Senior Cantik Incaranku

Senior Cantik Incaranku
Ungkapan perasaan


__ADS_3

Pov. Ayuna Maharani


"Apa jangan-jangan Syifa sedih gara-gara kamu, Ayuna??"


Sepertinya Gita mulai tersulut emosi kembali. Sampai kapan dia akan terus seperti ini?


"Oh, apa sekarang kamu ngerasa bangga? Karna udah bisa nge-depak orang yang nggak salah?? Gitu??"


"Gita, cukup!!"


Aku sudah tidak tahan lagi. Jika terus dibiarkan, Gita semakin menjadi. Kali ini dia harus benar-benar dilawan.


Sudah cukup diamku beberapa hari ini.


"Harusnya bukan mereka yang keluar dari kantor, tapi kamu!!!!"


Deg!!


Aku merasa ucapan Gita menggambarkan jika dirinya memang sangat menginginkan diriku tak berada di sini. Sampai sekarang, aku belum paham mengapa Gita bisa sebenci ini terhadapku. Padahal, awal bertemu hingga sama-sama berjuang bekerja di sini kami tak pernah ada masalah.


"Ada apa ini??"


Semua mata tertuju ke arah asal suara. Suara Bariton yang khas, milik Pak Robert.


Tak ada yang berani menjawab, semua hanya tertunduk setelah kedatangannya yang tiba-tiba ke dalam ruangan kerja kami.


"Ada apa ini?? Apa tidak ada yang mau jawab??" Tanya Pak Robert lagi. Menatap kami secara bergantian.


Tatapan yang teramat tajam, seolah ingin membunuh kami satu persatu.


"Gita?? Apa kamu juga mau dipecat??"


Mata Gita membelalak dengan lebar, begitu mendengar ucapan Pak Robert.


"Sa-saya, Pak??" Tanya Gita terbata menatap ke arah Pak Robert.


"Ya, memangnya nama Gita di ruangan ini ada berapa???" Tanya Pak Robert menantang. Memasukkan kedua telapak tangan ke dalam saku celananya.


Dengan posisi tegap seperti itu, wibawa seorang Robert Davidson semakin terpancar.


"E-enggak Pak!!" Jawab Gita mengambil keputusan dengan cepat.


"Kalau begitu, jangan mencari keributan. Apalagi dengan Ayuna!"


Pembelaan Pak Robert membuat seisi ruangan menjadi bungkam. Tak ada lagi yang bisa kami ucapkan. Selain memilih untuk kembali bekerja masing-masing.


"Semuanya silahkan bekerja kembali!" Perintah Pak Robert.


"Ayuna, kamu ikut saya!"


Mati aku. Jika sudah memanggil secara pribadi seperti ini, pasti ada urusan lain yang akan Pak Robert katakan padaku.


Dengan langkah yang lemas, aku pun mengikuti Pak Robert dari belakang menuju ke dalam ruangan kerjanya.


Sesampainya di sana, Pak Robert memintaku untuk duduk, dengan mengarahkan tangannya ke sofa.

__ADS_1


"Silahkan, duduk!"


Aku menuruti perintahnya, duduk di sofa dengan tenang. Mengumpulkan nafas secara teratur untuk membuang rasa tak nyaman ini.


"Yuna, saya sudah baca surat pengunduran diri kamu."


Aku sedikit bisa bernafas lega, ternyata Pak Robert sudah membaca surat pengunduran diri yang sempat aku serahkan kemarin.


"Tapi...."


"Tapi, ta-pi apa Pak?" Tanyaku ketika ucapannya menggantung.


"Huft!" Pak Robert membuang nafasnya kasar, kemudian duduk dengan bersandar pada sandaran kursi dengan tangan yang mengendurkan dasi.


Jika sudah begini, aku harus siap-siap memasang telinga dengan baik. Agar tak menjadi kesalahpahaman akibat salah pendengaran.


"Tapi mohon maaf, saya belum bisa ACC,"


"Lah, kenapa Pak?" Aku langsung ingin tahu alasan Pak Robert, tanpa menunggu lagi. Aku sungguh tak sabar.


Jangan bilang jika dia memiliki persyaratan lain.


"Yuna," Pak Robert menatapku dengan intens. Hingga membuat pandanganku pun beralih ke arah tembok. Tak berani menatapnya lebih lama.


"Yuna, sebenarnya saya tidak ingin kamu resign!"


"Pak? Kenapa? Bukannya ini sudah akhir bulan?? Bapak sudah berjanji ........"


"Yuna, maaf. Saya harus mengingkari janji itu!" Potong Pak Robert.


"Pak, tidak bisa seperti ini. Saya harus resign!" ungkapku dengan memelas.


Pak Robert mengubah posisi duduknya dengan sedikit membungkuk. Hingga berada lebih dekat di hadapanku.


"Kenapa? Apa karena ada masalah di kantor tempo hari yang mengganggumu?"


"Bukan begitu. Sebelum ada masalah kemarin saya memang sudah ingin resign, Pak?" Ungkapku lagi mencoba mengingatkannya. Masih tak ingin kalah.


"Yuna, aku sudah selesaikan urusan kemarin. Aku sudah memecat mereka!" Jelas Pak Robert.


Bukan alasan ini yang aku mau dengar. Aku tak meminta Pak Robert untuk memecat orang-orang yang telah membuat keributan tempo hari.


"Tapi, jika di luar sana mereka masih mengganggumu. Katakan padaku, aku tidak akan membiarkan mereka, bahkan hanya bernafas sedetik saja!!"


Penjelasan Pak Robert membuat telingaku terasa ngilu. Tak pernah terfikirkan olehku tindakan apa yang akan Pak Robert ambil nantinya. Yang jelas, jika perkataanya seperti ini bukan tidak mungkin ia akan berbuat semakin nekat dan membahayakan.


"Mereka tidak mengganggu saya, Pak!" Jawabku. Mencoba memberi penjelasan lebih, agar Pak Robert tidak bertindak seenaknya.


"Kalau begitu tidak usah resign. Tetaplah bekerja di sini!"


"Ta......"


"Yuna, aku membutuhkanmu."


Mataku terbelalak, begitu Pak Robert menatapku dalam dan mengatakan hal ini.

__ADS_1


"Sangat membutuhkanmu, Yuna."


Jika sudah begini, percuma saja aku memelas. Justru malah sebaliknya. Pak Robert yang memasang wajah melas dihadapanku.


"Yuna, aku mo........"


"Pak, maaf. Saya tetap ingin resign!"


"Ayuna, kenapa kamu keras kepala sekali??"


"Aku sudah memohon baik-baik,"


"Aku juga sudah membuat keadaanmu aman di sini, tanpa pengganggu!"


"Tapi, saya tidak meminta itu semua, Pak!" Elakku. Karena aku memang tak meminta Pak Robert untuk mengorbankan segalanya demi membuatku dalam keadaan aman.


"Ck!" Pak Robert berdecak kesal, "oke, oke!" Hingga ia terdiam beberapa menit dengan terus memperhatikanku tanpa mengalihkan pandangannya.


Mungkin, diamnya ini sebagai tanda untuk meredam emosinya.


Setelah helaan nafasnya terdengar, akhirnya ia pun buka suara kembali.


"Mintalah hal yang lain, selain resign!"


"Pak, saya tetap ingin resign!"


Aku pun tak mau mengubah keputusanku, aku harap Pak Robert akan mengalah.


"Enggak!"


"Terserah Bapak, mau melarang pun saya tetap akan resign!" Tantangku kembali.


"Ayuna, kamu ini ngeyel!"


Pak Robert menatapku kesal. Bahkan wajahnya bisa menampakkan bagaimana ia saat ini sedang menahan sebuah amarah yang memuncak.


"Yuna, aku menyukaimu!"


Aku menoleh ke arahnya dengan perasaan tak menentu. Namun aku segera mengalihkan fikiran aneh yang terus memutar di otaku ini.


Dia mungkin menyukai kinerjaku selama ini, mungkin baginya sulit untuk menemukan sosok pegawai sepertiku. Aku berusaha berfikir realistis, agar tak besar hati ataupun besar kepala.


"Pak, Terimaksih atas pujiannya. Tapi saya tetap ingin resign. Semoga Bapak kelak akan mendapatkan karyawan yang lebih baik dari saya," ucapku merendah.


"Yuna, Yuna......" Pak Robert menatapku malas, mengerlingkan matanya ke atas kemudian beberapa kali menarik ulur nafasnya yang tidak teratur.


"Yuna, kenapa sih kamu itu nggak ngerti-ngerti??"


"Hah??" Aku memasang wajah melongo, merasa tak mengerti akan ucapan Pak Robert.


"Yuna, dengan cara apa aku harus tunjukin biar kamu paham tentang perasaanku??"


Mulutku yang tadinya menganga, kini merapat perlahan. Diiringi kedipan mata beberapa kali, untuk menetralkan perasaanku saat ini.


"Yuna, aku menyukaimu."

__ADS_1


Apa ini?? Apa ini sebuah ungkapan perasaan?


"Aku, benar-benar menyukaimu, Ayuna Maharani!"


__ADS_2