Senior Cantik Incaranku

Senior Cantik Incaranku
Ada apa antara Danu dan Hana?


__ADS_3

Pov. Ayuna Maharani


Aku melihat Danu tengah membenahi segala perlengkapanku, memasukkannya ke dalam tas. Karena sesuai jadwal, aku diperbolehkan untuk pulang pukul sepuluh siang ini.


Dari atas brankar, dapat aku lihat dengan jelas betapa telatennya seorang Danu. Kepiawaiannya mengatur tas yang ukurannya tak seberapa besar dengan barang yang lumayan banyak, bisa masuk dengan pas. Terlihat sangat rapih.


Jika aku yang melakukannya, mungkin tak akan serapih itu.


"Udah, tinggal cusss!" Ucap Danu, seolah berbicara pada tas wadah perlengkapanku.


"Morning!" Seorang perawat, di susul wanita di belakangnya memasuki ruangan.


Wanita itu ternyata Hana Paramitha. Wanita muda, cantik, lembut dan penuh dengan kata-kata positif yang tempo hari hendak kutemui. Namun kali ini ia datang lagi, menyapa Danu.


"De ..." ucapannya tiba-tiba terhenti.


"Danu, ini!" Hana memberikan sebuah paperbag berwarna biru muda kepada Danu.


"Makasih," balas Danu dengan penuh senyuman sembari menerima dengan cepat pemberian dari Hana.


Sementara perawat sedang melepas selang infus dari tanganku, aku terus memperhatikan Hana dan Danu yang terlihat sangat akrab.


Siapa sebenarnya Hana? Apa yang mereka bahas?


"Yuna, udah sehat?" Tanya Hana mengahmpiriku.


"He'eum," aku mengangguk perlahan, menanggapi pertanyaannya dengan senyuman kecil.


"Coba," Hana meraih kedua telapak tanganku, kemudian memperhatikan wajahku dengan tatapan intens.


"Wah, iya. Udah keliatan seger, nggak pucat lagi!" Tambahnya.


"Aku keluar sebentar," pamit Danu kepadaku.


Ralat, lebih tepatnya kepada kami. Karena tatapan Danu mengarah kepadaku, lalu Hana.


"Mau kemana?" Tanyaku.


Tiba-tiba saja pertanyaan ini keluar dari mulutku. Seakan ingin tahu kemana Danu akan pergi. Aku menyesal, telah melontarkan pertanyaan semacam ini hingga membuat semua mata memandang dan tersenyum ke arahku.


"Danu pergi bentar doang, jangan khawatir, gantian aku yang jagain," ucap Hana dengan lembut.


Sementara, Danu hanya tersenyum kecil, tanpa menjawab pertanyaanku membawa paper bag yang tadi sempat diberikan oleh Hana dan segera bergegas keluar.


Ada apa antara Danu dan Hana? Apakah mereka seakrab ini? Sepertinya chemistry diantara mereka sudah terjalin sejak lama.


Em, benarkah penilaianku ini?


Ayuna, untuk apa kamu memikirkan hubungan mereka berdua? Tidak ada urusannya denganmu! Bahkan tidak berguna sama sekali.


"Hey, ngelamun aja!" Panggil Hana, menyadarkanku yang terus menatap ke arah pintu keluar.


"Bentar doang kok perginya," lanjut Hana lagi dengan tatapan menggoda.


Aku segera memalingkan wajah ke sembarang arah, mencari cara agar tak terlalu kentara jika tengah memperhatikan pintu keluar.


Apakah aku sedang menunggu? Menunggu siapa? Untuk apa?


"Yuna," panggil Hana lagi. Membuyarkan lamunanku yang sudah berulang kali.


"Em, i-ya,"


"Boleh ngobrol sebentar?"


Aku mengangguk, "boleh,"


"Terimakasih, Ayuna," jawabnya.


"Yuna, ketika kita memiliki masalah, semua pasti akan terasa berat. Beban, di sini!" Tunjuk Hana pada bagian dadanya sendiri.


"Tetapi, Tuhan nggak akan kasih masalah atau ujian melebihi batas kemampuan kita. Semua sudah ada porsinya masing-masing, kamu percaya?"


Aku masih diam, memahami setiap ucapan Hana. Mencerna ke dalam dasar hatiku, jika apa yang Hana katakan memang benar adanya.

__ADS_1


"Kalau ada apa-apa, atau ada masalah kamu bisa bilang ke aku. Mungkin aja aku bisa bantu," lanjut Hana Lagi.


Aku tidak mengerti, siapa Hana sebenarnya? Baru saja aku kenal dengannya. Namun dia sudah banyak menawarkan bantuan.


Apa mungkin ada udang di balik batu?


"Terimakasih banyak," jawabku seadanya.


Hana menyentuh lenganku, mengusapnya berulang kali dengan lembut, "Ayuna, nggak perlu takut kalau mau cerita sama aku."


"Bener tuh, jangan ragu-ragu!" Danu pun angkat bicara.


Sejak kapan dia berada di dalam ruangan ini? Dia kembali mengenakan pakaian yang berbeda. Wajahnya juga lebih segar seperti baru saja mandi.


"Eh, De ... Maksudnya Danu." Ucap Hana kaku.


"Udah selesai?" Tanyanya lagi.


"Udah dong! Gimana, ganteng nggak?" Jawab Danu sembari menyisir rambut dengan jemarinya, kemudian merapihkan baju yang kini ia kenakan.


"Ganteng dong! Itu kan baju aku yang pilihin!!" Sahut Hana memuji.


Bukan hanya memuji Danu, akibat ketampanannya. Tetapi ia juga memuji dirinya sendiri karena telah memilihkan baju untuk Danu.


Tampan, ya aku akui. Jika diperhatikan lagi, Danu memang terlihat lebih tampan dari sebelumnya.


Ayuna, apa-apaan ini?


Aku segera membuang fikiranku tentang Danu jauh-jauh.


Aku cukup menjadi pendengar saja, sembari otak yang terus berfikir sebenarnya apa hubungan Danu dan Hana? Namun lagi-lagi aku ingin tahu.


"Yuna, Danu udah balik. Aku tinggal dulu, ya?"


Hana berpamitan, "Kebetulan aku juga ada janji sama dokter di sini,"


"Hati-hati, makasih udah ke sini," balasku berbasa-basi. Padahal, jelas jika ini bukan mauku.


Bugh!


"Adaw!!!" Teriak Danu yang merasa kesakitan.


"Nakal, ya," Danu hanya menggelengkan kepalanya. Merasa heran dengan tingkah Hana. Tanpa membalas atau mengancam.


Lagi, aku menyaksikan kedekatan diantara mereka berdua. Biarpun ini bukan hal yang penting untukku, tetapi aku merasa ada sesuatu yang mengganjal di hati ini.


"Udah siap??" Tanya Danu sembari mengusap-usap lengannya akibat pukulan dari Hana barusan.


Aku mengangguk, memasang wajah datarku kembali. Berniat tak ingin lagi berbasa-basi atau banyak bicara dengannya.


"Kita pulang!" Danu membawa tas berisi perlengkapanku, mencoba menuntunku namun segera kutampik tangannya.


"Nggak usah!"


Danu hanya mengangguk, mengangkat kedua tangannya ke atas. Seperti menunjukkan jika ia telah menyerah.


Aku berjalan lebih dulu, sementara Danu berada dibelakang membawa tas perlengkapanku. Aku merasa kurang ajar, karena membiarkan Danu membawanya.


"Sini," aku mencoba meraih tas dari tangannya.


"Nggak usah, ini berat," jawabnya.


"Biar aku aja yang bawa," lanjutnya berkata lebih lembut.


Aku tak ingin berdebat, setidaknya aku sudah mencoba untuk menawarkan diri membawa tas itu. Jika Danu menolak, jelas itu salahnya sendiri.


"Yuna, masih betah di rumah sakit, ya?"


Aku tidak mengerti mengapa Danu melontarkan pertanyaan ini. Aku berfikir jika mungkin Danu sedang mencari cara untuk sekedar membuka obrolan denganku. Tetapi untuk saat ini, aku malas meladeninya.


"Ayuna," panggilnya.


Namun aku tak menjawab. Jika diberi kesempatan untuk bicara, maka Danu akan terus berbicara. Saat ini mood-ku sedang tidak baik. Entahlah!

__ADS_1


Kami terus berjalan beriringan tanpa kata. Melewati setiap lorong rumah sakit, menuju pintu utama. Belum juga sampai di depan, kami sudah dipertemukan dengan seseorang.


"Ayuna??"


"Sa-tria," ucapku kaku.


Satria yang berjalan berlawanan arah denganku pun segera mendekat.


"Yuna, kamu ngapain di sini?" Tanyanya.


"Sat, aku abis periksa ke dokter," tak memiliki alasan lain. Aku terpaksa berbohong.


"Sama dia?" Satria menatap Danu dengan tatapan sinis.


"Em, dia ...."


Perkataanku menggantung, belum menemukan alasan yang tepat untuk Danu.


"Aku mau nganterin Yuna pulang! Kebetulan tadi nggak sengaja ketemu," jawab Danu.


Danu menyelamatkanku.


Benar adanya, jika kita berbohong satu kali. Maka akan ada kebohongan-kebohongan yang lainnya.


"Biar aku yang anter," Satria pun menawarkan diri.


Danu tersenyum menyeringai, "Yuna udah minta saya, buat anter dia,"


Ya Tuhan, Danu. Apa-apaan dia? Mengapa dia berbohong? Padahal aku tidak pernah memintanya untuk mengantarku.


"Apa betul, Ayuna?" Tanya Satria menatapku penuh selidik.


"Oh, iya," jawabku.


Danu tersenyum smirk menatap Satria.


"Kamu yakin, Yuna?" Tanya Satria lagi.


"Sekarang, ada aku di sini, biar aku yang anterin kamu!" Lanjutnya.


"Yuna udah bilang, mau pulang dengan saya, Pak Satria!" Danu seolah tak bisa menerima.


"Yuna, pulang aja sama aku!" Satria masih bersikeras.


Aku bingung, menyaksikan perdebatan mereka berdua yang tak ada ujungnya.


"Pak Satria, kok maksa?" Tanya Danu.


"Yuna, aku anterin kamu kemana pun. Ayok, pulang sama aku aja," tawar Satria lagi.


"Yuna nggak mau pulang sama Bapak, kok masih maksa. Pake iming-iming pula, heuh!!"


Danu mencekal tanganku, "Pulang sama aku,"


"Eh, lepasin!" Satria mencoba melepaskan tangan Danu yang mencekalku.


"Cukup!!!" Teriakku. Aku sudah tidak tahan dengan keributan ini.


"Kalian ini kayak anak kecil, aja!" Sungutku.


"Bisa nggak sih, nggak usah ribut! Ini tuh rumah sakit, bukan arena adu tinju!!" Aku masih mengeluarkan amarahku kepada mereka berdua.


Aku menatap Satria dan Danu bergantian. Baru saja tenagaku pulih akibat sakit, kini harus kukeluarkan kembali karena ulah mereka.


"Danu, Yuna, kenapa?"


Kemunculan Hana membuatku terkejut, mood-ku kembali tak baik. Apalagi Hana berdiri sangat dekat dengan Danu. Sempat kulihat, Hana melayangkan sebuah kode melalui body language, mereka saling menggunakan mata untuk berkomunikasi.


"Satria, aku pulang bareng kamu!"


Aku merampas tas yang tadi ditangan Danu. Membuatnya sedikit terkejut dengan mimik wajah yang menunjukkan kekecewaan.


"Permisi," pamitku pada Hana dengan senyuman kecil.

__ADS_1


"Ayuna!!" Teriak Danu.


"Ayuna!!!"


__ADS_2