
Pov. Ayuna Maharani
"Ayuna,"
"Kenapa buang muka??" Tanya Danu masih dengan tangan dinginnya yang memegangi wajahku.
"Apa aku jelek??" Tanyanya lagi dengan menyunggingkan senyum kecil.
"Eum, aku cuma ....."
"Cuma apa??" Tanya Danu masih sama menatapku, tanpa beralih.
"Aku nggak biasa kalau ngomong harus tatap-tatapan kayak gini," jelasku dengan jujur.
Tapi, aku sungguh menyesal karena telah mengutarakan kejujuranku dengannya. Hal ini sama saja memberitahu letak kelemahanku.
Danu tersenyum, "nanti juga terbiasa, tapi cuma sama aku,"
Aku mencoba memalingkan wajah kembali, Namun Danu kembali meraih wajahku, "biasain lihat aku kalau kita lagi ngomong,"
"Danu," aku menyingkirkan tangannya yang terus memegangi wajahku.
"Kenapa, kamu nggak suka dengan sentuhan aku??"
"Danu, nggak gitu!" Elakku, disertai sikap kaku.
"Berarti, kamu suka??" Tanya Danu memasang wajah dan senyum sumringah.
Aku mengerlingkan mata, merasa sedikit kesal dengan kepercayaan dirinya. Meski hati kecilku bilang, 'aku tak masalah dengan sentuhannya'.
Danu mengangguk, melepaskan tangannya dari wajahku, "aku rasa emang gitu,"
"Emang gitu, apa?" Tanyaku dengan nada sedikit ketus.
"Tuh, kan??" Danu malah tersenyum semakin lebar.
"Ih, nyebelin!!" Gerutuku, memilih membuang pandangan ke atas langit-langit rumah.
Danu kembali menyentuh wajahku, namun kali ini tubuhnya sedikit condong ke arahku. Hingga jarak kami pun semakin dekat.
"Apa aku senyebelin itu, sampe kamu nggak mau lihat aku??"
Deg!
Ada sebuah desiran dihatiku. Desiran yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Bahkan ketika posisi kami seperti ini, aku merasa tak ingin menyudahinya.
Pandangannya, sentuhannya, deru nafasnya, semua membuatku mabuk.
Perlakuan seperti ini saja mampu mendebarkan jantungku melebihi kecepatan normal, apalagi jika aku mendapat perlakuan yang lebih dari ini.
Perlakuan lebih?
Perlakuan seperti apa yang aku inginkan?
"Yuna," panggil Danu.
Menyadarkanku dari lamunan yang baru saja dimulai. Lamunan yang kuharap menjadi panjang, kini akhirnya harus usai.
"I-ya," aku hanya menjawab sebisanya. Dengan suara lamban, serta gelagat yang begitu kaku.
Danu menyentuh dahiku, mengusap perlahan dengan jemarinya, "kamu sakit??"
__ADS_1
Aku menggeleng perlahan, tanpa mengalihkan pandanganku dari wajah Danu.
"Kenapa keringetan gini??" Danu mengusap-usap dahiku, menunjukkan telapak tangannya yang kini telah basah akibat keringat yang mengucur di sekitaran kepalaku.
"Ya, ampun!!!"
Aku begitu terkejut setelah melihat telapak tangannya yang sudah basah. Aku pun mencoba beranjak dari dudukku, hingga posisiku saat ini setengah berdiri.
Namun dengan posisi seperti sekarang, wajahku dan Danu malah semakin dekat hingga berjarak beberapa senti saja.
Entah apa yang difikirkan oleh seseorang yang kini ada di dekatku, karena sejak tadi ia hanya menyunggingkan senyuman tanpa henti.
Senyuman yang memabukkan.
Sebelumnya aku tak pernah melihatnya terus tersenyum seperti ini. Namu hari ini, aku merasa Danu sudah tersenyum seratus kali.
Apa dia tak memikirkan diriku saat ini yang tengah merasakan getaran-getaran aneh akibat ulahnya?
Danu semakin mendekatkan kepalanya, semakin dekat dan bertambah dekat, hal itu justru membuatku memejamkan mata secepatnya.
Secara spontan, mata ini telah terpejam.
Hingga aku bisa mendengar suara yang berbisik ditelingaku, "kamu mau ngapain?"
Saat itu pula, mataku membola sempurna. Apa yang sedang aku lakukan? Apa yang mengganggu fikiranku? Mengapa hatiku bisa terkecoh oleh seorang Danu?
Danu kembali tersenyum, "mikirin apa, sih??"
"Nggak usah kemana-mana, biar aku ambilin tissue," Danu memegang kedua pundakku agar tetap duduk di kursi, sementara ia mengambil tissue di atas meja ruang depan.
Tak selang lama, Danu kembali dengan kotak tissue ditangannya. Membuat jantungku ini malah semakin terus berdegup kencang. Hingga keringat dingin di tubuhku pun ikut mengucur deras.
"Nggak usah, biar aku aja!" Aku segera merampas tissue dari tangannya, mengusap keringat yang entah darimana datangnya.
Mengganggu sekali, di saat situasi dan kondisi yang tidak tepat.
"Yuna, apa kamu sakit??" Tanya Danu terus memperhatikanku yang masih sibuk mengusap keringat.
Aku menggeleng, "Danu, makannya udah selesai 'kan? Kamu bisa pulang!"
Apa ini? Mengapa tiba-tiba aku mengusir Danu? Ya, Tuhan. Aku tidak mengerti dengan isi kepalaku sendiri.
"Kamu ngusir aku, Yuna?" Tanya Danu dengan memasang senyum miringnya.
"Bukan gitu," aku masih berfikir alasan apa yang harus aku gunakan agar Danu segera pergi dari dekatku.
Jika ia berlama-lama di sini, hatiku bisa runtuh perlahan. Aku tidak menginginkan hal itu.
"Yuna, gimana kalau kita ....."
"Danu, aku rasa lebih baik kamu pulang!" Potongku.
"Yuna, kamu kenapa, sih?" Danu mencoba memegang pundakku, namun aku segera menghindar. Jangan sampai ia melakukan sentuhan fisik kepadaku lebih banyak lagi.
"Yuna, kamu marah?"
Aku mengerlingkan mata, merasa kesal dengan pertanyaannya. Pertanyaan yang sama sekali tak ingin kudengar.
"Yuna, kamu beneran marah?" Tanya Danu lagi. Namun kali ini tidak dengan wajah serius, ia malah menatapku dengan full senyuman.
Menyebalkan!
__ADS_1
"Ish, marah apaan?" Aku beranjak dari kursi, membuang bekas tissue yang tadi kupakai ke kotak sampah di area dapur mini unit Apartementku.
Saat aku berbalik, ternyata Danu sudah berada tepat dibelakangku.
"Astaga, Danu!!!!" Aku begitu terkejut akan kehadirannya di belakangku saat ini.
Danu merentangkan kedua tangannya ke tembok yang ada dibelakangku, hingga tubuhku kini terhimpit oleh tembok dan tubuh Danu.
"Danu, kamu ngapain??"
Dapat aku lihat lengan kokoh milik Danu dengan jelas. Apalagi saat ini kemeja panjang yang ia pakai sudah tergulung sebatas siku karena aksi cuci piring tadi.
Jika memikirkan tiap detail tubuh Danu, itu tak akan ada habisnya.
Kedua tangannya mengunci tubuhku hingga tak bisa pergi kemana-mana. Hal apa lagi yang akan ia lakukan?
"Aku boleh nanya sekarang?" Tanya Danu, menatapku dengan tajam.
Aku mengangguk perlahan, seolah menjadi wanita yang menuruti perkataannya.
"Kamu masih marah?" Tanya Danu dengan nada sangat lembut.
Aku menggeleng, seakan perasaan kesal dihatiku ini sudah hilang seketika.
Danu tersenyum, "berarti tadi kamu beneran marah?"
Aku mengerlingkan mata, "sedikit!"
"Marah kenapa?"
Pertanyaan Danu seperti menjebakku. Bagaimana bisa aku terpancing olehnya. Lebih baik aku bungkam, karena ini adalah senjata andalanku.
Aku juga belum tahu, mengapa aku tiba-tiba kesal terhadapnya.
"Kalau kamu diem terus, aku juga nggak bakal gerak!"
Danu malah mengancamku, hal itu sedikit membuatku ketar-ketir. Jika kami terus berada diposisi seperti ini, maka itu akan membahayakanku.
Aku harus mencari cara agar bisa terbebas dari kekangannya. Hingga aku menggunakan otakku dengan keras untuk berfikir, dan akhirnya cara itu pun kutemukan.
Jika ia menantang, maka aku pun harus menantang pula. Bukanlah diriku jika kalah darinya.
"Aku nggak takut!!" Ancamku pula, menatap matanya.
"Kamu yakin?" Tanya Danu masih dengan suara lemah lembutnya.
"Eum, yakin seratus persen!!!" Timpalku, tanpa rasa takut. Padahal di dalam hati ini, ada kegundahan yang tengah mengganggu.
"Aku suka itu!!" Danu menyunggingkan senyuman, perlahan ia pun mendekatkan kepalanya ke arahku.
"Jadi, jangan salahin aku kalau......aku berbuat yang...."
"Yang apa???" Aku begitu tak sabar, rasanya Danu malah sengaja menggantung ucapannya.
"Kita lihat aja nanti!" Jawab Danu menyunggingkan senyumann kembali.
Aku membuang pandangan ke arah lain, tak lagi menatap wajahnya yang hanya akan memabukkanku jika terus menatapnya.
Sepertinya keberanianku ini sudah menciut, apalagi saat ini nafas Danu seakan meniup-niup kulit leherku. Hal itu membuatku sedikit bergerak untuk merubah posisi. Dan, tatapan kami pun bertemu kembali. Mataku, matanya, tiada henti saling memandangi dalam-dalam.
"Yuna, apa sekarang aku udah dapet izin???"
__ADS_1