
Pov. Danu Narendra
Aku berjalan mengitari lorong kantor menuju ke dalam ruangan dengan perasaan kesal. Sembari mata yang terus menatap ke arah uang pecahan puluhan rupiah di tanganku.
Dia fikir aku tukang ojek? Yang dibayar lima belas ribu rupiah?
"Heuh!" Jika mengingat ini, perasaan kesalku terhadap Ayuna kini bertambah berkali-kali lipat.
Tiba di dalam ruangan, aku melihat sudah ada Satria di sana.
"Kalian telat barengan??" Tanya Satria, menatapku sinis.
Aku dan Ayuna hanya bisa saling menatap, masih berfikir akan menyampaikan alasan apa.
"Sat, aku tadi ada urusan dadakan sebentar," jelas Ayuna.
"Terus kalau dia???" Tanya Satria, jelas tengah membahasku.
"Nggak tahu!" Ayuna menggelengkan kepalanya.
Mendengar jawaban Yuna, aku jadi bertambah kesal. Bisa-bisanya dia bilang tidak tahu, padahal sejak semalam kami selalu bersama.
Aku memilih menarik kursi kerja, mendudukkan bokongku dengan kasar.
"Danu!" Panggil Satria sedikit keras.
"Kamu itu anak baru di sini, jangan keseringan telat!!!" Lanjutnya lagi.
"Iya, Pak. Maaf," aku hanya mengangguk perlahan. Malas bercakap-cakap lebih panjang. Khawatir, emosiku ini malah tak bisa diredam.
"Terus, kenapa kamu bisa terlambat?" Tanya Satria.
"Saya kesiangan, Pak!" Jawabku, tanpa menatapnya sedikitpun. Memilih memulai bekerja dengan menyalakan komputer.
"Kenapa bisa kesiangan?"
Pria berkacamata ini begitu menjengkelkan. Baiklah, akan kuladeni dia. Jangan salahkan aku jika jantungnya pagi ini akan runtuh.
"Ya, habisnya semaleman saya tidur sama bidadari!" Ucapku senang.
"Jangan mimpi kamu!!!" Celetuk Satria seolah tak percaya, nada bicaranya pun meninggi dan terkesan semakin marah.
Sementara, mata Ayuna semakin membola menatap ke arahku. Aku senang sekali dengan situasi seperti ini.
"Saya nggak mimpi, Pak. Saya emang tidur sama bidadari, semalem!" Ucapku sembari mengulum senyuman.
"Mana ada bidadari di zaman sekarang, Danu!" Sambung Gita.
Aku tidak tahu mengapa dia ikut andil dalam pembicaraan kami. Apa dia memiliki maksud tertentu? Aku harus berhati-hati.
"Ada, bidadari di depan rumahku!" Ucapku begitu saja.
"Heh!!! Yang bener kamu, jangan ngayal!!!" Satria membentakku. Aku rasa dia sudah mulai paham apa maksudku. Secara hanya dia yang tahu jika aku dan Ayuna bersebrangan rumah.
"Satria, nggak perlu seemosi itu," ucap Ayuna mencoba meredam emosi Satria.
"Anak ini makin lama makin nggak tahu diri, Yuna!" Ucap Satria kesal.
"Lah, Danu yang tidur sama bidadari kok kamu yang marah, Sat??" Tanya Gita.
"Eum, apa jangan-jangan kamu kenal sama bidadarinya??" Lanjut Gita lagi, semakin memperkeruh suasana.
"Gita, jangan ngada-ngaada kamu! Mending kamu selesain kerjaan kamu!" Jawab Satria dengan nada tinggi.
"Zaman sekarang mana ada bidadari, yang ada mah L*nte!"
__ADS_1
Gita masih berbicara, meski samar-samar tetapi aku bisa mendengarnya. Bahkan aku yakin jika Ayuna pun mendengarnya juga. Tapi, aku lebih baik memilih diam. Karena meladeni Gita, hanya malah menaikkan emosi jiwa.
"Sat, aku mau ke ruangan Pak Robert. Kamu mau ikut??" Tanya Ayuna, mencoba meredam suasana panas pagi ini.
Bukan hanya itu, aku yakin jika Yuna juga ingin mengalihkan topik pembahasan.
Satria mengangguk. Kemudian berjalan di belakang Ayuna.
"Danu, jadi beneran kamu semalem tidur sama bidadari??" Gita masih memancing. Sepertinya dia belum cukup puas juga.
"Gita, mau aku tidur dengan bidadari atau nggak. Tolong jangan urusin urusan aku!" Dengan jawabanku ini, aku harap Gita akan sadar dan berhenti mengusikku. Apalagi mengusik Ayuna.
"Danu, aku ada pisang goreng masih anget. Mau nggak??" Tawar Syifa menghampiriku.
Aku pun mengangguk, kebetulan sekali perutku ini lapar karena belum sempat makan sejak semalam.
"Makasih Fa," aku mengambil satu potong pisang goreng dari wadah yang Syifa berikan.
"Satu doang?" Tanyanya.
"Emang boleh kalau buat aku semua?" Tanyaku.
Syifa mengangguk cepat, "ini emang aku buatin buat kamu."
"Ati-ati, Fa. Danu mah maenannya bidadari. Kamu itu bukan tipenya," sambung Gita.
"Ta, kamu itu kenapa, sih?" Tanya Syifa
"Omongan kamu itu lama-lama makin nggak masuk akal!" Syifa terlihat semakin kesal.
"Sebagai temen, aku cuma mau ngingetin aja! Takut kamu jatuh dari atas, 'kan sakit!!!" Jawab Gita ambigu.
"Nggak jelas banget!!" Syifa memilih kembali ke tempat duduknya. Dengan wajah kesal dan mulut bersungut.
Memang benar apa kata Syifa, semakin kesini Gita semakin melantur. Ucapannya pun sudah tak ada saringan lagi. Apalagi jika membahas Ayuna.
Selang beberapa menit, Ayuna tiba dengan memasang wajah lesu dan terlihat lelah. Apa dia habis dimarahi oleh Pak Robert?
"Mba, kenapa?" Syifa menghampiri Ayuna. Sekaligus mewakili hatiku yang memang tengah bertanya-tanya.
Ayuna menunduk lesu, memegang kepala dengan kedua tangannya.
"Apa yang Pak Robert bilang, Mba? Apa dia marah?" Tanya Syifa lagi.
"Enggak, Fa. Tapi aku ngerasa bersalah," jawab Ayuna dengan nada lemah.
"Ya emang salah!!" Sambung Gita.
"Gita," tegur Syifa dengan membelalakkan mata kearahnya.
"Mba, udah jangan sedih." Syifa mengusap perlahan pundak Ayuna.
"Kenapa Pak Robert harus ngambil keputusan ini? Aku kasihan sama mereka."
"Tapi itu pantes buat mereka, Mba. Mereka udah nyebarin gossip yang enggak-enggak tentang Mba Yuna!"
Ayuna hanya bisa menarik nafasnya panjang. Tak membahas hal ini lagi.
"Biar aja mereka di pecat! Harusnya yang bikin ricuh emang dapet hukumannya!" Celetuk Syifa, kemudian ia beranjak menuju kursi kerjanya kembali.
Jadi, Pak Robert telah memecat beberapa orang yang sudah memfitnah Ayuna??? Pantas saja grup chat kantor terlihat sudah aman dan damai. Ternyata orang-orang itu sudah out.
Yah, ini memang pantas. Menurutku Pak Robert sudah mengambil keputusan yang tepat. Baguslah, sekarang Ayuna tak akan merasa terusik lagi dengan masalah di kantor.
Waktu terus berputar, hingga jam makan siang pun sudah tiba. Dengan kesibukan masing-masing, rasanya hari ini sangat tak terasa.
__ADS_1
"Danu, makan siang yuk??" Ajak Syifa padaku.
Aku sedikit terkejut, pasalnya Syifa datang ke meja kerjaku dan ini adalah kali pertama ia mengajakku makan bersama.
"Eum.....e-mangnya Gita kemana???" Tanyaku, namun tatapanku bukan mengarah ke Syifa. Melainkan kepada Ayuna yang masih terus saja bekerja.
"Gita makan di luar sama cowoknya!" Jelas Syifa.
"Sekalian ajak aja Ayuna," pintaku ke Syifa.
"Biar kita makan barengan," lanjutku.
"Oh," Syifa mengangguk pelan. Namun terlihat raut wajahnya tak secerah awal ketika menghampiriku.
"Mba, makan siang yuk?" Ajaknya berhati-hati.
"Kalian duluan aja, aku masih banyak kerjaan."
Aku sedikit kecewa mendengar penuturan Ayuna. Bisa-bisanya dia membiarkanku makan siang hanya berdua dengan Syifa. Sementara Syifa terlihat memasang wajah sumringahnya.
"Mba Yuna nggak mau, kita makan duluan aja yuk?" Ajak Syifa lagi.
Aku merasa tak enak hati, apalagi Syifa beberapa hari ini terus berbaik hati kepadaku.
"Oke, hari ini aku temenin, ya."
"Mba, aku sama Danu makan duluan ya?" Syifa meminta izin pada Ayuna dengan hati senang.
Ayuna hanya mengangguk, masih meneruskan pekerjaannya.
"Fa, kamu duluan aja dulu. Aku beresin kerjaan bentar, cuma dua menit!" Pintaku pada Syifa yang masih setia menunggu.
"Oke, sekalian aku cari tempat ya?"
Beruntung, Syifa mau keluar lebih dulu. Setelah Syifa keluar, aku pun menghampiri Ayuna sebentar.
"Kamu jangan lupa makan, dari pagi belum makan," ucapku lirih dekat sekali dengan telinganya.
"Danu, nggak usah deket-deket!" Ayuna marah, dengan mata yang membola. Kemudian mengusap-usap daun telinganya.
"Kenapa?" Aku malah semakin mendekatkan wajahku ke arahnya.
"Danu!!!!" Ayuna malah semakin menantangku dengan mata yang terus membola.
Aku tersenyum smirk, dan semakin mendekatkan wajahku ke wajahnya, hingga jarak kami pun semakin dekat tersisa beberapa senti saja. Dengan cepat, Ayuna pun memejamkan kedua matanya.
"Oke, oke!!! Aku ikut makan sama kalian!!"
Aku berhasil. Kurasa Ayuna akan menyerah jika aku melakukan cara seperti ini. Ini menyenangkan bagiku.
Sampai di cafe dekat kantor, Syifa melambaikan tangannya. Menunjukkan keberadaannya kepadaku dengan wajah sumringah.
"Udah pesen makanan belum, Fa?" Tanyaku, menarik kursi dan duduk bersebrangan dengannya.
"Belum, aku nungguin kamu!" Ucap Syifa terus menyunggingkan senyumannya.
Aku tidak mengerti, Syifa akhir-akhir ini sering sekali menampakkan senyuman manisnya kepadaku.
Saat itu pula, Ayuna datang dan ikut duduk di sebelah Syifa.
"Loh, kok Mba Yuna ke sini? Katanya tadi nggak mau ikut?"
Pertanyaan Syifa terasa aneh. Seakan tak setuju jika Ayuna hadir ditengah-tengah kami.
"Ayuna laper katanya," jelasku berbohong pada Syifa.
__ADS_1
"Owgh!!" Syifa mengangguk, "Danu kamu mau pesen makanan apa?" Tanya Syifa.
Syifa yang bertanya kepadaku, tetapi lirikan tajam Ayuna seakan membunuhku.