
POV. Danu Narendra
"Yuna....."
Rasa kenyal miliknya yang kusentuh, membuatku ingin meraung. Apalagi ketika aku mendengar lirih suara yang keluar dari mulut Ayuna. Membuatku semakin ingin memuaskannya. Mengajaknya terbang melayang ke angkasa bersama.
Aku tak bisa mengendalikan diri. Ayuna adalah salah satu sosok yang selalu membuatku ingin terus merasakan hal yang lebih dari ini.
Jika aku terus melanjutkannya, apakah ini tidak terlalu dini?
"Yuna," aku melepaskan pagutan bibir yang sejak tadi menyatu. Bukan karena kehabisan nafas, melainkan sebuah rasa yang kian bersalah.
Ayuna menatapku, beberapa kali berkedip, disertai nafasnya yang masih memburu. Mungkinkah ia tak ingin menyudahi kegiatan g*la kami?
Tanganku yang tadi bergerilya, menyusuri salah satu aset miliknya pun terhenti. Kini berganti mengusap perlahan bibir ranum yang terlihat bengkak akibat ulahku.
Aku memilih mundur satu langkah, aku tidak mungkin meneruskannya lagi. Jika itu terjadi, aku hanya akan membuatnya semakin kecewa.
Tatapan mata itu menggambarkan sebuah harapan. Harapan yang seakan mengatakan jika ia masih belum ingin menyudahinya.
"Yuna, maafin aku......."
Aku memilih duduk di kursi, meredakan sejenak nafasku yang tak beraturan ini.
"Danu, udah malem mendingan kamu pulang,"
Ini yang tak kusukai. Mengapa Ayuna terus saja memintaku untuk pulang? Padahal ia tahu jika besok adalah hari libur.
"Yuna," kini aku berbicara tanpa melihat ke arahnya.
"Kalau aku pulang, aku mau bawa kamu ikut sama aku!"
Ayuna tak menjawab, hingga aku memutuskan untuk menatapnya yang ternyata masih berdiri dan bersandar di tembok.
Oh, dia sangat seksi. Posisi yang sangat pas untuk terus kupandang dan aku ingin menyelaminya sekali lagi.
Tapi, ternyata hatiku kecil dan otakku masih berkompromi. Seakan tak mengizinkan.
Ingat Danu!! Jangan rakus! Lakukan ini secara perlahan!
Jangan hanya mementingkan kepuasan sesaat!
Jangan merusaknya!
Kamu sudah berjanji akan menjaganya!
Aku segera memalingkan wajah. Tak lagi kupandang sesuatu yang indah di sana.
"Danu, lebih baik kamu pulang!"
"Yu-na, aku....."
Sudah, lebih baik mengalah daripada berdebat. Aku pun memutuskan untuk pulang ke Apartementku.
Ketika aku akan melewati dirinya, Ayuna hanya menundukkan wajahnya. Diam, tanpa kata.
"Maafin aku," ucapku lirih. Kemudian aku pun segera menuju ke luar.
Malam ini adalah malam yang panjang bagiku. Bagaimana tidak? Aku merasa tak dapat memejamkan mata ini meski hanya sedetik saja. Kutatap jam dinding di kamarku, yang ternyata sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
Aku menutup wajah dengan selimut, kemudian membukanya lagi. Berulang kali aku melakukan hal itu, tetap saja tak bisa tidur.
Otakku kini hanya dipenuhi oleh Ayuna, Ayuna, dan Ayuna.
Aku bisa gila jika terus begini.
__ADS_1
Aku duduk di pinggiran ranjang, menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kencang. Perlahan, kudongakkan kepala keatas, memejamkan mata sejenak dan menghilangkan isi fikiranku tentangnya.
Tapi, tetap saja tidak bisa.
Yuna, sampai kapan kamu akan membuatku terus begini?
...****************...
"Ya, ampun Danu!!!!"
Teriakan itu begitu memekikkan telingaku.
Srekkk!!!
Suara gorden kamarku pun terbuka, hingga cahaya matahari bisa menyilaukan mataku yang terasa masih terkantuk-kantuk.
"Danu, jam berapa ini!???"
Teriakan yang tak asing, tetapi aku malas untuk memikirkan siapa pemilik suara yang familiar ini. Aku memilih tetap meringkuk di dalam selimut, menutupi seluruh tubuhku untuk tidur nyenyak kembali.
"Ya, Ampun!!!"
Selimutku pun terasa tersibak. Hingga mau tak mau aku sedikit membuka mataku.
"Bangun, udah siang!!!" Tetiaknya lagi.
Setelah mataku terbuka sempurna, aku pun terkejut dengan kehadiran Mama.
"Mama???"
"Jadi, gini kebiasaan kamu setiap hari??"
Tanya Mama menarik selimut dan melipatnya.
"Ma, ngapain ke sini???" Tanyaku tak mengerti dengan kehadirannya.
Mama langsung berkata dengan suara tingginya. Mengomeliku, hingga memekikkan telinga.
"Ma, maksud Danu nggak gitu...."
"Harusnya kamu yang tengokin Mama!" Potongnya lagi.
"Bangun, cepetan mandi! Mama udah buatin sarapan!"
Ya, begitulah seorang ibu. Meski ia mengomel dari Sabang sampai Merauke, ia tetap memikirkan anaknya.
Jika sudah begini, aku pun terpaksa harus beranjak. Mengurungkan untuk melanjutkan tidurku yang baru beberapa jam.
Setelah selesai mandi, aku keluar dari kamar menuju meja makan. Tetapi, pemandangan yang tak sedap kini mengganggu mataku.
Seorang wanita yang sudah tersenyum dan melambaikan tangannya kepadaku.
"Ngapain kamu ke sini??" Tanyaku menatapnya malas.
"Danu, Mama yang ngajak Laras ke sini!"
"Ma, kenapa......"
"Danu! Kamu nggak ngerasa bersalah sama Laras?? Kamu kabur dari rumah tanpa pamit, terus ninggalin Laras gitu aja??"
Entah apa yang Mama lihat dari wanita ini. Sepertinya dia begitu menyayangi sosok Laras yang terkesan manja. Padahal menurutku dia tak begitu menarik.
Laras tersenyum, "Danu, kamu apa kabar??" Tanyanya menatapku senang.
Aku menghela nafas, tetapi aku juga tak boleh bersikap terlalu acuh dengannya. Pasti Mama akan memarahiku nanti.
__ADS_1
"Baik," ucapku. Kemudian langsung mengambil kursi dan menatap masakan yang telah Mama siapkan.
"Mama masak??" Tanyaku.
"Iya, tadi di rumah," jawab Mama.
"Aku juga ikut bantuin, loh..." sambung Laras.
Hal itu justru membuatku muak. Wanita ini begitu mengesalkan. Apalagi setelah Mba Hana memberitahukan jika Mama dan Papa ingin mendekatkanku dengan Laras.
Mama tersenyum, "Laras udah bekerja keras, meski sebenernya nggak bisa masak!"
Aku tertawa senang, "pasti dia bantuin Do'a doang!"
"Danu!" Mama Memelototiku, "kamu tuh harus hargai usaha Laras!"
Aku mengerenyitkan dahi hingga berkerut, "usaha apaan?"
"Usaha buat lebih deket lagi sama kamu!"
Uhuk! Uhuk!
Ucapan Mama membuatku terbatuk-batuk. Jadi benar apa yang dikatakan oleh Mba Hana. Kini Mama sudah mulai terang-terangan membahas hal ini.
"Kamu jangan cuekin Laras," pinta Mama.
Sementara Laras hanya tersenyum sipu, sembari mata yang terus memandangiku.
Aku tak mengatakan apapun. Lebih baik diam terlebih dahulu. Jika ada waktu yang tepat, aku akan kembali berbicara dengan Mama dan Papa.
Setelah usai sarapan, aku pun mengantarkan Mama ke luar. Karena Pak Udin, sopir keluargaku yang sangat dipercaya Mama sudah menunggu.
"Mama pulang dulu, kasian Pak Udin," ucapnya.
"Biar Danu anter ke luar, Ya Ma?" Tawarku.
"Nggak usah, Mama bisa sendiri. Kamu ngobrol-ngobrol aja sama Laras!"
"Hah???" Aku tak mengerti maksud Mama. Apakah dia akan meninggalkanku dengan Laras di sini?
Ini tak bisa dibiarkan. Aku harus membuat pengertian pada Laras setelah Mama pulang nanti.
Setelah tiba di luar pintu, sesuatu yang tak disangka pun datang. Situasi yang tak tepat pun kini tengah aku hadapi. Hingga aku bingung harus bagaimana.
"Danu, nanti anterin Laras pulang," pinta Mama.
"Laras bilang sama Tante kalau Danu macem-macem, biar Tante kasih pelajaran dia!" Pesan Mama pada Laras.
"Tante tenang aja!" Ucap Laras bahagia.
"Laras yakin, Danu adalah laki-laki baik-baik!" Ucap Laras sok tahu.
Sementara mataku hanya bisa terus menatap sosok wanita di sana. Wanita yang memakai hoodie abu-abu, berjalan perlahan dan menunduk, serta membawa satu kantung plastik besar berlebel Indoapril.
Mama pun berjalan perlahan, melewati Yuna yang juga berjalan berlawanan arah. Namun tiba-tiba langkah Mama terhenti.
"Mba, tinggal di sini??" Sapa Mama pada Ayuna.
"I-iya, Bu," jawab Ayuna dengan pelan, sembari membenahi hoodie yang ia pakai untuk menutupi wajahnya.
"Permisi, Bu," Ayuna segera mengambil langkah dan beralu menuju pintu unitnya.
Aku bisa lihat dengan jelas bagaimana lirikan matanya yang menatapku sekilas. Penuh sekali dengan kekesalan. Ia pun berjalan tergesa-gesa dan segera masuk.
Ayuna, jika tatapan membunuhmu ini akibat melihatku dengan Laras, maka aku pasti akan menjelaskannya.
__ADS_1
Tetapi, mengapa aku berfikir jika tatapanmu ini berkaitan dengan kejadian semalam?