Senior Cantik Incaranku

Senior Cantik Incaranku
Perlakuan lebih (2)


__ADS_3

POV. Danu Narendra


"Ayuna, apa aku udah dapet izin?"


Bisikku lirih, mendekatkan wajah ini kearahnya. Memfokuskan mataku pada satu titik. Titik yang sejak tadi sudah menjadi spot sasaranku. Titik yang terus memancing keberanianku.


Aku memang tak bisa sabar menunggu izin darinya. Sampai besok, aku yakin Yuna tak akan mengatakan sepatah kata pun akan izin yang kuminta.


Hingga aku pun memberanikan diri, menyentuhkan dahiku dengan dahi miliknya. Perlahan, aku menghirup dalam-dalam aroma wangi dari tubuhnya. Memabukkan sekali. Bahkan aroma ini membuatku candu.


Tidak hanya itu, sepertinya jantung kami berdua pun tengah beradu. Hingga detakkannya bisa saling kami rasa satu sama lain.


Sungguh, aku tak ingin menyudahinya.


Apa aku boleh melakukan hal lebih??


Sekali lagi, aku mencoba meminta izin, "Yuna, apa aku boleh......."


Belum sempat aku menyudahi ucapan ini, kulihat matanya langsung terpejam. Apakah ini artinya ia mengizinkanku melakukan hal lebih yang sejak tadi aku inginkan?


Satu,


Dua,


Tiga,


Tiga detik, aku tak sabar lagi.


Tak sabar menunggu, hingga aku pun memberanikan diri menyatukan bibir kami.


Cup!


Aku Mengecupnya dengan lembut, sembari menghirup aroma wangi tubuhnya dengan dalam yang begitu memikat dan amat memabukkan.


Semakin dalam aku merasakan kelembutan bibir luarnya, semakin besar pula rasaku untuk lebih menyelaminya. Membuat mataku pun ikut terpejam, meski aku hanya melakukan sentuhan tipis.


Aku merasa, tak cukup jika hanya sampai disini.


Oh, Ayuna.


Kamu benar-benar membuatku candu.


Baru saja aku ingin memulai. Memulai untuk menyelami lebih dalam kenikmatan yang baru saja aku rasakan, hal ini justru harus tertunda.


Ayuna tiba-tiba mendorong dadaku dengan kedua tangannya, hingga tubuhku sedikit bergeser mundur.


"Danu......"


Nafasnya tersengal, hingga pundak dan dadanya pun terlihat sedikit bergerak naik turun.


"Danu, enggak...." Ayuna menggelengkan kepalanya beberapa kali.


Aku hanya bisa menatapnya kecewa, mengalihkan pandanganku ke arah lain. Tak berani melihat matanya yang berbinar itu. Karena matanya itu, aku pun bisa langsung tergoda kembali.


Imanku memang lemah, apalagi jika dekat dengannya.


Si-al!


Harusnya aku tak melakukan ini? Dan kini, akhirnya aku tak ingin menyudahinya.


Kakiku terasa lemah, tak bisa lagi melangkah maju. Padahal jiwaku tengah meronta untuk mendekatinya kembali.


Lanjutkan atau sudahi?? Aku masih ragu.


Nafasku dan nafasnya terasa memburu, namun sepertinya keinginanku dan dirinya berbeda.


Aku ingin melakukan lebih, sementara Ayuna hanya ingin cukup sampai di sini.


Haruskah aku memaksa? Bersikap egois hanya demi kepuasanku semata? Sepertinya itu bukan sifatku.


"Danu, apa yang kita lakuin ini salah!!" Ayuna mulai berbicara, dengan mata yang tengah berkaca-kaca.


Mengapa ia harus mengatakan hal ini. Aku bahkan tak bisa berfikir harus berkata apa.


Aku kembali menatapnya, menghilangkan sejenak perasaan kecewaku, "Yuna, aku......"


Aku menarik nafas panjang, mencoba memikirkan kembali apa yang harus aku katakan, tanpa menyinggung perasaannya yang terkesan sensitif saat ini.


"Aku, minta maaf!"

__ADS_1


Ya, kurasa kata maaflah yang lebih baik aku utarakan. Membuang keegoisanku, rasa kecewaku, keinginanku yang membuncah, demi dirinya. Semua kulakukan demi membuatnya lebih tenang dahulu.


Namun Ayuna malah memalingkan wajahnya, berjalan ke arah meja makan hingga posisinya pun membelakangiku.


"Maaf, aku nggak bisa ngontrol diri ini. Maaf, aku udah ngelakuin hal yang menurut kamu salah...."


Padahal, aku menyukai perbuatanku itu. Andai kamu tahu, Yuna. Aku tak ingin menyudahinya.


Aku melangkah lebih maju, hingga berdiri dekat dengannya yang kini sudah membelakangiku.


"Danu, kenapa cuma aku yang berfikir kalau ini salah?" Tanya Ayuna, dengan suaranya yang kini terdengar sedikit parau.


Pertanyaan yang menguras otak dan energiku. Hingga aku pun tak bisa berfikir lebih jernih.


"Yuna, apa yang aku lakuin tadi itu....."


"Bukan cuma tadi, tapi di Bogor, di rumah sakit, bahkan di kantor!!"


Deg!


Ternyata Ayuna mengingat semuanya. Mengingat semua sentuhan yang pernah aku lakukan terhadapnya. Sentuhan yang awalnya tak kusengaja, tapi kini justru menjebakku kedalamnya tanpa bisa keluar kembali.


Aku, menginginkannya lagi dan lagi.


"Danu, tolong cukup! Karena semua ini sudah salah dari awal!"


Ucapannya seolah mencegahku. Membuat nyaliku sedikit menciut. Padahal aku sudah yakin jika kami memiliki rasa yang sama, tujuan dan hati yang sama pula.


"Aku nggak pernah ngerasa ini salah. Bahkan sejak awal, Yuna!"


Yuna berbalik, menatapku dalam diam, "tapi ini salah!"


"Kenapa kamu mikirnya gitu?? Aku ngerasa kita punya perasaan yang sama, Yuna!"


Matanya berkedip beberapa kali, bahkan ia terlihat menarik nafas panjang secara berulang-ulang.


"Danu, kadang apa yang kamu fikir itu belum tentu bener."


"Enggak semua hal yang kamu rasa sekarang itu nyata."


"Sama halnya dengan perasaan aku....."


"Apa kamu fikir aku ini mati rasa, Yuna??"


"Jadi, kamu fikir aku manusia yang nggak bisa ngerasain perasaan orang lain??"


Ayuna tertunduk, menggigit bibirnya. Membuatku geram.


Melihat gelagatnya, aku tahu jika Ayuna kali ini hanya sedang menghindar. Mungkin ada hal lain yang menjadi pertimbangannya.


Aku tahu, jika ia bukanlah wanita yang sembarangan. Tak mungkin mengatakan hal ini tanpa alasan.


"Yuna," Aku meraih tangannya dengan lembut.


"Jangan nutupin hal yang sudah aku tahu, itu percuma."


Kutatap wajahnya yang masih menunduk, "aku sadar apa yang aku lakuin tadi, maksud aku....."


"Pertama di Bogor, terus rumah sakit dan kantor, itu emang salah!" Aku berkata dengan gugup, mengingat kembali beberapa sentuhan yang pernah aku lakukan sebelumnya.


"Tapi, untuk perasaan aku ini nggak pernah salah, Ayuna!" Sambungku lagi. Meyakinnya. Berharap ia tak akan goyah lagi, apalagi menghindariku.


"Kalau kamu punya perasaan yang sama kayak aku, nggak usah ditutupin......"


"Danu, aku ini janda!"


Deg!


Jantungku rasanya berhenti, mendengar penuturannya. Ternyata, aku pun baru menyadari jika status Ayuna tak sama denganku yang notabennya belum pernah menikah.


Tetapi, aku sedikit lega. Karena dia sudah mulai jujur dan mengakui hal yang selama ini ia tutupi dariku.


"Aku udah tahu," jawabku tegas.


Masih menatapnya dalam-dalam, menelisik setiap sudut wajahnya, tanpa beralih sedikitpun.


Tes!


Air matanya pun menetes. Mengaliri wajah mulusnya. Bahkan meski ia sudah berusaha mengusapnya, air bening itu kembali mengalir.

__ADS_1


Aku semakin menggenggam erat tangannya, menariknya kedalam dekapanku, hingga suara tangis sesaknya pun kini sudah mulai terdengar.


"Jangan ditahan," ucapku lirih, sembari membelai perlahan rambutnya.


"Kalau mau nangis, nangis aja," lanjutku lagi.


"Kalau kamu tahan terus, hati kamu nggak bakal lega!"


Setelah ucapanku, deru tangis Ayuna terdengar semakin kencang. Hingga rasa basah menembus baju pada bagian dadaku yang menjadi penopang kepalanya. Basah akibat air matanya yang terus saja mengalir tanpa henti.


Beberapa menit, kami masih dalam posisi yang sama. Ternyata posisi seperti ini malah membuatku semakin ingin melindunginya. Bahkan rasa kecewa karena penolakannya tadi bisa sedikit hilang. Tapi tetap saja aku tak bisa lupa.


Setelah tak terdengar lagi sedu sedannya, aku pun mulai berbicara.


"Udah nangisnya?" Tanyaku sedikit berbisik ditelinganya.


Ayuna mengangkat kepalanya yang sejak tadi terbenam di dadaku, mendongak, hingga tatapan kami pun bertemu kembali.


Melihatnya seperti ini, aku sungguh tak sanggup. Bukannya terlihat jelek karena habis menangis, mata sembab dan wajah memerah itu malah semakin menggodaku.


"Danu, lebih baik kamu pulang," Ayuna melepaskan tubuhnya dari rengkuhanku.


Padahal, aku belum puas mendekapnya. Mengapa ia begitu cepat ingin lepas dariku?


Ayuna mengusap wajahnya, bahkan beberapa kali terdengar menahan sesak di dadanya akibat menangis.


"Kalau aku nggak mau pulang, gimana?"


Tidak semudah itu ia mengusirku, bahkan ini baru jam sembilan malam. Rumahku dan rumahnya pun tak begitu jauh. Hanya berjarak beberapa langkah saja.


Ayuna mengerlingkan mata, "ini udah malem, nggak baik laki-laki ada lama-lama di rumah janda!"


"Kenapa kamu jadi pesimis??" Aku menatapnya heran. Perkataanya barusan seolah bukan keluar dari mulut seorang Ayuna.


Aku menarik tangannya, hingga tubuhnya pun terhuyung ke dalam dekapanku kembali.


"Jangan bawa-bawa status! Karena perasaanku untuk kamu tetap sama!" Ucapku ketus, berniat menyadarkan dirinya.


Ayuna seolah memberontak, ingin melepaskan diri dariku. Tapi kali ini, aku harus memaksanya. Jika kubiarkan lepas, mungkin ia tak bisa lagi kuraih.


"Jangan gerak!" Perintahku.


"Aku pengen kita terus kayak gini," bisikku ditelinganya, sembari membelai dan menghirup dalam aroma wangi rambutnya.


"Yuna, kamu benar-benar bikin aku......"


Aku mengendurkan rengkuhanku, memegangi kedua sisi pundaknya. Kutatap ia dalam-dalam, dan menarik nafas panjang berulang kali.


"Maafin aku, Yuna....."


Cup!


Aku kembali mendapatkan spot yang begitu menarik keberanianku. Mengecupnya perlahan, penuh kelembutan, dengan perasaan yang membuncah dan menggai-rahkan.


Kuselami bibir ranum miliknya yang begitu menggoda, hingga kebagian dasar. Kubawa dia bersamaku agar terus mengarungi lautan indah yang dalam. Sentuhanku ternyata disambut baik olehnya. Hingga bibir kami pun saling menyatu.


"Eum....."


Dia membalas sentuhanku, penuh dengan gejolak api yang membara. Hingga tanganku ini pun tak bisa diam, merengkuh pundak bagian belakangnya, satu lagi mulai bergerilya mencari satu spot yang bisa aku arungi.


Setelah merasakan betapa nik-mat bibirnya, ternyata aku menginginkan bagian lain darinya.


Kami merasa telah kehabisan nafas. Hingga kami pun saling melepaskan pagutan. Kesempatan ini aku gunakan untuk meminta izinnya kembali dengan satu tangan yang sudah memegang bagian perutnya.


Dengan nafas membara, jantung berdegup kencang, mata yang menginginkan kepuasan, "Yuna, apa aku boleh??"


Yuna menatapku dalam, dimana degupan jantungnya pun sama sepertiku, "a-pa??" Tanyanya dengan nafas memburu.


Aku menggerakkan jemariku, menggesernya dari bagian perut hingga kearah atas di mana bagian itu berada, "ini, apa boleh?" tanyaku dengan sentuhan perlahan dan masih samar-samar.


Karena jika ia tak mengizinkan, maka aku pun tak akan menyentuhnya.


Ayuna memejamkan matanya, menganggukkan kepala perlahan. Hal itu membuatku tersenyum puas. Aku tak ingin membuang kesempatan ini. Aku akan melakukannya sebaik mungkin.


Aku mulai menggerakkan dengan lihai jemariku, meski dari bagian luar tetapi aku yakin sentuhan ini dapat menembus kaus hitam miliknya.


Sungguh, ini pertama kali bagiku menyentuh bagian itu, hingga membuatku gemas.


"Yuna....."

__ADS_1


__ADS_2