Senior Cantik Incaranku

Senior Cantik Incaranku
Calon atau Mangsa?


__ADS_3

Pov. Danu Narendra


"Nggak usah nungguin aku. Aku pulang bareng Pak Robert!" 


Deg! 


Seperti ada goresan kecil pada hatiku. Nyeri rasanya. Tanpa membalas perkataan Ayuna, aku pun langsung pergi begitu saja meninggalkan dia. 


Haruskah aku bersikap seperti ini?? Banyak hal yang terjadi antara aku dan Yuna belakangan ini. Mengetahui jika dia akan pergi bersama Pak Robert, aku merasa sedikit kehilangan. 


Drrt .... Drtttt ....


Mba Hana Calling ...


"Dek, ngapain aja sih kok nggak pernah ke rumah??" 


Aku tersenyum merasa bersalah, "iya Mba. Banyak kerjaan soalnya."


"Nanti malem jangan lupa," Mba Hana mengingatkan.


"Ya ampun! Aku hampir lupa, Mba," ucapku sembari menepuk jidat sendiri.


"Tuh, kan!" Nada bicara Mba Hana sedikit kecewa.


"Untung Mba ingetin!" Lanjutnya.


"Oke, Mba tunggu. Di sini juga ada Mama sama Papa, mereka udah kangen banget sama kamu, Dek," 


"Iya, Mba,"


Sambungan telepon dengan Hana Paramitha terputus. Untung saja kakak perempuanku satu-satunya ini mengingatkan perihal undangan pesta pembukaan restoran baru suaminya, Pandu Wicaksana. Jika tidak, mungkin aku sudah melewatkan undangan ini. Bisa habis aku diomeli Mama dan Mba Hana.


Aku pun segera melajukan mobil menuju ke Apartement untuk mempersiapkan diri. Setelah itu baru aku menuju restoran Mba Hana dan Mas Pandu. 


...****************...


Suasana pesta sudah mulai tercium. Lalu lalang para tamu undangan pun sudah memenuhi restoran di mana usaha kuliner Mas Pandu baru di buka. 


Bersama Mba Hana, Mama dan Papa aku duduk dalam satu meja. Sementara Mas Pandu sedang sibuk menemui tamu penting, teman bisnisnya,  atau pun temannya yang lain tak jauh dari tempat kami duduk.


Namun mataku menyoroti sosok wanita yang tak asing bagiku. Wanita bergaun salem itu begitu terlihat anggun. Kecantikannya, dari jauh pun sudah terpancar. Pantas saja banyak para tamu pria yang mengarahkan mata kearahnya. Tetapi, wanita itu kini bersama seorang pria bak pasangan serasi.


Aku pun mulai memasang telinga untuk mendengarkan percakapan mereka. Sepertinya Mas Pandu dan Pak Robert adalah teman baik. Karena terlihat sangat akrab.


"Hei! Robert Davidson," sapa Pandu menyalami tangan Robert yang merupakan teman lamanya. Bahkan berteman sejak duduk di bangku SMA.


"Pandu," Robert pun memeluk akrab Pandu.


"Ini???" Tanya pandu menatap Ayuna dan Robert secara bergantian.


"Oh, iya. Hampir lupa." Robert tersenyum kecil. "Ayuna, ini Pandu."


"Selamat atas pembukaan restoran barunya, Pak Pandu," ucap Ayuna menyalami Pandu dengan sopan.


"Terimakasih, Nyonya Robert." Balas Pandu.


Yang di balas dengan ekspresi tak senang oleh Ayuna.


"Oh, bukan begitu??" Tanya Pandu setelah melihat ekspresi Ayuna yang terlihat menyangkal jika ucapan Pandu salah.


"Ayuna ini adalah calon!" sambung Robert.


"Calon?? Bukan Mangsa 'kan?" Tanya pandu lagi dengan kode mata.


"Kalo mangsa, aku bawa dia ke hotel. Bukan ke acara resmi seperti ini!" Jawab Robert diiringi gelak tawanya.


"Aku permisi ke toilet sebentar," Ayuna merasa tak enak hati. Mencoba menghilangkan perasaan gugup sekaligus kesalnya. 

__ADS_1


Jika tidak didepan umum, mungkin Ayuna sudah melawan ucapan Bossnya itu. 


Melihat langkah Ayuna mengarah kebelakang, aku pun turut mengikutinya. 


"Mba, Danu ke belakang dulu," bissikku pada Mba Hana. Karena Papa dan Mama masih serius menonton acara live musik yang tengah berlangsung. Kebetulan lagu yang sedang dinyanyikan adalah lagu kesenangan mereka.


"Ngapain? Mau kejar cewek itu???"


Aku mengerlingkan mata, ternyata Mba Hana sudah tau apa niatku. Rupanya dia pun memperhatikan Ayuna.


"Do'ain," ucapku meminta restu.


Mba Hana hanya menggelengkan kepalanya. Merasa heran dengan tingkahku. Kemudian mengacungkan dua jempol kearahku.


Aku mencekal tangan Yuna dengan kuat setelah tiba di lorong toilet yang lumayan sepi. "Calon? Atau mangsa?" 


Ayuna terkejut, matanya membola ketika menoleh dan melihat kehadiranku. "Danu??"


"Kamu pilih yang mana??" Tanyaku dengan senyuman smirk.


"Danu, ngapain kamu ada di sini? Apa kamu ngikutin aku???" Ayuna malah membahas hal yang menurutku tak perlu dibahas. Bukannya langsung menjawab pertanyaanku. Ini membuatku semakin kesal.


"Mungkin kita jodoh, makanya aku ada di sini," ucapku tanpa mengalihkan mata dan terus menatapnya.


*Cantik, tapi TIDAK bisa kumiliki.


Ralat, bukan TIDAK, tapi BELUM*.


"Danu, lepasin! Aku mau ke toilet!" Ayuna tampak marah, hingga ia beberapa kali mengayunkan tangannya agar terlepas dari cekalanku.


"Pulang, bareng aku!" Aku pun melepaskan tanganku perlahan.


Ayuna hanya memasang wajah cemberutnya. Kemudian memasuki area di mana toilet wanita berada.


Aku pun memilih menunggu Ayuna dan bersandar pada tembok lorong toilet. 


"Danu?" Ayuna membelalakkan matanya lagi. Bahkan kini bola mata itu sudah hampir memumbul keluar.


"Aku tanya, mau ke mana?" Ulangku. 


"Aku mau ke depan, Danu!" Sepertinya Ayuna sudah mulai kesal.


"Mau ngapain? Mau dijadiin CALON atau MANGSA sama Pak Robert???" Ucapku penuh penekanan.


"Danu, jaga bicara kamu!" Ayuna menunjuk wajahku dengan jari lentiknya.


Ku raih jari itu, mengangkat dan menjauhkan dari hadapanku, "Pulang bareng aku, aku tunggu di parkiran!"


"Danu, aku ke sini sama Pak Robert, aku pulang pun harus sama dia!" Tolak Ayuna.


"Oh, jadi kamu sudah mau dijadiin CALON atau MANGSA-nya?" 


Ayuna tersenyum smirk, "berenti bersikap seolah ngatur aku!"


"Kenapa? Apa aku harus ngikutin batasan-batasan yang kamu buat???" 


Aku semakin mendekatkan wajahku pada wajah Ayuna yang malam ini  kecantiknya begitu menyilaukan mata. "Apa kamu mau jauhin aku lagi?"


Ayuna perlahan melangkah mundur, hingga tubuhnya pun sudah terhimpit tembok. "Danu, cukup! Jangan pici*k!"


Ku kunci posisi Yuna saat ini dengan menaruh kedua tanganku di tembok. Berharap ia takkan lepas.


"Kenapa, Yuna? Apa kamu mau dijadiin Calon atau mangsa sama Boss-mu itu??" Selama Yuna belum menjawab pertanyaanku yang satu ini, aku akan terus mencecarnya. 


"Danu, Pak Robert nggak mungkin ngelakuin itu sama aku!" Ucap Ayuna yakin.


"Heuh!" Aku hanya mengerlingkan mata.

__ADS_1


"Kamu yakin?? Apa karena kamu mau nyobain?" Tanyaku lagi menantangnya.


"Danu!!!!" Ayuna sudah mulai marah, mengeratkan rahang-rahangnya, hingga wajahnya pun memerah.


"Oke, aku tunggu di parkiran jam sembilan!" Paksaku padanya. 


Aku pun meninggalkan Yuna di sana sendiri. Kembali menemui Mba Hana dan kedua orangtuaku.


Setibanya di kursi awal, ternyata Mas Pandu sudah ikut gabung bersama keluargaku. 


"Mas, temenan sama Pak Robert??" Tanyaku pelan. Berharap tak ada yang menguping pembicaraan kami.


"Kamu kenal Robert Davidson?" Dia malah balik tanya. Bukannya menjawab pertanyaan dariku.


"Jangan bilang kalo aku adik iparmu, Mas!" Pintaku.


"Lah, kenapa?" Tanya Mas Pandu lagi.


"Aku saingannya!" Ungkapku sembari tersenyum kecil. 


"O, gitu. Pasti Ayuna tersangkanya. Iya kan??"  


Aku tak menanggapi lagi ucapan Mas Pandu, karena ada Mama dan Papa yang menoleh ke arah kami.


"Ngomongin apa, sih?" Tanya Mama dengan tatapan serius.


"Ini, Ma. Si Danu minta diajarin ilmu bisnis!" Ucap Mas Pandu menutupi.


Sementara Mba Hana hanya bisa senyum-senyum sendiri diiringi gelengan kepala.


Aku tak lagi menikmati pesta dan segala rangkaian acaranya. Yang terus aku lihat hanya arloji di tanganku. Karena sebentar lagi pukul sembilan malam. Aku harus segera pamit untuk pulang. Lebih tepatnya, menunggu Ayuna di parkiran.


Untung saja Mama dan Papa mengizinkan. Karena aku beralasan harus bekerja besok pagi. Dan jarak tempuh yang harus ku lalui pun lumayan memakan waktu sekitar satu jam. 


Aku memasuki mobil, mengarahkannya agar bisa memantau Ayuna dari jarak yang tak terlalu jauh karena pintu restoran dapat terlihat jelas dari posisiku saat ini. 


Itu dia, kini dapat terpantau oleh kedua indra penglihatanku.  Namun sayang, ternyata Ayuna keluar bersama Pak Robert. 


"Ck!" Aku merasa kesal. Hingga memukul setir mobil dengan kuat. 


Namun setelah kulihat lagi, Ayuna hanya mengantar Pak Robert sampai ke mobilnya dan tak ikut masuk. Setelah mobil Pak Robert berjalan, Ayuna masih berdiri di depan Restoran. 


Yes! Aku tersenyum bangga. Kali ini, Ayuna menuruti keinginanku. Aku pun segera menghampiri Yuna di sana.


TIN!!!


"Masuk!" Pintaku padanya dengan membuka kaca mobil.


Ayuna mengerlingkan matanya malas, namun tetap masuk ke dalam mobilku. Sungguh wajah terpaksanya itu membuat aku gemas.


"Sabuk pengaman," pintaku lagi.


Ayuna menarik nafasnya panjang, kemudian memasang sabuk pengaman.


Senyumku mengembang, kemudian aku langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


"Alesan apa sama Pak Robert??" Tanyaku setelah beberapa menit bungkam.


"Naik taksi!" Jawabnya ketus.


"Berarti aku sopir taksi, dong?" Aku terkikik pelan.


"Nggak lucu!" Masih menjawab ketus.


"Oke, anggap aja aku sopir pribadimu," ucapku senang.


Namun, tatapan Ayuna malah mengintimidasiku.

__ADS_1


"Sebenernya apa tujuan kamu, Danu???"


__ADS_2