Senior Cantik Incaranku

Senior Cantik Incaranku
Bukan tandinganku!


__ADS_3

Pov. Danu Narendra


"Kamu ngapain ke sini? Kamu ngikutin aku sama Yuna???"


Tanya Satria yang tiba-tiba langsung mendekat kearahku. Pertanyaan yang sangat menyebalkan. Persis seperti orangnya.


Kekesalanku terhadap pria berkacamata ini semakin menjadi. Mengapa dia berhasil merebut Ayuna dariku?


Pertama, kejadian waktu di rumah sakit. Aku kalah olehnya karena dia berhasil mengajak Ayuna pulang bersamanya.


Kedua, baru saja di kantor. Aku kalah lagi. Dia berhasil membawa Ayuna pulang bersamanya kembali.


Ketiga, jangan sampai tiga kali aku ditolak Ayuna gara-gara dia. Aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi lagi.


Aku menatapnya sekilas, kemudian lebih memilih mengarahkan mataku kepada Ayuna yang terlihat masih mematung.


Aku meninggalkan Ayuna di kantor, menghargai keputusannya untuk memilih pulang sendiri. Tapi nyatanya? Dia pulang bersama pria kacamata satu ini.


Apa dia sadar, jika saat ini aku tengah kecewa padanya? Mengapa Ayuna tak menepati ucapannya.


"Eh, Danu!!!" Satria mengayunkan telapak tangannya berulang kali dihadapanku.


Menyadarkan lamunanku yang tengah saling tatap dengan Ayuna.


Aku menangkap tangannya itu dengan keras, "singkirin tangan kamu!!" ucapku dengan menekan tangan itu kuat-kuat.


"Sakit, Danu!!!" Satria meringis, mungkin saat ini ia tengah merasa kesakitan.


Sudah kubilang, dia bukan tandinganku!


Tangannya saja terasa lemah! Bagaimana dia bisa melindungi Ayuna?? Yang notabennya butuh sekali pembelaan dan perlindungan ketat dari orang yang kuat. Baik fisik atau pun mental.


Setelah kutekan kuat-kuat, segera kuhempaskan tangan lemahnya.


"Beraninya kamu!!!" Satria melayangkan jari telunjuknya ke hadapanku. Tepat sekali di depan mata. Bahkan hanya beberapa senti saja, jari itu akan mencolok bola mataku.


"Satria, cukup!" Pinta Ayuna. Dengan nada suara naik satu oktaf.


"Yuna, dia ini kurang ajar! Lihat tanganku jadi merah gini," Satria mengadu. Menunjukkan tangannya yang sakit dan sedikit memerah.


Dasar lemah!


Manja!


Sekali lagi, dia tidak pantas berada di dekat Ayuna.


Bukan tandinganku!


"Aku nggak ngikutin kalian, jangan terlalu percaya diri!" Ucapku ketus.


Menatap mata Ayuna dengan tajam. Aku tahu, jika saat ini dia tengah merasa bersalah.


Ayuna, akan kubuat kamu menyesal karena telah pulang bersama pria kacamata itu.


Batinku terus meronta, menginginkan Ayuna segera sadar. Jika aku lebih baik daripada Satria.


"Kalau nggak ngikutin, ngapain kamu di sini??" Tanya Satria. Masih dengan pengeyelannya.


"Eum," aku langsung menunjuk pintu unit Apartemenku yang berada tepat di seberang pintu unit milik Ayuna.


Aku tersenyum, sedikit merasa senang meski masih dalam keadaan kecewa. Setidaknya, aku tahu jika penghuni baru unit di depanku adalah Ayuna.


Tuhan telah mendekatkan kami.


Aku sengaja tak berbasa-basi lagi, memilih membelokkan tubuhku mengarah ke pintu unit milikku. Menekan pascode bebrapa kali, hingga pintu pun terbuka.


Sebelum masuk, aku sempat menyunggingkan senyuman ramah ke arah mereka berdua yang tengah terbengong-bengong menatapku.


"Kalau ada waktu, silahkan mampir ke tempatku," ucapku puas.


Puas sekali!

__ADS_1


Kemudian, segera menutup pintu.


Aku terus tertawa, mengingat kejadian barusan. Dewi Fortuna ternyata tengah berpihak kepadaku. Ini adalah sebuah keberuntungan. Tanpa susah payah lagi aku melakukannya. Ternyata Ayuna sudah otomatis berada di dekatku.


Tuhan percaya padaku untuk menjaga dan melindungi Ayuna dengan mendekatkan kami.


Terimakasih.


Tiada henti aku terus bersyukur.


Aku memilih cepat membersihkan diri, bersiul-siul di bawah guyuran shower yang mampu membuat mood-ku semakin baik.


Guyuran air dingin semakin membuat tubuhku terasa segar. Hilang rasa lelahnya. Bahkan, semangatku kini berkumpul kembali menjadi seratus persen.


Good job!


Aku terus tersenyum, memuji diri sendiri. Senang sekali rasanya setelah mengetahui jika Ayuna berada di dekatku.


Selesai mandi, aku segera mengenakan pakaian santai dengan menyemprotkan parfume favoritku. Memakainya pada bagian punggung tangan, tengkuk leher dan terakhir telinga bagian belakang.


Saat aku bercermin, aku merasa semakin percaya diri. Betapa pantasnya aku berada di samping Ayuna.


"Lihat dirimu, Danu!" Ucapku sambil menatap pantulan diri pada cermin.


"Kamu terlalu cakep!!" Lanjutku dengan kepercayaan diri penuh. Sembari memutar-mutar tubuh, memperlihatkan apakah masih ada kekurangan?


Ternyata tidak!


Senyum mengembang di sudut bibirku. Menata rambut dengan rapih, meski tak memakai pomade. Cukup dengan kaus putih lengan pendek, celana cokelat selutut, tak lupa sandal jepit beralas putih tali biru dengan merk Swallow.


Sudah keren! Bahkan terlampau keren!


Aku menuju keluar unit Apartementku. Menatap pintu milik tetangga baru yang tak lain adalah Ayuna.


Ternyata mereka berdua sudah tak ada lagi di luar. Tidak mungkin jika mereka berada di dalam hanya berdua?


Tidak akan kubiarkan pria kacamata itu. Aku bahkan baru pergi sekitar lima belas menit. Bisa-bisanya dia mengambil gerakan cepat.


Lagi, aku menekan bell kembali. Namun masih saja tak dibuka.


Hilang kesabaranku. Karena otakku terus memikirkan berbagai macam hal. Tentang apa yang tengah pria kacamata itu lakukan terhadap Ayuna.


Aku pun memilih menekan bell kembali beberapa kali.


Dan, berhasil.


"Aku udah bilang Satria, nggak bisa nerima kamu masuk ke ........."


Ucapan Ayuna menggantung seketika matanya melihat kearahku.


Oh, ternyata pria itu tak bersama Ayuna. Tapi, aku belum yakin sepenuhnya.


Aku tersenyum, "kalau aku, apa boleh masuk???" tanyaku meminta izin.


Sebenarnya bisa saja aku langsung masuk. Tetapi, aku masih memegang teguh sopan santun. Apalagi ini berkaitan dengan wanita seperti Ayuna.


Wanita yang menjadi incaranku hingga saat ini.


Aku menatap Ayuna, yang hanya bisa menelan salivanya. Mungkin dia masih ragu-ragu, mungkin juga ia masih malu-malu.


Aku segera menyadarkan lamunannya di depan gawang pintu, "nggak boleh, ya?" Tanyaku berbasa-basi.


Padahal, dalam lubuk hati kecilku. Aku sangat-sangat berharap jika Ayuna mempersilahkanku masuk ke dalam unitnya.


Dan......


Ayuna mengangguk perlahan, "boleh,"


Ingin aku loncat-loncat, saking kegirangannya. Tapi masih kutahan, menjaga sikap di hadapannya.


Aku tersenyum kecil, "beneran??" Tanyaku meyakinkan sekali lagi. Padahal Ayuna sudah katakan 'boleh'.

__ADS_1


Ayuna menghela nafas, "ya. Tapi ......."


"Tapi???" Tanyaku dengan mengangkat sebelah alisku.


Aku fikir Ayuna akan memperbolehkanku masuk tanpa syarat. Ternyata aku salah.


"Tapi, cuma lima menit. Nggak lebih,"


Aku mengelus dada. Setidaknya syarat yang ia katakan tak akan membunuhku. Dengan senang hati, aku pun langsung menyetujuinya.


"katanya boleh masuk, tapi kok kamu masih berdiri terus di depan pintu?"


"Oh," Ayuna bertingkah kaku. Kemudian menepikan diri, hingga gawang pintu pun bisa aku lewati.


"Aku masuk, ya?" izinku lagi padanya.


Ayuna pun mengangguk, hingga aku bisa masuk ke dalam unitnya.


"Lumayan," ungkapku ketika melihat penataan ruangan yang rapih di dalam unitnya.


Ruangan yang mencerminkan bagaimana seorang Ayuna.


"Tahu darimana Apartement ini?" Tanyaku. Yang masih memasang mata melirik kesana-kemari, mengitari setiap sudut unit Ayuna.


"Satria," jawabnya singkat. Pembuat nyeri hatiku ketika mendengar namanya.


"Oh," hanya itu yang bisa kukatakan.


"Terus, di mana orangnya sekarang?" Tanyaku masih ingin tahu. Memantapkan hati agar percaya jika Satria benar-benar tak ada lagi di sini.


"Udah aku suruh pulang," jawab Ayuna yang kemudian duduk di sofa.


"Emangnya tadi langsung pulang? Apa masuk dulu?" Tanyaku penuh selidik.


"Langsung pulang, tanpa masuk." Jawabnya singkat.


"Berarti, aku tamu pertama yang masuk ke sini?" Tatapanku beralih memandangi wajah Ayuna yang terlihat semakin segar, meski matanya masih sembab akibat tangisan di kantor tadi.


Jika mengingat itu, aku menjadi semakin iba dengan apa yang tengah Ayuna alami.


"Bukan," ungkap Ayuna.


"Kemaren ada lima orang yang udah masuk ke sini," jelasnya lagi.


"Siapa??" Aku merasa ingin tahu. Semoga jawaban Ayuna tak membuatku terkejut.


"Jasa pindahan. Tiga laki-laki, dua perempuan." Jelasnya.


Oh, Ayuna. Dia telah menjelaskan berbagai banyak hal kepadaku. Apakah ini pertanda sebagai lampu hijau??


"Kenapa nggak ngomong sama aku kalau kamu pindah ke sini?" Aku duduk tepat bersebrangan dengannya.


"Aku udah banyak ngerepotin kamu."


Jawaban Ayuna membuatku semakin percaya. Jika Saat ini ia sudah mulai bisa membuka diri padaku.


"Aku enggak pernah ngerasa direpotin kamu, Yuna. Aku malah seneng kalau bisa bantu kamu," ungkapku jujur.


"Makasih, Danu."


Aku mengangguk perlahan. Menerima ucapan Terimaksih dari Yuna. "Seenggaknya dengan tinggal di sini, aku bisa lebih bantu kamu, Ayuna."


Tatapan mata Ayuna semakin terang mendengar penuturanku barusan.


"Danu, sudah lima menit!"


"Hah??" Aku tertawa sumbang, ketika mengingat persyaratan yang Ayuna minta sebelum aku masuk ke dalam.


Aku menatap pergelangan tangan, namun ternyata aku tak memakai arlojiku.


"Yuna, sebenarnya masih banyak hal yang mau aku omongin sama kamu, tapi ......"

__ADS_1


Ucapanku dipotong oleh Ayuna, "udah lima menit!"


__ADS_2