
Pov. Ayuna Maharani
Aku bangun dengan kepala yang semakin terasa nyut-nyutan. Melihat sekelilingku, setelah kutelisik lagi, ternyata aku tengah berada di dalam ruangan rawat rumah sakit. Lalu di sana, ada sosok Bu Siti yang tengah memotong beberapa buah ke dalam piring.
"Bu ..." panggilku dengan suara parau. Karena memang tenggorokan ini rasanya kering sekali.
"Mba, udah sadar??" Bi Siti meninggalkan aksi potong-memotongnya. Kemudian segera menghampiriku yang tengah kesusahan untuk bangun.
"Bu, haus," ucapku sedikit lemah.
"Sebentar, Mba," Bu Siti mengambil segelas air putih dari atas meja tempat di mana ia memotong buah tadi. Kemudian membantuku untuk meminunnya.
"Ibu ngapain di sini? Tanyaku penasaran. Karena aku pun tak begitu ingat mengapa sampai terbaring selemah ini di rumah sakit.
"Tadi, Mas Danu telpon. Katanya Mba di rumah sakit," jelasnya dengan tangan yang membenahi gelas bekas aku minum.
Danu?? Batinku, heran.
*Mengapa Danu?
Masih bertanya-tanya*.
Aku menoleh keseluruh penjuru ruangan, namun tak kutemukan sosok Danu di sini. Mungkinkah dia di luar? Atau mungkin dia sudah pergi?
Mengapa aku malah mencari keberadaannya?
Jangan bersikap pura-pura lupa, Ayuna.
"Mas Danu tadi di luar, Mba. Yang di dalam itu Mba Hana," jelas Bu Siti karena melihatku sedikit kebingungan.
"Oh, iya."
Tak kulanjutkan lagi pembicaraan ini. Aku masih mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi hingga aku harus dilarikan ke rumah sakit. Separah apa kondisiku sebenarnya?
Ya, terakhir kali aku datang ke kantor Hana Paramitha. Wanita yang akan aku temui untuk berkonsultasi. Baru beberapa menit berbicara dengannya, kepalaku terasa pusing, tubuhku lemas tak bertenaga, mataku pun berkunang-kunang, seakan sekelilingku tengah berputar-putar dan menjadi gelap. Setelah itu, aku tak mengingat hal yang lain lagi.
"Mba, makan dulu ya. Tadi perawat dah siapin makanan," tawar Bu Siti memecah keheningan akibat lamunanku.
"Kalo udah makan, Mba minum obat. Biar cepet sembuh!" Lanjut Bu Siti, mengarahkan suapan nasi beserta sup dan ayam goreng ke arah mulutku.
Aku yang merasa tak enak, karena terus merepotkan Bu Siti pun mengambil alih sendok dari tangannya, "saya bisa sendiri, Bu,"
"Lah, Mba 'kan tangannya lagi diinfus. Udah, nggak apa-apa Ibu yang suapin," tolak Bu Siti mencoba mengambil alih sendok kembali.
"Nggak apa-apa, tangannya nggak sakit kok. Kalo nggak dibawa gerak nanti malah pegel-pegel semua," ucapku mencari alasan yang pas. Mencari celah agar tak terus-menerus membebani Bu Siti.
"Ya sudah, dihabisin. Biar cepet pulih!" Bu Siti tersenyum menatapku.
Rasanya makanan yang tengah kukunyah ini hambar, tak ada rasa apapun. Apalagi ketika ingatanku kembali pada kesakitan saat berada di rumah sakit, melihat secara langsung putriku Dinda harus meregang nyawa.
Ingatan itu membuat mataku mulai mengeluarkan air mata yang kini menetes secara perlahan. Bahkan, perasaan bersalah masih terus menghantuiku. Seolah aku merasa tengah dihukum.
"Mba, Ibu tahu beban yang Mba tanggung ini berat banget. Tapi, Mba kudu kuat dan sabar," hibur Bu Siti mengusap perlahan lenganku. Sepertinya dia mengerti apa yang kini sedang kufikirkan.
"Musibah Mba bertubi-tubi, Ibu tahu Mba Yuna adalah orang yang kuat," lanjutnya lagi.
Ucapan Bu Siti semakin membuat mataku tak bisa lagi membendung air mata yang menganak sungai. Mengalirkan perasaan yang sesak di dada, kemudian kembali mengeluarkan suara terisak. Sesak sekali.
"Sudah, sudah. Yang berlalu, biarlah berlalu," hibur Bu Siti merengkuh tubuhku kedalam dekapannya.
"Ibu yakin, Mba Ayuna bisa lewatin ini semua," ucapnya lagi menenangkan.
Aku merasa tengah berada dalam dekapan Ibu sendiri. Meskipun Bu Siti tak memiliki aliran darah saudara padaku. Tetapi sikap dan kepeduliannya malah melebihi saudaraku sendiri.
Aku di sini memang tak memiliki family satu orang pun. Dengan kehadiran Bu Siti, aku bisa merasakan jika kesendirianku ini tidaklah abadi.
Benar memang kata orang, Terkadang orang lain malah seperti saudara. Sementara saudara sendiri malah seperti orang lain.
Bukan tak ingin memberitahukan hal ini pada Ibuku. Namun, aku memilih waktu yang tepat untuk menjelaskan masalah hubunganku dengan Mas Bagus yang sudah berakhir kepadanya, nanti. Nanti, pasti akan kujelaskan. Untuk sekarang, aku tak ingin menambah beban bagi Ibu di kampung.
"Kepergian Dinda pasti bikin Mba terpukul, belum lagi sekarang Mba sudah pisah sama Mas Bagus. Mba lagi diuji sama yang kuasa, Mba harus tetap kuat buat ngelanjutin hidup dan buka lembaran baru,"
Penuturan Bu Siti kembali membuat linangan airmata ini bertambah deras. Hingga rasa sesak yang membuncah di dada meninggalkan suara isakan yang berat.
Aku sangat berharap, tak ada orang lain yang mendengar isakanku ini.
"Sudah, sudah," Bu Siti menepuk-nepuk pelan pundakku. Menenangkan diriku dari tangisan, berharap akan segera berakhir.
Namun, aku malah semakin terisak penuh sesak. Menunda untuk melanjutkan makan yang baru saja masuk satu suapan kedalam mulutku.
__ADS_1
"Bu, ada apa??"
Suara seorang pria yang tiba-tiba masuk dari luar membuatku sedikit melirihkan suara isakan. Menahannya dari dalam. Hal itu malah membuatku semakin sakit.
Apalagi, aku tahu jika seseorang yang datang itu adalah Danu.
"Yuna?? Apa ada yang sakit??"
Pertanyaannya membuatku melepaskan rengkuhan tangan Bu Siti, membenarkan posisiku diatas ranjang. Mencoba mengumpulkan kekuatan kembali. Agar tak terlihat, betapa lemahnya aku ini.
"Nggak apa-apa, Mas," ucap Bu Siti menjawab kekhawatiran Danu. Sangat mewakili perasaanku.
Ya, Danu.
Danu Narendara.
Pria yang baru saja kemarin sempat kuminta untuk tak lagi muncul dihadapanku. Namun kali ini, ternyata Danu tak juga mengindahkan permintaanku. Apakah dia keras kepala? Atau dia memang sengaja untuk terus mengusikku?
"Oh, oke," Danu tetap berdiri jauh, menatapku dalam diam.
Satu
Dua
Tiga
Tiga detik!
Setelah itu kembali memalingkan wajah kearah lain.
"Bu, saya standby di luar. Kalau ada apa-apa, kasih tau aja," pinta Danu. Kemudian keluar tanpa menunggu jawaban dari Bu Siti.
Bu siti hanya mengangguk, menatap punggung Danu hingga menghilang dari pandangan.
"Mas Danu orangnya baik,"
Entah apa maksud Bu Siti di sini, membuka pembicaraan dengan memuji Danu.
"Meski baru kenal, tapi Ibu yakin, Mba. Mas Danu itu baik!" Ucapnya mantap.
"Abis bawa Mba ke rumah sakit, dia langsung sigap nelponin Ibu," Bu Siti tertawa kecil
"Nolongin orang geh bisa setulus ini, mana sabar banget," pujinya lagi.
"Ganteng pula!" Lanjutnya diiringi tawa renyah khasnya.
Hal itu malah membuat nasi yang sedang aku kunyah langsung tertelan begitu saja. Hingga membuatku terbatuk-batuk.
"Mba, nggak apa-apa?" Bu Siti mengambil gelas berisi air putih dan memberikannya padaku.
Aku meminumnya hingga tandas, "makasih, Bu,"
"Mba, kalau boleh tahu Mas Danu itu siapanya ..."
"Bukan siapa-siapa, Bu. Cuma temen kerja di kantor," potongku pada pertanyaan Bu Siti yang belum juga selesai.
"Oh," Bu Siti mengangguk perlahan. Kemudian mengambil benda pipih dari dalam tasnya. Memeriksa beberapa pesan masuk.
"Mba, diabisin geh makannya," pinta Bu Siti melihatku yang sudah tak lagi mempedulikan makanan.
"Kenyang, Bu," jawabku tersenyum kecil.
"Ya sudah, sekarang minum obatnya."
Dengan telaten Bu Siti membantuku meminum beberapa pil. Kemudian sesekali matanya melirik kearah jam dinding yang menggantung pada tembok bercat putih ruangan ini.
"Udah malem, Bu. Pulang aja dulu, istirahat," pintaku mengerti isi fikiran Bu Siti.
"Aduh, maaf ya, Mba. Ibu harus pulang, nggak bisa nemenin nginep," ucapnya dengan mimik wajah tak enak.
"Iya, nggak apa-apa. Udah ditengokin aja makasih banget, Bu."
Aku yang harusnya merasa tak enak hati dengan Bu Siti. Tapi dia yang terus saja meminta maaf. Karena aku tahu, besok pagi Bu Siti harus bekerja kembali di warteg dekat kontrakan setelah tak lagi mengasuh Dinda.
"Maaf ya, Mba," ucapnya sekali lagi.
Aku hanya tersenyum, memahami setiap kata maaf dan mimik wajahnya yang menandakan sedang tak enak hati.
"Besok, selesai kerja Ibu tengokin lagi," janjinya.
__ADS_1
"Nggak usah khawatir, Bu. Aku bisa jaga diri," aku mencoba menepis kekhawatirannya.
"Aduh, malem ini Mba sama siapa? Masa nggak ada yang jagain?" Bu Siti menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Merasa kebingungan.
"Sebentar, Mba,"
Entah apa yang ada difikran Bu Siti, aku tidak bisa membacanya. Ia melangkah keluar ruangan, tak lama kemudian masuk kembali diikuti seseorang di belakangnya. Seseorang yang sangat tak kuharapkan. Begitulah isi fikiranku.
"Mba, Yuna," panggil Bu Siti.
"Malem ini dijagain sama Mas Danu, ya?" lanjutnya. Memutuskan begitu saja. Tanpa berkompromi terlebih dahulu denganku.
Belum juga menjawab, padahal mulutku sudah terbuka untuk berbicara.
"Mas, tolong jagain Mba Yuna. Takutnya kalau malem butuh apa-apa. Obatnya juga ada yang harus di minum setiap lima jam sekali," jelas Bu Siti kini beralih berbicara pada Danu.
Danu mengangguk dua kali. Entah itu pertanda setuju atau apa, aku tak mengerti.
"Nanti kalau ada apa-apa, telpon aja Mas. Jangan sungkan," ucap Bi Siti lagi.
"Saya pamit dulu, Mba. Jaga diri baik-baik. Cepet sehat, ya."
Bu Siti berpamitan padaku dengan tergesa-gesa. Begitu Bu Siti keluar, ruangan ini pun hanya hening. Tak ada suara sama sekali.
"Kamu udah mendingan?" Tanya Danu, mendekat kearah brankar di mana aku sedang setengah bersandar.
Aku mengangguk, "kamu pulang aja, aku bisa jaga diri sendiri,"
Heuh! Ayuna.
Kenapa setinggi ini egomu? Padahal jelas, untuk berbaring saja kamu masih perlu bantuan orang lain.
Aku hanya bisa merutuki diri sendiri, dalam hati.
"Lagian, ada perawat juga yang jaga malam," sambungku lagi.
Mengusir Danu, sedikit sopan.
"Mba Hana bilang, kamu harus tetap dalam penjagaan. Nggak dibolehin sendiri,"
Tiba-tiba Danu berkata seperti itu. Seperti menolak untuk pergi.
"Danu, apa kamu ...."
"Aku di sini cuma nurutin permintaan Mba Hana. Selain itu juga, Bu Siti udah nitip kamu secara penuh sama aku," potong Danu.
Danu melangkah menjauh, kemudian duduk di sofa, mengambil remote televisi dan menyalakannya. Mencari beberapa channel yang terus saja digonta-ganti. Sepertinya tak menemukan acara yang pas.
"Kalau butuh apa-apa, atau mau makan sesuatu kamu bisa ngomong ke aku. Nggak usah gengsi,"
Heuh??? Apa dia bilang? Gengsi?
Aku menatapnya penuh kekesalan. Spertinya malam ini Danu akan membuat adrenalinku naik turun. Belum beberapa lama saja dia sudah mulai menyulut emosiku. Aku tidak tahan.
Danu melirikku sejenak, "besok masih libur, nggak usah mikirin kerjaan,"
Cih!
Siapa juga yang mikirin pekerjaan? Batinku kesal.
Danu menatap arloji berwarna hitam di pergelangan tangannya, "Jam tujuh, sebaiknya kamu istirahat, Yuna,"
Danu berbicara tanpa menatap kearahku. Malah aku yang terus mengarah padanya. Membuatku merasa semakin kesal, emosi, ingin sekali melemparnya dengan tiang penyangga cairan infusku.
Aku pun memilih membenarkan posisiku, karena mataku sebenarnya terasa pedas dan lengket. Mungkin akibat obat tadi, jadi mengantuk.
Karena tanganku yang terpasang selang infus, membuat ruang gerakku terbatas. Rupanya aku tidak bisa memutar tubuhku ini untuk mengambil bantal yang menahan tubuh bagian belakangku untuk bersandar. Susah sekali.
"Kalau susah itu ngomong, jangan diem aja!"
Apa-apaan dia? Kenapa dia berkata seperti itu? Aku masih berusaha agar bisa meraih bantal. Namun ternyata aku belum berhasil. Aku tetap terus berusaha.
"Kamu nggak perlu sekeras ini, Ayuna!" Danu mendekati brankar, meraih kedua pundakku dan mengambil satu bantal.
Seakan merasakan dejavu, aku sudah sedekat ini dengan Danu. Kembali, merasakan satu getaran halus dalam hatiku. Membuatku diam, terpaku menatap wajah Danu yang sangat jelas dari dekat.
Danu memegangi kedua pundakku, membenarkan posisiku hingga terbaring sempurna.
"Untuk saat ini, buang rasa gengsi dan jual mahalmu itu, Ayuna!"
__ADS_1