
Pov. Danu Narendra
Ketika aku mengajak Ayuna pulang bersama, dia menolak dan malah menyuruhku untuk pulang lebih dulu.
"Danu, jangan karena kamu tadi ngeliat aku nangis, terus kamu ..."
"Nggak ada niat buruk kok, aku cuma nawarin aja. Emangnya salah, Yuna?" Ujarku. Memotong ucapan Ayuna yang belum selesai.
Entah apa yang ingin Ayuna katakan, terlihat dari pancaran matanya jika dia masih tetap menolak ajakanku. Padahal aku sudah memasang wajah seaantai mungkin. Bahkan bahasa bicaraku terhadapnya sudah tak formal lagi. Aku ingin membiasakan untuk berbicara santai seperti dengan rekan yang lain.
"Danu, kamu bisa pulang duluan. Aku masih harus selesaiin pekerjaanku,"
"Oke, aku pulang,"
Baiklah, aku tak ingin memaksa. Aku pun langsung keluar dari ruangan kerja yang sudah sepi itu.
Seketika langkahku terhenti, seakan otakku memerintahkan untuk kembali lagi menemui Yuna. Aku bingung, jika aku kembali lagi mungkin Yuna akan terganggu dengan kehadiranku.
Logika ku berkata begitu, tetapi di sisi lain hatiku mengatakan jika Yuna saat ini sedang butuh bantuan dan juga teman. Apa boleh buat, aku pun segera menuju ke cafetaria membeli satu buah roti selai blueberry kombinasi cokelat dengan ukuran cukup sedang. Jika dimakan aku dan Yuna itu bisa menjadi pengganjal perut sementara.
Siang tadi aku menggunakan sebotol minuman, sore ini aku bisa menggunakan roti. Bukan karena ada maksud tertentu, ini semua kulakukan sebagai alasan untuk bertemu Yuna. Ya, aku masih ingin lebih dekat dengannya.
"Sini aku bantuin, biar cepet beres!"
"Danu??"
Ya ampun, ekspresi Yuna benar-benar memabukkanku. Matanya yang membola itu semakin menggemaskan untuk di pandang. Tak ingin hanyut oleh pandanganku yang hanya akan menimbulkan fitnah, aku segera meletakkan roti di meja kerjaku dan menghampiri Yuna. Kurebut mouse wireless imut berwarna Pink dari tangannya.
"Sini aku yang ngerjain, mendingan kamu duduk di situ sambil makan roti,"
"Maksa banget," ujar Yuna sembari menatapku aneh.
Ingin aku tatap balik wajahnya yang masih terlihat sembab itu, tapi aku tidak berani. Untuk sekarang lebih baik aku menatap layar komputer ini.
"Hari ini aku mantengin kamu dulu, besok gantian aku mantengin pemilikmu," batinku berbicara dengan komputer milik Ayuna. Sayangnya, tak ada tanggapan apapun dari benda yang tak bernyawa ini.
Kulirik sebentar Yuna di sana, ia sudah memperhatikan roti di atas meja. Mungkinkah dia sudah mulai tertarik?
"Di makan, jangan diliatin aja! Ntar sakit loh,"
Setelah mendengar perkataanku, Yuna pun langsung meraih roti itu.
"Untuk aku?"
"Bukan,"
"Hah??"
"Ya, untuk kamu lah Yuna, aku tau kamu belum makan, iya 'kan?"
"Sok tau!"
"Tau lah,"
"Dari mana?"
"Dari tadi."
"Ck!!" Yuna berdecak kesal. Sepertinya dia memang wanita yang
Namun tangannya memotong roti itu dan menyisakannya separuh. Aku langsung bergerak cepat menghampiri Yuna dan mengambil sisa potongan roti itu.
"Baik banget sih kamu,"
"Hah?"
Ekspresi Yuna yang melongo seperti ini saja membuatku gemas. Oh tidak, bisa-bisa jantungku rontok bila terus bersama Yuna.
Aku tidak pernah melihat wanita yang seperti Yuna selama ini. Mengapa Tuhan baru mempertemukan kami, disitu aku merasa sedih.
"Makasih udah nyisain aku, kamu tau aja kalo aku juga laper,"
Aku memakan sisa potongan roti itu dan melahapnya. Entah seperti apa bentuk wajahku ini karena aku melihat Yuna sudah terkikik.
"Ya ampun, Danu," ucap Yuna diiringi tawa kecil yang nyaris tak terdengar.
"Nah, gitu dong. Ketawa kek dari tadi,"
Sontak Yuna langsung diam bak patung. Aku fikir, apakah perkataanku ini salah? Wanita memang begitu, apa yang lelaki katakan selalu dibawa perasaan. Padahal, lelaki sepertiku ini selalu berkata fakta. Entah jika lelaki lain, karena tidak semua lelaki itu sama.
Aku tak ingin membuat Yuna merasa terganggu karena ucapanku. Andai aku bisa menarik kembali ucapanku itu, tetapi sayangnya hal itu mustahil untuk ku lakukan.
Suasana hening, tak ada lagi percakapan kecil diantara kami. Aku pun lebih memilih fokus membantu Ayuna mengerjakan revisian yang sempat tertunda.
__ADS_1
Sempat kulirik sebentar Yuna sedang menggulir-gulir ponselnya. Entah apa yang dia lihat, aku juga tak ingin tahu. Karena, aku tak ingin jika Yuna akan terganggu dengan pertanyaanku lagi.
Beberapa kali aku melakukan pengecekan ulang, dan hasilnya cukup memuaskan. Akhirnya pekerjaanku pun selesai. Aku meluruskan punggung dan tanganku yang terasa pegal. Kemudian aku menatap wanita yang ada di sebelahku, karena sejak tadi ia tak bersuara.
"Dah selesai, ada lagi??" Ucapku dengan perasaan lega.
Ayuna Maharani, bagaimana bisa kamu lakukan ini kepadaku? Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Bukan karena kesal akibat bekerja membantunya, sementara dia enak-enakan tidur. Namun, pemandangan langka inilah yang membuat hatiku jedag-jedug.
Ingin aku membangunkan putri cantik yang sedang tidur ini, tetapi mataku belum puas memandanginya. Hingga aku putuskan untuk menggeser kursiku mendekati Yuna.
Semakin di pandang, semakin cantik. Itulah Ayuna. Olesan maskara tipis-tipis pada bulu mata hitamnya, alis aslinya yang terukir rapi dan tidak terlalu tebal, membuat penampakan wajahnya semakin sedap dipandang mata. Warna lipstiknya, yang semakin memperindah bentuk bibirnya. Aku benar-benar sangat menyukai keseluruhan milik Ayuna.
Aku tidak memikirkan dosa lagi, karena telah memandangi wajah wanita yang bukan muhrimku. Aku akan minta pengampunan pada Tuhan untuk ini nanti.
Belum bosan-bosan aku memandanginya, jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Aku memutuskan untuk membangunkan Yuna, karena tak ingin bermalam di kantor.
Saat aku akan menyentuh wajahnya, kuurungkan niat jahat ini. Aku mencoba menggoyangkan tangan yuna yang menjadi bantal kepalanya di atas meja. Namun, aku melihat foto seorang anak kecil yang begitu lucu.
Apakah Yuna sejak tadi menggulir ponsel karena memandangi foto anak ini? Siapakah anak yang ada di foto ini? Banyak pertanyaanku tentang anak kecil ini. Namun aku kembali pada tujuan utamaku, yaitu membangunkan Ayuna.
"Ayuna," panggilku lirih.
Aku menggoyang-goyang tangannya. Sayangnya, Yuna tak kunjung bangun. Aku pun memilih sekali lagi membangunkan Yuna dengan menambah satu oktaf suaraku. Aku harap kali ini akan berhasil.
"Yuna, hei! Bangun,"
"Eum," Yuna menggeliatkan tubuhnya, kemudian ia mengucek kedua matanya itu.
"Danu!!" Ayuna terlihat terkejut. Hingga dia mendorong kursiku hingga menghentak tembok.
"Kamu ngapain??" Tanya Yuna lagi sembari membenahi rambut dan pakaiannya.
Aku menaruh kursi pada tempatnya, kemudian kuhampiri Yuna di sana.
"Ayok kita pulang, dah mau magrib!"
Mungkin Yuna baru menyadari jika tadi ia tertidur begitu pulas. Aku pun tak menyalahkannya yang tiba-tiba mendorongku. Mungkin Yuna reflek, aku sangat memakluminya.
Yuna merapihkan tasnya, kemudian kami sama-sama keluar kantor. Sayangnya kantor sudah terlihat semakin sepi tak ada siapapun kecuali aku dan Ayuna.
"Kamu mau kemana?" Tanyaku pada Yuna ketika arahnya berbelok.
"Pulang, " jawab Yuna singkat padat dan jelas.
Masih saja Yuna bersikap ketus padaku. Padahal, aku sudah berusaha melakukan pendekatan padanya. Yah, mungkin wanita manapun akan bersikap sepertinya. Acuh, ketika ada pria yang hendak mendekatkan diri.
"Aku naik bus way,"
"Bareng aja, aku ambil mobil dulu di parkiran. Kamu tunggu sebentar di sini, ya," pintaku memohon dengan lembut.
"Danu, makasih. Tapi aku bisa pulang sendiri," Ayuna memegangi kepalanya, mungkin terasa berat karena baru saja bangun tidur.
"Yuna, kita searah," aku masih kekeh ingin mengantar Yuna. Padahal aku tidak tahu persis apakah kami benar-benar satu arah atau malah sebaliknya. Jika memang berbeda, aku siap mengantarnya sampai selamat tanpa lecet sedikitpun.
"Bye, Danu," Yuna melambaikan tangannya dengan sedikit berlari. Masih saja ia menolak tawaranku untuk mengantarkannya pulang. Padahal aku sudah bersikeras agar dia mau menerima tawaranku.
Entah mengapa mendapat penolakan dari Yuna membuat hatiku bergejolak, seolah merasa tak terima. Mungkinkah aku kecewa?
Aku melihat Ayuna dari kejauhan, meski dia telah berlari jauh tetapi bagiku dia masih terlihat cantik.
DRTTTT.... DRTT...
Getaran ponsel di saku celana membuyarkan lamunanku akan Ayuna. Aku segera merogoh benda pipih itu dan betapa terkejutnya ketika kulihat di layar nama siapa yang tengah menelpon. Segera ku geser ikon gagang telepon berwarna hijau pada layar.
"Fathin?"
"Kakak di mana? Katanya mau jemput aku?? Kok nggak nyampe-nyampe?"
Kudengar suara Fathin diseberang sana sudah sedikit meninggi. Astaga, bagaimana aku bisa lupa tentang janjiku pada Fathin.
Gila, mengapa aku bisa melakukan ini? Fathin jauh-jauh datang dari Bogor untuk bertemu denganku, aku malah fokus pada Ayuna. Tanpa babibu lagi, aku langsung tancap gas untuk menemui Fathin.
Di sepanjang jalan, aku hanya terus mengumpat diriku sendiri. Ayuna sudah membuatku lupa dengan Fathin, kekasihku sendiri.
"Sial!"
"Semoga Fathin nggak marah"
Aku menjemput Fathin di sebuah halte bus dekat salah satu mall besar di Jakarta. Ia kirimkan lokasinya via whatsapp. Dari jauh aku sudah bisa melihatnya, dan aku pun menyalakan klakson mobilku.
Tin! Tin!
"Kak Danu," sapa Fathin kepadaku dari luar mobil dengan memiringkan kepalanya dekat dengan kaca mobilku.
__ADS_1
"Ayo masuk," pintaku padanya.
"Kak, langsung anter aku ke terminal aja,"
Permintaan macam apa ini? Aku tidak melihat gurat kekecewaan dari wajahnya. Padahal jika biasanya aku terlambat, Fathin akan kecewa padaku bahkan mendiamkanku selama seminggu.
"Thin, kamu marah sama aku? Maaf ya aku tadi lembur,"
"Aku nggak marah kak, aku tau kakak sibuk. Aku harus langsung pulang, keburu malem," jawab Fathin santai.
"Kita kan baru ketemu, kok mau langsung pulang? Kita makan dulu, ya?"
"Nggak ah, kak, ntar ketinggalan bus,"
"Udah mau malem, gimana kalo nggak usah pulang dulu. Ntar aku anter ke rumah Mama. Kamu minep aja di sana,"
"Nggak kak, malu."
"Kenapa? Mama sama Papaku pengen lihat kamu, Loh, nanti aku coba ngomong ke Ibuk,"
"Nggak, aku mau pulang aja, Kak,"
Aku bersyukur Fathin tidak marah seperti biasanya. Tetapi aku merasa ada hal yang janggal saat ini. Aku melihat begitu banyak paper bag yang Fathin bawa. Aku penasaran dan menanyakan hal itu padanya.
"Kayaknya ada yang abis belanja, apaan tuh?"
"Oh, itu. Buku, ya aku tadi beli buku," jawab Fathin terdengar kaku.
"Sama siapa?"
Aku tahu Fathin belum menguasai seluruh sudut kota Jakarta ini. Pasti ada seseorang yang menemaninya.
"Enggak, nggak sama siapa-siapa," kali ini Fathin menjawab dengan gugup.
Setelah itu, aku tidak ingin membahas apapun lagi. Jika Fathin berkata demikian, maka aku akan mempercayainya.
"Kamu yakin mau pulang sekarang?"
"Yakin, Ibuk udah nelponin aja dari pagi,"
Entah telingaku yang salah dengar, atau Fathin yang salah bicara. Karena setahuku semalam ia bilang baru akan ke Jakarta siang tadi, rasanya ada yang janggal dan aku harus meluruskannya.
"Fathin, kamu nggak bohong 'kan?"
"Kak, aku capek. Pengen cepet nyampe rumah. Jangan nambah-nambahin masalah aku deh,"
Ya ampun, aku tanya apa dia jawab kemana? Dasar ni anak manja, nggak berubah dari dulu. Tapi aku sayang, jadi aku harus lebih sabar menghadapi kekolokannya itu.
"Kamu tau kan kalo aku nggak suka dibohongin?"
"Kakak nuduh aku? Apa jangan-jangan kakak yang bohong dan nutupin sesuatu dari aku?"
Aku menghentikan laju mobilku karena sudah sampai di area terminal bus. Kutatap wajah Fathin dengan intens, aku melihat wajahnya sedikit berubah tak seperti dulu. Mungkin karena Fathin lelah, jadi dia sedikit pucat.
"Ya udah kalo gitu, gimana kalo kita main jujur-jujuran? Kita saling jujur apa yang terjadi dari kemaren sampe malem ini, gimana?"
"Kak, aku selama ini udah jujur sama kakak. Kenapa kakak nggak percaya juga? Kalo emang kak Danu udah nggak sayang sama aku, kakak tinggalin aja aku,"
Aku hanya bisa menghela nafas panjang akan sikap Fathin barusan. Padahal niatku baik, aku hanya ingin tak ada satu hal pun yang kami sembunyikan. Aku berniat jujur padanya tentang apa yang terjadi hari ini. Tetapi tanggapan Fathin malah berbeda. Selama hampir dua tahun, aku baru mendengar Fathin memintaku untuk meninggalkannya.
"Ya udah, kalo kamu nggak mau jujur, aku aja yang ..."
"Kak, aku mau pulang. Lama-lama aku makin nggak betah sama kakak. Kakak tu berubah!"
Belum selesai aku berbicara, Fathin sudah memotong kata-kataku. Padahal aku mau menceritakan segala kegiatanku hari ini dan jujur soal Ayuna. Tetapi Fathin terlanjur keluar dari mobil menuju salah satu bus di sana.
Aku menyesali pertemuan ini, harusnya kami saling melepas rindu setelah hampir satu bulan tidak bertemu. Tetapi sikap Fathin malah menunjukkan seolah dia bosan padaku.
Saat aku melihat Bus itu sudah berjalan, aku langsung menelpon Ibu Fathin untuk memberi kabar.
"Hallo, Bu. Fathin udah naik Bus ya barusan,"
"Lah, emangnya Fathin sama nak Danu?"
"Ya, Bu. Kami baru bertemu sore ini di Jakarta," jawabku.
"Kalo Ibu tau dia sama kamu dari kemaren, Ibu nggak akan telponin dia, syukurlah Ibu jadi lega."
"Dari kemaren?"
Mendengar ucapan Ibu Fathin, perasaanku langsung tak karuan. Ternyata benar, Fathin sudah berbohong denganku.
"Ya, dia berangkat dari kemaren sore sama Rangga,"
__ADS_1
"Maaf, Bu kalo udah bikin Ibu khawatir,"
Benar dugaanku, ada yang tak beres hari ini dengan Fathin. Lalu siapa Rangga? Aku akan mencari tahu sendiri nanti.