Senior Cantik Incaranku

Senior Cantik Incaranku
Tak bisa menolak


__ADS_3

Pov. Ayuna Maharani


Entah kemana jalan fikiranku ini, apa yang Danu perintahkan kini aku turuti. Seperti permintaannya untuk pulang bersama. Hatiku seolah tertarik magnet, meski mulutku berkata tidak. 


Hingga akhirnya kuputuskan untuk pulang bersamanya. Namun sebelum itu aku harus berpusing ria, mencari alasan yang tepat kepada Pak Robert. 


"Saya ingin pulang naik taksi, Pak," ucapku. Berharap ia akan membiarkanku pulang sendiri.


"Untuk apa Ayuna? Aku bisa antar kamu sampe depan rumah!" Tolak Pak Robert.


Berbagai macam alasanku, berbagai macam pula penolakan Pak Robert. Kenapa aku harus dihadapkan dengan situasi seperti ini, Tuhan?


"Ayuna, jangan khawatir. Aku nggak bakal macem-macem!" Ucap Pak Robert mencoba meyakinkan.


Namun dari sorot matanya, aku tidak bisa percaya begitu saja. Entah mengapa Danu lebih meyakinkan dibandingkan Pak Robert. 


Apalagi setelah kejadian kemarin malam, Danu telah menyelamatkan nyawaku. Menjadi pahlawan tanpa tanda ....


Mengapa aku jadi membandingkan Danu dengan Pak Robert?


"Ayuna, ayo!" Ajak Pak Robert agar aku segera masuk ke dalam mobilnya.


"Pak, maaf. Tugas saya sudah selesai di sini." Ucapku berhati-hati. Karena ia hanya memintaku menemaninya ke acara pesta. Dan kurasa ini sudah selesai.


Meski aku sudah di ubah bak princess malam ini. Dengan gaun berwarna salem yang harganya pun melebihi tiga bulan gajiku. Belum lagi perawatan salon dan penataan rambutku. Begitu pula wedges dan tas yang kupakai. Semuanya benar-benar dibuat mudah oleh Pak Robert. Hanya karena apa? Hanya karena ia tak ingin dijadikan bahan ejekan oleh teman-temannya.


Sulit memang menerima permintaan Pak Robert, tapi dia adalah 'BOS'.


"Saya mau pulang sendiri, ada urusan yang harus saya selesaikan, Pak," lanjutku.


Hanya helaan nafas panjang Pak Robert yang dapat kudengar. Kemudian ia pun masuk ke dalam mobil, menatapku kecewa dengan ucapan sedikit ketus, "baiklah, kalau ada apa-apa hubungi aku!"


Aku mengangguk perlahan, kemudian membiarkan mobil Pak Robert berlalu. Tak butuh waktu lama, mobil Danu pun muncul menghampiriku. 


"Sebenernya apa tujuan kamu, Danu??" Tanyaku pada Danu. 


"Tujuanku adalah menjaga, melindungi, memperhatikan ..." 


"Danu!!!" Potongku dengan suara keras. 


Aku sedang serius, tak ingin mendengar ucapannya yang terkesan bermain-main.


"Yuna, jangan marah-marah," ucap Danu dengan suara tenang.


"Kamu lagi cantik banget malem ini, aku nggak mau lihat kamu marah-marah," sambungnya. 


Apa-apaan, dia? Mengapa perkataannya seolah membuat wajahku menjadi memerah, "kamu tu ya, kalo ngomong ..."


"Sstt!" Danu meletakkan jari telunjuknya pada bibirku. 


Terasa sekali sentuhannya itu. Hingga membuat sesuatu terasa berdesir dalam hatiku.

__ADS_1


Danu tersenyum, terus menatapku dalam diam. Aku pun hanya bisa diam karena jari Danu yang masih membungkam mulutku. 


Namun, aku segera menepiskan pandangan Danu dengan menghindari jari telunjuknya dari bibirku, "eehm!!" 


"Maaf," ucap Danu lirih. Kemudian ia pun kembali melajukan mobilnya. 


Setelah tiba di gang dekat rumah Bu Siti, aku meminta Danu tak perlu lagi mengantarku. "Nggak usah nganterin, aku jalan sendiri aja."


"Aku pengennya nganterin," jawab Danu 'ngeyel'


"Danu, aku bisa pulang ke rumahku sendiri." Bantahku.


"Nggak tinggal sama Bu Siti lagi?" Tanya Danu penasaran.


Aku pun mencoba sedikit menjelaskan, "aku nggak mungkin terus-terusan tinggal sama Bu Siti, Danu." 


"Emangnya kenapa?" Tanyanya dengan wajah polos.


"Aku nggak mungkin ngerepotin orang lain teruss!" Jawabku kesal.


"Lah, emang Bu Siti orang lain??"


Aku memilih diam, berdebat dengan Danu aku rasa percuma. Jadi, diam lebih baik untuk memutus perdebatan yang tiada ujung ini.


Tidak mungkin juga aku menjelaskan siapa sebenarnya Bu Siti? Apa hubungannya denganku? Dan, seluk-beluk yang lainnya. Menurutku, Danu tak perlu tahu detail tentangku. 


"Oke, mungkin Bu Siti orang lain. Tapi, kamu harus ada temen, Yuna. Untuk sementara ini, sampe keadaan bener-bener aman!" 


Aku sudah dewasa, aku tak mungkin terus bergantung dengan Bu Siti yang jelas tak memiliki hubungan tali saudara denganku.


"Aku bisa jaga diriku sendiri," ucapku memaksa untuk kuat. 


"Yuna, bukan nggak mungkin orang jahat itu bakal ..."


"Kamu lihat 'kan? Sampe sekarang orang jahat itu nggak muncul? Aku sudah aman, Danu!!" Potongku. 


Jujur, kekhawatiran Danu ini malah semakin membuatku terlihat lemah, tidak mandiri dan cengeng. 


"Yuna, penjahat itu lebih licik! Mereka nunggu waktu saat kita lengah!" 


Danu menghembuskan nafas panjang, menatapku dalam, "kalo nggak mau tinggal sementara sama Bu Siti, kamu tinggal sama aku aja,"


"Danu!!" 


Aku merasa Danu berlebihan. Apakah ini yang dia inginkan? Dia fikir aku wanita macam apa?


"Yuna, sementara aja. Sampe waktu bener-bener aman!"


"Jangan g*la!!!"


Aku sudah teramat kesal, "kamu fikir aku wanita macam apa, Danu?" 

__ADS_1


Aku pun meneruskan langkahku, berada lebih depan daripada Danu yang terus membuntuti kemana pun aku berjalan.


Tanpa terasa karena perdebatan ini, kami pun sudah tiba di depan rumah kontrakanku. 


"Kamu tinggal di sini?" 


Aku benar-benar lengah, sampai membiarkan Danu ikut pulang ke rumah. 


"Yuna, besok aku jemput lagi."


"Danu, nggak usah!" Tolakku.


"Pokoknya aku jemput! Kamu buruan masuk!" Perintahnya yang langsung aku turuti.


Tanpa banyak bicara lagi, aku pun langsung masuk ke dalam rumah. Membiarkan Danu pergi, tanpa basa-basi mengajaknya untuk singgah walau sebentar.


***************


Saat aku akan pergi ke kantor, mengunci pintu rumah aku dikejutkan oleh kehadiran Danu yang tiba-tiba muncul. 


"Danu???" 


Padahal aku sudah sedikit lega, karena sempat berfikir jika Danu takkan menjemputku hari ini. Ternyata fikiranku itu salah. Danu tetap dengan keinginannya.


"Kaget ya??" Tanya Danu dengan sedikit nyengir.


Aku menoleh ke arah kanan dan kiri, melihat sekitaran rumah. Untung saja aman dan tak ada orang yang melihat kehadiran Danu. 


"Danu, ngapain sih ke sini??" Tanyaku sedikit berbisik.


"Hah???" Danu membuka mulutnya. Merasa tak mendengar Ucapanku.


"Ngapain ke sini???" Ucapku masih berbisik namun sedikit memberi penekanan. 


Danu malah mendekatkan telinganya kearahku, "apaan, sih?? Nggak denger!" 


Sontak hal itu semakin membuatku kesal. Aku memilih berjalan cepat, meninggalkan dia. 


Hingga aku dapat mendengar ia berteriak memanggilku. "Ayuna!!!"


Aku tak mempedulikan itu, namun ternyata aku memang kalah cepat darinya. Sampai-sampai Danu dengan mudah mencekal tanganku. 


"Danu, lepas!!!" Pintaku memberontak.


"Nggak usah ngelawan, kamu mau orang-orang pada liatin kita?"


Danu membukakan pintu mobil, "Masuk!"


Dan, dengan berat hati aku pun masuk ke dalam mobilnya. 


"Sabuk pengamanan jangan lupa!" Perintah Danu.

__ADS_1


Entah hatiku yang sudah melemah, atau karena Danu yang selalu memerintah seolah memaksa, aku tidak tahu. Yang jelas, saat ini aku seolah menjadi seorang wanita penurut, hingga tak bisa menolak perintah Danu.


__ADS_2