
Pov. Ayuna Maharani
"Aku, benar-benar menyukaimu. Ayuna Maharani!"
Mataku tak bisa berhenti berkedip hingga berpuluh-puluh kali. Ucapan Pak Robert tentu saja menggangguku.
Mengganggu hatiku.
Hati yang selama ini tengah terombang-ambing di lautan tak tentu arah.
Hati yang akhir-akhir ini terus dilanda kesakitan, hingga membuatnya menjadi retak seperti tanah yang kering akibat kekurangan air.
"Aku sudah menyikaimu sejak dulu, Yuna."
Pak Robert beranjak dari duduknya. Kemudian memposisikan diri duduk di sebelahku dengan jarak yang hanya beberapa jengkal namun pandangannya tetap lurus ke depan.
"Aku menyukaimu, melebihi rasa suka antara atasan dan bawahannya. Bukan cuma karena kinerja, wawasan atau kecerdasan kamu, tapi karena banyak hal lain yang membuat aku menyukaimu, Yuna."
Ucapan Pak Robert tak bisa membuatku buka suara. Aku bagaikan kerupuk yang tersiram air, melempem.
"Setelah aku tahu kamu punya suami, hatiku terasa hancur dan sakit."
"Kamu nggak percaya 'kan?" Pak Robert tertawa sumbang.
"Aku coba untuk melawan perasaan ini, karena mustahil untukku bisa memilikimu, Ayuna?"
Ketika Pak Robert menoleh ke arahku, aku merasa ada hal yang salah dengannya.
"Pak, maaf. Saya tidak tahu." Ucapku, merasa bersalah seolah menyesal karena tidak mengetahui perasaannya.
"Jelas kamu nggak tahu, karena aku simpen rapat-rapat di sini!" Ucapnya menunjukkan jari telunjuk ke arah dadanya sendiri.
"Tapi, setelah tahu kamu bercerai. Aku kembali bersikap egois,"
"Egois, karena merasa bahagia di atas penderitaan dan cobaan yang sedang kamu hadapi!"
"Maaf, Ayuna. Tapi mungkin ini adalah kesempatan untukku .........."
"Pak, maaf. Saya rasa, Bapak salah." Potongku. Tak ingin mendengar lebih ucapan Pak Robert yang kian melantur.
Entah ini kejujuran atau permainan yang sedang ia rencanakan, aku kurang paham. Yang jelas, saat ini aku harus bersikap tegas agar tak terlalu terbawa perasaan. Jangan sampai itu terjadi.
Lebih baik menghindar, daripada masuk ke dalam kandang singa yang terkenal sebagai player kelas kakap ini.
"Yuna, ngomong biasa aja. Nggak usah formal gitu!!" Bentaknya.
Ternyata Pak Robert memang tak akan pernah bisa menahan amarahnya. Baru saja ia bersikap memelas dan lembut, sekarang ia sudah berubah menjadi singa kembali.
"Maaf, aku udah bentak kamu. Aku cuma nggak suka kalau kamu....."
"Pak, silahkan buang jauh-jauh perasaan Bapak. Karena saya tahu, orang seperti apa Pak Robert!"
__ADS_1
Potongku asal bicara. Tak perduli jika ia akan bertambah marah terhadapku. Biarkan saja, karena itu lebih baik daripada ia mendekatiku.
"Ayuna, tolong jangan dengerin apa kata orang tentang aku!"
"Mereka cuma bisa menilai, tanpa mengetahui yang sebenarnya!"
"Apa yang mereka lihat, tidak sama dengan kenyataan yang sebenarnya."
Pak Robert mencoba menjelaskan sesuatu yang menurutku tak ingin kudengar.
"Aku mungkin tipe pria yang kesannya suka mainin perempuan. Tapi, aku mau coba serius sama kamu." Lanjutnya dengan wajah meyakinkan.
Ucapan Pak Robert semakin tidak masuk akal. Hari ini dia seolah mengungkapkan perasaannya, tapi di jam yang sama pula dia seolah tengah melamarku.
Trik apa yang tengah ia jalankan? Apa dia fikir aku adalah wanita gampangan yang bisa seenaknya ia permainkan?
"Dasar player!" Batinku, merutuki sikapnya.
Tok! Tok!
"Permisi, Pak?"
Aku terkejut, kemudian langsung bangun dari posisi dudukku setelah melihat siapa yang datang.
Ia masuk begitu saja, tanpa izin terlebih dahulu oleh sang pemilik ruangan. Menatapku dalam diam, dengan tatapan mengandung kekecewaan.
Di sinilah, aku merasa tengah tertangkap basah seolah sedang berbuat kesalahan besar. Seperti orang yang tengah berselingkuh.
"Danu??"
"Danu!!!!" Bentak Pak Robert yang kini menaikkan suara baritonnya menjadi beberapa oktaf. Memerah, penuh kekesalan dan menakutkan penampakan wajahnya kali ini.
"Kamu bisa nggak bersikap sopan sedikit? Kenapa asal nyelonong?" Tanya Pak Robert tak terima ketika Danu sudah melangkahkan kakinya mendekatiku.
"Pak, maaf saya cuma mau nganterin ini!" Danu mengangkat sebuah benda pipih di tangannya. Memperlihatkan ke arah Pak Robert yang tengah marah seolah ingin melahapnya hidup-hidup.
"Yuna, hape kamu bunyi terus! Takutnya penting!" Ucap Danu dengan wajah datar menyerahkan ponsel milikku.
"Ini, dari tadi ibu kamu nelponin," lanjutnya lagi.
"Oh," aku langsung menangkap ponsel itu dari tangan Danu. Mengkhawatirkan pesan yang baru saja ia katakan.
"Maaf, saya permisi, Pak!" Ucap Danu memohon pamit keluar.
Sebelum keluar, Danu memberikan tatapan aneh ke arahku. Ia mengedipkan sebelah matanya beberapa kali. Seolah memberi kode agar aku pun ikut keluar bersamanya.
"Pak, maaf saya mau telepon ibu dulu," aku pun berpamitan dengan Pak Robert. Mencari alasan tepat untuk keluar dari ruangan kerjanya yang sejak tadi membuatku seakan terperangkap.
"Silahkan," ucapnya mengizinkan. Meski dengan wajah yang masih memendam amarah dan suara berat.
Setelah keluar dari ruangan Pak Robert, aku segera memeriksa ponselku. Mencari-cari panggilan masuk, namun tak ketemukan nama kontak ibuku. Bahkan tak ada panggilan masuk atau panggilan tak terjawab oleh siapapun hari ini.
__ADS_1
"Nggak ada siapapun yang nelpon!"
"Astaga!!"
Aku terkejut dengan kehadiran Danu di belakangku. Manusia satu ini memang selalu mengejutkan.
"Kaget, ya??"
"Udah tahu nanya!!" Gerutuku.
"Kenapa kamu bohong?" Tanyaku langsung kepada Danu, mengangkat ponselku tepat kehadapannya.
"Bohong apa?" Tanyanya seolah tak mengerti maksudku.
Aku tahu, wajahnya itu hanyalah pura-pura Bo-doh. Padahal sebenarnya dia pemain ulung.
"Kamu bilang tadi ada yang nelpon? Tapi nggak ada sama sekali!"
"Kenapa kamu bohong, Danu??" Tanyaku lagi menegaskan.
"Oh, itu...." Danu malah terkikik.
Aku semakin tak mengerti dibuatnya. Tawa kecilnya ini menunjukkan betapa bahagianya dirinya.
Manusia ini memang menyebalkan sekali. Aku merasa malas berbicara dengannya. Aku lebih memilih meninggalkannya menuju ke ruangan kerjaku.
Namun, ternyata pria menyebalkan itu mengekoriku.
"Kamu ngapain ngikutin aku??" Tanyaku dengan nada kesal, menghentikan langkah kakiku sejenak untuk menegurnya.
Danu hanya mengerlingkan matanya, kemudian tersenyum kecil ke arahku, "tujuan kita sama."
Mataku membola, menatapnya tak mengerti.
Aku baru sadar. Ketika mata Danu terus memperhatikan pintu masuk menuju ruangan kerja. Ternyata tujuan kami memang sama. Sama-sama menuju ke dalam ruangan di mana tempat kami bekerja.
"Bener 'kan??" Tanyanya lagi menyadarkan lamunanku.
"A-pa??" Aku masih belum percaya sepenuhnya.
"Kita memang satu tujuan," bisiknya lirih. Kemudian berlalu begitu saja mendahuluiku.
"Danu!!!!" Geramku kesal. Mengeratkan rahang dan mengepalkan genggamanku. Kemudian aku pun ikut berlalu.
Tiba di dalam ruangan yang masih hening, aku mendudukkan bokongku dengan kasar di kursi kerjaku.
"Bohong demi kebaikan nggak apa-apa."
"Apalagi, kebohongan itu buat nyelamatin kamu dari kandang singa!"
"Hah??" Aku menoleh ke arahnya, menatap dirinya yang sejak tadi berkata lirih namun bisa ku dengar jelas.
__ADS_1
Ia pun membalas tatapanku dengan lekat. Bahkan memasang wajah seriusnya.
"Aku nggak suka, kalau kamu terus deket-deket sama laki-laki lain."