam Villa. Rasanya mengangkat kaki sendiri pun aku tak kuat. Aku berjalan seperti ingin terjatuh.
"Danu!"
Aku tidak bisa melihat dengan jelas wajah seseorang yang berdiri di depan pintu. Tetapi dengan mendengar suaranya, aku tahu jika itu adalah Ayuna.
"Eum,"
"Jam berapa ini, kenapa baru pulang?" Tanya Yuna. Seolah sedang memarahi suaminya.
Apa aku sedang berharap? Hey, bangun Danu! Jangan mimpi! Dekat dengannya saja banyak aturan dan batasan? Kamu jangan menghayal menjadi suaminya.
"Aku nggak tahu," ucapku sembari tersenyum.
"Dari mana kamu?" Tanyanya penuh selidik.
Tidak tahu apakah ini khayalan akibat aku sedikit mabuk, atau mungkin ini kenyataan. Entah kenapa Ayuna yang membuat batasnnya sendiri malah kini mengajakku berbicara. Apalagi dia sampai menanyakanku. Aku merasa, saat ini seperti seorang suami yang sedang dimarahi oleh istrinya ketika ketahuan pulang larut malam. Hayalanku yang terlalu tinggi.
"Apa kamu mau bicara denganku sekarang, Ayuna?" Tanyaku masih dengan senyuman.
Aku semakin melangkah mendekati Yuna. Kini wajahnya bisa kulihat jelas setelah beberapa kali aku menggelengkan kepalaku yang sakit ini. Namun ketika aku mengucek mata ini, wajah itu berubah menjadi Maharani.
"Danu, kamu mabuk?"
"Danu, apa kamu mabuk??"
"Kamu tahu Maharani, tujuh tahun aku nyari kamu. Tapi kenapa baru sekarang kamu muncul, hah??"
"Danu, kamu ngelantur!"
Sepertinya aku sudah tidak kuat lagi, kepalaku semakin berat rasanya. Hingga tubuhku pun terhuyung kearah Ayuna dan terjatuh.
BRUK!!
"Pak Kurdi, tolong!!" Teriak Ayuna.
Sebenarnya aku masih merasa sedikit sadar. Tubuhku ambruk karena sudah tak kuat lagi menahan rasa sakit dikepala ini yang seolah akan meledak. Sakit sekali.
"Pak, tolong bawa Danu ke kamarnya!" Pinta Ayuna kepada Pak Kurdi.
Aku bisa mendengar suara Ayuna meminta pak Kurdi memapahku ke kamar yang ada di lantai dua. Untung saja badan Pak Kurdi lebih besar dan tinggi daripada aku. Hingga ia kuat memapahku sampai ke dalam kamar.
Ingin sekali aku mengucapkan terimakasih pada Pak Kurdi saat aku sudah diletakkan olehnya keatas ranjang. Tetapi aku masih belum mampu berbicara.
__ADS_1
"Pak, terimakasih. Bapak bisa kembali istirahat, maaf mengganggu."
"Baik, Mba Yuna, Saya permisi."
Kudengar percakapan Ayuna dengan Pak Kurdi samar-samar. Baguslah, setidaknya Ayuna mewakili diriku untuk berterimakasih dengan Pak Kurdi. Jika besok aku sudah sadar, aku akan mengucapkan terimakasih juga.
"Ck! Ngerepotin banget!" Rutuk Ayuna.
Ayuna sepertinya sedang mengumpat. Meski mataku terpejam, aku bisa mendengarnya dengan jelas. Aku bisa merasakan tangan seseorang sedang melepaskan sepatuku, kemudian kaus kaki yang masih kupakai.
"Apa kamu mabuk gara-gara diputusin Fathin? Kayak nggak ada cewek lain aja!" Rutuk Ayuna lagi.
Lagi, Ayuna kembali meromet sembari menarik kaus kakiku agar terlepas. Jika aku bisa membuka mata, ingin rasanya aku tertawa mendengar omelannya.
"Kamu masih muda, Danu! Kamu juga nggak jelek! Pasti banyak cewek yang suka sama kamu!"
Heuh, dia mengatakan jika aku tidak jelek? Berarti dia mengakui jika aku ini tampan. Rasanya perutku ini tergelitik mendengarnya. Ayuna sangat menggemaskan. Perasaan kesalku hari ini rasanya hilang, seketika mendapat perlakuan manis darinya.
"Bau banget! Kenapa sih suka minum? Ngerusak diri aja! Dasar laki-laki!" Rutuk Ayuna.
Sembari meromet, Ayuna menempelkan handuk yang terasa hangat di dahiku. Yuna, apakah kamu sudah melupakan batasan yang kamu buat semalam? Apakah batasan itu sudah tidak berlaku lagi?
Aku baru tahu, dari kesehariannya yang sangat irit dengan kata-kata ternyata Ayuna sangat suka mengomel. Lucu sekali. Jika boleh aku meminta, lebih baik dia mengomeliku sepanjang hari daripada mendiamkanku selama satu menit.
Ketika Ayuna bangun dari duduknya dipinggiran ranjang. Dengan spontan aku menarik tangannya hingga tubuhnya terjatuh diatas tubuhku.
Brukkk!
Perlahan kubuka mataku, karena sakit kepala yang sudah mulai memudar. Aku bisa melihat wajah cantik Ayuna saat ini dengan kedua bola matanya yang semakin membulat sempurna.
Getaran di hati ini kembali lagi. Saat perasaan ini muncul ketika dekat dengan Maharani, kini dekat Ayuna pun aku merasakan hal yang sama. Ayuna dan Maharani, mungkinkah mereka orang yang sama?
Aku mencekal tangan Ayuna dengan kuat, meski sebenarnya dia berusaha memberontak untuk melepaskan diri. Sayangnya, tenagaku kali ini lebih kuat darinya.
"Danu??"
"Ayuna,"
"Danu, kamu ..."
CUPP!!
Aku tidak tahan lagi, keberanianku sudah diatas ubun-ubun. Maaf aku melakukan ini kepadamu Ayuna. Sungguh, aku menginginkan ini tidak lebih. Aku harap kamu tidak memberontak. Izinkan aku melakukannya lebih lama.
__ADS_1
"Eugh ..."