Senior Cantik Incaranku

Senior Cantik Incaranku
Ada aku di sini 2


__ADS_3

Pov. Danu Narendra 


Setelah Ayuna pergi begitu saja, tanpa mengizinkanku untuk mengantarnya hingga sampai ke rumahnya. Aku pun diam-diam mengikutinya dari belakang. Merasa tak aman jika membiarkan wanita itu sendirian di gang yang menurutku tengah sepi. Apalagi waktu sudah tengah malam.


Benar saja, di perjalanan itu pun aku melihat Ayuna tengah dihadang oleh dua orang pria berbadan besar dan bertato. Satu lagi berambut gondrong dengan headband dikepalanya.


Aku terpaksa menghentikan langkahku sejenak, berfikir jika mungkin Yuna mengenal mereka atau salah satunya. Tetapi kesabaranku mulai habis saat melihat Ayuna tengah disakiti dan diancam. Hal itu membuatku naik pitam dan takkan memberikan ampun kepada kedua pria itu. 


Kepalan tangan ini pun melayang, memukul dan menghantam kedua pria itu tanpa ampun. Berani sekali mereka menyakiti Yuna. Hingga baku hantam pun terjadi diantara kami. 


Untungnya, aku dapat melumpuhkan kedua pria itu dengan cepat, bermodalkan ilmu bela diri yang selama ini kupelajari. 


Aku melihat Yuna sangat ketakutan. Hingga air mata itu pun kembali membasahi wajah cantiknya. Ternyata wanita ini begitu rapuh meski terlihat tegar dari luar.


Kucoba untuk menenangkan Yuna terlebih dulu, membawanya kedalam rengkuhanku. Agar dia merasa aman dan tak lagi khawatir karena ada aku bersamanya. 


"Jangan khawatir, Yuna. Ada aku di sini." 


Kubawa Yuna kedalam dekapanku, tanpa memikirkan bagaimana kemarahannya. Bagiku, itu urusan nanti.


Melihatnya tak terluka saja aku sudah bersyukur. Meski aku tahu saat ini batinnya sedang tersiksa. Dari sini, aku mulai berjanji pada diriku sendiri untuk selalu melindunginya.


"Aku janji, nggak bakal biarin mereka nyakitin kamu lagi."


Yuna menggerakkan kepalanya yang sejak tadi bersandar di dadaku, menyisakan bekas isakannya pada kemeja hitamku hingga terasa basah. Ternyata air matanya tak kunjung berhenti hingga beberapa menit.


"Terimakasih, Danu," ucapnya diiringi sesak di dada.


Kuraih koper milik Yuna, merengkuh pundaknya dengan kuat, "Aku anterin," 


Berjalan perlahan ditengah kesunyian malam, hanya deru angin yang menyisakan rasa dingin pada kulit kami. Semakin ku pererat rengkuhan tangan ini pada pundak Yuna yang masih diam tanpa kata. Hingga akhirnya kami pun tiba di depan sebuah rumah, di pemukiman padat penduduk. 


Tok! Tok! Tok!


Yuna mengetuk pintu berwarna cokelat tua yang sudah sedikit pudar. Tak lama pintu pun dibukakan oleh seseorang dari dalam sana.


"Mba Yuna?" 


"Bu Siti, malam ini saya boleh tidur di sini?" Tanya Yuna dengan suara berat.


"Boleh! Ayo masuk!"  Bu Siti pun mempersilahkan kami untuk masuk segera.


"Ada apa, Mba?" Sembari menyodorkan dua gelas teh hangat, Bu Siti pun ikut duduk di sofa ruang tamunya.

__ADS_1


"Saya lupa, tadi ada yang nyariin, Mba," lanjutnya lagi.


"Apa itu dua orang laki-laki?" Tanyaku ingin tahu. Mungkin saja orang yang dimaksud Bu Siti adalah kedua pria yang tadi kuhajar habis-habisan.


"Iya," jawabnya langsung menatap kearahku.


"Satu gondrong, satu lagi tatoan?" Aku kembali bertanya.


"Kok, Mas tahu?" Tanya Bu Siti heran. 


Aku hanya bisa menarik nafas panjang. Berarti sekarang keadaan Yuna dalam bahaya. Yuna sudah menjadi incaran kedua pria itu. Bukan tidak mungkin jika ada dalang dibalik ini semua. 


"Mas, itu bibirnya berdarah!" Tunjuk Bu siti. 


Aku langsung reflek memegangi bagian bibirku, hingga berdesis karena perih. Tak tahu kapan ini terluka, mungkin karena perkelahian tadi.


"Bu, tolong ambilin air hangat sama lap bersih," pinta Yuna.


"Iya, Mba," Bu Siti pun langsung menuju ke dalam.


"Bu, sekalian sama kotak obat!" Pinta Yuna lagi, sedikit berteriak.


"Ya, Mba," Jawab Bu Siti dari dalam.


Aku hanya bisa berdiam diri, tak lama kemudian  Bu Siti pun keluar membawa baskom, lap dan kotak obat. 


"Makasih, Bu," ucap Yuna.


Yuna berjalan mengitari meja, kemudian duduk di sofa yang sama denganku hingga kami berada di tempat yang sangat dekat. 


"Danu, coba aku lihat," Yuna memegang daguku. Memperhatikan secara detail bagian bibirku yang terluka. 


Hal itu membuat fikiranku melayang kemana-mana. Hingga semua fikiran itu harus kubuang jauh-jauh. Jika tidak segera kualihkan, bisa berbahaya.


"Maaf, gara-gara nolongin aku, malah kamu yang luka," ucap Yuna lirih sembari tangannya mengusap pelan membersihkan lukaku.


"Harusnya kamu nggak lakuin ini. Apa ada luka yang lain??" lanjutnya lagi. 


Aku akan melakukan apapun, jika itu menyangkut dirimu, Yuna. Meskipun bahaya menghampiriku.


"Aw!" Aku meringis kesakitan ketika Yuna mengoleskan obat merah pada lukaku.


"Tahan sebentar," ucap Yuna melanjutkan mengoleskan obat merah secara merata. 

__ADS_1


"Lain kali, kamu nggak perlu berbuat senekat ini," Yuna masih menasehatiku. Padahal jelas, jika saat ini yang perlu mendapatkan banyak nasihat adalah dirinya. 


Aku bisa rasakan, betapa terlukanya batin Yuna. Meski dari luar ia tampak tegar.


Aku pun mencekal tangan Yuna yang masih mengoleskan obat merah pada lukaku, "Yuna," 


Kedua mata kami pun saling bertemu. Hangatnya nafas Yuna pun amat terasa meniup-niup kulitku. 


"Danu," Yuna langsung mengalihkan pandangannya. Melepaskan cekalan tanganku.


"Lihat aku," Kuberanikan diri untuk mengangkat dagu Yuna agar kembali menatapku. 


"Kamu tahu, andai kamu nggak cegah aku tadi..."


Aku masih menatap dalam-dalam wajah Yuna. Ini adalah waktu yang begitu langka, di mana Yuna tak bersikap emosional seperti biasanya. Yuna terlihat menjadi wanita penurut malam ini.


"Andai kamu terluka, Mungkin dua pria itu sudah kubunuh!" 


Yuna masih bungkam, matanya pun kini kembali memerah. Tak menanggapi ucapanku.


"Aku cuma mau lindungin kamu, aku nggak mau kamu terluka atau disakiti sama orang lain, hati aku nggak akan rela, Ayuna Maharani,"


Ku seka air mata yang kini sudah mengalir di wajah cantiknya. Wajah yang beberapa menit lalu terlihat ketakutan akibat ancaman dua orang pria ber*ngsek itu. Harusnya tadi, ku hajar mereka sampai mati. Untuk membayar air mata Yuna yang kini sudah hampir mengering.


"Hey, jangan nangis lagi," ucapku menenangkan dirinya.


Apa yang harus kulakukan?  Apakah aku harus membawa Yuna kedalam pelukanku lagi? Tidak, jika seperti ini aku takut tidak bisa lagi menahan diri. Ingat Danu, kamu sudah berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Jangan mengingkari janjimu hanya karena nafsu semata.


"Kamu mandi, makan, trus tidur," pintaku pada Yuna.


Ayuna masih terisak. Entah hal berat apa yang mengganjal dihatinya.  Aku tak berani bertanya karena takut itu akan semakin menimbulkan luka padanya. 


Aku pun berpamitan kepada Bu Siti, menemuinya di dapur. Sebelum itu aku juga meminta Bu Siti mencatat nomor ponselku jika ada hal mendesak, atau hal yang tak diinginkan.  


"Tolong jaga Yuna, Bu. Besok pagi jangan sampe dia keluar rumah sebelum aku dateng," 


"Iya, Mas," 


Setelah menemui Bu Siti,  aku kembali menemui Yuna. Menghampirinya yang masih melamun dengan tatapan kosong.


Ku usap dengan lembut puncak kepalanya, "aku pulang,"


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2