
Pov. Danu Narendra
"Sejauh ini apa ada yang ingin kalian tanyakan?" Yuna menatap beberapa karyawan secara bergantian. Namun bagiku, tatapannya itu seolah mengintimidasi.
"Ada, Bu ..."
"Tentang pekerjaan tentunya," sambung Yuna ketika salah seorang karyawan ingin mengajukan pertanyaan. Namun ucapan itu langsung dipotong oleh Ayuna.
Hal itu membuat semua orang terdiam di meeting room. Mungkin karena Yuna sudah membuat sebuah batasan, karyawan itu menghentikan niatnya. Apalagi tatapan mata Yuna yang seolah mengintimidasi. Membuat siapapun yang menatapnya menundukkan kepala.
"Oke, jika tidak ada. Pertemuan kita selesai."
Yuna membereskan semua peralatannya. Mengakhiri pertemuan ini. Tanpa basa-basi dan kata perpisahan. Padahal dia sudah tahu jika kami akan kembali ke Jakarta sore ini.
"Kamu nggak takut dinilai jahat sama mereka?" Tanyaku pada wanita keras kepala ini. Tanpa melirik Ayuna yang kini berjalan cepat disebelahku. Tentunya dengan suara perlahan.
"Kalo sikap kamu kayak gini, orang-orang bakal nilai kamu yang macem-macem, Yuna," lanjutku lagi.
"I don't care!"
Yes! Dia merespon ucapanku. Meski sebenarnya bukan kata itu yang ingin aku dengar. Kata yang jelas menunjukkan sebuah ketidak peduliannya terhadap orang lain.
"Oke, kamu emang nggak pernah peduli sama perasaan orang lain!"
"Itu, tahu!" Celetuknya dengan kerlingan mata.
"Yuna, itu memang hak kamu. Aku cuma mau ngingetin aja,"
"Nggak perlu!" Yuna terus menyanggah semua perkataan dariku.
"Oke," aku mengangkat kedua tangan sebagai tanda menyerah. Menyerah atas kekeraskepalaan Ayuna. Wanita cantik yang menggoyangkan hatiku. Wanita yang begitu sulit untuk kutaklukan.
Kufikir, ini adalah masalah tersulitku. Jika kemarin aku berhasil dengan cepat melupakan Fathin, bahkan hanya dengan hitungan jam. Namun berbeda halnya dengan Yuna. Rasanya berbanding terbalik.
Saat kami akan pulang pun, hanya aku yang berpamitan seadanya. Meski sebenarnya Mitha dan para teamnya sudah mengadakan acara perpisahan untuk kami. Namun Ayuna menolaknya mentah-mentah.
"Kita tidak perlu acara perpisahan, mungkin dikesempatan lain kita akan bertemu!"
Itulah kata-kata Ayuna yang terbilang sedikit halus, menolak acara perpisahan yang telah Mitha adakan malam ini di Restaurant khas makanan sunda yang tidak jauh dari kantor.
"Oke, Bu. Terimakasih banyak atas bimbingannya selama ini. Kami sangat berharap kita bisa bertemu kembali."
__ADS_1
Mita pun menyayangkan penolakan Yuna. Namun, rupanya dia memahami karena mungkin Yuna memiliki kesibukan lain.
Oke, selesailah tugas kami di kantor cabang. Tugas yang tidak begitu berat menurutku, yang berat hanyalah perasaanku. Berat sebelah, rasanya jika aku berjalan tubuhku akan miring ke kiri kemudian bergantian ke kanan.
Suasana di kantor yang canggung sudah usai. Kini berganti ketika kami tiba di Villa Davidson. Karena tak banyak barang-barang yang kami bawa, tak butuh waktu lama untuk berkemas.
Sayangnya, ketika aku tiba di lantai dasar percakapan Yuna dan Bu Lasmi sudah tak mengenakkan pendengaranku.
"Ada angkutan Umum, Mba. Bis," ujar Bu Lasmi.
"Kalo naik Bis kira-kira ongkos yang berapa ya, Buk?" Tanya Yuna ingin tahu.
"Waduh, kalo masalah itu nggak tahu, Mba! Soalnya Ibuk mah nggak pernah naik Bis sampe Jakarta," jawab Bu Lasmi polos.
"Maklum, orang kampung," lanjutnya lagi disertai cengiran kecil.
Disela percakapan mereka, aku pun turut ikut andil. Rasanya ingin sekali aku menjawab semua pertanyaan Ayuna barusan.
"Nggak nyampe cepek, paling juga dua atau tiga puluh ribu," sahutku.
Namun aku dapat melihat dengan jelas wajah Ayuna yang sudah tak berekspresi lagi ketika aku ikut duduk dan berada dalam satu meja bersama mereka.
"Nah, itu Mas Danu tahu, Mba!"
Semakin kamu menghindar, semakin kamu ku kejar. Aku tak mungkin menyerah begitu saja. Ayuna Maharani. Entah kamu adalah sosok Maharani yang terus menggangguku meski hanya dalam mimpi atau bukan. Tetapi aku menganggap jika kamu adalah Maharani-ku dalam kehidupan nyata.
"Emang harga yang murah! Tapi ya empet-empetan!" Selaku lagi ditengah keheningan, bahkan Ayuna sepertinya membisu. Tak berkata sepatah katapun sejak kedatanganku.
"Iya, kalo naik angkutan umum emang gitu, Mas! Belum lagi ntar disenggol-senggol orang, dimintai pengamen, di apa lagi ya?"
Kata-kata Bu Lasmi memang benar adanya. Ini bukan ingin menakut-nakuti Ayuna. Ini adalah sebuah kenyataan yang aku pun pernah mengalaminya sendiri.
"Mending pengamen, kalo preman terminal gimana? Apa nggak kena begal kejahatan, tuh!" Bubuhku lagi.
Kulirik wajah Ayuna yang sudah terlihat ketar-ketir akibat obrolanku dengan Bu Lasmi. Sepertinya kali ini perasaannya masih takut.
"Ih, serem. Mba mau ngapain kok naik Bis segala? Emang nggak pulang bareng sama Mas Danu?"
"Kita beda arah, Bu!"
Aku hanya tersenyum getir mendengar ucapannya, menyisakan rasa sakit yang sedikit menyayat hati. Jika memang ingin menjauhiku, tidak begini juga caranya, Ayuna.
__ADS_1
Akan aku ladeni kamu. Aku ingin lihat seberapa keras kepalamu yang seperti batu itu. Bahkan aku ingin membuat batu keras itu perlahan menjadi lembut. Apakah bisa?
"Apa ada taksi online yang bisa sampe Jakarta, Bu?"
"Nah, Ibuk mah nggak tahu, Mba."
Sejenak Bu Lasmi menatap kearahku yang hanya bisa mengulum senyuman. Ia malah melontarkan pertanyaan yang seolah aku tahu jawabannya. "Mas, ada nggak?"
Aku hanya menggedikkan bahu, mencibirkan bibir, menatap dalam Ayuna dengan kepala batunya itu.
"Mas, emangnya nggak bisa anterin Mba Yuna walaupun kalian beda arah?"
Pertanyaan Bu Lasmi amat membantuku. Lihat Yuna, aku akan lunakkan kepalamu itu seperti buah mangga yang sedang ranum-ranumnya.
"Bisa aja. Masalahnya orangnya mau apa nggak??"
"Tuh, Mas Danu mau, Mba! Udah bareng dia aja. Biar aman. Apalagi udah mau magrib gini,"
Ayuna masih diam. Mungkin kepala batunya itu sedang berfikir keras mencari cara untuk menjauhiku.
"Bareng aja, Mba. Nanti kalo Mas Danu macem-macem Ibuk jadi saksi. Ibuk laporin tuh ke Tuan Robert!" Ancam Bu Lasmi.
"Aku mah nggak bakal macem-macem, Buk. Yang penting nggak digodain aja," sambungku dengan senyuman smirk. Namun mata ini tak pernah beralih kemanapun selain menatap Ayuna.
Bugh!
"Ya elah Mas, tau aja yang bening-bening!"
Usai menepuk lenganku dengan kuat, Bu Lasmi malah ikut tertawa senang akan candaanku ini.
Kecuali si kepala batu itu. Gayanya pun saat ini bak batu yang hanya bisa diam tak bergerak.
"Udah, bareng aku aja. Aku nggak bakal macem-macem," ajakku pada Yuna.
Tak enak hati karena sejak tadi terus membuatnya terpojok. Akhirnya aku putuskan untuk membuat pengertian terhadapnya.
"Kalo kamu pergi sendiri, aku takut kamu digangguin orang. Mending kalo nggak diapa-apain,"
"Kalo kamu ditoel, dipegang-pegang atau apalah, hati aku nggak akan rela." Lanjutku.
Sudah, baik Bu Kurdi atau Yuna hanya bisa diam. Tak ada lagi yang bersuara. Kami pun saling melanjutkan makan masing-masing.
__ADS_1
Yuna, kapan hatimu yang beku seperti Es kutub itu akan mencair? Kapan juga kepalamu yang keras seperti batu itu melunak? Aku sangat menantikan waktu itu. Tapi kapan?