Senior Cantik Incaranku

Senior Cantik Incaranku
Aku ingin memilikinya!


__ADS_3

Pov. Danu Narendra


"Euuggghhhh......"


Aku melenguh, mencoba meregangkan beberapa otot-ototku yang terasa kaku. Tidur di sofa memang tak senyaman di ranjang. Belum lagi suara Alarm yang begitu mengusik telingaku. Saat kuraih benda pipih di atas meja, ternyata sudah menunjukkan pukul lima pagi.


"Bagaimana bisa aku tidur di sini?" Batinku bertanya-tanya. Seakan ingatanku tentang semalam raib terbawa angin.


Seketika aku mengucek mata, pandanganku tertuju pada seseorang yang tengah tidur di sofa, tepat berseberangan denganku.


"Ayuna????"


Sungguh, aku terkejut. Benar-benar terkejut.


Bagaimana bisa ia tidur dengan posisi duduk, kepala yang mendongak ke atas, punggungnya bersandar pada sandaran sofa. Itu pasti kaku sekali.


Ya, Tuhan! Aku benar-benar keterlaluan. Tak menghiraukan keberadaannya di rumahku.


"Yuna," panggilku lirih. Masih memandanginya dari posisiku semula.


Ternyata suaraku ini tak mengusik tidurnya sama sekali. Aku pun memilih mendekat, mencoba membangunkannya lagi.


"Ayuna," panggilku lagi.


Ternyata Ayuna tak juga bangun atau membuka matanya. Kutatap wajahnya sejenak, sungguh wajah ini amat memabukkan.


Meski terkesan cuek, ternyata dia memiliki perhatian khusus untukku. Aku bangga pada diriku sendiri. Bangga karena sedikit demi sedikit aku bisa menarik perhatiannya.


Apalagi jika mengingat, bagaimana ia mengurusku semalam. Ternyata, dia tak membiarkanku untuk tinggal sendiri.


Apakah sekhawatir ini kamu padaku? Sampai harus menginap, meski tahu jika rumah kita hanya berjarak beberapa langkah.


Aku tersenyum menatapnya dalam diam, dengan perasaan damai. Ingin sekali aku menjelajahi setiap detail wajah Ayuna. Menyelaminya, hingga kedasar yang paling dalam.


Danu! Buang jauh-jauh fikiran nakalmu itu!


Baiklah, aku akan membiarkannya terlebih dahulu. Aku pun memilih ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Jika terus di sini, bisa-bisa aku berbuat nekat. Aku tak ingin menodai kepercayaannya terhadapku.


Lima belas menit, aku sudah selesai mandi dan merapihkan diri. Kemudian menemui bidadariku di luar sana. Heuh, aku terlalu berangan-angan!


Ternyata, Ayuna masih dalam keadaan dan posisi yang sama persis. Tanpa bergeser sejengkalpun.


Yuna, apakah tidak pegal jika tidur dengan posisi buruk seperti ini??


Aku pun memilih untuk memindahkannya ke kamar. Bukan karena memiliki niat lain. Dengan begitu dia akan tidur dengan nyaman. Semoga saja.


Perlahan, aku angkat tubuh Ayuna yang begitu memikatku. Dengan penuh kehati-hatian, dengan sentuhan lamban, berharap aku tak mengganggu tidur nyenyaknya.


Menggendongnya ala bridalstyle, tanpa mengalihkan pandangan dari wajahnya sedetikpun. Jiwa ingin memilikinya pun meronta-ronta.


Aku ingin memilikinya. Memilikinya. Memilikinya.


Tiba di kamar, kurebahkan tubuhnya dengan sangat pelan. Takut ia akan terbangun dan bukan tidak mungkin, jika aku akan dipukul atau di tendang olehnya.

__ADS_1


Tetapi, seperti meminum obat tidur. Ayuna tak juga bergerak atau pun membuka mata.


Jantung, tolong kerjasamanya. Jangan membuatku semakin haus karena telah dihidangkan air seluas samudra yang bisa kuselami sepuasnya.


Aku pun hanya bisa duduk dipinggiran ranjang, menelan salivaku berulang kali.


Tenang Danu. Tenangkan hatimu! Jangan goyah, jangan khilaf dan jangan berbuat macam-macam!


Niat utamamu adalah, menjaga dan melindungi Ayuna. Bukan menodainya.


Astaga!


Dia benar-benar menggoda. Menggoda imanku yang tak seberapa ini.


Ceklek!


Suara seseorang tengah membuka pintu kamarku.


Sungguh tak sopan, ada orang yang berani masuk ke dalam kamarku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Aku fikir, orang ini tak memiliki tata krama.


Namun, siapa orang yang bisa masuk seenaknya ke dalam rumahku??


Setelah aku menoleh ke arah pintu, ternyata orang yang kuanggap tak memiliki tata krama itu adalah kakak perempuanku sendiri.


"Mba Hana???"


"Dek??"


"Da......."


"Ssssttt!" Aku segera memotong ucapan Mba Hana yang belum juga selesai. Ucapan yang mungkin akan membangunkan putri tidurku.


Mba Hana menutup mulutnya rapat-rapat, kemudian membolakan matanya hingga hampir menonjol keluar ke arahku.


Marah? Sudah pasti aku akan diomeli habis-habisan olehnya. Aku harus siap-siap menutup telinga.


"Mba....." Aku menghampiri Mba Hana yang masih berdiri mematung, di gawang pintu. Kemudian mencekal tangannya agar ikut denganku untuk keluar, dan berkata sedikit berbisik, "aku bisa jelasin!"


Aku menutup pintu perlahan, berharap tak ada suara sedikitpun.


"Dek!" Mba Hana menghempaskan tangannya, hingga cekalanku terlepas.


"Itu........ituuuu apa???" Tanya Mba Hana dengan nafas tak teratur, sembari tangannya menunjuk ke arah pintu kamar.


Aku berusaha lebih tenang, karena tak ingin menimbulkan kesalahpahaman diantara kami. Apalagi jika Mba Hana menilai Ayuna yang tidak-tidak.


"Mba, ikut aku dulu," aku mengajak Mba Hana menuju ke ruang makan. Berharap suara kami tak terdengar hingga ke dalam kamar.


Beruntungnya Mba Hana pun menurutiku. Hingga kami pun sama-sama duduk di meja makan dan saling berhadapan.


Tuk! Tuk!


Mba Hana mengetuk meja, tanda jika ia sudah siap mendengarkanku.

__ADS_1


"Coba jelasin, sekarang, Danu Narendra???"


Tatapan Mba Hana membuatku sedikit gugup, hingga nafasku pun terasa sedikit sesak.


"Kamu gugup?? Jangan bilang kalau kamu....."


"Mba, itu nggak bener!" Elakku. Karena aku tahu apa yang kini ada di dalam fikiran Mba Hana.


"Terus??" Mba Hana bertanya dengan nada ketus.


"Mba, aku sama Ayuna nggak ngelakuin apa-apa."


"Ayuna itu cuma ketiduran, semalem abis ngurusin aku...."


"Apa??? Ngurusin kamu?? Emangnya kamu bayi?" Potong Mba Hana sembari mencibir.


"Mba, jangan potong dulu. Aku belum selesai ngomongnya!"


Jika situasinya seperti ini, Mba Hana memang sulit diajak kompromi.


"Semalem aku pulang naik motor, nggak pake sarung tangan, nggak pake sepatu, apalagi jaket!terus nyampe sini aku menggigil kedinginan..."


"Itu salah kamu! Ngapain kamu main kabur gitu aja??" Lagi-lagi Mba Hana memotong ucapanku. Namun kali ini malah menyudutkanku.


"Kamu tahu nggak? Di rumah, Mama marah-marah terus. Yang kena getahnya kan, Mba??" Mba Hana menatapku kesal. Sepertinya semalam ia habis dimarahi oleh Mama.


"Belum lagi si Laras, pake ngadu segala kalau kamu pergi naik motor! Mba jadi mati kutu, nggak bisa nyari akal buat ngomong ke Mama!" Rutuk Mba Hana sembari mulutnya mengerucut.


"Dan, sekarang itu nggak penting!" Mba Hana seolah menyudahi penjelasannya, "sekarang jelasin sejelas-jelasnya, kenapa Ayuna ada di dalem kamar kamu, Dek??" Tanyanya penuh selidik.


Aku hanya bisa membuang nafas, "makanya kalau aku ngomong jangan dipotong-potong dulu kayak kacang panjang!" Rutukku.


"Makanya jelasin, sebelum daging kamu yang Mba potong!!!" Mba Hana malah mengancam. Dengan jari telunjuk yang menyilang dilehernya, memperagakan jika tengah menyembelih hewan.


"Mau????" Ancamnya lagi.


"Enggak-enggak!!!" Tolakku cepat.


"Makanya, jangan macem-macem!" Mba Hana kembali mengancam lagi.


"Mba, Ayuna abis bikinin aku wedang jahe semalem. Terus.... aku ketiduran, abis itu aku nggak tahu lagi dan pagi-pagi aku lihat Ayuna udah ketiduran juga!" Jelasku, dengan sedikit terbata.


"Cuma itu aja?" Tanya Mba Hana dengan mata tajamnya.


"I-iya, Mba! Nggak percayaan banget!" Jawabku kesal.


"Yakin??" Tanya Mba Hana meyakinkan.


"Iya, Mba. Seratus persen yakin!" Jawabku.


"Nih!" Mba Hana meletakkan kunci mobilku di atas meja.


"Dek, Mba cuma nggak mau kamu ngehancurin hidup seorang perempuan....."

__ADS_1


__ADS_2