Senior Cantik Incaranku

Senior Cantik Incaranku
Pemendam perasaan


__ADS_3

Pov. Danu Narendra


Setelah mengantarkan Mba Hana pulang ke rumahnya, aku segera melipir. Melajukan roda mobilku dengan kecepatan yang dibilang lumayan tinggi namun tidak juga seperti pembalap profesional.


Tak bisa fokus, otakku malah mengingat akan ucapan Mba Hana tadi. Beberapa hal yang baru saja kutahui. Perkara mantan suami dan perceraian Ayuna.


Bisa jadi, mantan suaminya dateng lagi. Duh! Kayak di filem-filem!


Mba tanya, kamu tahu apa nggak masalah Ayuna sama mantan suaminya?


Mba sebenernya udah beberapa kali lihat Ayuna di pengadilan agama, dan terakhir tiga hari yang lalu saat sidang perceraiannya.


"Arggghhhh!!!" Aku memukul setir beberapa kali. Menunjukkan betapa memang bo-dohnya aku yang tak tahu apapun tentangnya.


Mengapa bisa begini?


Aku menghentikan laju mobil tepat pada gang yang menuju rumah kontrakan Ayuna. Sejenak kubiarkan hati ini meredam, mempersiapkan diri untuk bertemu Ayuna. Tetapi aku teringat akan pesan Mba Hana.


Biarin Ayuna tenang dulu, biar bisa berfikir jernih!


Ya, harusnya aku membiarkan Ayuna terlebih dahulu untuk berfikir. Untuk membiarkan dia tanpaku, meski sebentar.


Tapi hatiku merasa tak rela jika Ayuna saat ini tengah bersama pria lain. Heuh? Sepertinya aku sudah melupakan kesadaran diri.


Terlalu menginginkan Ayuna, sampai tak sadar jika dia tak menginginkanku.


...****************...


Aktivitas dimulai kembali.


Aku merasa malas berangkat bekerja hari ini, karena semalaman tidak bisa tidur. Fikiranku yang kacau tak karuan ini membuat kepalaku terus berdenyut. Menimbulkan rasa pusing yang luar biasa.


Jika tidak memikirkan banyaknya tugas yang harus aku selesaikan, aku lebih memilih absen dan beristirahat. Selain itu, sepertinya aku sudah memiliki rasa rindu terhadap seseorang. Karena sejak kemarin, aku tak tahan dan ingin segera berjumpa dengannya.


Rasa rindu?


Yang benar saja!


Aku tiba tepat waktu, ternyata l ruangan kerja masih kosong. Belum ada yang datang. Aku memilih mendudukkan bokong pada kursi kerjaku yang bersebelahan dengan meja kerja Ayuna.


"Sssssst," aku berdesis, karena merasa kepala ini malah semakin bertambah berat.


Kupilih untuk memejamkan mata, memijit kepala dekat pangkal hidung dengan jemari. Mudah-mudahan dengan pijitan ringan ini, bisa mengurangi rasa pusingku.


"Danu, lagi sakit?" Tiba-tiba suara Gita sudah terdengar.


Aku tak menoleh, memilih melanjutkan aksi pijitan ringan oleh jemariku sendiri.


"Sedikit pusing, Git," jawabku.


"Emangnya nggak sarapan, Danu?" Kini giliran Syifa yang bertanya.


"Udah," jawabku singkat. Padahal jelas jika aku tak menelan makanan sedikitpun.


"Terus, kenapa pusing?"


Aku tak menjawab pertanyaan Syifa yang mungkin akan terus berkelanjutan. Lebih baik aku diam, kemudian segera bekerja. Saat aku menoleh, ternyata Ayuna sudah duduk dikursi kerjanya.

__ADS_1


Deg!


Tatapan kami pun bertemu.


Kemudian, sama-sama saling membuang pandangan.


Ah, kenapa seperti ini?


Aku fikir, rasa rinduku saat ini akan sembuh jika memandangnya lebih lama. Tetapi, baru saja sepersekian detik aku malah tak sanggup menatapnya.


Aku segera beranjak dari kursi, untuk menuju ke pantry kantor. Kemudian Ayuna memilih menyalakan komputernya.


Tidak bisa dibiarkan, meski aku sudah tahu jika Ayuna adalah seorang janda. Tapi, dia masih terlihat seperti perawan. Cantik sekali.


Aku segera menggeleng, menghilangkan bayang-bayang wajah Ayuna yang semakin membuat kepalaku ini berdenyut.


Tiba di pantry, aku malah dipertemukan dengan Satria. Yah, aku menyesal sekali sepagi ini sudah berhadapan dengannya.


"Mau ngopi?" Tanya Satria.


Aku merasa curiga, karena dia menyapaku lebih dulu. Pasti ada sesuatu dibalik basa-basinya itu. Apalagi senyuman palsunya. Apa dia mengejekku karena kemarin berhasil merebut Ayuna? Si-alan!


"Cuma ngambil air anget," jawabku malas.


"Kenapa nggak kopi aja?"


Apa-apaan dia? Kenapa seolah memaksa? Membuatku semakin malas.


"Aku nggak minum kopi," sergahku dengan nada pelan namun terkesan kesal.


"Heuh, masak anak muda kayak kamu nggak ngopi? Nggak mungkin?"


Tak peduli apapun penilaiannya nanti, yang jelas aku sedang tak ingin berbasa-basi dengannya. Meski pun level jabatannya lebih tinggi dibandingkan diriku yang hanya karyawan biasa. Biarkan saja!


Sampai di depan ruangan, ternyata ketiga rekan kerja perempuanku itu tengah berbincang-bincang. Aku memutuskan untuk menghentikan langkah sebentar. Saat ini aku sepeti tengah menguping.


"Ada, tapi kalau mau kontrakan di deket rumahku harganya lumayan mehong," ucap Gita.


"Kost-kostan aku ada sih yang kosong, Mba, mau liat dulu nggak?" Tanya Syifa.


"Nggak, lagian kalian tau dari siapa aku mau pindah?" Tanya Ayuna penuh selidik.


"Lah, kata Mas Satria kemaren. Mba Yuna lagi cari kostan atau kontrakan gitu," jawab Syifa.


"Aku nggak jadi pin-"


Mata Ayuna menatapku di gawang pintu, menggantung ucapan yang belum ia selesaikan.


Aku membuang pandangan kearah lain, menuju kursi kerjaku dan meletakkan air hangat di atas meja.


"Mba, kalau mau ngekost di tempatku nggak bisa buat suami istri," ujar Syifa.


Mendengar penuturan Syifa, hatiku seolah ingin memberontak. Astaga! Aku sangat kesal. Bahkan sakit kepalaku kini bertambah.


Aku menyesap air hangat perlahan, mencoba menetralkan perasaan yang kacau ini. Mengalihkan perhatian dengan menatap layar komputer dan mengerjakan pekerjaanku yang belum selesai.


"Yuna, saran aku sih mending kamu cari Apartement aja!" Sahut Gita.

__ADS_1


"Lagian Bagus juga pulang seminggu sekali, bukan?" lanjut Gita lagi.


"Lah, kalau Mas Bagus pulang seminggu sekali apa hubungannya, Ta? Tanya Syifa dengan mimik wajah bertanya-tanya.


"Ya, nggak ada hubungannya sih. Apalagi sama aku. Bagus kan Suaminya Yuna!" Gita tertawa.


Sementara Syifa hanya menggaruk kepalanya belum paham. Sepertinya dia tengah berfikir keras.


Oh, semua mulai terkuak. Ketidaktahuanku selama ini kini terbuka satu persatu. Mulai dari ungkapan Mba Hana kemarin, di susul perbincangan oleh rekan kerjaku sendiri pagi ini.


Sungguh, kepalaku rasanya ingin pecah.


Jadi, nama Bagus yang sering aku dengar disela perbincangan mereka adalah suami Ayuna. Tunggu, yang benar adalah mantan suami.


Tapi sepertinya Gita dan Syifa juga belum tahu jika Ayuna sudah bercerai dengan Suaminya. Sebegitu tertutupkah seorang Ayuna Maharani? Bahkan orang disekitarnya pun tak mengetahui seluk-beluknya.


Tipe pemendam perasaan.


Benar apa yang Mba Hana bilang. Itulah Ayuna.


Perbincangan mereka tak berlanjut akibat Ayuna hanya diam membisu, tak menjawab pertanyaan Gita dan Syifa. Sepertinya itu adalah cara andalannya untuk menutup sebuah pembahasan. Sebagaimana yang dilakukannya kepadaku.


"Eh, si Danu kan tinggal di Apartement?"


Gita mulai bersuara kembali. Padahal seisi ruangan sudah mulai padam. Fokus dengan pekerjaan masing-masing.


"Yuna, coba tanyain Danu. Siapa tahu dia ada kenalan!" Lanjutnya lagi.


"Nggak perlu."


Ya, semua tahu Ayuna akan berkata sedemikian. Irit bicara, namun jika sudah bicara kata-katanya bisa langsung menyayat hati. Nyelekit.


"Lah, kok gitu? Danu pasti bisa bantu. Iya 'kan Danu???


Gita malah berlanjut. Menatapku, seolah menanti sebuah jawaban. Namun aku enggan berbicara saat ini. Ada masanya aku pun ingin diam. Meski sebenarnya aku terbilang banyak bicara.


Aku hanya menatap Gita sekejap, kemudian menggelengkan kepala beberapa kali dengan pelan.


"Yah, kamu nggak mau bantuin Ayuna? Parah ini mah!" Sahut Gita.


Padahal aku menggeleng bukan karena tidak mau. Maksudku, aku meminta agar Gita segera mengakhiri pembicaraannya. Karena aku paham, jika saat ini Ayuna tak ingin membahas hal ini.


Satria, sepertinya pembicaraan ini berawal dari dirinya.


Aku yang mendengar ungkapan Gita hanya diam saja, tak membalas dengan gestur tubuh atau semacamnya. Karena dirasa sangat percuma. Yang ada, nanti Ayuna malah menilaiku berbeda.


"Yuna, apa kita perlu bantuan Pak Robert? Pasti dia bantuin, iya 'kan?"


"Gita!!!"


Sontak, nada bicara Ayuna sudah sangat tinggi. Bahkan semua ini diluar dugaan karena Ayuna telah membentuk Gita.


"Eh, kenapa malah ngebentak aku? Aku kan mau bantuin kamu buat cari jalan keluar?" Ucap Gita sedikit tertatih.


"Nggak perlu bantu aku,"


"Nggak perlu juga maksain diri,"

__ADS_1


"Karena nggak semua orang itu mau dibantu sama orang lain, termasuk aku!"


__ADS_2