
POV. Danu Narendra
Tak ada lagi yang dapat aku katakan sebagai alasan atas perlakuanku semalam. Meski sebenarnya aku sudah mendapat balasan dari Ayuna berupa tamparan dan beberapa kali pukulan keras ke wajahku. Namun itu tak sebanding, karena aku layak mendapatkan itu.
"CRAZY!"
Itulah kata yang terakhir kali Yuna ucapkan padaku. Bukan karena pukulan atau perkataannya, tetapi gurat wajahnya yang menunjukkan sebuah kekecewaan besar terhadapku.
Mau bagaimana aku ini? Apakah Ayuna akan menuntutku atas perlakuan semalam yang telah aku buat? Perlakuan? Bahkan ini tidak bisa disebut sebagai perlakuan biasa, lebih tepatnya pelecehan.
Tidak mungkin dia akan membiarkanku begitu saja. Mungkinkah dia akan melaporkanku kepada Pak Robert? Atau mungkin ke pihak yang berwajib?
Banyak sekali pertanyaan yang terbesit dalam benakku. Hingga sepagi ini aku tak berani menampakkan wajah di depannya. Aku takut, tatapannya. Tatapan kebenciannya terhadapku yang amat menyayat hati. Takut sekali.
Bodoh! Aku benar-benar berbuat bodoh!
Keluar dari kamar, selama sepersekian detik aku sempatkan mata ini menatap pintu kamar Ayuna. Kemudian aku segera beringsut pergi menuruni anak tangga menuju lantai dasar Villa.
Setelah berada di ruang makan, meja yang biasanya sudah dihuni oleh Ayuna ternyata masih kosong. Yang ada hanya beberapa jenis sarapan di atas meja.
Kemana dia? Apa mungkin Ayuna belum bangun? Tidak! Ayuna bukanlah tipe wanita yang suka bangun kesiangan.
Heuh! Fikiranku ini seolah sudah mengenal Ayuna luar dalam.
"Eh, Mas Danu sudah bangun?"
"Em, pagi, Bu," sapaku pada Ibu Lasmi yang baru saja muncul dari belakang.
"Mas, Ibuk sudah siapin sarapan, mari sarapan dulu," tawar Bu Lasmi.
"Oh, terimakasih, Bu,"
"Mas, nyariin Mba Yuna, ya?"
Mungkin Bu Lasmi sadar akan mataku ini yang sedari tadi celingukan mengitari seisi ruangan yang memang kenyataannya sedang mencari Ayuna.
Aku hanya tersenyum kecil, malu jika terlalu menunjukkan pencarianku ini di depan Bu Lasmi. Namun ternyata dia lebih bisa membaca isi otak dan hatiku.
"Pagi-pagi banget, Mba Yuna pergi," ucap Bu Kurdi sembari tangannya sibuk membereskan piring.
"Katanya sih, mau cari udara segar."
Aku masih memasang telingaku akan ucapan Bu Lasmi. Sedikit lega rasanya. Karena aku sudah tahu kemana Yuna pergi, walaupun belum tahu persis di mana keberadaannya saat ini.
"Mas, mau nambah lagi sambelnya?"
"Oh, nggak usah, Buk,"
Ingin segera ku selesaikan aktivitas sarapan ini. Meski sebenarnya kepalaku masih berasa pusing. Namun niatku untuk menemui Yuna rasanya sudah bulat. Aku tak akan tenang jika belum bertatap muka dengannya. Untuk kemarahannya padaku, itu urusan nanti.
"Eh, Mba Yuna sudah balik?"
Suara Bu Lasmi mengalihkan pandanganku dari santapan nasi goreng yang tengah aku nikmati. Seolah tertarik oleh magnet, mataku pun mengarah ke tempat yang sama dengan mata Bu Lasmi.
Wanita dengan kostum olahraga itu sangat membuatku tak bisa berkedip lagi. Bahkan penampilannya dengan celana training panjang abu-abu, kaus hitam stret yang sangat pas di tubuhnya pun memikat mataku. Kaus itu benar-benar membuat tubuh si empunya berbentuk sempurna.
"Abis olahraga, Mba?"
Pertanyaan Bu Lasmi benar-benar mewakiliku. Bahkan aku yang sejak tadi tak berkedip menatapnya malah tak berani berkata sepatah kata pun.
__ADS_1
"He'eum, cari keringat, Bu."
Ayuna melangkahkan kakinya mendekati area meja makan. Meraih gelas dan membuka lemari es yang posisinya sangat jelas dari tempat dudukku. Hingga aku pun bisa puas menatap tubuh serta wajahnya yang masih berkeringat itu.
Masih kulihat dia menuangkan air dingin ke dalam gelas. Kemudian meminumnya hingga tandas.
Melihatnya saja, malah membuatku seakan ikut andil menghabiskan air minum itu.
"Sarapan dulu, Mba,"
"Nggak, Bu. Aku mau mandi dulu, bauk acem." Yuna menghirup aroma di pundaknya secara bergantian. Dengan mulut yang sedikit kerucut.
Bahkan, jika dia tak mandi pun aroma itu tak akan menghilangkan kecantikannya pagi ini.
Astaga Danu. Apa yang kamu fikirkan? Kenapa semakin ke sini, kamu malah semakin menginginkan sosok yang jelas-jelas sudah menolakmu.q
"Oh, ya udah. Nanti cari aja di meja ya, Mba. Soalnya Ibuk mau ke pasar,"
Setelah memberi anggukan pelan terhadap Bu Lasmi, Ayuna segera meninggalkan ruang makan menuju lantai atas. Masih tersisa setengah jam lagi waktu untuk berangkat ke kantor. Aku memilih untuk menunggunya saja di sini.
Lirikan mata malas itu, aku bahkan sudah bisa menebaknya ketika ia baru saja turun dari tangga dengan pakaian kantor yang rapi khas dirinya.
Aku fikir dia akan menuju ke meja makan untuk sarapan, namun ternyata dia berlalu begitu saja menuju pintu depan.
Tidak bisa dibiarkan, aku pun memilih segera mengejar Ayuna.
"Yuna,"
Panggilanku tak menghentikan langkah kakinya.
"Ayuna,"
"Yuna!!"
Aku pun memilih memutuskan untuk mencekal pergelangan tangannya.
"Ayuna, sebelumnya aku minta maaf semalam aku ..."
"Lepasin!"
Tak kusangka, Yuna akan menatap mataku dengan tatapan marah. Bahkan tatapan ini adalah tatapan menakutkan yang ia keluarkan. Belum sempat aku menjelaskan, aku malah seakan dibunuh oleh tatapan marahnya hingga membuatku tertunduk.
"Nggak usah ngomong lagi sama aku!" Jari telunjuknya pun ikut berkata. Seolah betapa kurang ajarnya aku ini.
"I'm dissapointed!"
Mati aku. Ungkapan Yuna barusan benar-benar membunuhku. Meski kemarin dia membuat batasan untuk berbicara dengannya seperlunya saja, tapi kali ini batasan itu sudah berakhir. Aku tidak lagi diizinkan untuk berbicara padanya.
Kalau sudah begini, aku hanya bisa membiarkannya saja meninggalkanku. Karena dirasa akan percuma jika aku mengejarnya disaat kemarahannya sedang meluap.
Setelah kulihat ia menaiki taksi, aku pun memilih pergi menuju ke mobil untuk ke kantor.
Sepanjang perjalanan, aku hanya terus teringat ucapan kekecewaan Yuna tadi. Otakku terus berputar untuk mendapatkan cara terbaik agar bisa memulihkan kekecewaannya itu. Tapi apa?? Sejak tadi otakku ini hanya terus berputar-putar, tanpa menemukan solusi.
"CRAZY!"
"Nggak usah lagi ngomong sama aku!"
"I'M DISSAPOINTED!"
__ADS_1
Yang ada, kata-kata Ayuna terus memenuhi fikiranku.
Bahkan saat tiba di kantor pun Ayuna masih beku. Es yang semalam rasanya telah mencair, pada saat malam itu pula ia membeku. Bahkan pagi ini ia bahkan seperti Es di kutub Utara.
"Pagi, Bu, Yuna," sapa seorang security.
"Pagi, Pak," jawabnya dengan senyum keramahan.
Aku yang melihatnya hanya bisa mengerlingkan mata. Bisa-bisanya dia bersikap ramah terhadap orang di luar sana. Sementara denganku?
Ck! Tidak ada hal yang membuat Ayuna peduli terhadapku. Yang ada Ayuna hanya marah, marah dan marah.
"Pagi, Pak Danu,"
Setelah aku melewati pintu masuk, security itu pun menyapaku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman yang nyaris tak terlihat.
Tiba di dalam ruangan yang isinya hanya ada aku dan dia. Seolah tak ada suara lain terkecuali suara berisik keyboard dari laptop yang kutekan kuat-kuat.
Tak tik tak tik tak tik......
Rasanya tempat ini lama-kelamaan akan menjadi horor bagiku. Ada teman, tapi tak ada suara. Ada nyawa tetapi rasanya mati.
Yuna, sampai kapan kamu akan terus bersikap seperti ini. Ini adalah sebuah penyiksaan bagiku. Lebih tepatnya penyiksaan batin.
Karena aku tidak bisa bersabar lebih lama lagi, aku pun mengeluarkan suara beratku.
"Kapan kita balik?"
Kutatap dia yang duduk tepat di seberangku masih diam tanpa menoleh.
"Kita balik kapan?"
Ayuna, kamu masih saja mendiamkanku.
Kuangkat bokong ini, berjalan mengitari meja dan duduk tepat di kursi sebelah Ayuna.
"Sampe kapan mau diem-dieman kayak gini??"
ppppp
Sangat dekat, bahkan aroma segar rambutnya pun dapat aku hirup. Menenangkan. Meski pemiliknya amat menyebalkan. Hanya kerlingan mata malasnya sebagai jawaban atas pertanyaanku.
"Yuna, bisa nggak sih kalo ...."
"Sst!" Ayuna menempelkan tangan tepat di bibirnya.
"Hallo, Pak?"
"Oh, begitu."
"Baiklah,"
Sibuk dengan ponsel yang menempel ditelinganya, sepertinya aku bisa menebak jika dia sedang berbicara dengan Pak Robert.
"Kita pulang sore ini,"
Sudah selesai berbicara singkat dengan Pak Robert, ia pun berkata singkat kepadaku.
Wanita Es penghuni kutub utara, tunggu saja. Aku akan menaklukkanmu.
__ADS_1