
Pov. Danu Narendra
"Ayuna!!"
Aku berteriak sekencang mungkin, memanggil si pemilik nama itu. Namun nyatanya ia tetap melaju, bersama pria lain.
Sungguh miris nasibku!
"Ck!!"
Aku membanting angin kesembarang arah. Meluapkan rasa kesal sekaligus kecewaku.
"Kenapa sih, De?" Tanya Mba Hana. Masih tak mengerti apa yang tengah terjadi.
Aku masih diam, meraup wajah dengan kasar. Tak habis fikir dengan jalan fikiran Ayuna. Padahal sebelumnya, ia terlihat baik-baik saja. Bahkan aku sudah berhasil meyakinkan Ayuna untuk mengantarnya pulang. Tetapi sungguh sial, pria berkacamata itu datang mengusik kebersamaan kami.
Mba Hana terkikik, "jangan bilang laki-laki itu saingan kamu juga, Dek?"
"Nggak level!" Umpatku kesal. Mengingat jika Satria itu tak pantas bersanding dengan Ayuna.
"Wah, banyak juga ya saingannya!" Mba Hana masih terkikik diatas penderitaanku.
Beginilah, jika memiliki saudara yang sedikit somplak! Bukannya ditolong, malah ditertawai habis-habisan.
"Kemaren Pak Robert, sekarang laki-laki itu. Emangnya siapa dia??" Tanya Mba Hana penasaran. Pertanyaan yang sangat malas untuk kujawab. Namun jika tak segera kujawab, Mba Hana pasti terus mencecarku dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan lain.
"Sekretarisnya," jawabku singkat. Setelah beberapa detik berfikir.
"Sekretaris Ayuna?" Tanyanya belum paham.
"Pak Robert!" Jawabku cepat.
"Wow!" Mba Hana terkikik sembari terus bertepuk tangan bebeapa kali. Sebegitu bahagianya dia melihat penderitaanku ini.
"Jadi kesimpulannya ..." Mba Hana masih terkikik. Sepetinya dia sangat senang.
"Kesimpulannya, Ayuna disukai oleh Boss sekaligus sekretarisnya? Daebak!" Mba Hana menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Gitu ya kalau wanita cantik, banyak yang suka!" Ucapnya memuji Ayuna yang kenyataannya memang cantik. Sangat cantik.
"Terus, karyawan biasa kayak kamu juga suka sama Ayuna!" Mba Hana kembali terkikik geli, sembari memegangi perutnya.
"Haduh, Dek," Mba Hana masih tertawa geli.
Aku hanya diam, memasang wajah datar menahan kekesalan di dalam hati. Jika bukan kakakku, mungkin saja aku sudah memaki Mba Hana. Tidak, meski dia bukan kakakku, aku tak pernah diajarkan untuk memaki orang lain apalagi dia seorang wanita.
"Udah, hayuk pulang!" Ajak Mba Hana.
Aku mengangguk, "aku mau ikutin mereka, Mba,"
"Ya ampun, Dek! Segitu takutnya kamu,"
"Takut apa, Mba?" Aku merasa tak pernah takut dengan siapapun.
"Takut kehilangan, Yuna!" Mba Hana kembali terkikik. Sepertinya dia puas sekali menjahiliku.
Aku berjalan cepat, meninggalkan Mba Hana karena sudah merasa amat kesal terhadap gurauan atau kejahilannya. Namun Mba Hana malah berlari mengejarku.
__ADS_1
"Dek, udah nggak usah ikutin mereka. Mendingan anterin Mba pulang!" Bujuk Mba Hana.
"Mba nggak bawa mobil," lanjutnya lagi.
"Tadi ke rumah sakit dianter sama mas-mu," Mba Hana belum berhenti bicara.
Yah, jika sudah seprti ini kondisinya, mau tak mau aku harus mengantar kakak perempuanku yang sedikit somplak ini. Daripada nanti aku disebut sebagai adik yang kurang ajar.
"Iya, iya!" Ucapku.
"Yang ikhlas dong jawabnya," Mba Hana menatap wajahku dengan senyuman yang dikulum.
"Iya, ikhlas lahir batin!" Ucapku jelas, disertai senyuman lebar.
"Udah, mendingan sekarang anterin Mba. Sekaligus ngasih waktu buat Ayuna," saran Mba Hana.
"Kalau lagi ngambek kayak gini, biasanya cewek itu butuh waktu buat sendiri," kini Mba Hana sudah dalam mode serius.
"Biarin Ayuna tenang dulu, biar bisa berfikir jernih! Jadi ..." ucapan Mba Hana menggantung.
"Jadi apa, Mba?" Tanyaku tak sabar.
"Jadi, dia bisa nentuin siapa yang bakal dia pilih." Jelasnya.
"Emangnya jualan barang obral, pake dipilih segala??" Sungutku. Merasa tak menerima penjelasan Mba Hana barusan.
Mba Hana terkikik kembali, kemudian menutup mulut dengan telapak tangannya, "barang cuci gudang!"
Sebagai adiknya, aku kadang heran dengan Mba Hana yang sikapnya bisa berbanding terbalik. Saat bersama keluarganya, tingkah konyol Mba Hana akan keluar. Sementara jika berhadapan dengan orang lain, Mba Hana terkesan lembut, bak putri solo.
"Hati-hati kamu, Dek. Barangkali ada saingan yang lain!"
"Apaan sih, Mba!" Sergahku. Malas jika harus membahas masalah saingan.
"Mba serius, loh!"
Yah, kali ini aku akui. Ucapan Mba Hana barusan memang ada benarnya. Aku tidak tahu siapa saja pria yang akan menjadi sainganku untuk merebut hati Ayuna.
"Nggak ada, Mba!" Ucapku menutupi kekhawatiran diri sendiri.
"Yakin??"
Mba Hana malah membuat kepercayaan diriku sedikit menciut. Seperti kerupuk yang disiram air.
"Ya ..." Aku masih berfikir, mungkin kali ini aku menjadi sedikit ragu.
"Dek, Mba sebagai perempuan aja bisa menilai. Ayuna itu banyak yang ngejar-ngejar!" Mba Hana malah semakin menakutiku.
"Bisa jadi, mantan suaminya dateng lagi. Duh! Kayak di filem-filem!"
Deg!
Apa yang baru saja Mba Hana katakan? Mantan suami? Hatiku saat ini sedang tidak aman.
"Mantan su-ami???" Tanyaku tertatih. Mendadak menghentikan langkah kakiku.
"He'eum," Mba Hana mengangguk perlahan. Kemudian menatapku heran.
__ADS_1
"Kenapa, Dek?? Apa kamu nggak tahu tentang ini??" Tatap Mba Hana penuh tanya.
Aku hanya bisa menelan salivaku. Sekacau inikah aku? Sampai tak tahu hal sepenting ini. Danu, kemana saja kamu!
Aku terus merutuki diri sendiri, di dalam hati.
"Dek, beneran kamu nggak tahu??"
"Mba, aku ..."
"Jawab aja yang jujur, kalau emang kamu udah tahu, ya udah." Potongnya.
Aku menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. Mengingat semua tentang Ayuna Maharani beberapa tahun silam.
Sungguh, aku tidak tahu kehidupan Ayuna yang sebenarnya seperti apa. Yang aku yakini saat ini, dia adalah wanita incaranku sejak dulu. Ya, aku yakin.
"Danu," panggil Mba Hana.
"I-iya, Mba,"
"Malah ngelamun!" Sungutnya kesal.
"Mba tanya, kamu tahu apa nggak masalah Ayuna sama mantan suaminya?"
Duar!!!
Seolah ada ledakan di dalam hatiku. Mengetahui hal ini dari Mba Yuna. Meledak! Membuatnya menjadi berkeping-keping.
"Dek, sebenernya Mba pengen bahas hal ini waktu di rumah, tapi keburu Mama dateng,"
"Bahas apa, Mba?"
"Mba sebenernya udah beberapa kali lihat Ayuna di pengadilan agama, dan terakhir tiga hari yang lalu saat sidang perceraiannya."
Apa ini? Mengapa aku tidak tahu sama sekali? Danu, kamu benar-benar Bo-doh! Sekali lagi, BO-DOH!
"Makanya, Mba coba buat deketin dia. Soalnya terakhir ketemu dia keliatan terpuruk banget," jelas Mba Hana.
"Siapa tahu dia mau cerita, terus Mba bisa kasih tips atau saran ke dia,"
"Tapi, ternyata dia adalah tipe wanita pemendam perasaan. Nggak mudah bagi dia buat cerita ini atau itu ke orang lain."
Panjang lebar Mba Hana menjelaskan, membuatku merasa semakin Bo-doh. Karena aku tidak tahu apapun tentangnya.
Mengapa Mba Hana lebih mengenal Ayuna daripada aku?
"Dek, mungkin kamu bisa buat dia cerita masalahnya. Biar perasaannya itu sedikit lega, ada tempat buat nyurahin isi hatinya. Seenggaknya dia berbagi sedikit!"
"Kalau dipendam terus, mentalnya lama-lama bisa rusak," lanjut Mba Hana menjelaskan banyak saran untuk Ayuna kepadaku.
"Mba, kita pulang sekarang!" Aku berjalan cepat menuju mobilku yang terparkir.
Mba Hana pun mengekoriku, tanpa berkata apapun.
Tidak tahu apa yang sebenarnya tengah aku fikirkan. Mengetahui fakta tentang Ayuna yang sudah menikah bahkan baru saja bercerai membuatku seakan jatuh dari tebing yang tinggi.
Buyar sudah! Kacau!
__ADS_1