
Pov. Ayuna Maharani
Dua hari, selama itu pula Danu menjadi sopir dadakan untukku. Sopir yang tak ku gaji, bahkan tak kuharapkan. Selain sopir, dia juga menjadi Bodyguard yang handal. yang bisa menjaga sekaligus melindungiku dari bahaya.
Aku sudah berulang kali menolak Danu. memintanya untuk tak lagi berbuat seolah menjadi pengawalku. Tetapi, Danu tetaplah Danu. Dia tidak akan berubah.
Hari ini adalah jadwal sidang perceraianku dengan Mas Bagus. Jadi, aku tak ingin jika Danu mengantar atau membuntutiku. Satu-satunya cara yang dapat kulakukan agar terhindar dari Danu adalah pulang lebih cepat.
Ya, aku harus pulang lebih cepat. Sebelumnya, aku harus menemui Satria terlebih dahulu.
"Ayuna, kamu akhir-akhir ini izin terus?" Tanya Satria penasaran.
"Apa ada hal penting banget??" Lanjutnya bertanya dengan ekspresi ingin tahu.
"Em, itu, aku ..."
"Biarkan Ayuna pulang lebih cepat!" Sambung Pak Robert yang tiba-tiba saja muncul tak tahu dari mana.
Menatapku dingin, kemudian tersenyum smirk, "Ayuna ke ruanganku, sekarang!"
Aku mengangguk, menuruti perintah Bossku kali ini. Kemudian keluar dari ruangan kerja Satria.
Ku ketuk perlahan pintu ruangan Pak Robert, dengan perasaan sedikit cemas, "permisi, Pak."
"Duduk!" Pak Robert mempersilahkanku.
"Pak, ada apa memanggil saya?" Tanyaku, ketika sudah mendudukkan bokongku pada kursi tepat di depan meja kerja Pak Robert.
"Kamu mau ke pengadilan, sekarang?" Tanya Pak Robert tanpa menoleh kearahku.
"Iya."
Aku tak menjawab lebih. Singkat lebih baik. Karena ternyata Pak Robert banyak tahu segala hal tentangku. Darimana dia mengetahui jika aku akan pergi ke Pengadilan?
"Oke. Perlu pengacara?" Tanya Pak Robert.
Aku menggeleng, karena cukup dengan tubuh kuat, mental sehat, aku yakin bisa menghadapi semua ini. Aku pun menjawab dengan penuh keyakinan.
"Tidak, Pak!"
Pak Robert mengeluarkan sebuah kartu nama ke arahku, "namanya Pak Hamdan. Aku sudah menghubunginya untuk mengurus semua urusanmu di pengadilan nanti,"
"Dia sudah nunggu kamu," lanjutnya lagi. Tetapi kali ini dengan menatap ke arahku.
Aku segera membuang pandangan ke arah tembok. Menarik nafas panjang, kemudian perlahan kuhembuskan. "Bapak terlalu banyak membantu saya. Terimakasih,"
__ADS_1
"Tetapi, maaf. Untuk kali ini, saya menolak," lanjutku. Kemudian segera bangun dari kursi.
"Saya permisi, Pak," aku pun segera berpamitan padanya.
"Kamu selalu menolakku, apa karena juniormu itu??"
Sontak ucapan Pak Robert begitu mengganggu pendengaranku. Apakah junior yang dimaksud Pak Robert adalah Danu? Apa dia juga tahu jika semalam aku pulang bersama Danu?
"Ayuna, jangan kamu fikir kalau aku nggak tahu," ucapnya dengan tatapan sinis.
"Pak, nggak perlu mengaitkan masalah ini dengannya. Karena sama sekali emang nggak ada hubungannya."
Pak Robert kembali memicingkan senyuman, namun lebih sinis, "kita lihat aja, sampai mana kamu akan terus sembunyikan ini!"
"Saya nggak menyembunyikan apapun. Pak Robert yang selalu menggali-gali masalah dan privasi saya!" Aku sudah mulai kesal. Meninggalkan ruang kerja Boss itu tanpa pamit.
Dia memang seperti bunglon. Sikapnya berubah-ubah. Kemarin baik, sekarang jahat. Semalam manis, siang menjadi pahit bahkan asam. Tetapi aku tidak terlalu mempedulikannya. Toh, akhir bulan ini aku akan segera resign dari kantornya.
...****************...
Pengadilan Agama.
Aku menatap wajah Mas Bagus yang terlihat semakin kusam. Rambut yang sudah menutupi telinga. Bagian dagu yang kini sudah ditumbuhi bulu-bulu halus, memperlihatkan betapa tak terawatnya dia.
Setelah puas memperhatikan Mas Bagus, kini aku lebih memilih mengalihkan pandangan. Agar lebih fokus lagi kedepannya. Karena, Mas Bagus adalah masalaluku. Kami mungkin ditakdirkan tidak berjodoh hingga harus berakhir dengan perceraian.
Hakim sudah memutuskan, ketukan palu telah terdengar dipengaruhi ruangan. Aku hanya mendongakkan wajah ke atas agar tak lagi menumpahkan air mata. Meski menahannya, sesakit ini.
Selamat tinggal, Mas Bagus Prasetyo...
Usai sudah, dua tahun usia rumah tanggaku bersama Mas Bagus. Kini hanya bisa dijadikan pelajaran hidup, tanpa harus ku kenang.
"Akhirnya, anak saya bebas dari perempuan gat*l seperti kamu!"
Umpatan itu bisa terdengar jelas. Menusuk ke dalam gendang telingaku. Bahkan, mendengar suaranya saja aku sudah hafal.
"Sebentar lagi Bagus bebas dari hukumannya. Kita lihat, sampe mana kamu akan bertahan, Ayuna!!" Dengan senyuman sinis dan penuh intimidasi terhadapku. Tak kuladeni ucapan mantan ibu mertuaku itu.
Aku malah semakin malu, karena banyaknya orang-orang memperhatikanku. Seolah, aku adalah wanita yang paling bersalah di dunia.
Aku lebih memilih berlalu saja meninggalkan ruang sidang. Menerima dengan legowo semua suratannya yang sudah digariskan oleh sang pencipta hidup.
Keluar dari gedung pengadilan, aku pun memilih duduk di taman kecil yang berdekatan dengan gedung Pengadilan Agama di mana tempatku memutus tali ikatan pernikahan dengan Mas Bagus barusan.
Kututup mata dengan kedua tangan, meratapi nasib diri. Ternyata bersikap legowo itu susah sekali. Aku masih merasakan sakit dan perih yang teramat dahsyat.
__ADS_1
"Aku boleh duduk di sini??" Suara lembut seorang wanita menghentikan isakanku.
Kubuka tangan yang tadi menutupi mata dan wajahku, melihat di sebelahku seorang wanita telah duduk dengan senyuman manis. "Siapa?"
Jelas, aku bertanya padanya. Karena baru hari ini melihat wanita itu. Aku sempat berfikir jika ini adalah orang suruhan Pak Robert. Tetapi, Pak Robert sudah memberitahu jika pengacara yang ia tugaskan adalah Pria yang bernama Pak Hamdan.
"Hana," wanita itu mengulurkan tangannya. Memperkenalkan diri.
Kujabat perlahan tangan wanita yang bernama Hana itu, "Ayuna,"
Hana tersenyum manis, memperhatikan setiap detail wajah dan penampilanku.
"Hidup harus terus berjalan, Yuna. Boleh menangis, bahkan meratap."
"tapi, jangan terus-terusan. Life must goes on!" Lanjutnya dengan tangan mengepal keatas memberi semangat.
Siapa dia? Kenapa disaat keadaanku yang terpuruk seperti ini Tuhan masih baik padaku. Mengirimkan seorang wanita yang mampu meredam emosiku. Mampu menenangkan jiwaku. Aku sangat bersyukur.
"Terimakasih," ucapku masih dengan suara parau habis menangis. Kemudian menyeka sisa-sisa air mata pada wajah ini.
"Ini," Hana menyerahkan selembar kertas kecil yang tak lain adalah kartu namanya.
"Datang ke kantorku, kapanpun aku siap buat bantu kamu," bubuhnya lagi.
"Jangan terlalu diporsir, menangis secukupnya saja!" Tepukan perlahan yang ia berikan di pundakku pun mampu sedikit menenangkan.
"Kamu butuh waktu buat sendiri, telpon aku jika ada hal yang ingin ditanyakan. Aku siap membantu!"
Hana beranjak dari duduknya. Melambaikan tangan sebagai ucapan perpisahan. Aku yang ditinggalkan hanya bisa menatapnya dari jauh sembari terus berfikir. Siapa dia? Apakah dia ada hubungannya dengan Pak Robert?
"Hana Paramitha, M.Psi.T,"
Aku membaca perlahan nama Hana, dan juga meneliti di mana alamat kantornya.
Em, apakah aku perlu berkonsultasi dengan seorang Psikolog?
DRTTTT.... DRTTTT..... DRTTTT...
Ku lihat benda pipih ini terus bergetar, menampilkan nomor yang tidak dikenal pada layar. Ternyata, sudah empat belas kali nomor ini melakukan panggilan padaku.
14 missed call.
Aku pun mengangkat panggilan ini, "hallo,"
"Kamu di mana?? Kamu baik-baik aja?"
__ADS_1