
POV. Danu Narendra
"Dek, Mba cuma nggak mau kamu ngehancurin hidup seorang perempuan....."
"Perempuan itu lemah, meski mereka terkadang terlihat kuat!"
"Perempuan jangan dirusak, tapi dijaga!"
"Pake ini!" Tunjuk Mba Hana pada bagian dadanya, "Bukan cuma pake yang di sini," tambahnya lagi menunjuk bagian kepalanya.
"Pake hati, jangan cuma pake otak!" Ucapnya ketus.
"Mba, aku sama Ayuna nggak ngapa-ngapain. Apa Mba percaya kalau aku bakalan nge-rusak dia??" Tanyaku menatap dalam mata Mba Hana. Mencoba lebih meyakinkannya lagi.
Mba Hana menggeleng, namun matanya masih terlihat ragu.
"Mba, aku sayang sama Ayuna. Aku juga sayang sama Mba, aku nggak mungkin nyakitin perempuan!"
Mba Hana terdiam, beberapa detik kemudian bangun dari duduknya.
"Jaga iman, Dek! Jangan sampe kamu lengah!"
"Iya, Mba," jawabku menundukkan kepala.
"Jaga juga Yuna," Mba Hana menepuk pundakku beberapa kali. Kemudian ia pun pergi.
Yah, pesan Mba Hana benar-benar merasuk hingga dasar hatiku. Untung saja ia segera datang. Jika tidak, mungkin saja aku sudah.......
Aku lebih memilih mempersiapkan diri untuk pergi ke kantor. Karena sudah hampir menunjukkan pukul tujuh. Bisa-bisa aku terlambat.
Ayuna! Bagaimana dengannya?? Apa aku membiarkannya saja untuk tidak masuk kantor hari ini?
Haruskah aku membangunkannya?
Tidak, jika aku masuk ke dalam kamar, bisa-bisa aku kembali tergoda. Bahkan imanku yang lemah ini bisa runtuh.
Sepertinya aku pun harus bolos kerja untuk hari ini. Tidak mungkin jika aku membiarkan Yuna sendirian di rumah. Padahal semalam ia merawatku dengan baik.
Aku memilih memesan makanan via online. Dikarenakan tak ada bahan makanan yang bisa ku olah untuk sarapan pagi ini.
Ceklek!
Yang di tunggu pun sudah keluar dari kamar. Bangun tidur dengan wajah polos saja dia terlihat cantik alami.
Sungguh, nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan, Danu. Speagi ini, kamu sudah melihat bidadari bangun dari tidurnya.
Mata kami pun saling bertemu, menyampaikan banyak tanya dalam diri masing-masing.
"Yuna, udah bangun???" Tanyaku pada nona cantik yang baru saja keluar kamar itu.
"Mau langsung sarapan?" Tawarku dengan menunjuk ke arah meja yang sudah di penuhi dengan berbagai macam makanan.
Namun Yuna diam saja. Tak mengatakan apa-apa. Langkahnya maju, kemudian menatapku dengan tajam.
"Kenapa aku bisa di kamar kamu??"
Deg!
Pertanyaan yang biasa saja, tetapi seakan membunuhku.
"Yuna, aku bisa jelasin...." ucapku khawatir. Khawatir kali ini ia akan salah paham.
"Jelasin, sekarang!!!!"
Yuna sudah mulai terbawa emosi. Sepagi ini, mood-nya sudah buruk.
__ADS_1
"Yuna, semalem itu kamu tidur di sofa dan......"
"Heuh!" Yuna mentapku smirk. Seakan aku adalah seorang pendosa besar.
Kamu salah, Ayuna.
"Jadi bener kalau kamu yang bawa aku ke dalem kamar itu?? " Tanyanya lagi, mentapku semakin ingin membunuh.
"I-iya," jawabku terbata-bata. "Yuna, aku bisa jelasin....."
"Danu, ternyata aku salah nilai kamu!"
Yuna tak mengizinkanku untuk bicara. Ia lebih memilih keluar begitu saja meninggalkanku.
Yuna, belum sempat aku memberi penjelasan. Belum juga sempat aku mengajak sarapan, ia malah pergi begitu saja dan terlihat sangat marah. Jika sudah begini, aku jadi pusing dibuatnya.
Aku pun memilih menunggu Ayuna di luar, tepat di depan pintu unit miliknya. Jika di lihat dari gelagatnya, ia pasti akan bekerja meski sedikit terlambat hari ini.
Aku pun sudah bersiap. Dengan membawa kunci motor matic Scopay ditanganku. Setidaknya, sepeda motor kali ini lebih baik daripada mobil. Dengan cepat aku bisa menerobos kemacetan pagi ini.
Yuna telah keluar, dan benar dugaanku ia tetap akan bekerja.
"Sat, aku dateng agak telat!"
Sepertinya Yuna sedang berbicara dengan Satria melalui telpon.
"Iya, ada urusan mendadak pagi ini," lanjutnya dengan mengerlingkan mata ketika melihatku.
"Makasih, Sat," Yuna pun menyudahi obrolan yang tak enak di dengar oleh telingaku.
Entah mengapa, jika ia berkomunikasi dengan pria berkacamata itu aku merasa sangat kesal. Meski hanya lewat telepon.
"Yuna, kamu mau kerja?" Masih sempat aku bertanya, padahal aku sudah tahu jawabannya.
Yuna menatapku malas, "nggak usah ikutin aku!!!" Kemudian berjalan cepat di depan. Meninggalkanku tanpa perasaan.
Mencintai kamu penuh rasa sabar
Meski sakit hati ini kau tinggalkan
Ku ikhlas tuk bertahan
Cintaku padamu begitu besar
Namun kau tak pernah bisa merasakan
Meski sakit hati ini kau tinggalkan
Ku ikhlas tuk bertahan.......
Kau meninggalkanku tanpa perasaan
Hingga kujatuhkan air mata
Kekecewaanku, sungguh tak berarah
Biarkanku harus bertahan
Jangan pernah kau coba untuk berubah
Tak relakan yang indah hilanglah sudah
Jangan pernah kau coba untuk berubah
Tak relakan yang indah hilanglah sudah
__ADS_1
🎶 Jangan pernah berubah, st12
Seolah lagu ini terputar otomatis di otakku. Cocok sekali dengan keadaanku saat ini. Ayuna, aku akan terus bertahan. Meski sikapmu terus seperti ini.
Sampai di depan lobby, aku melihat Ayuna tengah memutari matanya hampir ke semua arah. Seperti sedang menunggu taksi, atau kendaraan lain.
Tinnnn! Tinnn!
Aku berhenti tepat di depannya, yang masih sama seperti bagaimana tadi ia menatapku. Dengan tatapan membunuhnya.
"Ini," aku meraih helm dan memberikan kepadanya.
Yuna masih menatapku kesal, tanpa menjawab apapun. Beberapa kali ia memilih menatap layar ponsel. Sepertinya ia tengah memesan ojek atau taksi online.
"Udah, bareng aku aja. Udah siang," aku coba mengingatkan. Jika sekarang sudah pukul tujuh lewat lima menit, dengan menatap arloji ditanganku.
"Udah jam tujuh, kamu bisa telat. Bukannya hari ini ada laporan buat Pak Robert??"
Mata Yuna membola, menatapku dengan tajam. Dia benar-benar membuatku semakin takut.
Dengan kecepatan sepersekian detik, Ayuna merampas helm dari tanganku, "cepetan!!!"
Aku tersenyum simpul, ternyata rayuanku ini diterima olehnya. Ayuna sungguh penuh misteri.
"Cepetan jalan!!!" Perintah Ayuna yang menyadarkan lamunanku.
"I-iya!" Aku segera menekan starter, kemudian mengendarai sepeda motor dengan cepat.
"Eh, kamu bisa pelan-pelan nggak, Sih!!!" Ayuna menepuk pundakku, terasa sedikit panas. Namun aku suka, sentuhannya.
"Katanya tadi suruh cepetan???" Jawabku.
"Tapi nggak gini juga, aku belum mau mati!" Rutuknya.
Aku menjadi serba salah, kemudian memelankan laju kendaraanku saat ini.
"Danu, kamu bisa nyetir nggak sih???" Tanya Ayuna, "tadi kecepetan, sekarang pelan banget!!"
Aku hanya bisa mengulum senyumanku, "takut kamu jatuh, kan sayang....."
Plak!!!
Lagi, Yuna memukul pundakku.
"Makanya kamu pegangan!" Aku meraih tangan Yuna, kemudian melingkarkannya di perutku.
"Danu!!!" Ayuna sepertinya sudah mulai emosi kembali. Membenarkan posisi tangannya kembali.
"Nggak usah gengsi, ini demi keselamatan! Kita udah telat beberapa menit!"
Aku tak ingin berbasa-basi lagi, aku memilih mengencangkan laju kendaraanku. Dengan begitu, aku berharap Ayuna akan memelukku lebih erat.
Harapan hanyalah tinggal harapan, tak seindah yang aku bayangkan. Ayuna malah memilih berpegangan dengan baju kemeja yang kupakai. Seperti anak TK yang tengah diantar ke sekolah oleh orangtuanya.
Yuna, yuna. Kapan kamu akan peka??
Jarak yang kami tempuh hanya sekitar sepuluh menit. Wow sekali!
Dengan kemacetan yang parah, ternyata sepeda motor bisa lebih cepat dibandingkan mobil. Yah, aku sudah seperti Valentino Rossi saja pagi ini. Mengendarai sepeda motor rasa pembalap.
"Ini," Ayuna menyerahkan helm, kemudian uang pecahan sepuluh ribu dan lima ribu rupiah.
Lima belas ribu rupiah.
"Ayuna, hey!!!!"
__ADS_1
Ayuna lari begitu saja. Meninggalkanku.
"Kamu fikir aku tukang ojek, haah!!!!?"