
Pov. Danu Narendra
Perasaanku menjadi kacau ketika tahu jika Ayuna sudah pulang lebih dulu sejak siang tadi. Dan sampai sekarang pun aku tidak tahu di mana dia berada. Baik-baik sajakah? Atau.....
Aku segera menepiskan fikiran negatif ini. Mencari cara agar bisa segera menemukan Ayuna.
"Fa, lihat Ayuna, nggak?" Tanyaku pada Syifa yang baru saja akan beranjak dari duduknya.
Syifa menggeleng, menatapku heran, "enggak!"
Kemudian duduk kembali, "aku nggak tahu." Lanjut Syifa sembari mata menatap ke atas tanda sedang berfikir.
"Di mana, ya?" Aku menggaruk tengkuk leherku. Tak kutemukan lagi cara untuk mengetahuinya. Hingga kuputuskan bertanya dengan Syifa.
"Kenapa nggak ditelpon aja?" Saran Syifa.
Aku menepuk jidat, "iya,"
Namun, aku lupa. Jika tak menyimpan nomor telepon milik Ayuna. Parah sekali.
"Fa, aku boleh minta nomornya?" Tanyaku dengan cengiran kecil.
"Kamu nggak nyimpen nomor telepon Mba Yuna?" Syifa melongo, menatapku heran.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman terpaksa, "aku lupa ngesave,"
Hanya alasan saja, yang sebenarnya terjadi adalah, aku tidak berani meminta nomor ponsel Ayuna. Lucu sekali.
"Save juga nomor aku, ya," ucap Syifa setelah memberikan nomor telepon Ayuna kepadaku.
Aku mengangguk, mendial nomor Syifa. Kemudian kembali ke tujuan utamaku, menelpon Ayuna.
Berulang kali aku menghubungi Yuna, namun tak juga mendapat balasan. Aku pun mengirimkannya beberapa pesan singkat.
[Kamu di mana?]
[Apa kamu baik-baik aja?]
[Angkat teleponku, Yuna!]
Tiga pesan singkat tak kunjung mendapat jawaban, hingga kuputuskan untuk menelpon Ayuna kembali.
"Danu sibuk banget, ngapain dia?" Tanya Gita yang baru saja datang sehabis dari toilet.
"Nyariin Mba Ayuna," jawab Syifa apa adanya.
"Mau ngapain?" Gita kembali bertanya penasaran.
"Kayaknya ada hal penting, deh!" Jawab Syifa apa adanya.
"Tentang kerjaan, bukan?" Gita terus memberikan Syifa pertanyaan yang belum tentu bisa dijawabnya.
__ADS_1
"Entah!" Syifa menggedikkan kedua bahunya tanda tak tahu.
"Kamu ngerasa nggak sih, Fa. Kalau Danu sama Ayuna itu sedikit beda? Apalagi abis balik dari Bogor,"
Syifa kembali menggedikkan pundaknya. Namun otaknya juga berfikir, jika apa yang dikatakan Gita ada benarnya.
Percakapan Gita dan Syifa pun dapat terdengar ditelingaku. Aku pun memutuskan untuk keluar ruangan. Pulang lebih cepat beberapa menit tak seperti biasanya. Melupakan apa yang baru saja Syifa dan Gita katakan. Tujuan utamaku saat ini adalah menemukan Ayuna terlebih dahulu.
Di tengah perjalanan pun, Ayuna belum mengangkat telpon. Aku semakin khawatir, hingga kuputuskan menghubungi Bu Siti. Tetapi Bi Siti bilang jika Ayuna tak bersamanya.
"Nggak ada, Mas," jawab Bu Siti.
"Kalo Ayuna ke sana, tolong cepet kabarin saya, Bu," pintaku penuh permohonan.
"Iya, Mas Danu."
Aku pun memilih menuju ke rumah Ayuna. Sembari terus menelponnya. Hingga panggilan empat belas kali dariku pun tak terjawab.
Ayuna, kamu di mana??
Aku semakin menambah kecepatan mobil. Berharap segera tiba di rumahnya. Namun aku juga tak berhenti menghubunginya. Hingga earphone yang terpasang ditelingaku pun mendengar suaranya.
"Hallo,"
"Kamu di mana? Kamu baik-baik aja?" Tanyaku tak sabar.
"Aku ...."
"Nggak usah, Danu. Aku lagi pengen sendiri!"
"Ayuna, kamu ...."
Tut! Tut! Tut!
Sambungan telepon pun terputus. Ayuna mematikan sambungan sepihak tanpa mendengarkanku terlebih dahulu.
Ya Tuhan, Ayuna. Aku harus mencarinya kemana? Dia mulai keras kepala lagi.
Setiap sudut kota yang padat ini terus kusambangi. Tetapi tak juga menemukan Ayuna. Dimana sebenarnya dia bersembunyi?
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, selama dua jam aku sudah berputar-putar mencarinya. Hingga aku putuskan untuk datang ke rumahnya. Memilih menunggu didepan teras, karena aku yakin jika Ayuna pasti akan pulang.
Rumah ini terasa sepi sekali, hanya ada beberapa tetangga Ayuna yang lewat, menyapaku dengan senyuman kecil. Tak sedikit pula yang memperhatikanku detail. Meninggalkan kisi-kisi yang sekelibat membahas Ayuna.
Seperti apa sebenarnya kehidupan Ayuna Maharani? Mengapa aku merasa jika kehadiranku di sini seolah tak mereka sukai?
Pukul sembilan malam, rasa khawatirku pun mulai bertambah. Cemas, gundah, gulana bercampur jadi satu. Ayuna belum juga kembali. Kemana sebenarnya dia? Apakah dua orang pria tempo hari mengganggunya lagi?
Oh, tidak akan kubiarkan mereka. Otakku rasanya sudah mulai buntu, tak lagi bisa berfikir jernih. Hingga aku putuskan untuk menghubungi polisi agar mencari Ayuna.
Belum juga aku menekan icon telpon hijau pada layar ponsel, ternyata yang kutunggu sejak tadi pun datang.
__ADS_1
"Ayuna??" Aku bangkit dari dudukku, menghampirinya yang tengah berjalan kaku. Memandangku dengan mata berkaca-kaca, kemudian kembali berbalik.
"Ayuna, mau ke mana?" Aku mengejarnya, kali ini harus sampai dapat.
"Kamu mau ke mana?" Panggilku disertai langkah cepat mencoba mengimbanginya.
"Yuna!!!" Teriakku.
Tiba di gang sepi, Ayuna menghentikan langkahnya. Menatapku dengan penuh arti menampakkan mata sembabnya itu.
"Yuna, kenapa? Mau menghindar dari aku lagi??" Tanyaku masih belum mengerti.
"Danu, bisa kamu pergi dari hadapanku sekarang?? Aku nggak mau diganggu terus sama kamu."
Ucapan Ayuna barusan menambah goresan pada hatiku. Kata-katanya itu tidak bisa diterima oleh hatiku. Mendengarnya saja aku merasa sakit.
"Kamu tahu, Danu. Aku nggak suka deket dengan orang!" Ucapnya sedikit keras.
"Tapi aku suka deket sama kamu, Yuna." Jawabku jujur.
"Heuh!" Ayuna memicingkan senyumannya.
"Pergi sekarang Danu! Jangan ganggu aku!! Kamu tahu, kehadiran kamu itu malah nambah masalah aku! Kamu malah bikin semuanya tambah runyam! Kamu sadar nggak, hah??"
Ayuna berkata dengan cepat, tanpa jeda. Kemudian bersimpuh di antara gang yang gelap dan sepi ini. Kembali menangis, dengan isakan yang amat perih.
Perkataannya barusan sedikit menyadarkanku. Ternyata kehadiranku didekatnya hanya menambah masalah. Are you okay, Danu?
"Aku sudah menderita, Danu. Tolong, aku mohon jangan nambah-nambahin masalah aku!"
Deg!
Aku tidak menyangka, Ayuna semenderita ini dengan kehadiranku. Awalnya aku mengira jika Ayuna peduli denganku. Ternyata aku salah besar. Jika kehadiranku hanya menambah penderitaan dan luka, untuk apa aku di sini???
"Yuna, aku ..."
Tak bisa lagi kulanjutan kata-kata ini. Sangat berat. Rasanya perkataan yang akan keluar malah tersangkut di kerongkonganku. Dadaku sesak, hatiku perih, perasaanku menjadi sakit menerima kenyataan ini.
"Kalau kamu nggak mau pergi, aku yang pergi! Ucap Ayuna.
Wanita kuat itu bangun dari posisi bersimpuhnya. Menyeka sisa-sisa air mata yang tersisa pada wajah cantiknya. Mengumpulkan keberanian kembali, dengan menarik nafas panjang dan dalam.
"Yuna, kamu nggak perlu pergi. Aku akan pergi. Tapi setelah mastiin kamu masuk ke dalam rumah," pintaku dengan penuh memohon.
"Aku cuma mau mastiin kamu baik-baik aja. Setelah itu, aku nggak bakal ganggu kamu lagi,"
Sekian dan terimakasih, Ayuna. Telah diizinkan dekat denganmu beberapa hari ini, mengenal karakter, memahami sifatmu, mengetahui keinginanmu. Dan, berat rasanya setelah tahu jika keinginanmu itu adalah tak ingin dekat denganku.
"Pulanglah, Yuna."
Tak ada tanggapan apapun darinya, ia hanya berjalan melewati tanpa basa-basi. Kembali ke rumahnya.
__ADS_1
Dari belakang aku mengikuti langkahnya perlahan, memastikan dia masuk ke dalam rumah dengan selamat. Yuna, perasaanku akan tetap sama. Meski kau telah memintaku untuk tak lagi mengganggumu.