
Pov. Danu Narendra
Sepulang dari kediaman Mba Hana dan Mas Pandu, aku langsung menuju ke Apartement. Melajukan mobil dengan kecepatan sedang, melalui setiap jalan yang sudah terlampau lengang.
Namun otakku merubah rencana awal, tiba-tiba saja aku berfikir ingin menemui Ayuna di rumahnya. Tanpa berfikir lebih panjang lagi, aku pun membelokkan setir untuk menuju ke rumah Ayuna.
Dari jarak beberapa meter, aku di sapa oleh seorang wanita paruh baya yang tak pernah kulihat, "cari rumah kontrakan, Bang?" Tanyanya.
Aku menggeleng, sekaligus sedikit terkejut hingga membuatku berbicara kaku, "eng-gak,"
"Oh, kirain nyari. Kalau mau ada yang kosong nih," Tawarnya.
"Kosong? Yang mana?" Tanyaku. Bukan karena penasaran, tetapi karena merasa ingin lebih sopan.
"Noh, yang di depan Abang. Baru aja orangnya pindah!" Ungkapnya.
Aku tak banyak berkata lagi, ternyata rumah yang di sebutkan tepat berada di hadapanku. Rumah Ayuna.
Aku memilih pamit pada wanita paruh baya itu, mengingat jika ternyata seseorang yang aku cari tak lagi ada di sini.
Ayuna, kemana dia?
Pukul sepuluh malam, aku sudah tiba di unit Apartementku. Namun seperti ada yang berbeda dari sebelumnya. Unit yang bersebrangan denganku seperti sudah ada penghuninya. Terlihat ada beberapa barang-barang di depannya masih tertumpuk rapi. Ada beberapa dus yang terletak dekat pintu, mungkin penghuninya baru saja pindah.
Aku pun memilih segera masuk, merehatkan tubuhku yang terasa lelah dan lemah.
Memikirkan Ayuna ternyata seberat ini. Tak cukup waktu satu atau dua hari saja.
...****************...
Aku meletakkan cup cake cokelat ke atas meja Ayuna, "ini,"
Ayuna yang sedang sibuk mengayunkan beberapa jemarinya pun menoleh ke arahku, meski tanpa bicara aku tahu jika matanya itu menyimpan banyak tanya.
"Dari Mba Hana," jelasku dengan senyuman.
Mata Ayuna beralih menatap sudut ruangan, dengan kelopak mata yang buka tutup berulang kali.
Aku yakin, saat ini ia sedang merasakan debaran yang sama denganku. Debaran hati yang beberapa hari ini tak lagi kami rasakan.
Aku hanya bisa tersenyum ketika melihat Ayuna langsung membuka cup cake pemberianku. Meski itu adalah buatan Mba Hana.
"Eh, Mba Yuna makan apaan?" Tanya Syifa. Matanya sungguh jeli. Apalagi jika tentang makanan.
Belum juga Ayuna membuka mulutnya, Syifa langsung menuju kursi kerjanya dan merebut cup cake itu dari tangannya.
"Wah, enak banget nih!" Syifa langsung menyantapnya sekaligus.
__ADS_1
"Enak banget, Mba? Dari mana?" Tanya Syifa penasaran.
"Em, ini dari beli," jawab Ayuna.
Syukurlah, Ayuna melindungiku kali ini. Jika saja Syifa tahu kalau cup cake itu dariku, aku merasa sangat tak enak hati. Karena kemarin sempat memberiku bubur sum-sum.
"Mba, beli di mana? Aku mau dong!" Ucap Syifa. Namun tangannya mengambil satu cup cake lagi.
"Em, di toko kue, Fa," jawab Ayuna yang hanya bisa menelan salivanya. Pasalnya ia belum memakan satu gigit pun cup cake itu. Namun Syifa sudah menghabiskan dua buah.
"Mba, aku mau dong. Kasih tau nama tokonya apa??" Tanya Syifa lagi.
"Aku lupa, Fa." jawab Yuna dengan menahan kekesalannya. Karena Syifa ternyata sudah mengambil dua cup cake lagi.
"Yah, kok lupa, Mba. Nggak mungkin!" Sungut Syifa tak percaya.
"Pokoknya tokonya di pinggir jalan!" Ayuna langsung melahap satu buah cup cake ke dalam mulutnya. Hingga kedua pipinya terlihat nengembang.
Lucu sekali.
"Ih, Mba, Mah gitu!" Syifa langsung beranjak menuju meja kerjanya. Namun tangannya tak diam, ia menyomot satu cup cake lagi dari meja Ayuna.
Setelah Syifa kembali, aku sangat puas melihat wajah Ayuna tanpa ada lagi penghalang. Sungguh, hari ini adalah hari yang begitu aku rindukan.
"Ayuna!!!"
Benar-benar kacau. Gita telah mengganggu konsentrasiku ketika sedang memandangi ciptaan indah Tuhan yang satu ini, Ayuna.
"Puas, sekarang? Hahhh?!!" Gita menghampiri Ayuna dengan membentaknya.
"Gita, tolong bicara dengan sopan," ucapku tak tinggal diam. Tak terima sama sekali jika Ayuna diperlakukan sekasar itu. Meski hanya berupa bentakan.
"Apa?? Kamu mau ngebelain dia lagi?? Hah??" Gita malah memancing kesabaranku.
"Aduh, kenapa sih kok pada ribut gini," Syifa pun mencoba melerai.
"Kamu juga mau beliin dia!!!" Tuduh Gita pada Syifa dengan jari telunjuk yang mengarah pada Ayuna.
"Gita, kenapa, sih? Dari kemaren kamu tu sensitif banget??" Syifa masih tak mengerti.
"Nggak usah belain dia! Dia itu cuma pembuat catatan jelek untukTeam kita!!!" Gita masih menaikkan nada bicaranya.
"Memalukan!!!!" Lanjutnya lagi. Menatap Ayuna dengan penuh kemarahan.
Namun Ayuna hanya diam, masih duduk dengan santai.
Apa hati Ayuna saat ini sudah mati? Di hina begitu namun tetap diam tanpa perlawanan.
"Gita, aku ngerasa nggak ada masalah sama kamu. Tapi lama-lama kamu bikin kesabaran aku habis," Ayuna kini angkat bicara.
__ADS_1
Aku fikir ia akan diam terus-menerus. Ternyata dugaanku salah.
"Heh!!!" Gita menggebrak meja dengan keras.
"Itu perasaan kamu! Makanya jadi orang itu nggak usah sok kuat, Ayuna!!!"
"Nggak usah sok cuek!"
"Padahal di depan sana orang-orang lagi ngehujat kamu!!"
"Sadar dan buka mata kamu, Ayuna!!!!"
Panjang lebar Gita berbicara, entah apa yang dia maksud. Bahkan aku dan Syifa pun tidak mengerti.
"Fikirin dong orang-orang yang ada di sekitar kamu! Aku, Syifa, Danu ..." Gita menjeda ucapannya. Menarik nafas panjang dan menghembuskannya cepat.
"Kami juga kena imbasnya! Gara-gara kamu!!" Tuduh Gita lagi.
"Cukup Gita!! Kamu keterlaluan!!!" Aku sudah tidak sabar akan sikap Gita terhadap Ayuna.
"Kamu mau belain dia, Danu??" Gita menatapku penuh kekesalan.
"Heuh, aku jadi curiga. Apa jangan-jangan kamu juga sama kayak Pak Robert yang mau booking dia!!!"
Semua orang terkejut, apalagi aku.
Gita tersenyum menyeringai, "enak ya jadi orang cantik. Sana-sini banyak yang mau! Lon-te!"
"Gita, kamu sudah ngelewatin batas!" Timpalku.
"Bukan aku yang ngelewatin batas, tapi dia!!!" Gita kembali menunjukkan jarinya ke arah Yuna.
"Pertama sama Boss, terus sekretarisnya, apa sekarang kamu mau dia juga, Danu???"
Aku tak mengerti mengapa Gita berucap seperti itu. Namun Syifa menunjukkan ponselnya ke arahku. Memperlihatkan isi sebuah grup chat kantor yang membahas Ayuna.
Seperti yang Gita katakan. Membuatku tak lagi berkedip membaca isi chat itu.
Seseorang telah mengirimkan Foto Ayuna dan Pak Robert saat masuk ke dalam mobil. Foto yang aku tahu, dan masih sangat hafal bagaimana cantiknya Ayuna malam itu.
[Wah, bookingan Boss nih!]
[Pengen Booking juga, lumayan cantik!]
[Udah dibooking sama sekretarisnya, telat luh!]
[Aku maauuu! Tapi nggak bahaya tah?]
[Bahaya!!! Bahaya!!! SIKAT AJA!!]
__ADS_1