
Pov. Danu Narendra
Saat menuju pulang ke villa, aku hanya diam di dalam mobil. Yuna pun sama, kami tak mengeluarkan suara sama sekali. Ku lihat, Yuna hanya terus fokus memandangi sekitaran jalan yang tengah kami lalui. Sama halnya denganku yang terus fokus menyetir.
Setibanya di dalam villa, aku menuju ke lantai dua duduk di kursi panjang yang ada pinggiran kolam. Fikiranku masih tertuju dengan Fathin. Teganya dia melakukan hal itu, selama ini ternyata Fathin telah membohongiku.
Apakah aku dan Fathin tidak ditakdirkan untuk bersama? Padahal, aku sangat berharap Fathin akan menjadi pelabuhan terakhirku. Setelah pencarianku terhadap wanita idamanku selama ini tak juga membuahkan hasil. Entah kemana dia, aku sudah berusaha melupakannya sejak kutemukan seorang Fathin. Tetapi sepertinya Fathin bukanlah orang yang bisa menghilangkan ingatanku tentangnya.
"Ini,"
Suara Yuna menyadarkan lamunanku. Bukan hanya itu saja, satu gelas teh hangat di tangannya pun membuat aku merasa sedang diberi perhatian olehnya. Ternyata, Ayuna bukanlah wanita yang selalu bersikap keras dan cuek. Ada sisi kelembutan yang ia simpan, hingga tak banyak yang mengetahui hal itu.
"Terimakasih,"
Aku menerima segelas teh hangat dari Yuna. Meneguknya perlahan, mencoba menetralkan perasaanku yang tengah kacau saat ini.
Setelah memberikan teh kepadaku, Yuna pun duduk di kursi tepat bersebelahan denganku.
"Aku sama Fathin ngejalin hubungan hampir dua tahun,"
Aku mencoba membuka suara, menuangkan curahan hatiku pada Yuna. Semoga saja dia mau mendengarkan kali ini. Itulah harapanku.
"Tapi aku nggak nyangka, aku bakal di selingkuhin. Ternyata gini rasanya,"
Aku merasa malu terhadap Yuna. Bisa-bisanya kejadian ini disaksikan oleh dirinya. Jika waktu bisa kuputar, aku tidak ingin bertemu dengan Fathin dan Rangga malam ini. Meski Fathin berselingkuh, aku tak perlu memergokinya seperti tadi. Tuhan memang sedang mengujiku, sekaligus memberi titik terang akan hubunganku dengan Fathin.
"Menurut kamu kenapa dia bisa berselingkuh?"
Ternyata Yuna menanggapi pembicaraanku. Aku pun mencoba berfikir atas pertanyaan Yuna kali ini. Mencari-cari kekuranganku yang membuat Fathin mendua. Jika ditelisik lebih dalam, aku memang masih banyak kekurangan.
"Seperti ucapannya tadi, kamu pasti denger sendiri. Mungkin aku ngebosenin!"
Aku menjawab apa adanya. Mengingat ucapan Fathin yang sangat meyayat hati. Sadis sekali dia, mengecapku sebagai pria yang membosankan.
"Ha, ha, ha!" Ayuna Tertawa hingga menampakkan sederetan gigi putihnya.
"Eh, malah ketawa?"
Baru kali ini aku melihat tawa lepas dari seorang Ayuna Maharani. Seseorang yang selalu aku lihat murung, cuek, terkesan tegas dan sombong. Tetapi malam ini, Ayuna sungguh berbeda. Ingin sekali aku merekam tawa Ayuna kali ini, karena merupakan sesuatu yang langka. Tapi sayang aku tak sempat mengeluarkan ponselku.
"Abisnya, alesannya aneh banget. Lucu!" Celetuk Ayuna, kemudian menutup mulut dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Lucu apanya?"
Mataku tak bisa berkedip menatap Ayuna yang kini masih duduk di sebelahku. Bahkan, aku berharap momen ini akan berlangsung lama.
"Ya, lucu aja. Tapi kayaknya Fathin masih muda banget, ya?" Tanya Yuna disertai raut wajah sedikit berfikir.
"Dia baru masuk universitas tahun ini," jelasku.
"Oh, pantesan. Kelihatan masih bocah!"
"Ya, begitulah. Dia emang cewek yang sedikit manja. Aku nggak tahu kenapa kok bisa sayang sama bocah itu," ujarku masih menelan pahitnya kenyataan yang terjadi malam ini.
"Danu, rasa sayang itu nggak pernah mandang umur. Justru karena sikap atau watak dia yang beda dari orang lain, rasa sayang yang lebih itu akan tumbuh,"
Dewasa sekali. Aku merasa sedang mendapatkan nasihat dari seorang Ayuna. Petuah yang ia tuangkan, dapat diterima dengan baik oleh telinga hingga meresap ke dalam lubuk hatiku.
"Lantas, kenapa dia harus mendua, Yuna? Kadang aku nggak ngerti sama jalan fikiran wanita,"
"Sikap wanita itu tergantung prianya. Kamu seharusnya intropeksi, apa kesalahan kamu yang bisa bikin Fathin sampe mendua kayak gini?"
"Dia bilang aku ngebosenin, bahkan Rangga bisa selalu ngertiin apa yang dia mau. Pria yang hebat!"
"Nah, may be kamu nggak pernah kasih apa yang dia mau?"
Mungkin tebakanku kali ini salah. Fathin juga tidak pernah meminta hal-hal aneh ataupun hal lainnya kepadaku. Untuk masalah pemberian, aku tidak ingin mengungkitnya lagi. Uang bisa dicari, tetapi kekasih yang setia sepertinya sangat sulit.
"Nggak mungkin!" Aku menggelangkan kepala.
"Apanya yang nggak mungkin, Danu? Bisa jadi, hal yang kamu fikir itu bener-bener penyebab Fathin selingkuh!"
"Apa karena aku nggak pernah menciumnya?"
"Ha????"
Aku melihat mata Ayuna membola sempurna karena terkejut. Mungkin dia tidak menyangka jika aku memang tak pernah menyentuh Fathin selain berpegangan tangan. Hal itupun jarang kami lakukan. Karena aku sangat menghargai wanitaku.
"Kenapa? Kamu nggak percaya, Yuna?" Tanyaku dengan tatapan semakin dalam ke arah mata Yuna.
"Oh, enggak. Enggak gitu, aku ..."
"Aku yang lebih nggak nyangka. Kenapa pria yang berniat menjaga dirinya malah disia-siakan? Sementara, dia lebih memilih di rusak oleh pria lain. Heuh!"
__ADS_1
Belum selesai Yuna berbicara. Aku sudah langsung memotong ucapannya. Aku juga bisa melihat jika Ayuna saat ini tengah bimbang akan hal yang baru saja ia katakan.
"Danu, nggak perlu sejauh itu. Mungkin Fathin udah dapetin kenyamanannya dari Rangga. Apalagi, hubungan kalian long distance, iya 'kan?"
"Ya. Dia pasti nyaman banget sama Rangga. Apalagi waktu di cium Rangga!" Jawabku dengan senyum smirk. Senyum pahit dan sakit. Sakit karena menyaksikan wanita yang selama ini aku jaga malah melakukan hal yang tak pernah aku lakukan padanya dengan pria lain. Nyeri sekali.
Dapat aku ingat dengan jelas apa yang aku lihat tadi. Akh, Fathin dan Rangga, mereka berdua membuatku menjadi ingin berniat jahat.
"Eum, mungkin," ucap Ayuna disertai beberapa kali anggukan pelan.
Mungkin Ayuna tak ingin lebih memperdalam pembahasan kami malam ini. Hingga ia hanya menjawab singkat. Padahal, banyak hal yang ingin aku dengar tentang tanggapannya.
"Sebagai wanita, apa kamu bakal berbuat yang sama kalo ada di posisi Fathin?" Tanyaku ingin tahu bagaimana perasaan seorang wanita. Munhkin jawaban Yuna bisa membantuku.
"Kok, nanyain aku?" Bukannya menjawab, Ayuna malah bertanya kembali.
"Aku cuma pingin tahu aja. Gimana perasaan kamu sebagai sesama wanita?" Aku coba mengulang kembali pertanyaan itu kepada Yuna. Karena rasa penasaranku mungkin akan terjawab.
"Nggak semua jalan fikiran wanita itu sama, Danu. Aku sama Fathin itu berbeda, jauh!"
"Aku mau tahu, Yuna!" Tegasku.
"Tahu apa?"
"Apa yang membuat kamu berbeda dari Fathin?"
Takkan aku alihkan pandangan ini dari wajah Yuna. Aku benar-benar puas menatapnya malam ini, Hingga ada hal lebih yang ingin kulakukan bersamanya.
Hatiku memang sakit karena Fathin, tapi setelah menatap Yuna yang menemaniku sejak tadi, fikiranku tentang Fathin pun bisa memudar. Bahkan aku merasa, jika Ayuna adalah obat penyembuh yang Tuhan hadirkan untukku.
"Danu, aku mau istirahat,"
Seperti pernah terjadi, aku telah di tolak oleh Yuna, lagi.
"Eum, okey,"
Aku paham, bahkan mencoba lebih memahami Yuna. Jika dia memang tak ingin lebih untuk kudekati, aku tak akan memaksa.
"Sebaiknya kamu juga cepetan tidur,"
Aku hanya mengangguk perlahan. Melarangnya untuk pergi pun aku tak bisa. Padahal jelas, aku butuh di temani saat ini. Mulutku seakan bungkam, tak bisa berkata apa-apa lagi.
__ADS_1
Apa yang aku fikirkan sebenarnya? Masalahku kali ini dengan Fathin, mengapa selalu Yuna yang menjadi prioritas di dalam otak dan hatiku?
Ayuna.