Senior Cantik Incaranku

Senior Cantik Incaranku
A Film take By ....


__ADS_3

Pov. Ayuna Maharani


Penat dan lelah, begitulah hari ini. Karena setelah melakukan perjalanan beberapa jam dari Jakarta menuju Bogor, aku dan Danu langsung meninjau ke kantor cabang dan memberikan beberapa pelatihan kepada karyawan-karyawan di sana sesuai instruksi Pak Robert. Belum lagi tamu yang datang di saat yang tidak tepat. Membuat moodku naik turun.


Setelah semua selesai, tepat jam setengah empat sore aku dan Danu menuju Villa Davidson. Villa yang di mana akan kami tempati sementara untuk menginap.


Seumur-umur aku baru menikmati fasilitas mewah seperti ini. Bekerja serasa liburan. Apalagi udara di Bogor masih terhitung segar di bandingkan Jakarta yang hanya penuh dengan polusi.


Aku dan Danu menuju ke kamar kami masing-masing. Tidak di sangka, Pak Robert akan menyiapkan kamar kami bersebelahan di lantai dua. Sedikit khawatir, karena aku dan Danu akan tinggal di bawah satu atap. Meski ada sepasang pasutri yang menjaga Villa ini.


Aku menepiskan perasaan khawatirku, aku meyakinkan diri jika Danu tidak akan mungkin berbuat macam-macam atau hal aneh lainnya yang bisa merugikan kami.


View di lantai dua ini begitu menyegarkan mata. Apalagi ada kolam renang. Ingin rasanya aku masuk dan berendam di dalam air yang terpampang luas itu.


Setelah aku selesai mengganti pakaianku dengan pakaian santai, aku ke luar kamar. Menikmati udara segar yang mampu membuat paru-paruku kembang-kempis.


Beberapa menit aku melakukan sedikit peregangan untuk jiwa dan ragaku. Otakku menjadi kembali fresh, setidaknya sedikit beban fikiranku bisa berkurang karena menghirup udara sesegar ini.


Ku pejamkan mataku, kemudian menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Sedikit lega rasanya.


"Yuna,"


"Astaga!!"


Pria ini benar-benar mengejutkanku. Mengapa aku tidak menyadari keberadaannya di kolam renang. Dengan dada yang terlihat jelas, juga terdapat sisa-sisa air yang masih melekat di tubuhnya itu.


"Kamu mau berenang? "


Danu bertanya dengan menatap senyum kearahku dari dalam kolam renang, tangannya berpegangan pada pinggiran kolam.


"Nggak!!"


Kuurungkan niatku untuk berenang kali ini. Aku menutup kedua mata dengan tangan dan turun menuju ke lantai satu.


Aku membuat susu hangat dan menikmatinya di meja makan. Fikiranku melayang entah kemana. Memikirkan segala proses kehidupan yang sedang aku jalani, hingga sampai saat ini.


Namun, lagi-lagi aku dikejutkan oleh kedatangan Danu. Hari ini Danu terlihat berbeda. Karena biasanya aku hanya melihat dia berpakaian kemeja dan selalu rapi. Namun, pakaian santai yang ia kenakan malam ini membuat dirinya terlihat semakin lebih muda.


Tidak tahu Danu akan membawaku ke tempat apa. Yang jelas ia mengatakan jika akan mencari tempat bakso langganannya. Sepertinya kami sudah tiba di tempat itu, namun kulihat wajah Danu tak bersemangat seperti awal kami menuju kemari.


"Danu, ada apa?"


Danu mencekal tanganku, ia membawaku pergi dari sekitaran tempat penjual bakso yang tengah ramai itu. Aku pun tidak mengerti apa alasan Danu mengurungkan niatnya. Padahal jelas-jelas jika sebelumnya Danu bersemangat untuk membawaku ke tempat bakso yang ia sebut sebagai langganannya.


"Danu, lepasin!"


"Ma'af,"


Aku tidak ingin memperpanjang lagi, karena terlihat dari wajahnya saat ini Danu sedang marah. Pasti ada sesuatu yang mengganggunya saat menuju pedagang bakso tadi.


"Nggak jadi makan bakso?"


"Lain kali aja, Yuna."


"Em, okay!"


Aku berjalan lebih dulu meninggalkan Danu yang kini berjalan lebih lamban dariku. Apa yang terjadi dengan dirinya? Aku jadi ingin tahu urusan orang lain.


Tiba-tiba hujan turun, hal itu membuat semua pedagang dan pengunjung berlarian kesana-kemari mencari tempat untuk berteduh.


Sama halnya denganku, aku bingung harus pergi kemana sementara saat aku menoleh ke belakang, Danu sudah hilang dari pandanganku.


"Danu!!"

__ADS_1


Aku sedikit berteriak, tetapi tak ada jawaban dan tak juga kutemukan dirinya. Aku pun menuju ke pinggiran kios, untuk berteduh sementara. Menunggu hingga hujan ini benar-benar reda.


Selang beberapa menit, hujan pun mulai mereda. Namun masih ada rerintikan air yang tersisa. Aku mencoba menunggu Danu, tetapi pria itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Kucoba menghubunginya via ponsel, ternyata aku lupa. Aku tidak memiliki nomor teleponnya.


"Gimana, sih!"


Aku hanya bisa menepuk keningku sendiri, kemudian memutuskan untuk menuju ke parkiran mobil. Barang kali Danu pun sedang menungguku di sana.


Kembali ku ingat-ingat, di mana letak mobil Danu berada. Namun, sayangnya aku lupa karena banyaknya mobil yang berjejer di sana.


Kesana-kemari aku berjalan, mencari letak mobil merah milik Danu. Namun betapa sialnya aku, ketika melihat sepasang muda-mudi tengah asik berc*mbu di tempat sepi saat udara dingin begini.


Kuurungkan niatku melalui jalan itu, lebih baik aku berbalik arah sembari meminta maaf karena telah mengganggu kemesraan mereka. Sayangnya, kedua pasangan itu menatap ke arahku tanpa kedip seakan menunjukkan keterkejutan.


"Maaf,"


Aku malu, meski sebenarnya pemandangan seperti tadi sering ku jumpai di Jakarta. Segera ku putar tubuhku untuk kembali lagi. Keterkejutanku belum selesai, karena ternyata di belakangku sudah ada Danu.


"Ya Tuhan!!"


"Berengs*k!!!!"


Danu berlalu begitu saja, aku tidak tahu sebenarnya apa yang akan ia lakukan. Namun, ketika langkahnya terhenti tepat di depan seorang pria muda itu aku baru paham.


BUGHHH!!!!


"Rangga!!!"


Teriak wanita itu sembari menolong pria yang sudah jatuh tersungkur akibat pukulan Danu.


"Beraninya kamu!!!!!"


Danu hendak menarik bagian leher jaket yang pria itu kenakan. Namun, wanita yang tengah bersamanya segera menghalangi aksi brutal Danu.


"Stop, Kak Danu!!!!"


Aku dapat melihat kemarahan yang terpancar dari wajah Danu. Rupanya Danu mengenal wanita yang bernama Fathin itu.


"Kak, jangan pukul Rangga!"


"Fathin, apa yang aku lihat tadi? Tolong jelasin!"


Wanita yang bernama Fathin itu hanya diam saja. Dengan wajah yang masih menunduk dan menangis tersedu.


"Nggak usah bentak-bentak Fathin!!" ujar Rangga.


"Aku cuma mau ngomong sama Fathin, bukan sama kamu!!!"


Danu terlihat semakin emosi akibat ulah Rangga.


"Heuh, pantes aja Fathin nggak betah sama kamu! Ternyata kamu itu cowok arogan, tempramen!!"


Pria yang bernama Rangga itu terlihat lebih muda. Namun penampilannya seperti abege labil, jika dibandingkan dengan Danu, masih kalah jauh. Tapi, entah apa yang dilihat wanita yang bernama Fathin itu dari diri Rangga.


"Kamu nggak perlu ikut campur, berengs*k!!!"


BUGHHH!!!


Danu kembali memberi pukulan pada wajah Rangga hingga ia terjatuh kembali.


"Kak, Danu!!! Cukup!!!!!" Teriak Fathin.


"Fathin, dia akan rasain karena udah berani nyentuh kamu sembarangan!!!"

__ADS_1


"Kak, ini bukan salah Rangga,"


"A-apa maksud kamu?"


"Aku sama Rangga emang sama-sama suka,"


"Fathin, kamu ngomong apa?"


"Kak, aku udah nggak bisa lanjutin hubungan kita!"


"Fathin, kamu ..."


"Rangga, laki-laki yang bisa bikin aku nyaman. Dia juga tahu apa yang aku mau, dia selalu ngertiin aku, lebih dari Kakak,"


"Fathin, apa aku nggak salah denger?? Kamu belum tahu jelas siapa dia, kamu jangan nilai dia karena ..."


"Kak, Rangga selalu tahu apa yang aku mau,"


"Fathin, aku juga tahu apa yang kamu mau bahkan yang kamu butuhkan!!"


"Oh, ya?"


Fathin menatap ke arah Danu dengan tatapan tajam.


"Kak, aku udah minta Kakak buat tinggalin aku, bukan? Aku harap, kakak ngerti,"


"Fathin, kita bisa bicarain baik-baik, "


"Kakak selalu ingin kita bicara, pacaran sama Kakak itu monoton banget, ngebosenin!!!"


Ya, seperti inilah pernyataan yang Fathin buat. Danu hanya bisa pasrah menerima, tanpa bisa berbuat banyak. Yang jelas, setelah ini ia akan segera intropeksi diri.


"Fathin, kamu ..."


"Maaf, Kak, kalo aku harus mutusin hubungan kita di waktu yang nggak tepat kayak gini!"


Fathin membantu Rangga untuk bangun. Mereka pun pergi meninggalkan Danu yang masih disertai dengan kebingungannya.


"Arggggghhhhhhh!"


Aku hanya bisa menyaksikan pertunjukan di depanku tanpa banyak bertindak. Ternyata, wanita yang bernama Fathin itu adalah kekasih Danu. Seperti di sinetron saja. Baru kali ini aku menyaksikan secara langsung sebuah film yang mengisahkan tentang perselingkuhan. Namun Film ini begitu nyata dan menyakitkan. A Film take By ....


Wanita itu, bisa-bisanya menyelingkuhi Danu dengan pria yang menurutku berpenampilan seperti berandal. Ada-ada saja tingkah anak muda zaman sekarang. Apa yang harus aku perbuat? Mungkin saat ini, aku akan mencoba menenangkan Danu terlebih dahulu.


"Danu,"


Aku mencoba menyadarkan Danu yang sejak tadi hanya duduk di pinggiran trotoar sembari menopang kepala dengan kedua tangannya.


"Kita pulang, yuk!"


Aku bisa melihat air mata yang menetes di wajah Danu. Sepertinya dia begitu mencintai wanita itu. Namun bagaimana lagi, jika wanita itu lebih memilih kekasih barunya?


"Yuna, maaf kamu nyaksiin hal yang nggak seharusnya kamu lihat,"


"Kamu sayang sama dia??"


Danu menoleh ke arahku, tanpa menjawab. Tetapi aku bisa melihat arti dari tatapannya jika dia begitu menyayangi Fathin.


"Perjuangin, kalo kamu diem aja kamu akan kehilangan dia!"


"Aku udah kehilangan dia, Yuna. Bahkan sebelum aku tahu kalo dia udah selingkuh,"


Aku tidak ingin memperkeruh suasana. Aku tahu, hati Danu sedang panas, fikirannya semerawut, hingga dia belum bisa mengambil keputusan yang tepat disaat seperti ini.

__ADS_1


"Mau pulang, atau masih mau di sini?"


"Pulang!!"


__ADS_2