
Pov. Ayuna Maharani
"Hacchimmmmmm....."
"Hachimmmm!!"
Beberapa kali aku mendengar ada suara seseorang yang tengah bersin. Aku terus berjalan, menyusuri lorong menuju ke arah unit Apartementku.
"Hachimmmm!"
"Danu??"
Ternyata orang yang terus saja bersin itu adalah Danu.
"Danu?" Aku langsung menghampirinya yang terlihat lemas di depan pintu unit Apartemennya.
"Yu-na?"
Wajah Danu terlihat lesu, hidungnya pun semakin memerah karena terus saja bersin. Tubuhnya terlihat gemetaran, dengan kedua tangan dilipat di depan badannya seperti sedang kedinginan.
"Danu, kamu kenapa?" Tanyaku khawatir. Memperhatikan setiap gerak-gerik dan kondisinya.
Danu menggeleng, kemudian memilih masuk ke dalam unit miliknya.
"Danu, tunggu!!" Aku pun langsung menahan lengan kokoh miliknya. Saat tersentuh, kulitnya terasa dingin sekali.
"Danu, apa kamu sakit??"
Aku merasa semakin khawatir.
Danu masih menggeleng, matanya kini terlihat ikut memerah seperti hidung mancungnya.
"Aku bantu buatin wedang jahe, ya??" Tawarku tiba-tiba. Entah darimana terbesitnya ide ini.
Danu mengangguk dengan cepat.
"Kamu ada jahe nggak, di da-lem?" Tanyaku terbata-bata, sembari menunjuk ke arah dalam unitnya, merasa tak enak hati takut dianggap tak sopan.
Danu mengangguk, "ma-suk a....haciiim!!!!!"
Aku yang melihatnya semakin merasa kasihan. Hingga aku putuskan untuk ikut masuk ke dalam unitnya.
"Hachiiiiiiim!"
Danu kembali bersin.
Aku semakin bergegas, ketika mataku menangkap benda di atas meja, "ini!!"
Aku langsung memberikan beberapa lembar tissue kepada Danu.
Danu langsung duduk di sofa berwarna navy, kemudian merebahkan tubuhnya.
"Apa nggak ada selimut?" tanyaku, karena melihat Danu masih kedinginan. Masih dengan kedua tangan yang terlipat.
"Di kamar," Tunjuknya dengan mata terpejam, ke arah salah satu ruangan yang mungkin adalah kamarnya.
Aku pun segera mengikuti arah jari telunjuk Danu. Memasuki kamar itu dengan hati-hati. Ketika pintu kamar terbuka, semerbak aroma maskulin sudah terhirup oleh indra penciumku.
Wangi sekali.
Memabukkan!
Aroma yang menjadi ciri khas seorang Danu. Namun kali ini aroma itu lebih pekat. Bahkan, aku ikut menjadi wangi setelah masuk ke dalam kamar ini.
Mataku terperanga, melihat keseluruhan isi kamar milik pria yang kesehariannya bekerja bersamaku.
Wow!
__ADS_1
Rapih! Tanpa cela sedikutpun.
Jika dibandingkan denganku, aku mengaku kalah.
Tik, tik, tik......
Kembali ke tujuan utama, Ayuna!
Aku segera mencari keberadaan selimut. Dan mataku menangkap selimut berwarna cokelat polos itu terlipat rapih di atas ranjang tidur beralaskan sprei berwarna navy.
Aku meraih selimut kemudian segera keluar dari kamar milik juniorku ini.
Ketika sampai di luar, aku melihat tubuhnya sudah meringkuk di atas sofa. Sepertinya ia sedang menahan rasa dingin yang kini dialaminya.
"Danu," aku segera menyelimuti tubuh Danu hingga batas leher, menyisakan bagian kepala saja yang terlihat.
"Aku buatin wedang jahe dulu," aku meminta izin pada Danu untuk menuju dapurnya.
Danu tak menjawab, yang aku dengar hanya suara menggigil, sedikit samar-samar yang keluar dari mulutnya.
Kasihan sekali. Aku lebih memilih untuk menuju dapurnya. Namun, setelah beberapa kali mencari, aku tak menemukan jahe seruas jari pun.
Bagaimana aku bisa membuat wedang jahe sebagai penghangat untuk Danu?
Teh? Coba aku cari.
Ternyata tak ada teh di sini.
"Danu, nggak ada jahe. Di kulkas juga nggak ada," ucapku mengadu. Karena kulkas besar dua pintu milik Danu hanya berisi beberapa makanan instan, minuman soda berkaleng, dan beberapa camilan.
Sungguh, hidup Danu benar-benar kurang sehat.
Aku tidak bisa berfikir lagi. Sementara melihatnya saat ini sangat kasihan.
"Danu, aku pulang dulu!"
"Aku mau pulang, Danu," jawabku.
"Yuna ......"
"Danu, aku cuma mau ambil jahe sebentar, nanti balik lagi!" Ucapku meyakinkan.
Perlahan cekalan tangan Danu pun terlepas.
"Yuna," Danu menghentikan langkahku lagi.
"436587......."
Aku mengangguk, entah apa yang Danu maksud dengan menyebutkan beberapa angka barusan. Aku lebih memilih segera keluar menuju ke unitku untuk mengambil beberapa ruas jahe.
Setelah menemukannya, aku pun kembali ke unit milik Danu. Di saat genting seperti ini, di mana Danu butuh bantuan, aku harus langsung siaga.
Bukan bermaksud apa-apa, melainkan aku ingin membalas kebaikannya selama menjagaku di rumah sakit beberapa waktu lalu. Ya, hanya balas budi semata.
Beruntung, jarak kediamanku hanya beberapa langkah saja. Jika jauh, aku tidak tahu apa yang akan terjadi.
Saat ingin memasuki unit milik Danu, aku segera menekan bell. Namun tak kunjung di buka. Otakku berfikir, mungkinkah terjadi sesuatu dengannya?
Oh, aku baru ingat. Aku coba menekan beberapa angka yang tadi Danu sebutkan.
"4,3,6,5,8,7........."
Klik!
Berhasil, pintu pun bisa terbuka.
Begitu masuk, aku melihat Danu masih dengan posisi yang sama. Meringkuk, tertutup selimut. Namun kali ini tak ada bagian tubuhnya yang terlihat. Sepertinya dia benar-benar kedinginan.
__ADS_1
Lebih baik aku segera menuju dapur, membuat wedang jahe dengan campuran gula merah dan sedikit madu. Tak butuh waktu lama, aku pun selesai dengan tugasku ini.
"Danu," panggilku dengan nada lirih.
Danu tak menjawab.
"Danu...." panggilku lagi, dengan nada naik satu oktaf.
Danu masih tak menjawab. Apa terjadi sesuatu padanya?
Aku meletakkan satu gelas wedang jahe ke atas meja, kemudian mengarah mendekati Danu.
"Danu," panggilku sembari menepuk pelan bagian kakinya yang masih tertutup selimut. Namun, suhu dingin kakinya bisa aku rasakan.
Danu masih belum menjawab, akhirnya kuputuskan untuk bangun dan beralih posisi ke arah di mana kepala Danu berada. Kubuka selimut itu perlahan, hingga menampakkan wajahnya yang terlelap terlihat sendu.
Jika seperti ini kondisinya, dia terlihat lemah. Tak sekuat biasanya.
"Danu......." bisikku, ke arah telinganya dengan jarak yang hanya beberapa senti.
Seketika itu pula, mata yang sejak tadi tertutup langsung terbuka. Bahkan sangat lebar.
Tatapan mata kami pun bertemu, tanpa mengalihkan pandangan sedetikpun. Seolah saling menyampaikan, betapa indah sepasang mata yang kini ada dihadapan kami. Hingga menimbulkan gelenyar aneh di dalam diri.
Aku, sekuat hati mencoba bertahan agar tak goyah. Membuat benteng pertahananku menjadi kokoh, agar tak bisa lagi diruntuhkan. Apalagi, ketika nafas diantara kami tengah beradu. Karena saking dekatnya jarak ini.
Aku, bisa!
Aku yakin bisa!
"Danu, wedang jahenya!" Aku segera berdiri secepat mungkin. Menghilangkan perasaan yang kini sedang mengobrak-abrik hatiku.
Aku beranjak, mengambilkan gelas yang berisi wedang jahe hangat ke arahnya, "minumlah,"
Danu beringsut, membenahi selimut yang menutupi tubuhnya, kemudian duduk dan menerima gelas pemberianku, "makasih,"
Danu meminum wedang jahe hingga menimbulkan suara, "agghhhh!!!"
"Kenapa?? Enggak enak, ya??" Tanyaku khawatir. Setelah melihat ekspresi wajahnya.
"Enak, kok!!!" Jawab Danu cepat dengan suara parau. Kemudian tersenyum, "bikin nagih," ucapnya lirih.
Entah kenapa mendengar ucapannya, aku menjadi salting. Alias salah tingkah. Entah karena ini adalah pujian untukku, atau karena aku senang melihatn minuman tradisional buatanku diteguk hingga tandas olehnya.
"Kapan-kapan, buatin aku lagi yang ginian, Yuna!"
Danu membenarkan kembali posisinya menjadi terbaring. Kemudian perlahan memejamkan matanya begitu saja.
What???
Baru beberapa detik, aku sudah bisa mendengar dengkuran halus Danu. Apa secepat ini ia terlelap?
Aku tak habis fikir dengan tingkahnya.
"Dasar aneh!!" Rutukku sembari mencibir.
Aku pun memilih duduk di sofa tepat berseberangan dengannya. Membenarkan leher dan punggungku yang terasa kaku dan pegal, sembari memijat perlahan, "pegel banget!"
Memandanginya yang tengah terlelap. Menampakkan wajah bersih yang sendu dengan alis tegas. Hidung mancung dan bibir yang ......
Apa yang aku fikirkan??
Ini tidak benar, Ayuna!
Aku pun segera membuang jauh-jauh fikiran kotorku. Menutup kedua mata yang terbilang sangat lelah hari ini. Hingga menimbulkan rasa kantuk yang luar biasa.
__ADS_1
Setelah mata ini terpejam, semua yang mengganggu otakku hilang begitu saja. Aku benar-benar lupa.