Senior Cantik Incaranku

Senior Cantik Incaranku
Sebuah harapan


__ADS_3

POV. Ayuna Maharani


"Aku udah masakin buat kamu, Danu."


Aku tak mengerti, mengapa aku bisa seantusias ini mempersiapkan masakan hanya untuk seorang Danu Narendra.


Sepulang kerja, ketika Danu bilang jika ia ingin makan malam aku langsung memeriksa isi lemari es. Beruntungnya, kemarin aku sempat membeli beberapa jenis sayuran sebagai stok makanan untuk beberapa hari mendatang.


Hingga sekarang, aku tak perlu pusing memikirkan apa yang harus aku masak untuk Danu.


Aku berharap, semoga dia menyukai masakanku yang tidak seberapa ini.


"Danu??" panggilku. Mencoba menyadarkan lamunannya. Karena sejak tadi Danu terus menampilkan wajah melongonya.


"Eh, iya," jawabnya kaku.


"Kenapa?" Tanyaku menelisik setiap sudut wajahnya yang bersih. Sangat sedap dipandang mata.


Namun mataku ini bukanlah mata yang mudah haus akan ketampanan seorang pria. Bagiku, pria yang bertanggung jawab itu lebih penting.


"Apa kamu nggak suka ...."


"Aku suka!!" Potongnya dengan cepat.


"Aku suka apapun yang berkaitan dengan kamu, Yuna."


Mendengar ucapannya, aku tak bisa langsung menjawab. Bukan karena telingaku yang tak mendengar, melainkan hatiku yang kini kembali bergetar.


Tahan, Ayuna. Kendalikan dirimu!


"Ehem!!"


Aku mengumpulkan keberanianku, menghilangkan segala kegundahan hati ini agar tak begitu terlihat olehnya. Memalukan.


"Hayuk, makan dulu," ajakku.


Danu mengangguk, kemudian mengambil piring yang sudah aku siapkan.


Saat aku menyendok nasi, Danu masih terdiam dengan piring putih yang terus ia pegang. Menatap setiap makanan di atas meja secara bergantian.


"Danu, kenapa?" Tanyaku lagi. Khawatir jika ia tak menyukai masakanku.


Terlihat jelas dimatanya, jika ada sesuatu yang mengganjal dihatinya.


"Kalau nggak suka, aku bisa masakin makanan lain," jelasku lagi.


Namun, Danu masih bungkam. Tak mengeluarkan suara kecil sekalipun. Hanya piring yang terus ia pegang dengan kedua tangannya.


"Danu, hey!"


Danu berganti menatapku, "iya,"


"Kamu nggak suka, ya??" Tanyaku lagi.


Danu masih tak menanggapi, malah tatapannya kini semakin dalam.


Aku tersenyum, melihat piring yang terus ia pegangi. Kemudian aku menyendokkan nasi ke dalam piringnya.


"Segini cukup??" Tanyaku.


Danu mengangguk, membuatku bisa sedikit bernafas lega. Karena ternyata dibalik diamnya Danu, ada satu keinginan yang tersembunyi.


Aku seperti sedang meladeni seorang bocah.

__ADS_1


"Lauknya mau yang mana??" Tanyaku, setelah selesai menyendokkan nasi.


"Ini," tunjuk Danu pada ikan goreng.


"Terus itu," Danu menunjuk sambal, "sekalian kuahnya, dikit aja,"


Setelah selesai menyendokkan nasi dan lauk pauk untuknya, aku pun bergantian mengambil bagianku.


"Masakan kamu enak juga ternyata," puji Danu sembari menyantap dengan lahap nasi di hadapannya.


"Berbakat jadi koki!" Sambungnya lagi dengan mulut yang masih penuh, hingga sisi pipinya terlihat mengembang.


Aku hanya mengerlingkan mata, merasa terpuji atas sanjungannya.


"Aku udah lama banget nggak makan masakan rumahan," lanjut Danu.


Sementara aku hanya tersenyum kecil menanggapi ucapannya. Sembari mata yang menatapnya heran, karena sudah beberapa kali ia minta menambah nasi.


"Dulu, waktu belum kerja Mamaku suka masak buat aku,"


"Tapi udah tiga tahun ini, aku nggak pernah dimasakin lagi," jelasnya masih menyantap bagian ikan goreng yang hampir tinggal tulang.


"Kenapa nggak pernah dimasakin lagi?" Tanyaku penasaran.


"Karena kami udah tinggal terpisah," jawabnya.


"Meski sebenarnya rumah orangtuaku nggak terlalu jauh, tapi aku lebih milih tinggal sendiri," sambungnya lagi.


"Kenapa??" Tanyaku lagi. Merasa tertarik dengan cerita Danu kali ini.


"Aku pingin nyobain hidup mandiri," jawabnya menatapku sekejap, kemudian beralih kembali pada ikan gorengnya.


"Meski awalnya berat, jauh dari orangtua. Apalagi waktu masih kerja di Bogor,"


Danu mengangguk, "cuma sejam doang dari sini,"


"Lah, kenapa nggak tinggal aja sama orangtua? Toh kamu udah nggak kerja di Bogor," kali ini aku pun memberikan saran untuknya.


Danu menggeleng, "udah biasa tinggal sendiri, udah gede juga. Malu kalau mau ngintilin orangtua, bikin repot!"


"Lah, kenapa malu? Apa kamu punya banyak sodara?"


"Nggak juga, aku anak bungsu. Kakak perempuanku udah nikah dan tinggal sama suaminya," jelasnya, hingga makanan dipiring pun telah habis. Yang tersisa hanyalah tulang belulang ikan.


Aku menatap Danu heran, "terus, orangtua kamu tinggal sendiri?"


Danu tersenyum, "biar kasih waktu buat Mama sama Papa berdua,"


"Oow," aku mengangguk beberapa kali, dengan mulut yang membentuk huruf 'O'.


"Kalau kamu gimana?"


"Hah??"


Aku menyadari pertanyaan yang baru saja Danu lontarkan, tetapi hatiku merasa ini bukanlah waktu yang tepat untuk menceritakan perihal keluargaku dengannya.


"Keluarga kamu, orang tua atau sodara mungkin?" Tanya Danu, sembari membereskan piring bekas makannya.


"Orangtua aku di Semarang," jawabku.


"Asli Semarang?" Tanya Danu.


Aku mengangguk, "kamu udah selesai makannya??"

__ADS_1


Bukan tak ingin bercerita, tetapi aku masih belum siap jika memberitahu tentang silsilah atau perihal kehidupanku kepada Danu.


"Udah," Danu beranjak dari kursi, menumpuk piring kotor menjadi satu kemudian membawanya menuju wastafel.


"Danu, udah biarin di sini aja!" Pintaku. Merasa tak enak hati karena ia ikut membereskan bekas makanku.


"Kamu udah capek-capek masak,"


"Aku mau bantuin kamu beresan,"


"Mana masakannya enak banget, kalau tiap hari di masakin kayak gini aku bisa gendut!"


Sejenak aku terdiam, ucapan Danu terkesan salah ditelingaku.


"Eumm......" Danu bergumam, "maksud aku, andai aja setiap rumah makan masakannya kayak kamu,"


Kemudian ia pun tertawa sumbang, "Ayuna, aku ....."


"Danu, sini aku aja yang nyuci!"


Aku tak ingin membahas hal yang lebih dalam lagi bersamanya. Karena itu hanya akan membuat perasaanku menjadi semakin tak menentu.


Tak tentu arah.


Jangan bilang jika aku tengah berharap kali ini.


Berharap sesuatu yang tak pasti.


Jangan sampai itu terjadi! Karena berharap pada manusia itu hanya akan menimbulkan kesakitan.


Apa yang aku fikirkan?? Mengapa hatiku ini terus saja membahas sebuah harapan?


"Nggak usah, kamu duduk aja!" Pinta Danu, masih berdiri sembari memercikkan air pada bebrapa piring kotor.


"Danu, aku ....."


"Yuna, aku emang nggak bisa masak. Tapi kalau untuk masalah beres-beres, aku nomor satu!" Ucapnya dengan bangga.


"Kamu duduk aja di situ," lanjutnya lagi.


Aku menyerah, daripada kami terus berdebat hanya karena memperebutkan cucian piring kotor.


Aku pun duduk di kursi meja makan, sembari memandanginya dari jarak yang tak begitu jauh. Jelas dapat terlihat oleh kedua mataku bagaimana lihainya seorang Danu mencuci piring.


Bahkan, tak ada suara berisik saat ia melakukannya. Bagaimana bisa??


Wajar saja jika rumahnya terlihat rapih, ternyata dia seperti ini. Aku sebagai wanita saja merasa kalah jika dibandingkan dengan dirinya.


"Yuna, masih ada yang kotor lagi nggak??"


Danu menoleh ke arahku, hingga pandangan kami pun bertemu.


"Oh, enggak," jawabku kaku.


Danu mengelap kedua tangannya yang basah, kemudian menghampiriku dan duduk di pinggiran meja makan, menyunggingkan senyuman manis dengan menatapku dalam, "makasih, ya udah masakin aku,"


Sungguh, ucapannya kali ini membuat wajahku memerah bak buah delima. Hingga aku harus memalingkan wajah ini dari hadapannya.


"Yuna," panggil Danu dengan jarak yang begitu dekat.


Aku tak menjawab panggilannya, aku berusaha lebih dulu memperhatikan degupan jantungku ini daripada menanggapinya.


Danu meraih wajahku dengan tangan dinginnya, membuatku menoleh hingga tatapan kami pun bertemu, "Ayuna,"

__ADS_1


__ADS_2