Senior Cantik Incaranku

Senior Cantik Incaranku
TALAK


__ADS_3

Pov. Ayuna Maharani


"Dengan ini kami nyatakan, saudara Bagus Prasetyo mendapatkan hukuman pidana empat tahun penjara dan denda senilai seratus juta rupiah,"


Hakim telah mengetuk Palu sebanyak tiga kali, memutuskan hukuman yang harus di terima untuk kasus Mas Bagus.


Aku melihat, Mas Bagus hanya tertunduk lesu dengan duduk di kursi kesalahannya. Tangan terborgol, baju oranye, dia terlihat begitu menyedihkan.


Tidak ada kata-kata lain yang Mas Bagus lontarkan. Yang saat ini heboh hanyalah Ibu mertuaku. Aku tidak tahu kapan ia datang, bahkan aku tak mengabarinya tentang masalah Mas Bagus dan juga Dinda.


Maklum, semenjak aku menikah dengan anaknya, dia tak mau mengakuiku sebagai menantunya. Bahkan dia pernah bilang, telah mencoret nama Mas Bagus dari kartu keluarganya, di hari pernikahan kami. Dari situ, aku tidak berani lagi berurusan dengannya. Mas Bagus pun memintaku untuk tidak lagi menghubungi Ibu atau keluarganya yang lain di Surabaya.


Aku menatap betapa histerisnya Ibu mertuaku ini. Sebagai seorang Ibu, mungkin kali ini hatinya amat terluka melihat anaknya mendapat hukuman. Namun, bukan itu yang dilakukan oleh Ibu yang baik jika tahu letak kesalahan anaknya.


Jujur, aku turut sedih. Ketukan palu pak hakim membuat air mataku terjatuh. Aku pun memikirkan bagaimana nasibku nanti saat ditinggal Mas Bagus. Apakah rumah tanggaku akan terus bertahan? Sementara sudah banyak kerenggangan yang terjadi diantara kami.


Aku tidak akan tahu jika belum menjalaninya, namun aku akan berusaha untuk lebih sabar lagi. Menjadi seorang Ibu yang gagal sudah menyakitkan bagiku, aku pun tidak ingin menjadi istri yang gagal untuk suamiku. Aku ingin memperbaikinya. Semoga Allah memberi jalan untuk niat baikku ini.


"Bu," sapaku dengan mertuaku yang terkenal judes ini.


"Kamu? Untuk apa kamu dateng ke sini? Kamu senang ngeliat anakku mendapat hukuman empat tahun? Kamu puas???"


Niat hatiku ini bersih, ingin memperbaiki dan menunggu Mas Bagus hingga keluar dari penjara meski masih empat tahun lagi. Namun, baru saja aku menampakkan wajahku didepannya dan Ibu mertuaku, aku sudah dinilai tidak benar.


"Bu, aku kesini bukan ..."


"Ayuna, hati kamu itu busuk! Pasti saat ini kamu tengah menertawai nasib Bagus 'kan??"


Lagi, aku dituduh yang tidak-tidak oleh Ibu mertuaku ini. Tuduhan yang diluar nalar, yang sama sekali tidak aku lakukan. Dia sama sekali tidak memberikanku kesempatan untuk berbicara.


"Nggak gitu, Bu. Aku mau ngomong sama Mas Bagus."


Percuma, karena bicara dengan Ibu mertuaku itu hanya akan memperpanjang masalah. Hatinya itu sudah berkobar api berwarna hitam. Sehingga setiap melihatku, yang ada hanyalah kebencian dimatanya.


"Mas," aku menyapa Suamiku yang sejak tadi hanya diam tak bersuara.


"Mas, aku tahu ini berat untuk kamu. Sama, ini pun berat buat aku jalanin. Tapi, mau bagaimana pun ini adalah hukuman yang harus kamu terima akibat perbuatan kamu sendiri, aku ..."


"Ternyata bener ya ucapan Ibuku, kamu emang senang ketika melihatku dihukum begini,"

__ADS_1


Belum juga selesai, ucapanku telah dipatahkan oleh Mas Bagus.


"Mas, aku nggak senang. Justru aku merasa menderita karena ulah kamu," ungkapku apa adanya.


"Bagus, jangan dengerin dia! Kenapa kamu nggak cerain aja istri nggak berguna itu!"


Astaghfirullah, aku hanya bisa beristighfar sebanyak-banyaknya dalam hati sembari mengusap dadaku yang terasa sesak ini akibat hinaan yang terus Ibu mertuaku lontarkan.


"Bu, Ibu nggak berhak ngomong kayak gitu. Ini masalah rumah tangga aku sama Mas Bagus. Jadi tolong kasih aku kesempatan untuk ngomong berdua,"


"Heh! Saya Ibunya, saya lebih tau gimana anak saya. Kamu itu cuma perempuan yang ngerusak masa depan Bagus. Dari awal saya nggak pernah suka sama kamu, dan lihat sekarang? Kamu nggak bisa nuntun Bagus kejalan yang bener. Terbukti!!"


Jadi, aku tetaplah orang yang paling bersalah di sini. Jika suamiku melakukan kesalahan tanpa sepengetahuanku, apakah itu tetap salahku? Apakah aku harus mengakui hal yang jelas-jelas bukan salahku? Tidak!


"Mas, aku mau kita perbaiki semua. Aku mau kamu sadari kesalahan kamu dan taubat. Aku disini akan nungguin kamu, Mas,"


Aku tidak menghiraukan perkataan Ibu mertuaku. Meski sebenarnya sangat sakit hatiku ini menerimanya. Jika saja aku tak mengingat Mas Bagus, bukan tak mungkin aku sudah melawannya dari tadi.


Sebisa mungkin aku menghormati Ibu mertuaku, karena aku menganggap dia juga Ibuku.


"Mas, kita bisa mulai lagi semuanya. Kita bisa perbaikin semua yang udah rusak di dalam rumah tangga kita. Aku mau kita sama-sama saling maafin, apalagi kita udah kehilangan anak kita, Dinda."


"Bagus, dia cuma bisa ngomong. Nggak usah percaya sama dia, kemaren kemana aja?? Toh, Ibu yang selalu temenin dan jenguk kamu di sini, meski Ibu dateng jauh-jauh dari Surabaya."


Racun yang Ibu mertuaku buat, sudah menyebar disetiap sudut otak suamiku. Hingga dengan hebatnya Mas Bagus menghempaskan tanganku dengan kuat. Apakah begini cara seorang suami memperlakukan istrinya? Haruskah menuruti setiap perkataan Ibunya?


"Lepasin tangan aku, Ayuna,"


"Mas, haruskah kamu dengerin omongan Ibu terus? Coba sekali-kali kamu dengerin aku,"


"Kalo kamu emang masih ingin pertahanin rumah tangga kita, harusnya kamu keluarin aku dari sini sekarang. Bukan cuma ngasih iming-iming buat nunggu aku empat tahun lagi!"


Bentakan Mas Bagus membuat hati aku bergetar, sakit sekali rasanya. Sampai-sampai beberapa polisi menatap ke arah kami bertiga. Aku masih menahan sakit hati ini, karena niatku ingin memperbaiki semuanya. Aku masih memaklumi Mas Bagus dan segala bentuk emosinya.


"Mas, aku juga lagi usaha buat ngebebasin kamu. Tapi kamu tahu sendiri, aku nggak punya uang sebanyak itu buat nebus kamu,"


"Tuh, kan. Kamu bisa nilai sendiri. Gimana istri kamu yang munafik ini, Gus,"


"Bu, bisa nggak jangan ikut campur masalah aku sama Mas Bagus?"

__ADS_1


Aku sudah mulai tersulut emosi. Sejak tadi aku hanya diam dan menahan amarah ini. Namun, ternyata sabar itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.


"Lihat, betapa membangkangnya wanita ini. Ngelunjak sama orang tua," umpat Ibu mertuaku dengan nama lengkap Ningsih Asmihayati itu.


"Mas, aku akan cari cara buat bebasin kamu, kamu sabar, ya."


Aku sudah melembutkan suaraku, selembut-lembutnya. Aku meminta banyak pengertian dari Mas Bagus. Namun lagi-lagi Ibu mertua selalu ikut campur dengan pembicaraanku.


"Bagus, Ibu bisa bebasin kamu secepatnya. Tapi kamu harus cerain dia!"


Deggg!!


Sebenarnya yang menikahiku itu siapa? Mas Bagus atau Ibunya? Kenapa yang terus mengucap kata cerai itu selalu Ibunya?


"Ayuna, kamu denger 'kan? Ibu bisa bebasin aku," ucap Mas Bagus dengan tatapan marahnya. Mata tajamnya, rahang rapatnya, semua itu terpancar jelas.


"Terus? Kamu mau nurutin Ibu, Mas?"


"Tentu, karena aku nggak mau hidup membusuk di sini. Lagi pula, kamu nggak nunjukin sama sekali usaha buat bebasin aku,"


"MAS, aku bilang aku lagi usaha. Kamu tahu kondisi aku, sementara uang tabungan kita, asuransi Dinda sudah kamu abisin buat make barang haram itu!!!"


Kekesalanku sudah memuncak, sungguh aku memang tidak bisa menjadi wanita penyabar seperti yang sudah aku niatkan di awal. Aku tidak bisa.


"Heuh! Kamu bahas lagi! Bener kata Ibu, harusnya aku nggak nikah sama wanita pembangkang seperti kamu,"


"Mas? Hati-hati sama omongan kamu, itu bisa ..."


"Aku talak kamu! Aku udah capek, Ayuna!"


Jantung aku sudah tidak berdetak lagi. Aku merasa mati kutu di hadapan Mas Bagus dan juga Ibu mertuaku. Air mata yang telah kubendung, kini tumpah ruah kembali. Meledak!


"Aku talak kamu!!!"


Suara Mas Bagus terdengar bergetar. Dengan tangan yang menunjuk ke arah wajahku.Tatapan Ibu mertuaku terlihat bahagia disertai senyum yang menyungging dari bibir tipisnya. Hampir semua orang yang ada di sini mendengar ucapan talak Mas Bagus terhadapku.


Aku malu, semua orang mengarah kepadaku. Menatapku seakan aku adalah wanita yang begitu rendah dan hina.


Lemas seketika rasanya, aku tidak bisa mengucapkan apa-apa lagi. Tubuhku terduduk di atas ubin dingin, air mataku tumpah sekaligus menjadi saksi kekerasan mental yang Mas Bagus berikan.

__ADS_1


Jika sudah begini, apakah statusku sudah resmi menjadi janda??


__ADS_2