Senior Cantik Incaranku

Senior Cantik Incaranku
Kali kedua


__ADS_3

Pov. Ayuna Maharani.


Lagi, sentuhan yang Danu berikan pagi ini membuatku seolah terpaku. Tak dapat lagi bergerak. Mataku dan matanya saling bertemu. Seperti sedang mencari sebuah celah.


Jemarinya yang mengusap lembut wajahku, menyeka sisa tetesan air dari rambutnya. Membuatku terhanyut akan sentuhan itu. Hatiku, semakin bergetar ketika wajah kami semakin dekat, hanya berjarak beberapa senti saja.


Cup!


Kali kedua.


Kecupan lembut meski hanya sekejap yang Danu berikan kepadaku, setelah di Bogor. Sepertinya kali ini aku sangat membutuhkan alat pemicu jantung. Tolong, aku.


"Danu," Aku mencoba melepaskan diri dari rengkuhannya. Tetapi ternyata tenaganya lebih kuat dariku.


Belum lagi tiang penyangga cairan infus yang aku bawa, rasanya sangat mengganggu. Bahkan membatasi ruang gerakku.


Aku pun membuang pandangan ke arah lain, agar tak lagi bertatapan dengannya. Ini adalah salah satu cara untuk meredam getaran dalam hatiku. Dengan tak lagi menatapnya.


"Danu," panggilku kaku. Mencoba menghentikan pergerakannya.


"Yuna," Danu mendekatkan wajahnya kembali.


"Jangan, Danu!" Aku mendorong wajahnya dengan tangan. Mencoba menghentikan apa yang kini ia inginkan.


Tidak! Ini adalah kesalahan besar bagiku. Menerima sentuhannya. Kemudian terhanyut ke dalam dasar lautan. Lautan yang bisa menenggelamkanku.


"Danu, lepasin!" Pintaku memberontak.


Danu meregangkan rengkuhannya, kemudian kesempatan ini aku pergunakan dengan baik. Aku pun memilih masuk ke dalam kamar mandi. Menutup pintu rapat-rapat.


Beginikah diriku? Apa yang sebenarnya aku lakukan barusan? Mengapa tubuhku tidak bisa memberontak atas perlakuannya?


Aku menyandarkan tubuh di belakang pintu, memikirkan hal gila yang baru saja terjadi.


Danu, kamu benar-benar mengacaukan fikiranku yang belum waras ini.


Sudah lima menit aku masih di kamar mandi, berdiam diri tanpa melakukan hal apapun. Dari luar Danu berbicara padaku.


Tok! Tok! Tok!


"Yuna, apa kamu tidur di dalem?"


"E-enggak!!!" Jawabku tertatih, sedikit berteriak.


"Sebentar lagi kelar!" Lanjutku. Tak ingin membuatnya khawatir.


"Oke. Aku cari sarapan dulu di luar. Kamu mau nitip apa??" Tawar Danu.


"Nggak ada!" Ucapku tanpa banyak berfikir.


"Ya udah, aku pergi dulu,"


Tak ada lagi suara Danu. Mungkin dia sudah pergi keluar mencari sarapan seperti yang dia katakan tadi. Aku bisa sedikit bernafas lega. Kemudian segera membersihkan diri karena ini adalah kesempatan baik untukku.


Setelah semua selesai, aku pun segera keluar. Ternyata tak ada siapapun, termasuk Danu.

__ADS_1


Ku pandangi setiap sudut ruangan rawat ini, sepertinya aku sudah salah tempat. Mudah-mudahan hari ini aku bisa langsung pulang ke rumah agar tagihan rumah sakit tidak membengkak.


Kutarik nafas dalam-dalam, memikirkan uang tabunganku yang pasti akan terkuras kembali. Tabungan yang belum seberapa, bahkan mungkin akan langsung habis.


Aku hanya bisa terduduk lemas di atas sofa. Sembari menonton acara gosip di televisi.


"Pagi, Mba Ayuna," sapa seorang dokter yang kemarin memeriksaku.


"Pagi, dok," jawabku.


"Wah, kayaknya udah sehat, nih!" Dokter itu menyanjungku.


"Hayuk kita periksa dulu," pintanya lagi.


Akupun menuruti dokter, berbaring di atas brankar. Membiarkannya memeriksa detail tubuhku. Mudah-mudahan, aku sudah baik-baik saja.


"Wah, siang ini udah boleh pulang," ucapnya setelah selesai memeriksaku.


"Terimakasih, dok," jawabku senang.


Mata dokter terlihat mencari-cari sosok seseorang, "Loh, suaminya kemana?"


"Suami?" tanyaku tak paham.


"Yang kemarin??" Tanya dokter itu lagi.


"Oh, lagi cari sarapan," jawabku diiringi senyum kecil.


Apa yang baru saja aku katakan? Apa aku mengakui jika Danu adalah suamiku?


Tidak, Ayuna!!


Apa yang harus aku lakukan agar dia tak terus mengusikku? Dimanakah kewarasan diri ini?


...****************...


"Ayuna, kita sarapan," Danu datang membawa dua kantung plastik besar ditangannya.


Meletakkannya di meja depan sofa, mempersiapkan makanan yang ia keluarkan dari kantung plastik.


Aku hanya terus berbaring di atas brankar, masih tak ingin melakukan tanya jawab dengan Danu seperti biasanya.


Bimbang, itulah perasaanku saat ini.


"Yuna," Danu menghampiriku.


"Ayok, makan dulu," ajaknya lagi.


"Aku belum laper," tolakku.


Padahal sebenarnya perutku ini sudah keroncongan. Bahkan cacing-cacing di dalamnya telah memanggil dan berteriak-teriak minta makan.


Danu tersenyum, kemudian kembali ke meja. Tak butuh waktu lama, ia pun kembali mendekatiku lagi.


"Aku suapin," ucapnya.

__ADS_1


Aku semakin tak bisa berkata apa-apa. Mulutku bertambah bungkam akibat perlakuan Danu. Belum lagi jika mengingat kejadian tak terduga pagi ini. Aku benar-benar sudah gi*la.


"Aku udah beliin bubur ayam paling enak, a ..." Danu mendekatkan suapannya ke arah mulutku. Membuka mulutnya seperti sedang menyuapi anak kecil, berharap aku akan menerima suapan itu.


"Yuna, kamu harus makan. Katanya mau cepet pulang?"


Aku masih tak membuka mulutku sesenti pun. Bahkan wajahku memilih menghadap jendela kaca, daripada melihatnya.


"Yuna, susah banget ya ngerayu kamu," ucap Danu Lagi. Namun aku masih tak menggubrisnya.


"Ayuna!!"


Sontak Danu membuatku terkejut, karena wajahnya kini berada sangat dekat denganku. Bahkan tiupan nafas hangatnya pun bisa menyapu kulitku.


"Makan, walau cuma dikit," pintanya dengan suara lirih, menatap mataku dalam-dalam.


Aku mendorong wajahnya dengan telapak tangan, agar menjauh dariku. Tak sedekat ini lagi.


"Aku bisa makan sendiri," aku meraih mangkuk bubur dari tangannya. Mencoba untuk makan sendiri, tanpa aksi suap-suapan seperti yang dia inginkan.


"Kamu lucu!" Danu mencubit puncak hidungku lembut. Kemudian beranjak dari brankar menuju sofa.


Aku tidak tahu perasaan apa yang terus mengalir setiap kali berada di dekat Danu. Kadang aku merasa sangat membutuhkan kehadiran Danu. Dengannya, aku bisa merasa lebih kuat. Dengannya pula, aku bisa mengontrol setiap emosiku meski sudah memuncak. Jangan bilang jika saat ini aku sudah ketergantungan terhadapnya?


Karena setiap kali ingin mendorongnya keluar dari hatiku, maka ia malah semakin masuk ke dalam sanubariku yang paling dalam.


Aku melahap bubur ayam pemberian Danu hingga tandas, tak tersisa sedikitpun. Rasa bubur ini benar-benar nikmat dan berbeda dari bubur yang lain. Apa mungkin karena aku sedang dalam masa pemulihan? Sehingga aku lebih menikmati makanan ini?


Atau mungkin karena bubur ini diberikan oleh Danu?


Heuh! Sempat-sempatnya aku berfikir ke arah sana.


"Wah, keren. Sampe bersih gitu?" Ujar Danu melihat mangkuk bubur yang kini telah kosong.


"mangkuknya nggak di makan sekalian??" lanjutnya mulai bersikap jahil.


"Ish!" Aku menepuk lengannya. Mengalirkan kekesalanku terhadap sikap maupun tingkahnya yang jahil.


Danu terkikik, kemudian meraih mangkuk bekas bubur dari tanganku, "kamu ajaib,"


Aku membelalakkan mataku, tak mengerti maksud dari ucapannya barusan.


"Wanita ajaib," ucapnya lagi meninggalkan ku dengan membawa mangkuk ditangannya.


Aku hanya menggelengkan kepala.


Danu, pria seperti apa dia sebenarnya? Apa benar ucapan Bu Siti yang mengecap dirinya sebagai pria baik dan sabar?


Ya, aku mengakuinya.


Aku menganggukkan kepala perlahan. Mengingat semua perlakuan Danu terhadapku di hari-hari yang lalu. Dimana setiap pertolongannya, membuatku merasa aman.


"Lagi mikirin apa?"


Danu tiba-tiba datang, secepat ini dia kembali setelah baru saja pergi.

__ADS_1


"Mikirin apa, kok senyum-senyum sendiri?" Tanya Danu lagi, memperhatikanku dengan mimik wajah penasarannya.


Kamu!


__ADS_2