Senior Cantik Incaranku

Senior Cantik Incaranku
Kenyamanan


__ADS_3

Pov. Ayuna Maharani


Sungguh, sentuhan Danu ibarat magnet. Menarikku dengan kuat hingga terus menempel dengannya. Menjadikanku patung, yang tak lagi bisa bergerak ketika berada di dekatnya.


Aku, sekuat hati mencoba untuk bertahan. Membangun tembok kokoh yang tinggi demi menghalanginya memasuki wilayahku. Tetapi, kini tembok yang kubangun dengan susah payah telah runtuh dan hancur begitu saja karenanya.


Dia telah membawaku terhanyut ke dalam lautan miliknya. Hingga kami berdua pun telah menyelami lautan ini bersama.


Sentuhan dan kecupan yang ia berikan, membuatku mabuk kepayang. Sejak semalam, aku tak bisa menolaknya. Begitu pula hari ini, rasa itu masih sama.


"Danu..."


Aku mendorong dada bidang miliknya, mencoba mencegah agar kami berdua tak menyelami lautan ini hingga ke dasar.


"Cukup!" Pintaku, memegang lengan kokoh yang hendak menyentuh satu diantara dua aset milikku.


Nafasnya tersengal, menatapku dalam dengan mata yang sedikit membola. Aku merasa, jika ia tengah menahan gejolak di dalam dirinya. Sama halnya sepertiku.


"Danu," aku menggeleng, mengisyaratkan kepadanya jika kegiatan kami ini harus dihentikan saat ini juga.


Kudengar ia menarik nafas panjang, membuangnya dengan cepat, "maafin aku," ucapnya lirih.


Kemudian membawaku kedalam rengkuhannya. Mendekapku erat, mengecupi puncak kepalaku beberapa kali.


"Sekali lagi maafin aku, Yuna," ulangnya lagi.


Aku hanya diam, berada di dalam dekapannya ternyata senyaman ini. Aroma kamarnya yang membuatku ingin berada lebih lama, belum lagi aroma tubuhnya yang memabukkanku. Tak dapat kupungkiri, ia begitu hangat dan lembut. Hingga membuat mataku terpejam dengan rapat.


Di dalam rengkuhannya ini, aku merasakan kantuk hingga menghantarkanku ke dalam mimpi yang indah. Yang aku rasakan saat ini adalah, aku begitu nyaman bersamanya.


...****************...


Entah berapa lama mataku ini terpejam. Kubuka mata ini perlahan, namun merasa aneh ketika menangkap warna tembok di dalam ruangan yang terasa asing.


"Di mana aku?" Batinku bertanya-tanya.


Saat aku menoleh, menggerakkan sedikit tubuhku, ternyata seseorang sudah berada di sisiku dengan terus tersenyum menatapku.


"Sudah bangun?" Tanyanya dengan suara sedikit parau.


"Danu???"


Entah apa yang terjadi, aku tak begitu mengingatnya. Yang jelas saat ini, aku sudah berada di dalam kamarnya dengan posisi berbaring bahkan kami berada di dalam satu selimut.


Belum lagi lengan kokohnya yang kujadikan sebagai bantal kepalaku. Sebelah tangannya yang melingkar di pinggangku, membuat posisi kami sangat begitu dekat.


"Kenapa??" Tanyanya lagi. Menyadarkanku dari segala bayangan yang mengganggu.


"Danu, kita ......."


"Kita nggak ngapa-ngapain, cuma tidur doang," potongnya. Sembari menarik tubuhku agar lebih rapat lagi dengannya.


Membuatku sesak dan sulit bergerak, "Danu....."


"Jangan nolak, aku cuma pengen kita kayak gini lebih lama," potongnya lagi.

__ADS_1


Kemudian ia mengecupi puncak kepalaku, menebarkan aroma khas maskulin dari dadanya yang kini berada tepat di wajahku. Bahkan bibirku kini sudah menempel rapat, membuat hidungku pun mencium aroma wangi tubuhnya meski terhalang kaus yang ia kenakan.


Aku, sekuat hati mencoba untuk tetap tersadar. Sekuat hati untuk tak lagi terhanyut karena sentuhannya ini.


"Danu, sekarang jam berapa?" Tanyaku lirih, sembari mendengar irama jantungnya yang teratur.


"Jam empat," jawabnya dengan suara malas.


Aku menggerakkan kepalaku, sedikit mendongak ke atas menatap wajahnya. Ternyata ia masih terpejam, dengan keadaan wajah bersih yang begitu menarik.


"Jam berapa?" Tanyaku lagi. Karena merasa masih kurang puas dengan jawaban Danu.


Danu membuka matanya, hingga tatapan kami pun bertemu. Membuatku menggigit jari dan memalingkan wajah karena merasa tengah tertangkap jika aku sedang menatapnya.


"Jam empat," bisiknya, tepat ditelingaku. Membuatku geli bahkan meremang.


Aku menggerakkan tubuh, menetralkan rasa yang tengah membuncah dalam diri ini, "jam empat??"


Aku masih bertanya-tanya, hingga akhirnya tersadar karena melihat jam dinding di dalam kamarnya yang sudah menunjukkan pukul empat.


"Apa?!!!"


Hanya terdengar suara Danu tertawa kecil, dengan memegangi kepalanya.


Bug!!


"Kenapa ketawa?" Tanyaku sembari memukul lengan Danu.


Danu malah semakin tertawa, "ya, ketawa aja."


Aku mencoba menggerakkan tubuhku untuk bangkit dari pembaringan yang tak tahu sejak kapan aku memulainya. Aku tak bisa mengingatnya dengan jelas.


"Eits," Danu menahan pinggulku, "mau kemana?"


"Danu, aku mau bangun," jawabku dengan mata membola. Melirik kearah tangannya yang kini telah melingkar penuh dipinggulku.


"Nanti aja," ucapnya santai.


Anehnya, ucapan itu seolah menjadikanku menuruti nya. Bagaimana bisa?


Aku kembali membaringkan tubuhku dengan posisiseperti sebelumnya, berada didekapannya, sembari menatap wajahnya yang kini telah memejamkan mata.


"Dari kapan kita tidur??" Tanyaku lirih.


"Jam sembilan," jawabnya juga dengan suara lirih, namun tak membuat matanya terbuka.


"Kamu nggak inget??" Tanyanya, masih dengan menutup mata.


"Enggak," jawabku ragu, "enggak inget begitu jelas," lanjutku, membuat pembelaan.


"Kenapa? Apa karena terlalu nyaman??" Kini ia bertanya dengan membuka matanya. Menatapku dalam-dalam.


"Nyaman???" Aku jadi salah tingkah, hingga mencoba mengubah posisiku agar sedikit merenggang darinya.


"Jadi, beneran?" selorohnya.

__ADS_1


"Beneran apaan, sih?" Aku membuang pandangan ke arah lain.


"Aku emang selalu bikin nyaman," ucapnya penuh percaya diri.


"Iidih!!!" Aku hanya mencibir.


Padahal, dalam hatiku yang paling dalam kenyamanan memang aku rasakan saat ini. Entah karena aku berada di dalam kamarnya yang memabukkan ini, atau karena memang pemiliknya yang benar-benar membuatku nyaman.


"Nggak usah malu, jujur aja," ledeknya.


"Ish," aku kembali mencibir.


"Aku mau bangun," ucapku dengan memaksakan diri untuk lepas dari rengkuhannya.


Semakin aku bergerak, ia semakin merekatkan tubuhnya, "semaleman aku nggak bisa tidur," ucapnya dengan memejamkan mata.


"Baru sekarang aku bisa tidur nyenyak," lanjutnya lagi.


Apa yang baru saja ia katakan? Apa ia tengah bercerita? Atau ia akan mengatakan tentang perasaannya?


Stop, Ayuna!! Apa yang kamu fikirkan? Jangan berkhayal terlalu tinggi.


"Aku masih kurang......."


"Kurang apa??" Tanyaku dengan ucapannya yang menggantung.


"Kurang tidur," jelasnya.


"Oh," aku membuang pandangan ke arah jendela, yang sinarnya sudah menembus kaca dan menyilaukan mata.


"Apa semalem kamu juga nggak bisa tidur?" Tanyanya. Membuat mataku kembali menatapnya yang masih memejamkan mata.


"Kata siapa? Jangan sok tahu," sungutku.


Ia tertawa kecil, "berarti semalem kamu bisa tidur?" Tanyanya lagi.


"Iya, dong. Ngapain nggak tidur?" Jawabku, meski sebenarnya jawaban ini berbanding terbalik dengan apa yang aku alami. Karena semalaman pun aku tak bisa tidur.


Apakah karena hal itu yang membuatku bisa terlelap hingga saat ini bersamanya?


"Nyenyak nggak tidurnya?" Tanyanya.


"Biasa aja," jawabku.


"Kok bisa, ya??" Tanyanya lagi.


"Bisa apa?" Aku merasa belum paham.


"Kok bisa, kamu merasa biasa aja. Sementara aku di sini lagi berperang."


"Berperang? Siapa?" Aku masih belum mengerti.


"Hati sama fikiran aku," jelasnya.


"Dih!" Aku kembali mencibir, ucapannya masih tak masuk akal bagiku.

__ADS_1


"Aku terus mikirin kamu, bahkan aku ngerasa nggak bisa jauh-jauh dari kamu, Ayuna."


__ADS_2