
Pov. Danu Narendra
Lima menit, waktu yang tak cukup untukku.
Lima menit, waktu yang seakan mencekikku.
Karena lima menit, kesempatanku untuk dekat dengan Ayuna lebih lama pun harus berakhir.
"Lima menit, Danu!" Ayuna kembali mengingatkanku. Seolah saat ini ia menjadi Alarm berjalan.
"Okey, lima menit."
Aku terus menganggukkan kepalaku, menatap seluruh tembok mencari keberadan jam dinding. Namun, tak kutemukan di sini.
"Kamu boleh pulang!"
Ayuna kini mengusirku.
Oke, sebagai tamu yang tahu diri aku pun beranjak dari sofa menuju ke luar.
Aku harus pulang. Meski sebenarnya hanya beberapa langkah saja hingga bisa tiba di tempat kediamanku.
"Terimakasih Ayuna, sudah kasih aku kesempatan untuk bertamu," ucapku sedikit membungkukkan badan.
"Kalau ada apa-apa, kamu bisa chat atau telpon aku."
Aku terlalu percaya diri sejak awal. Padahal, perlakuan Ayuna sampai saat ini masih sama tegasnya.
Aku bisa apa? Jika begini, aku lebih baik mengalah dan pergi.
"Danu, tunggu!!"
Yes!! Akhirnya Ayuna menghentikan langkahku. Apakah dia akan memintaku untuk tetap tinggal?
"Kenapa, Yuna?" Tanyaku dengan senyuman sumringah.
"Tolong tutup rapat pintunya!"
Yah, kali ini aku terlalu percaya diri lagi. Ternyata Ayuna hanya memerintahku, bukan menghalau agar aku tetap tinggal.
Aku pun melaju, menutup pintu rapat-rapat. Tak lagi memikirkan Ayuna di dalam sana.
Celenting!
Bunyi notifikasi chat pada ponselku.
[Dek, Mama pengen ketemu,]
Ternyata pesan dari Mba Hana. Tapi, kenapa membahas Mama? Apa terjadi sesuatu padanya?
Aku pun segera menuju ke rumah Mama, kali ini khawatir sekali dengan keadaannya. Jika tidak terjadi sesuatu, maka Mba Hana tak akan mungkin mengirimkan pesan seperti ini.
...****************...
Tiba di rumah orangtuaku, aku melihat ada beberapa mobil asing terparkir di garasi. Mobil yang tak pernah kulihat sebelumnya.
Setelah masuk, ternyata ada beberapa orang yang seumur dengan Papa dan Mama di dalam. Orang itu pun terasa asing bagiku. Aku merasa belum pernah bertemu mereka sebelumnya.
"Malam, Pa, Ma," sapaku menyalami Papa kemudian bergantian dengan Mama.
"Nah, ini dia kebanggaan Mama udah dateng," puji Mama ketika melihatku.
Tiga orang yang duduk berhadapan dengan Papa dan Mama pun tersenyum melihat ke arahku.
__ADS_1
"Danu, kenapa make baju sembarangan kayak gini??" Mama sedikit berbisik kepadaku dengan matanya yang sedikit membola.
"Emang kenapa, Ma?" Tanyaku.
"Emangnya Mba Hana nggak bilang?" Tanya Papa kepadaku.
Aku menggeleng. Karena Mba Hana memang tak berkata apa-apa selain memintaku untuk bertemu Mama.
"Maaf ya, Jeng. Bujangku ini emang agak cuek sama penampilan," ucap Mama kepada seorang wanita yang sejak tadi memperhatikanku, mungkin usianya seumuran dengan Mama.
"Nggak apa-apa, namanya juga cah lanang," jawabnya dengan diiringi tawa mengembang.
Sementara Papa memperkenalkan aku dengan mereka.
"Danu, ini Om Farid dan Istrinya Tante Lisda,"
Aku menyalami mereka berdua dengan sopan.
"Nah, kalau yang ini Arjuna, putra pertama Om Farid sama Tante Lisda," kini Tante Lisda memperkenalkan seorang pria yang terlihat lebih dewasa daripada aku.
Aku mengangguk, kemudian menyapanya sopan. Begitu pun dengan Arjuna, yang menerima kembali sapaanku.
"Juna," ucapnya sembari mengulurkan tangan.
"Danu," balasku.
"Danu, kamu inget kan sama Om Farid? Tetangga kita dulu di Semarang??" Kini Mama memberikan penjelasan. Membuka memori lama pada otakku.
"O....." mulutku pun membulat, hampir membentuk huruf 'O'.
Aku baru ingat sekarang. Tapi jika Mama tidak memberitahu, mungkin aku tak akan ingat. Karena tinggal di Semarang hanya beberapa tahun. Dan aku tak seberapa mengingatnya. Aku cuma mengingat tetangga sebelah rumah yang suka mengobrol dengan Mama dahulu. Mungkin itu adalah tante Lisda.
"Makanan udah siap," tiba-tiba Mba Hana datang dari dalam membawa beberapa piring cake di tangannya.
Namun, ada seorang wanita yang tak aku ketahui. Entah siapa dia? Yang berjalan gemulai dibelakang Mba Hana.
"Danu, kenalin ini Laras, anak gadis Tante," Tante Lisda memperkenalkan Laras kepadaku.
Laras meletakkan sepiring cake dihadapanku, kemudian mengulurkan tangannya, "Laras."
"Danu," ucapku membalas uluran tangannya. Kemudian aku kembali fokus pada pembicaraan Mama.
"Danu, kamu ajak dulu Laras muter-muter ke taman belakang gih," perintah Mama.
"Ma, tapi ........"
"Ajak dulu, dari tadi Laras nungguin kamu, Loh!" Potong Papa.
"Iya, kenalan aja dulu. Barangkali kalian sama-sama cocok!" Sambung Om Farid.
Apa ini maksudnya?
Aku langsung menatap ke arah Mba Hana. Namun Mba Hana hanya memberikan sebuah kode lewat matanya. Yang meminta aku untuk menuruti Mama.
"Ayok!" Ajakku pada Laras.
Laras tersenyum, mengikutiku dari belakang.
Entah apa yang tengah terjadi saat ini, perasaanku menjadi tak enak. Aku harus mencari tahu melalui Mba Hana.
"Danu, rumah kamu luas juga ternyata," Laras buka suara. Padahal aku sama sekali tak ingin berkata apapun. Karena fikiranku masih fokus tentang mencaritahu hal yang sebenarnya.
Aku hanya mengangguk, tak menanggapi ucapan Laras yang masih berjalan di belakangku.
__ADS_1
"Danu!" Laras menepuk pundakku, hingga berdiri tepat di sebelahku.
Aku hanya mengernyitkan keningku, tak mengerti maksud Laras.
"Danu, kamu belum punya pacar??" Tanya Laras.
Aku tak suka akan pertanyaannya ini. Aku memilih diam. Hingga aku melihat Mba Hana tengah duduk di kursi teras samping rumah.
"Kamu tunggu di sini," aku meninggalkan Laras begitu saja. Hingga ia terus menjerit memanggil namaku beberapa kali. Namun aku tak menggubrisnya.
"Danu!!!!!"
Aku tak mempedulikan Laras. Aku memilih menemui Mba Hana yang kini ada di teras samping rumah.
"Mba!!!"
"Ya ampun, Dek!!!" Mba Hana mengusap dadanya berulang kali. Tanda terkejut akan kehadiranku yang tiba-tiba.
"Mba, maksudnya apa sih?" Tanyaku padanya.
"Apaan, Dek?" Mba Hana memijit kepalanya dengan jari.
"Mba bilang Mama mau ketemu, tapi kenapa Mba nggak bilang kalau ada keluarga Laras?"
Aku sangat butuh penjelasan. Karena Mba Hana pasti mengetahui sesuatu.
"Dek, Mba juga nggak tahu. Tadi pas chat kamu, Mba juga masih di rumah. Terus Mama nelpon Mba suruh chat kamu juga," jelas Mba Hana.
Aku hanya bisa menarik nafas panjang.
"Terus....... tentang perkenalan kamu sama Laras tadi Mba beneran nggak tahu," lanjut Mba Hana dengan mengacungkan dua jari kehadapanku.
"Mba, aku pinjem motor," ucapku pada Mba Hana. Melihat motor matic miliknya yang terparkir di teras samping.
"Buat apa, Dek?"
Aku tak menjawab pertanyaan Mba Hana. Aku lebih memilih menuju ruang tengah, mengambil kunci sepeda motor dari laci yang biasanya digunakan untuk menyimpan berbagai macam kunci kendaraan milik Papa, termasuk motor matic milik Mba Hana.
"Dek, kamu mau kemana?"
Aku masih tak menjawab, aku memilih menyalakan mesin dan segera menancap gas. Mengeluarkan motor lewat pintu samping rumah. Tak lupa, aku juga memakai helm yang tergantung di kaca spion. Demi keselamatan diri dalam berkendara.
Aku lebih baik kabur.
"Dek!"
Suara Mba Hana masih bisa aku dengar. Meski samar-samar. Namun, aku tetap memilih melanjutkan perjalannanku dengan sepeda motor matic ini.
Setelah sekian lama tak mengendarai sepeda motor, rasanya asyik juga. Karena bisa menikmati dinginnya angin malam.
Lama-kelamaan rasanya angin dingin ini semakin menusuk-nusuk kulitku. Dengan pakaian seadanya yang aku kenakan, tanpa jaket, sarung tangan dan sepatu.
Argh! Malam ini aku merasa si*al.
Mudah-mudahan Mama dan Papa hanya mengenalkanku pada Laras. Bukan perkenalan yang lebih serius tentunya. Karena aku tak ingin itu terjadi.
Jika perjalanan menggunakan mobil hanya berkisar setengah jam, dengan sepeda motor aku harus menempuh waktu sekitar satu jam lebih.
Itu karena rasa dingin yang membuatku terus bersin. Sepertinya ini adalah pilihan yang salah untukku.
Tiba di Apartement, aku memilih langsung masuk menuju lantai lima, di mana unit milikku berada. Dengan rasa dingin yang terus membuatku menggigil, disertai bersin yang mengganggu. Tanganku rasanya gemetar menekan pascode pintu unitku.
Haccchimmmmmm!
__ADS_1
Hacchhiiiiiiiiiiiiiiimmmmmmm!
"Danu???"