Senior Cantik Incaranku

Senior Cantik Incaranku
Rasa yang berbeda


__ADS_3

Pov. Ayuna Maharani


"Karena aku ...."


Danu menarik nafasnya panjang, mengangkat tangannya ke arah wajahku. Menyapu sisa-sisa buliran air mata dari pipiku dengan jarinya.


Hati??


Bagaimana keadaanmu saat ini?


Amankah?


"Karena aku ......"


"Ayuna!!!" Panggil Satria yang kini tiba-tiba masuk dari luar.


Secepat kilat, tangan Danu langsung beralih dari wajahku. Membenarkan posisi tubuhnya hingga berdiri tegak.


Baik Danu atau pun aku, kami berdua sama-sama merasa seperti tengah tertangkap basah.


"Ayuna, apa kamu baik-baik aja??" Satria memasang wajah khawatirnya. Menghampiriku yang masih duduk dengan perasaan tak karuan.


"Kamu nggak apa-apa 'kan?" Satria menatap bergantian hampir setiap wajahku.


Bahkan ia pun tak memepedulikan keberadaan Danu yang tengah berdiri di sebelahku.


Aku dan Danu merasa sedikit kikuk atas kehadiran Satria ditengah-tengah perbincangan kami barusan.


Banyak hal yang menjadi kehawatiranku.


Satu, Satria mendengar pembicaraan kami.


Dua, aku takut jika Satria pun melihat apa yang baru saja Danu lakukan terhadapku.


Tiga, jangan sampai karena hal ini masalah yang tengah hadir saat ini menjadi semakin runyam.


Oh, tidak!


Tuhan, tolong!


Berikan aku waktu untuk menyelesaikan masalah yang tengah kuhadapi kali ini. Jangan menambah ujian yang baru. Aku mohon.


"Sat, aku nggak apa-apa."


Setelah beberapa menit, aku baru menjawab pertanyaan Satria. Yang masih saja menatapku tanpa beralih sedikitpun.


"Yuna, mata kamu sembab??" Satria menatapku detail. Hingga melihat area mataku yang masih memerah dan sembab.


"Yuna, aku akan kasih pelajaran buat orang-orang yang udah fitnah kamu di grup chat kantor. Kamu tenang aja!" Ucap Satria meyakinkanku.


"Aku udah kumpulin beberapa bukti, siapa orang-orangnya, dan bakal aku laporin sama Pak Robert. Biar mereka semua dihukum!" Lanjut Satria lagi dengan nada penuh emosi.


"Sekarang ayo kita pulang," ajak Satria.


Apa ini? Mengapa aku dihadapkan dengan situasi seperti ini? Lagi.


Aku menatap ke arah Danu yang memasang wajah datarnya. Tanpa ada guratan kebahagiaan dari wajah bersihnya itu.


"Sat, aku mau pulang sendiri," tolakku. Jelas aku harus menolak. Karena jika aku memilih salah satu di antara mereka, itu tak akan adil.


Adil??


Aku seperti orang yang sedang berbagi saja!


Aku pun memilih membuang fikiran itu jauh-jauh. Mencari cara agar kedua lelaki di hadapanku kali ini tak memiliki harapan lebih terhadapku.


Aku berhak menolak, bukan?


"Aku mau pulang sendiri aja," ucapku. Ini adalah alasan yang logis. Daripada aku berfikir yang tidak-tidak.

__ADS_1


Apalagi jika aku berbesar kepala. Aku tak ingin menjadi orang seperti itu.


"Yuna, aku pulang duluan!"


Entah apa yang Danu rasakan saat ini. Aku belum bisa menebak. Tapi, pamitnya kali ini aku rasa tak biasa.


Mengapa ini? Aku menjadi khawatir tentang perasaannya saat ini.


Apa dia sedang kecewa?


Danu keluar begitu saja, meninggalkan aku dan Satria.


"Yuna, di luar masih banyak orang yang bahas masalah kamu. Aku punya jalan pintas untuk pulang," Satria membuyarkan lamunanku. Lamunan tentang Danu.


"Seenggaknya, kita menghindar aja dulu. Kalau sudah meredam, baru kita hadapi masalah ini. Sama-sama,"


Apa ini? Kenapa Satria berkata begitu??


"Yuna, percaya aku. Aku pun percaya sama kamu!"


Lagi, Satria membuat pernyataan untuk meyakinkanku. Tapi, rasanya aku tak membutuhkan pernyataan Satria barusan.


Rasanya berbeda.


Tak sama ketika Danu yang mengucapkan pernyataan untuk meyakinkanku.


Tuhan, berikan aku jalan terbaik.


"Ayokk!" Satria mencekal tanganku, mengajakku untuk pergi keluar.


Aku segera menepiskan cekalan tangannya itu, "aku bisa jalan sendiri, Sat," ucapku.


Menerima sentuhan darinya membuatku tak nyaman.


Tak sama, jika seorang Danu yang melakukannya.


"Oke, ikutin aku,"


Aku dan Satria keluar melalui pintu belakang. Dimana tidak banyak orang-orang yang berlalu lalang. Bahkan tak ada satu pun orang di sini. Kami berjalan mengendap-endap, seperti pencuri.


Aku baru mengetahui jika kantor tempatku bekerja memiliki pintu lain. Mungkin semacam pintu rahasia.


Mungkin Satria lebih tahu, karena dia adalah orang yang dipercaya oleh Boss. Bukan tidak mungkin jika ia mengetahui begitu banyak hal tentang seluk-beluk kantor ini.


"Kamu pernah lewat di sini?" Tanyaku memecah keheningan diantara kami.


"Sesekali," jawab Satria.


"Kalau Pak Robert lagi banyak urusan, pasti lewat sini," lanjutnya. Masih berjalan fokus di depanku.


"Apa ini semacam jalan rahasia?" Tanyaku lagi.


Satria mengangguk, "sekarang bukan rahasia lagi,"


"Kenapa??" Tanyaku ingin tahu.


"Aku sudah kasih tahu jalan ini sama kamu, Ayuna." Jelas Satria.


Sudah, aku merasa percakapan ini selesai. Aku tak ingin melanjutkan lagi.


Perjalanan kami pun sudah selesai.


Ternyata jalan rahasia ini bisa tembus hingga parkiran mobil Satria berada.


Dari parkiran, aku bisa melihat masih banyaknya orang yang berlalu lalang di depan kantor.


"Ayo masuk," pinta Satria. Membukakan pintu untukku.


"Sat, aku bisa pulang sendiri," tolakku.

__ADS_1


Bagaimana bisa aku mengikuti Satria? Aku merasa sedang menambah masalah.


"Yuna, aku anterin," Satria masih bersikukuh.


"Sat, makasih udah kasih tahu aku soal pintu rahasia itu." Aku menghela nafas, mencari cara agar bisa tetap menolak ajakannya, "tapi, aku mau pulang sendiri,"


"Yuna, nanggung loh!!"


"Satria, makasih untuk kebaikan kamu. Tapi, tolong hargai keputusan aku."


Setelah itu, aku memilih meninggalkan Satria. Mengeluarkan ponselku untuk memesan ojek online. Setidaknya, dengan menaiki ojek aku bisa dengan cepat tiba di Apartementku.


Menolak Satria, mudah sekali rasanya. Aku tak perlu memikirkan perasaannya sekarang seperti apa.


Tetapi, untuk Danu? Sampai sekarang aku tidak berhenti memikirkannya. Aku begitu khawatir akan perasaannya.


Padahal jelas, perasaanku saat ini lebih butuh ketenangan. Apalagi masih banyak masalah yang harus kuselesaikan. Aku tak ingin berlarut-larut.


Tiba di lobby Apartement, aku melihat Satria sudah berdiri di sana.


Astaga!


Bagaimana bisa dia lebih cepat sampai di sini daripada aku??


Oh, aku lupa.


Aku sempat singgah di minimarket terlebih dahulu untuk membeli beberapa keperluanku yang sudah habis.


"Aku bawain," Satria merampas kantung belanja dari tanganku. Kemudian berjalan cepat di depanku.


Ya Tuhan.


Satria ini adalah salah satu makhluk Tuhan yang sedikit bebal. Menyebalkan sekali.


Sampai di depan unit, tempat yang baru satu malam aku tinggali. Aku meminta Satria memberikan kantung belanjaan itu kepadaku.


"Makasih udah dibawain," ucapku mengulurkan tangan berharap ia akan memberikan kantung plastik itu kepadaku.


"Sama-sama," jawabnya penuh senyuman.


"Sini," pintaku lagi.


Satria menolak, "Yuna, buruan buka pintunya,"


Satria memintaku untuk memasukkan pascode pada pintu unit Apartementku.


"Aku boleh masuk kan?? Pengen lihat-lihat," jelasnya.


Oh, tidak mungkin. Aku tak ingin membiarkan Satria masuk ke dalam. Apalagi hanya kami berdua. Tak etis rasanya jika wanita dan pria berada dalam satu ruangan yang sama tanpa ada kehadiran orang lain.


"Sat ...."


"Nggak boleh, ya??" tanya Satria dengan mimik wajah sedikit murung.


"Sat, bukannya aku ....."


Ucapanku mengapung, tak bisa lagi aku melanjutkannya setelah melihat seseorang di lorong sana tengah berjalan semakin mendekat. Membuatku tak bisa beralih lagi menatapnya.


Ada apa? Kenapa dia ada di sini?


Satria pun mengikuti arah pandanganku, yang menatap pria di sana tanpa berkedip.


"Danu, ngapain dia ke sini??" Tanya Satria kepadaku.


Aku hanya bisa menggeleng, tanpa bisa menjawab.


Setelah langkah Danu semakin dekat dengan kami, Satria segera mendekat ke arahnya.


"Kamu ngapain ke sini? Kamu ngikutin aku sama Yuna???"

__ADS_1


__ADS_2