Senior Cantik Incaranku

Senior Cantik Incaranku
Satu tujuan (2)


__ADS_3

POV. Danu Narendra


"Aku nggak suka, kalau kamu terus deket-deket sama laki-laki lain."


"Apapun akan aku lakuin, biar kamu terus deket sama aku."


Terkesan Egois memang, tetapi inilah kenyataannya.


Aku tidak pernah rela melihat Ayuna bersama pria lain. Hati kecilku berkata, hanya aku yang boleh mendekati dirinya.


Mata Ayuna yang terus membola, perlahan mengedip beberapa kali. Tak menanggapi ucapanku. Meski begitu, aku tahu jika dirinya pun tak keberatan dengan apa yang baru saja aku sampaikan.


Aku terlalu percaya diri. Tetapi kepercayaan diriku ini, bukan tak memiliki alasan kuat.


Tanpa terasa, waktu terus berjalan. Hingga tiba waktu untuk pulang. Meski semua orang di dalam ruangan ini bekerja dalam keheningan, tetap saja kami bertanggung jawab dalam pekerjaan masing-masing.


"Fa, aku mau ngomong sebentar," Ayuna tiba-tiba memanggil Syifa yang sudah berdiri hendak pulang.


"Gita, aku pinjem Syifa bentar," lanjut Ayuna meminta izin kepada Gita yang sudah memasang wajah malasnya.


Tak ada yang menanggapi, baik Syifa maupun Gita mereka hanya diam.


"Sebentar aja," pinta Ayuna lagi.


"Ck!" Gita berdecak kesal, "Lima menit!!!"


Ayuna mengangguk, sementara Syifa masih diam dengan menundukkan kepalanya.


Yuna mengajak Syifa untuk bicara, aku pun segera keluar ruangan meski tak ada yang meminta. Karena mereka berdua pasti sangat membutuhkan privasi.


Selang lima menit, Syifa keluar dari ruangan sementara Ayuna masih ada di dalam. Aku pun memilih menunggu Yuna di depan pintu.


Aku mencoba menyapa Syifa dengan senyuman kecil, namun Syifa hanya menundukkan pandangannya.


Ada apa dengan Syifa? Sejak makan bersama siang tadi, gelagatnya menjadi aneh. Bahkan dominan diam tanpa kata.


Namun aku tak perlu mengkhawatirkan hal ini, aku hanya perlu menunggu Ayuna yang masih ada di dalam.


Tak butuh waktu lama, Ayuna akhirnya menampakkan batang hidungnya.


"Danu????" Ayuna terperanjat ketika melihatku sudah berdiri di dekat pintu.


"Ternyata kamu kagetan, ya?" timpalku. Mengulum senyuman ketika melihat ekspresi menggemaskan Yuna.


"Kebiasaan!" Umpat Ayuna kesal.


"Suka banget bikin jantung aku mau jatuh!!" Lanjutnya lagi.


"Aku nggak mau bikin jantung kamu jatuh," timpalku.


"Terus??"


"Aku cuma mau bikin hati kamu yang jatuh!"


"Hah??" Ayuna melongo, menatapku tak mengerti.


"Nggak jelas!" Ayuna pun mengambil langkah cepat. Meninggalkanku.


"Ayuna!" Panggilku, karena merasa belum selesai berbicara.


"Aku belum selesai ngomong, malah ditinggalin!" Gerutuku.


"Danu, kamu ngapain sih deketin aku?" Ayuna malah bertanya.


"Lah, kita kan mau pulang?"


"Danu, nggak usah aneh-aneh!"


"Kamu lupa, ya??" Tanyaku pada Ayuna. Mencoba untuk mengingatkannya.


"Lupa apa??" Ia malah balik bertanya.

__ADS_1


"Beneran, kamu emang lupa!" Aku menepuk pelan dahiku sendiri. Sembari terus berjalan beriringan dengan langkah Ayuna yang kian cepat.


Ayuna hanya diam, tak ada lagi hal yang ia katakan. Pandangannya hanya lurus ke depan tanpa mempedulikan aku yang ada di sampingnya.


Namun, langkah Ayuna tiba-tiba berhenti mendadak membuatku pun ikut berhenti.


"Kenapa Yuna?" Tanyaku, masih menatap ke arahnya.


Ketika mataku mengarah kemana pandangan Ayuna berada, ternyata di depan kami sudah berdiri sosok Robert Davidson.


Perasaanku tak baik kali ini. Antara kesal dan takut. Karena ternyata setelah pria berkacamata, ada juga pria berlagak seperti singa yang menjadi sainganku.


"Yuna, bisa kita ngomong sebentar?"


Apa yang akan Pak Robert bicarakan? Dari raut wajahnya, seperti ada hal yang begitu serius. Tetapi, Yuna tak langsung menanggapi pertanyaan Pak Robert. Malah, wajahnya terlihat tengah berfikir. Seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Yuna??" Panggil Pak Robert lagi. Menyadarkan Ayuna yang masih berdiri mematung.


"Pak, maaf. Untuk sekarang saya sedang terburu-buru," jelas Yuna.


"Yuna, pembicaraan kita tadi belum selesai?" Pak Robert malah menatapku seakan ingin membunuh. Padahal ia sedang berbicara dengan Ayuna.


Apa ini adalah kode agar aku pergi? Heuh! Tidak semudah itu. Aku tidak akan pergi meninggalkan Ayuna bersamanya.


"Pak, maaf. Ada hal yang lebih penting dari pembicaraan kita tadi."


Apakah Ayuna kini tengah menolak perintah seorang Boss?? Aku sungguh tidak menyangka. Ayuna akan mengambil tindakan berani seperti sekarang. Tindakan yang jelas sangat menguntungkan diriku.


"Danu, h


ayuk!!" Ayuna menarik tanganku, seolah ia memang tengah terburu-buru.


"Permisi, Pak!" Aku berjalan mengikuti langkah Ayuna yang terus menarik tanganku dengan kuat, sembari berpamitan dengan Pak Robert dan sedikit membungkukkan badan.


Aku terus berjalan sembari mengulum senyuman. Merasa bahagia sekaligus senang karena sentuhan yang Ayuna lakukan.


Meski terasa sedikit sakit, tetapi hal ini justru membuatku merasa tengah menang. Bagaimana bisa, Ayuna malah memilihku bukan Pak Robert?


Ayuna menoleh ke arah belakang, seperti tengah mencari seseorang, "aman," ucapnya dengan nafas tersengal.


Aku terkikik.


"Ngapain kamu ketawa?" Tanya Ayuna menatapku kesal.


"Kamu lucu!" Ucapku jujur.


Ayuna hanya mengerlingkan matanya.


"Mau pulang nggak?" Tanyaku lagi.


"Pulanglah, masa mau minep!!!" Umpatnya.


"Kalau minep bareng kamu di sini mah, aku oke-oke aja!" Timpalku.


"Idih!" Ayuna malah mencibir.


"Beneran mau minep??" Tanyaku lagi meyakinkan Ayuna.


"Ck!" Ayuna malah berdecak. "Ogah!!!" Teriaknya.


"Kalau mau pulang, lepasin dulu," bisikku lirih.


"Apanya???" Tanya Ayuna tak mengerti, menatapku semakin kesal.


"Eum," aku hanya melirik ke arah tangan yang terus saja ia pegang sejak tadi.


Secara spontan, Ayuna langsung melepaskan cekalan tangannya. Hingga wajahnya terlihat kian memerah.


Aku hanya tersenyum, Ayuna memang begitu menggemaskan dengan segala tingkahnya.


Sampai di parkiran, aku menuju tempat di mana sepeda motor matic milik Mba Hana berada. Kemudian meraih helm, dan menyerahkan kepada Ayuna, "nihh,"

__ADS_1


"Aku mau pulang sendiri, aja!" Tolak Ayuna.


"Kok gitu? Tadi ngajakin pulang cepet-cepet?" Tanyaku heran.


"Kok sekarang malah mau pulang sendiri?" Lanjutku lagi, sembari menggeleng menatapnya.


"Tadi itu...."


"Udah, jangan nolak! Pake ini," aku menyodorkan helm ke arahnya kembali.


"Ayok, ntar keburu dilihat Pak Robert!"


Dengan memasang wajah malasnya, Ayuna pun akhirnya memakai helm dan segera mengambil posisi duduk di belakangku.


Ternyata wanita keras kepala ini melunak juga.


"Udah, nggak usah manyun gitu!" Aku mencoba menghibur Ayuna yang masih terlihat kesal.


"Pegangan!" Pintaku mengingatkannya.


"Jangan pegangan belakang!" Aku menarik kedua tangan Yuna, membuat tangannya melingkar di bagian perutku.


Aku bisa melihat bagaimana ekspresi terkejut Ayuna dari kaca spion. Kemudian segera melajukan kendaraan meninggalkan area parkiran.


Perlahan, tangan Ayuna terasa beringsut untuk melepaskan pegangannya.


"Jangan di lepas!!" Ucapku sedikit berteriak.


"Hah???"


Sepertinya Ayuna tak mendengar ucapanku. Hingga aku harus mengulanginya.


"Jangan di lepas!" Teriakku kembali.


"Apa???"


Namun Ayuna masih belum mendengar, tetapi tangannya sudah mulai melepaskan pegangannya pada perutku.


Dengan segera, aku menahan tangan Ayuna dengan tangan kiriku. Berharap ia tidak melepaskan pegangannya.


Aku menepikan kendaraan terlebih dahulu. Setelah mesin sepeda motor mati, aku mulai mengajaknya berbicara.


"Kenapa berhenti, Danu?"


Belum juga aku berbicara, Ayuna sudah bertanya lebih dulu.


"Pegangannya jangan dilepas, bahaya!" Ucapku dengan menoleh kearah belakang, menatap jelas wajahnya yang menggemaskan.


Ayuna hanya terus berkedip beberapa kali, tak menanggapi ucapanku. Perlahan mengarahkan pandangannya ke arah lain. Mungkin ia tak berani menatapku.


Setelah dirasa puas menatapnya, aku pun kembali melajukan kendaraan dengan senyuman.


Sebahagia ini hatiku. Merasa jika Ayuna yang keras bagaikan batu ini sudah mulai melunak seperti jelly.


"Yuna, kita makan dulu, ya???"


"Hah???"


Aku rasa percuma jika berbicara dengan Yuna di atas sepeda motor. Sejak tadi ia tak pernah mendengar ucapanku. Padahal aku sudah berbicara dengan suara keras.


Aku mengendurkan tarikan gas, menjadikan kecepatannya lamban berharap suaraku akan didengar olehnya. Tidak mungkin aku menepikan sepeda motor lagi, jika seperti itu maka kami tidak akan pernah tiba di Apartement.


"Yuna, dengerin aku!"


"Iya, aku dengerin," jawab Yuna seperti seorang penurut.


"Kita makan dulu, ya?? Aku laper!"


"Tapi aku nggak laper!" Timpal Ayuna.


"Yuna, kita kan satu tujuan. Harusnya kita juga satu hati,"

__ADS_1


"Hah????"


__ADS_2