
Pov. Ayuna Maharani
"Ini!"
Ibu mertuaku melempar dengan kasar sebuah map cokelat ke atas meja tepat di depanku. Sebuah map Yang sempat ia ambil dari tas hitam ala-ala ibu sosialitanya. Entah apa isi dari map cokelat itu, aku bahkan tidak ingin tahu. Sementara, aku hanya diam sembari terus memandang ke arah map itu.
"Cepetan ambil!!!" Perintahnya dengan bentakan keras.
Aku sedang tak ingin berdebat, aku pun menurutinya dan mengambil amplop cokelat berukuran folio itu. Ku putar benang pengait, kemudian perlahan mengambil isi dari amplop itu yang ternyata adalah beberapa lembar kertas.
"Tandatangan sekarang, jangan buang-buang waktu saya!"
"Bu, apa ini??"
Setelah aku membaca judul dari berkas itu, aku pun mempertanyakan hal ini pada Ibu mertuaku.
"KAMU BISA BACA 'KAN???"
Ya Allah, sehinakah ini diriku? Apakah hal ini sudah dipersiapkan jauh-jauh hari oleh Ibu dan Mas Bagus? Belum juga kering air mata ini akibat kejadian di pengadilan tadi, kini harus tumpah kembali.
Surat cerai yang dilayangkan Mas Bagus untukku, apakah ini akan menjadi pertanda status baruku sebagai janda?
"Buruan, ih!!!!"
Ibu mertuaku memaksaku untuk memegang pulpen, agar aku segera menandatangani surat cerai itu. Dapat aku rasakan, bagaimana dia menggenggam tanganku bersama pulpen hitam itu.
"Bu, kenapa memaksaku??"
"Kenapa? Kamu nggak terima? Kamu baru sadar, kalo nggak bisa hidup tanpa Bagus? Terlambat Ayuna!!"
"Bu, aku akan perbaiki urusan rumah tanggaku dengan Mas Bagus,"
"Percuma, kamu itu udah di talak! Cepet tandatangan!!"
Dengan berat hati, aku mengukir parafku diatas materai pada kertas putih ini. Mungkin benar kata Ibu mertuaku, jika percuma aku memperbaiki semuanya sementara Mas Bagus telah menyatakan talaknya.
"Heuh!" Ibu mertuaku langsung merebut kertas dari tanganku. Setelah itu ia pun segera keluar dari rumah kontrakanku dengan perasaan puas.
Aku menangis sejadi-jadinya, aku tidak peduli lagi jika ada orang yang mendengarkan isakanku ini. Aku pun tak ingin kembali lagi ke kantor, untuk bekerja. Karena perasaanku kini sudah lelah, hingga tak lagi memiliki semangat hidup.
Hanya di kamar ini, ditemani dengan foto Dinda aku menangisi nasib hidupku yang kurang beruntung.
...****************...
Malam terasa begitu cepat, pagi sudah mulai menampakkan sinar mentari yang menyilaukan mata. Aku tidak tahu sampai jam berapa menangis kemarin, karena aku memang tak melihat jam sama sekali.
Tubuhku terasa kaku saat bangun pagi ini. Jelas saja, karena aku belum mengganti pakaianku sejak kemarin. Bahkan aku pun tak mengisi perutku ini, padahal hidupku begitu butuh banyak tenaga.
Aku menuju ke dapur, mencari sesuatu yang bisa di makan di dalam lemari pendingin. Beruntung ada roti yang sementara bisa mengganjal perut ini dengan ditemani susu putih hangat.
Ku tatap jam dinding, sudah menunjukkan jam enam pagi. Harusnya aku sudah bergegas menuju kantor, karena mengingat bagaimana macetnya jalan raya. Namun, rasa malas telah menguasai diri ini. Aku tak ingin lagi bekerja, untuk apa? Aku tidak lagi memiliki anak, aku juga sudah dicampakkan oleh suamiku, aku hanya sendiri.
__ADS_1
Tidak ada gunanya bukan? Aku terpuruk, tanpa teman, tidak akan ada yang memepedulikan keadaanku, selain diriku sendiri.
Aku melihat ponselku yang terus berdering, tidak tahu siapa yang menghubungiku. Aku sedang malas berurusan dengan siapapun sejak kemarin. Bahkan jika itu Bossku, aku tidak lagi ingin berurusan dengannya.
Aku memperhatikan setiap sudut rumah ini. Teringat akan bersama suami dan anakku, kini semua telah menjadi kenangan.
"Ya Tuhan," dalam hati aku terus mengingat Tuhanku. Meminta pengampunan padanya.
Jika aku terus begini, mungkin Dinda di sana akan sedih melihatku. Aku harus kembali bersemangat, aku tidak ingin mengecewakan anakku kembali meski dia sudah tiada.
"Apakah aku harus kembali ke Semarang nemenin ibuk?"
Aku pun memutuskan untuk memilih meninggalkan kota sejuta kenangan ini. Lebih baik aku hidup di kampung, atau di kota lain. Akhirnya aku pun mempersiapkan diri untuk pergi ke kantor.
"Yuna, baru dateng?" Tanya Gita melihat aku datang ke kantor sesiang ini. Ia tahu, jika selama ini aku tidak pernah datang terlambat.
"He'eum, macet," jawabku bohong.
"Mba, mendingan langsung ke ruangan Pak Robert, deh," sambung Syifa.
Aku hanya melirik ke arah Syifa dengan tatapan penuh tanya.
"Danu udah ke ruangannya, sekarang Mba mendingan ke sana, buruan!"
"Kenapa, Fa?"
"Iya, dari tadi pagi Pak Robert nyariin, Mba,"
TOK! TOK!
"Siang, Pak, " sapaku ketika baru saja sampai di dalam ruangan Bossku.
Aku melihat Danu sedang sibuk dengan sebuah laptop, namun aku juga bisa melihat matanya menatap ke arahku.
"Yuna, akhirnya kamu dateng,"
"Bapak mencari saya?"
"Ayuna, ada hal mendesak. Aku meminta timmu membantuku,"
Aku tidak tahu apa yang Pak Robert butuhkan dari timku. Namun sepertinya ada yang sedang Danu kerjakan di dalam ruangan Pak Robert.
"Yuna, tolong kamu ..."
"Pak, ini," aku menyodorkan sebuah amplop putih ke arahnya.
"Apa ini??"
Ketika membuka surat itu, Pak Robert tak bereaksi apapun. Dia hanya diam dengan helaan nafas panjang.
"Saya ingin mengundurkan diri, Pak,"
__ADS_1
Semua mata tertuju padaku, tak terkecuali Danu yang memberikan tatapan penuh arti.
"Danu, kamu setuju jika seniormu ini mengundurkan diri???"
Aku tidak mengerti, mengapa Pak Robert menanyakan hal ini pada Danu. Padahal dia adalah Boss dari kami.
"Tidak, Pak!"
Suara tegas Danu dapat terdengar jelas ditelingaku. Begitu pun tatapannya, aku tak pernah mengerti mengapa Danu selalu memberi tatapan berbeda kepadaku.
"Nah, seorang junior yang baru bergabung pun tidak setuju jika kamu mengundurkan diri, apalagi aku, Ayuna!!"
Pak Robert meremas surat pengunduran diriku menjadi berbentuk seperti bola kertas. Kemudian membuangnya ke dalam tempat sampah.
"Pak, tapi saya ..."
"Ayuna, kamu ingin cuti? Aku akan berikan. Berapa hari atau berapa bulan pun akan aku izinkan,"
Aku sudah mulai kesal. Sebegitu pentingnya kah aku sehingga tidak diizinkan keluar dari perusahaan ini?
"Maaf, Pak, saya tidak ingin cuti,"
"Kamu ingin naik gaji? Bulan depan aku akan transfer!"
"Pak, bukan itu. Saya sudah tidak bisa lagi bekerja di sini, maaf."
Aku menundukkan kepala, tak ingin lagi berdebat dengan Boss yang menyebalkan ini. Aku harap, dia akan menghargai keputusanku ini.
"Ayuna, apa kamu yakin?"
"Ya,"
"Kamu sudah fikirin mateng-mateng?"
Pak Robert menarik kursi, kemudian ia memintaku duduk tepat di sebelah Danu.
"Duduk!"
Aku dan Danu hanya saling melemparkan tatapan tak mengerti. Sepertinya ada hal penting yang akan Pak Robert bahas kali ini.
Setelah kulihat Pak Robert duduk di kursi kebesarannya, aku sudah mulai merasa curiga. Karena tatapan Pak Robert ke arahku itu tak seperti biasa.
"Pak, saya harap anda menghargai keputusan saya kali ini,"
"Yuna, kita ngobrol-ngobrol santai aja. Anggap aku ini temen kamu, jadi nggak usahlah pake bahasa formal gitu,"
Mataku membola, ketika mendengar penuturan Boss yang selama ini ku kenal sangat menyebalkan dan gila akan hormat. Sebenarnya apa yang Pak Robert inginkan dariku? Apakah dia akan menyiksaku setelah berhasil membuat Mas Bagus masuk ke dalam penjara?
"Yuna, aku nggak ngelarang kamu buat berenti kerja kalo itu memang sudah keputusan kamu, tapi ..."
"Tapi apa, Pak?"
__ADS_1
"Bantu aku kali ini, setelah semuanya selesai kamu boleh pertimbangin lagi keputusanmu dan aku nggak akan larang,"