
Pov. Ayuna Maharani
Banyaknya kejadian rumit di kantor hari ini membuatku menjadi lemas. Malas bekerja dan tak bersemangat sama sekali. Sempatku berfikir, ingin segera pulang saja. Menunggu akhir bulan yang begitu lama, karena niatku untuk resign dari kantor semakin bulat.
Aku membuka beberapa situs online, mencari lowongan pekerjaan di sekitaran Jakarta. Ternyata banyak, namun tak sesuai kriteriaku. Apalah dayaku yang hanya lulusan SMA? Sementara lowongan pekerjaan membutuhkan gelar sarjana.
Aku menarik nafas perlahan, menatap Fried Chicken yang tadi kubeli belum sempat kumakan. Sayang sekali.
Hingga waktu pulang pun tiba. Seperti biasanya, Syifa dan Gita pulang lebih dulu. Tapi kali ini tanpa berbasa-basi. Mungkin karena seluruh isi ruangan ini masih bersitegang. Aku pun memaklumi.
Ketika mereka berdua sudah keluar, hanya tersisa aku dan pria berbaju Navy itu yang masih disibukkan dengan ponselnya.
"Danu," panggilku. Tanpa menatap ke arahnya.
"Eum?" Danu menoleh ke arahku. Namun kemudian kembali fokus dengan ponselnya.
"Biaya rumah sakit kemaren, berapa?" Tanyaku. Karena memang hal ini belum aku bahas dengannya.
"Entahlah," Danu menggedikkan bahunya. Masih fokus dengan layar ponsel.
"Siapa yang bayarin?" Tanyaku penasaran. Karena ruangan yang aku pakai tidak sesuai dengan kelas kartu kesehatan yang kumiliki.
"Kemaren yang ngurus Mba Hana," jawab Danu seadanya.
"Tapi pake kartu kesehatan kamu," lanjutnya lagi.
Aku merasa tidak percaya, namun enggan membahasnya lagi jika jawaban Danu sudah begini. Tidak mungkin juga ia berbohong.
"Kalau ada biaya tambahan lain diluar kartu kesehatan aku, kamu ngomong aja. Nanti aku ganti," ucapku.
Danu mengangguk, "aku mau pulang,"
"Oh, iya udah," jawabku.
Danu pun beranjak dari duduknya. Kemudian keluar dengan langkah lebar.
Seharian Danu tidak banyak bicara seperti biasanya. Seakan ada yang hilang.
Oh, Ayuna. Apa yang baru saja kamu rasakan? Kenapa mendapat perlakuan seperti ini dari seorang Danu membuat hatimu terasa nyeri?
Benar, aku memang seperti besi berkarat yang sebenarnya rapuh.
Aku memilih menyantap Fried chicken yang sudah dingin ini. Karena menghadapi kenyataan itu butuh tenaga, bukan? Apalagi sepertinya banyak sekali yang harus kuhadapi, sendiri. Ya, aku memang sendiri. Selalu sendiri.
Lagi, aku kembali memikirkan sikap Danu hari ini. Yang sedikit mengacuhkanku. Apa ini karena kemarin? Saat aku pulang bersama Satria?
Yang benar saja, Ayuna! Jangan berfikir berlebihan. Tidak ada kaitannya. Untuk apa Danu marah karena hal itu? Apa hubungannya denganmu? Tidak ada hubungan sama sekali.
Ya, aku dan dia memang tidak ada hubungan spesial sama sekali. Tapi pernah melakukan hal yang spesial. Oh, tidak. Aku kembali mengingat kebo-dohan yang pernah kulakukan.
Lebih baik aku segera pulang. Karena setelah ini aku akan mencari rumah kontrakan baru.
Sampai di depan, Satria menghampiriku. Dengan sedikit berlari.
"Ayuna, hayukkk!" Ajaknya.
"Kemana?" Tanyaku tak mengerti.
"Katanya mau cari tempat baru?" Ucapan Satria mengingatkanku.
Ternyata Satria tak sesabar yang kukira. Karena mulutnya yang mudah bocor ini pula aku harus bersitegang dengan Gita hari ini.
__ADS_1
"Nggak, Sat. Lain kali aja," tolakku.
"Ngapain nunggu lama-lama? Hayuk. Keburu sore!!" Ajaknya lagi.
"Nggak Sat, makasih." Tolakku lagi.
"Ayuna, mumpung aku lagi free. Aku anterin ya?" Satria malah merayuku.
Aku menggeleng, "enggak, Sat!"
"Hayuk, tuh dilihatin orang!" Satria menunjuk ke arah beberapa orang yang kini tengah memperhatikan kami. Membuatku risih.
"Hayukkkk!!!" Satria menarik tanganku. Menuju ke dalam mobil hitam miliknya.
"Sat," Aku mencoba melepaskan tangan Satria. Namun ia malah semakin mencekal dengan kuat.
Akhirnya aku pun kalah. Satria telah berhasil membawaku ke segala sudut kota yang jaraknya tak jauh dari kantor untuk mencari rumah kontrakan baru.
"Yuna, kita udah keliling. Tapi nggak ada yang cocok." Ucap Satria yang kini sudah terlihat kelelahan, menemaniku untuk mencari kontrakan atau kost-kostan baru.
"Iya, aku juga bingung, Sat," jawabku bingung. Harus kemana lagi aku mencari?
Ada harga yang cocok, tapi tempat yang tak memadai. Ada tempat yang kusuka, tapi harga tak bersahabat. Ada pula harga dan tempat yang sesuai kriteria, tetapi lingkungan yang kurang layak. Argh, aku tidak menemukannya.
"Yuna, mau lihat Apartemen aja, nggak??" Saran Satria.
"Apartement??" Tanyaku.
"Pasti harganya lebih mahal, sat!" Ucapku sudah merasa menyerah apalagi jika mengingat uang yang kumiliki tak banyak.
"Jangan khawatir, aku ada kenalan yang bisa kasih kamu diskon!!" Ucapnya senang.
"Masak sih?" Aku masih tak percaya.
"Sat, sok tau kamu!" Umpatku.
"Nah, nggak percaya? Buktiin aja bulan depan. Kamu pasti terkaget-kaget!" Ucap Satria dengan diiringi tawa recehnya.
"Aku 'kan mau resign?" Jawabku dengan nada melemah.
"Ck! Ngapain Resign? Kayak nggak susah aja cari kerja!" Ucapnya, yang memang ada benarnya.
"Udah, cari hunian layak aja dulu. Baru mikirin resign, okey??"
Satria sepertinya tidak setuju dengan keputusanku untuk resign dari kantor. Karena, dulu dia pula yang membantuku mencari kerja di sana. Hingga kami sama-sama merintis karir sampai sekarang.
Aku dan Satria pun menuju sebuah Apartemen yang jaraknya tak jauh dari kantor. Hanya berkisar enam kilo meter saja. Yah, terbilang lumayan. Harganya pun terbilang tak terlalu mahal. Meski harus menguras tabunganku yang sudah susah payah aku kumpulkan selama ini.
"Gimana?" Setelah kami masuk ke dalam unitnya, Satria meminta pendapat denganku dengan full senyuman.
Jujur, pandangan pertama aku langsung merasa cocok, "nyaman, sih,"
"Tuh, kan! Apa aku bilang. Kenapa nggak dari tadi aja kita ke sini!" Ungkap Satria senang.
Aku mengangguk, memperhatikan setiap sudut unit, jelas sekali aku akan merasa nyaman jika tinggal di sini.
Apalagi, tak akan ada para tetangga yang akan bersikap meresahkan bagiku. Lingkungan Apartemen di sini benar-benar bagus untuk orang yang suka keheningan sepertiku.
"Jadi??" Tanya Satria dengan memainkan kedua alisnya naik turun.
Aku tersenyum kecil, entah mengapa aku langsung setuju saja. Seperti ada dorongan dari hati ini. Membuat kepalaku mengangguk hingga beberapa kali.
__ADS_1
"Deal??" Tanya Satria meyakinkan.
"Deal!!" Ucapku yakin.
"Oke, kita urus segera!!!"
Dengan langkah gontai, aku dan Satria menuju keluar kawasan Apartemen yang baru saja kami datangi. Mataku menuju ke arah mobil berwarna merah yang menurutku tak begitu asing. Melaju perlahan memasuki kawasan Apartemen.
Apakah dia tinggal di Apartement ini juga? Ah, banyak jenis mobil seperti yang dimiliki oleh Danu. Mungkin ini hanya kebetulan saja.
Satria memilih mengantarku terlebih dulu ke rumah kontrakan yang lama.
"Ini," aku meletakkan dua lembar uang berwarna merah ke dashboard mobilnya.
"Eh, eh! Di sangka aku sopir taksi online??" Satria menyulut, tak terima.
Aku merasa tak enak hati, "buat beli bensin, makasih udah nganterin aku muter-muter." Ungkapku.
"Ya elah, kayak siapa aja!!" Satria menggeleng. "Ambil aja, mendingan buat biaya truk besok kalau mau pindahan!"
Aku memilih meninggalkan Satria begitu saja. Jika terus diladeni, mulutnya akan terus meromet. Aku hanya ingin menunjukkan rasa terimakasih. Karena ia telah mengantarku kesana-kemari. Meski sebenarnya itu bukanlah mauku.
"Ayuna!!!" Teriaknya dari dalam mobil.
Aku pun menoleh, mengangkat sebelah alisku.
"Hati-hati, sampai jumpa besok!"
Aku pun kembali melanjutkan langkah memasuki gang sempit untuk menuju ke rumah kontrakan lamaku.
Sesampainya di rumah, aku mendudukkan bokong pada kursi ruang tamu. Merebahkan kepalaku pada sandaran kursi. Menatap tembok sekeliling yang memajang foto keluarga kecilku.
Aku, anakku, suamiku.
Itu dulu. Sekarang kini telah berubah. Foto itu hanya menjadi kenangan pahit untukku.
Ayuna, Dinda, Bagus.
Status baruku yang merupakan mantan istri dari Mas Bagus, atau kata lainnya janda. Yah, kini aku harus lebih terbiasa menyandang status baru ini. Aku juga harus semakin kuat untuk menghadapi berbagai macam aral di depan yang sudah mulai nampak.
Daripada aku terus memandangi foto ini, lebih baik sekarang aku melakukan packing untuk persiapan pindahan besok.
...****************...
Kembali ke setelan kantor.
"Ayuna," panggil Satria yang sudah menyapaku sepagi ini.
"Kenapa, Sat?" Tanyaku menghentikan langkah kakiku.
"Aku udah dapet truk yang bisa kita sewa buat pindahan kamu nanti," jelasnya dengan penuh semangat.
"Ya ampun, segitu repotnya!" Ucapku tak enak hati, "Thanks loh, Sat."
Satria mengangguk, memasang senyuman lebarnya dihadapanku, "packing-packingnya udah?"
"Oh, udah ber-" ucapanku menggantung seketika mataku melihat sosok pria berjalan santai dari luar sana. Meletakkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Menatapku dengan dalam, semakin dekat semakin dalam. Hingga jarak kami pun hanya tinggal beberapa meter. Mulutku ini ingin sekali menyapanya, tetapi sayang, ia berlalu begitu saja.
Apa aku sudah berhasil membuatnya menjauh? Harusnya aku senang, bukan malah merasakan nyeri di hati ini.
__ADS_1
Danu, apakah hari ini kamu akan menunjukkan sikap yang sama seperti kemarin?