
Pov. Ayuna Maharani
Aku tidak tahan dengan celotehan Gita. Karena merasa ia terus memancing-mancing emosiku sejak awal pembicaraan kami. Apalagi dengan melibatkan nama Danu dan Pak Robert.
Perkataan Gita tak seperti biasanya. Apa sebenarnya ada hal lain yang ia ketahui? Mengapa seolah ia bersikap sangat ingin tahu?
"Nggak perlu bantu aku,"
"Nggak perlu juga maksain diri,"
"Karena nggak semua orang itu mau dibantu sama orang lain, termasuk aku!"
Sudah, semua diam. Setelah ucapanku barusan. Ucapan yang keluar diiringi nada kekesalan, mimik penuh emosi, karena tak tahan lagi dengan sikap Gita.
Aku memilih duduk dan mengerjakan pekerjaanku. Karena tak fokus, berulang kali aku harus merevisi teks yang kini aku buat. Untuk apa aku bekerja jika seperti ini? Saat otak memikirkan hal apa, sementara hati merasakan hal lain? Merasa sia-sia.
Sempat aku menoleh ke arah pria berbaju navy di sebelahku. Pria yang tak berbicara sepatah katapun kepadaku hingga saat ini. Beberapa kali kulihat dia memijit pangkal kepalanya, kemudian merebahkan kepala itu pada meja.
Apa dia sedang sakit?
Tidak perlu tahu, tidak perlu juga sibuk memperhatikannya, Ayuna.
Bukankah ini yang kamu mau?
Menjauhinya. Menyingkirkannya dari fikiranmu.
"Mba, makan siang," ucap Syifa kepadaku. Karena sudah waktunya istirahat.
Aku tersenyum kecil, "iya, duluan aja, Fa,"
"Danu, hayuk makan siang," ajak Syifa juga dengan Danu.
"Aku entar aja, Fa," sahutnya dengan nada lemas.
"Kamu keliatan lagi nggak sehat?" Tanya Syifa menghampiri meja kerja Danu. Mencoba meraih kepala Danu dengan telapak tangannya, Mungkin Syifa hendak mengukur panas atau tidaknya dahi Danu.
Namun belum juga tersentuh, Danu langsung mengelak. Menghindar dari sentuhan Syifa.
"Maaf," ucap Syifa tak enak hati. "Aku cuma mau cek kamu demam apa nggak," lanjutnya lagi dengan nada hati-hati.
Em, aku tidak bisa berkomentar. Meski ada sekelibat rasa aneh dalam hati ini karena sempat melihat penolakan Danu terhadap sentuhan Syifa.
"Ya udah, kalau gitu kita keluar dulu," Syifa terlihat kaku. Mengajak Gita keluar untuk makan siang. Meski begitu, ia tetap memberi senyuman kepadaku.
__ADS_1
Namun tidak dengan Gita, yang biasanya berbasa-basi. Kali ini dia memilih diam, memasang wajah masam dan keluar begitu saja. Kemudian Syifa pun menyusul temannya itu.
"Kita makan siang duluan, ya ..." Syifa menyunggingkan senyuman aneh. Senyuman yang menunjukkan betapa kikuknya dirinya sembari melambaikan tangan.
Aku membuka laci, melihat ada beberapa jenis obat di dalamnya. Kemudian mataku mencari obat pereda nyeri atau sakit kepala. Tanpa berfikir lama, aku mengambi obat itu dan memberikannya pada Danu, "ini,"
Danu tak menjawab apapun, aku memilih meletakkan obat pereda nyeri itu di atas mejanya.
"Kalau kamu nggak kuat, mendingan pulang aja!" Itulah saran yang bisa kuberikan pada Danu. Karena enggan berbasa-basi, aku pun menuju keluar untuk makan siang.
Apakah setega ini diriku? Mengingat semua perlakuan yang Danu berikan ketika aku sedang sakit. Bahkan ketika aku dalam masalah besar. Danu lah yang membantuku. Meski sebenarnya itu bukan mauku.
Aku merasa mnjadi manusia yang tak bisa membalas budi. Jahat sekali.
Biarlah, ini adalah pilihanku. Pilihan agar hatiku aman. Tak lagi merasa terlalu mengandalkan Danu yang terus berada dekat denganku. Seperti sebelumnya.
Tiba di restoran cepat saji di dekat kantor, aku merasa ada hal yang aneh. Bahkan janggal. Karena banyaknya mata yang memperhatikan diriku dari atas sampai bawah. Kemudian saling berbisik. Berdesas-desus.
Apa ini? Apa sebenarnya yang tengah mereka perbincangkan dengan mata yang menatapku seolah lapar?
Kejadian ini yang membuatku sedikit takut. Apa benar mereka tengah membicarakanku?
Aku segera mengantre, untuk memesan fried chicken dengan nasi. Setelah beberapa menit, pesananku pun selesai. Kemudian aku langsung menuju ke kantor kembali.
Tiba di lorong kantor, ada beberapa orang yang menatapku aneh seperti di restoran cepat saji tadi. Kemudian saling berbisik. Aku pun memutuskan untuk segera menuju ke ruangan kerja saja.
"Eh, iya. Dia orangnya," seorang wanita menatapku sinis berbicara dengan teman wanitanya yang lain.
"Cantik, sih! Jadi wajar aja kalau Pak Robert booking dia!" Sahut teman wanitanya itu.
Apa yang baru saja wanita itu katakan? Booking?
"Ya, mungkin dia ngejual kecantikannya itu buat memikat hati Boss!" Ujarnya lagi sembari terkikik.
"Padahal dia nggak tahu kalau si Boss itu Player kelas kakap!" Sambung temannya.
"Kayaknya dia nggak ngejual deh, bisa aja ngasih gratis buat cari aman di kantor!"
Apa-apaan ini? Apa yang baru saja aku dengar? Apa mereka membicarakanku? Aku tak mau ambil pusing. Aku lebih memilih melanjutkan langkah kaki yang sudah terasa bergetar, tak kuat lagi untuk berdiri, kemudian segera masuk ke dalam ruangan kerja.
Sampai di dalam ruangan, aku sudah melihat Gita dan Syifa di dalam. Ternyata mereka berdua juga memilih makan di dalam ruangan kerja.
"Puas sekarang??"
__ADS_1
Hah? Apa yang baru saja keluar dari mulut Gita? Apa dia sedang berbicara denganku?
"Gita," ucap Syifa lirih seperti sedang menenangkannya.
"Heh, Ayuna!!!"
Awalnya aku tak mempermasalahkan ucapan Gita. Namun, ketika dia membentakku, aku baru mengerti jika Gita tengah membahasku.
Aku meletakkan makanan di atas meja kerjaku, kemudian menghela nafas panjang, "Kenapa?"
Aku masih mencoba menahan emosiku untuk menghadapi Gita yang sudah terlihat berapi-api.
"Kenapa?? Masih nanya kenapa??" Gita menatapku sinis, "enggak usah sok kuat, Ayuna!!!"
Aku tidak mengerti kemana arah Gita berbicara. Apa ini ada hubungannya dengan kemarahannya saat pagi tadi? Atau ada hal yang lainnya? Termasuk tatapan dari orang-orang di luar sana.
Aku masih diam, mencoba meredam emosiku. Karena jika aku keluarkan, aku yakin tidak lagi bisa mengontrolnya.
"Tuh, liat aja!! Dia masih sok tegar!! Padahal mah ..." ucapan Gita menggantung ketika Danu baru masuk, entah dari mana.
Danu menatap kami secara bergantian, kemudian duduk ke kursi kerjanya.
"Ayuna, nggak usah sok kuat kayak besi!!"
Gita masih berceloteh, membuat kepalaku menjadi sakit. Sebenarnya kemana arah dia berbicara?
"Besi yang berkarat!!" Ucapnya lagi dengan nada penuh emosi.
"Tapi sebenernya rapuh!!" Lanjutnya. Menatapku dengan mata marah. Bahkan tatapannya ini bisa dibilang sebuah tatapan kebencian.
"Gita, apa maksud kamu??" Tanya Danu.
Aku tak mengerti mengapa Danu kini angkat bicara setelah hampir seharian ia tak berkata apapun kepadaku.
"Danu, kamu pasti tahu apa maksud aku. Jadi, kamu juga nggak usah sok nutup-nutupin!" Ucap Gita. Kemudian dia keluar begitu saja dari dalam ruangan kerja dengan membanting pintu.
Sementara Syifa hanya memegangi kepalanya, menatapku meringis seolah memohon maaf.
"Mba, aku nggak tahu apapun. Sumpah!" Ucapnya dengan mengacungkan dua jari kearahku.
"Aku nggak tahu kenapa Gita bilang kayak gitu," lanjutnya lagi dengan mimik wajah takut.
"Udah, nggak usah di bahas. Mendingan kamu lanjutin makan aja," sahutku.
__ADS_1
Aku tidak ingin membahas hal ini di kantor. Apalagi melibatkan banyak orang di sekitarku. Meski sebenarnya hatiku seperti tertancap ribuan jarum ketika mendengar ucapan Gita tadi.
Aku menatap makanan di meja, menjadi tak nafsu. Apa yang Gita katakan benar, aku bagaikan besi. Besi yang berkarat. Meski terlihat kuat, tapi sebenarnya rapuh.