Senior Cantik Incaranku

Senior Cantik Incaranku
Sadar diri, Danu!


__ADS_3

Pov. Danu Narendra


"Ke Kantor Mba, sekarang! Cepetan!"


Tut! Tut! Tut!


Begitu sambungan telepon terputus, aku segera berputar arah menuju kantor Mba Hana. Melupakan tujuan utamaku. Entah apa yang sedang terjadi, namun dari suara Mba Hana yang terdengar tak seperti biasanya membuatku panik. Hingga melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi.


Tiba di sana, kulihat ruangan Mba Hana sudah banyak orang berkumpul. Aku berlari cepat disertai nafas yang tersengal. "Mba!"


"Danu,"


Aku segera menghampiri Mba Hana, mataku melihat seseorang sudah terbaring lemah di atas sofa panjang.


"Mba, kenapa??"


"Danu, Mba nggak tahu," jawab Mba Hana menggeleng.


Setelah kudekati Mba Hana, ternyata aku mengenal sosok wanita yang tengah terbaring itu. Betapa terkejutnya aku, bahkan jantungku pun rasanya ingin jatuh, "Yuna!!!"


"Mba, kenapa dengan Ayuna??" Tanyaku semakin panik. Mencoba memposisikan tubuhku sedikit berjongkok, menepuk-nepuk wajah Ayuna yang kini terlihat pucat pasi.


"Yuna, bangun!!"


Namun tak ada respon dari Yuna.


"Minyak kayu putih!" Ucapku.


"Ini, Danu," Mba Hana langsung memberikan botol kecil berisi minyak kayu putih ketanganku.


Aku mengoleskan sedikit minyak pada hidung Ayuna, kemudian pada kedua telapak tangannya yang kini terasa dingin.


"Terimakasih semua atas bantuannya, silahkan kembali bekerja," Mba Hana meminta para rekan kerjanya untuk keluar dengan sopan.


"Dek, gimana?" Tanya Mba Hana menghampiriku lagi setelah usai menutup pintu.


"Belum sadar?" Tanyanya lagi.


"Belum Mba," jawabku masih mengoleskan minyak pada bagian telapak tangannya.


"Kakinya juga," pinta Mba Hana.


Aku terdiam, ketika melihat Ayuna hanya memakai rok sebatas betis menampilkan kaki halusnya.


"Sini!" Mba Hana merebut minyak kayu putih itu dari tanganku.


"Matanya di jaga! Biar Mba aja!" Ucapnya sembari menjewer telingaku.


Aku hanya mengaduh kesakitan, sekaligus merasa bersalah. Jika tidak ada Mba Hana, mungkin entah apa lagi yang aku fikirkan saat ini.


Dengan teladan Mba Hana mengolesi minyak kayu putih pada telapak kaki Ayuna. Untuk sesekali aku pun membuang pandangan ke arah lain. Menetralkan fikiran juga perasaanku.


"Mba, apa kita bawa aja ke Rumah Sakit?" Pintaku sembari memperhatikan Mba Hana yang tengah mengoleskan minyak kayu putih pada telapak kaki Yuna.


Mba Hana terdiam, kemudian menatapku dengan bola mata yang membulat, "kenapa nggak dari tadi?"

__ADS_1


Aku langsung bergegas mengangkat tubuh Yuna, menuju ke mobil. Mengangkatnya penuh rasa khawatir. Ini kali pertama bagiku menggendong seorang wanita. Aku tidak tahu apalagi yang terjadi pada Yuna. Dan mengapa Mba Hana bisa bertemu dengannya. Hal itu akan kutanyakan nanti, setelah Ayuna ditangani.


Tidak butuh waktu lama menuju ke Rumah Sakit, karena kebetulan kantor Mba Hana tidak begitu jauh. Setelah membawa Ayuna ke ruang rawat pasien untuk segera diperiksa oleh dokter, Mba Hana memintaku untuk menuju ke bagian administrasi.


"Dek, kamu urus dulu ke bagian admin. Biar Mba yang jagain Yuna," perintah kakak perempuanku itu.


"Iya, Mba," jawabku segera bergegas. Tanpa basa-basi lagi, demi kesehatan Ayuna.


Dua puluh menit, waktu yang cukup lama bagiku untuk mengurus segala keperluan Ayuna. Hal yang sangat aku tunggu adalah kabar dari Mba Hana. Sesekali aku membuka ponsel, berharap Mba Hana mengabariku dengan berkirim pesan. Namun sayang, tak ada satu pun inbox dari Mba Hana.


Selesai sudah urusanku, sekarang aku melangkah cepat menuju ruangan di mana Ayuna berada. Tak ada lagi Mba Hana yang berdiri di depan ruangan itu, seperti awal aku pergi tadi. Aku pun memutuskan untuk lebih dekat.


Dari luar aku bisa melihat melalui celah pintu kaca, menyaksikan Mba Hana di dalam ruangan bersama Ayuna yang tengah terbaring. Sepertinya Ayuna saat ini sudah sadarkan diri.


Aku hendak melangkah untuk masuk, tetapi fikiranku menghalangi.


Ingat, Danu. Ayuna nggak mau lagi lihat kamu!


Keberadaan kamu malah membuat masalah untuknya!


Kamu hanya membuat runyam semuanya!


Sadar diri, Danu!


Segala macam fikiranku yang mengusik ini pun tak bisa lagi kutepiskan. Hingga aku memutuskan untuk menunggu di luar saja. Menantikan kabar dari Mba Hana. Daripada aku masuk, malah menambah sakit Ayuna.


Sebelum itu, aku pun sudah meminta Bu Siti untuk datang ke Rumah Sakit menemani Ayuna. Karena aku tidak tahu lagi harus menghubungi siapa. Orang terdekat yang aku kenal hanya Bu Siti.


Entah mengapa aku tak berniat menghubungi Syifa atau Gita. Yang katanya adalah teman dekat Ayuna. Namun, seorang teman tidak mungkin membicarakannya dibelakang, bukan? Aku lebih percaya pada Bu Siti.


Sayang sekali, aku tidak bisa melihat wajah Ayuna.


"Mas, Danu!" panggil Bu Siti yang baru saja tiba.


"Bu, Siti?"


"Di mana Mba Ayuna??" Tanya Bu Siti padaku.


"Bu, masuk aja." Jawabku.


"Oh, baik."


"Bu, tunggu!" Aku menghentikan Bu Siti.


Aku menyerahkan satu kantong plastik berisi perlengkapan untuk Ayuna yang sempat aku beli di mini market dekat rumah sakit, "siapa tahu ini dibutuhkan."


Bu Siti memeriksa isi kantong plastik itu, "Terimakasih, Mas."


Aku hanya bisa menelan ludah, karena dengan jarak sedekat ini tapi tak bisa melihat secara langsung keadaan Ayuna. Padahal hatiku terus memanggil untuk menemuinya, untuk memastikan kondisinya saat ini.


"Dek?"


Akhirnya Mba Hana keluar dari ruangan. Aku pun langsung bangun dari posisi dudukku.


"Mba, gimana keadaan Yuna? Apa kata dokter? Sakit apa?"

__ADS_1


Berbagai macam pertanyaan keluar dari mulutku. Berharap Mba Hana akan memberikan keterangan lengkap mengenai kondisi Ayuna.


"Khawatir banget, sih!" Mba Hana malah memberi respon santai.


Aku hanya bisa menarik nafas kemudian menghembuskannya kencang, "Mba, please ...."


"Dehidrasi, darah rendah, terus tadi asam lambungnya naik," jelas Mba Hana dengan melipat beberapa jemarinya, seperti sedang menghitung.


Ya Tuhan, Ayuna. Banyak sekali sakit yang dia derita.


Aku hanya mendongakkan kepala keatas, merasa ikut sedih dan prihatin atas kondisi yang tengah dialami Ayuna.


"Dia udah ditangani dokter, udah di kasih cairan infus juga, jangan khawatir!" Mba Hana menepuk pundakku pelan.


"Dia pasti nggak ngejaga pola makan, trus jarang minum, nggak olahraga," lanjut Mba Hana.


Aku hanya menatap tembok putih rumah sakit, sembari telinga yang terus mendengarkan penjelasan Mba Hana.


"Itu tadi siapa? Ibunya Yuna, bukan?" Tanya Mba Hana.


"Namanya Bu Siti, tetangga Ayuna," jelasku. Karena benar-benar tidak tahu apa hubungan Ayuna dan Bu siti.


"Udah, jangan sedih," hibur Mba Hana.


"Kayaknya Ayuna butuh banget seseorang yang bisa tenangin dia. Yang bisa buat dia lebih bersemangat, mungkin kamu tahu orangnya??" Tanya Mba Hana padaku.


Aku tak bisa menjawab, karena aku benar-benar tidak tahu siapa orang itu. Apakah mungkin orang itu adalah diriku?


Sadar diri, Danu!


Jangan mengharap hal yang tidak mungkin. Jelas sudah Ayuna menolak kamu untuk dekat dengannya.


"Dek?" panggil Mba Hana. Menyadarkan lamunanku.


"Apa kamu ada masalah sama, Ayuna?" Tanya Mba Hana lagi.


Aku menggelengkan kepala pelan, berbohong lagi pada orang yang salah.


"Kalau ada, kamu bisa ceritain sama Mba. Mba bakal bantu," tawarnya.


"Enggak ada, Mba. Aku sama Ayuna nggak ada masalah apapun," ungkapku.


"Mba ngerasa Ayuna punya masalah yang berat, yang mungkin jadi beban banget bagi dirinya. Apa kamu nggak tahu, Dek?"


Pertanyaan Mba Hana semakin menyudutkanku. Karena aku memang tak tahu apapun tentang masalah yang tengah Ayuna hadapi.


"Enggak, Mba," jawabku lemas.


"Dek, coba lebih terbuka lagi sama Mba," pintanya.


"Kita harus tolongin dia, dia butuh banget support yang bisa membangun kekuatannya kembali,"


Aku menoleh kearah Mba Hana, sangat mengejutkan sekali pernyataan yang baru saja kudengar dari mulutnya. Apakah mungkin Ayuna saat ini seterpuruk itu??


"Mba, apa yang harus aku lakuin??"

__ADS_1


__ADS_2