
Pov. Danu Narendra
"Hah???" Ayuna masih tak mendengar perkataanku.
"Ya ampun, dari tadi hah, heh, hoh, hah, heh, hoh, mulu!!!" Teriakku.
Namun Ayuna malah tertawa. Hingga tawa yang membuatnya semakin cantik bisa terlihat jelas dari pantulan kaca spion.
Dari kaca spion saja dia begitu cantik, apalagi jika memandangnya secara langsung.
"Kamu sengaja, ya??" Tuduhku.
"Sengaja apa??" Tanya Ayuna.
"Kamu sengaja ngerjain aku 'kan??" Selorohku.
"Idih!" Ayuna malah mencibir.
"Nggak ada guna ngerjain kamu! Aku juga banyak kerjaan lain!" Tambahnya lagi.
"Terus, kenapa kamu hah, heh, hoh, aja dari tadi??" Tanyaku dengan berteriak.
"Ya karna aku emang nggak denger kamu ngomong apa, Danu!!" Balasnya berteriak pula.
Kali ini, aku yang malah ingin tertawa. Karena teriakannya begitu jelas memekikkan telingaku. Ngilu sekali.
"Kirain kamu sengaja!"
"Aku bukan tipe orang yang kayak gitu!!" Elaknya.
Ya, mendengar ucapan Ayuna barusan aku sadar. Jika Ayuna bukanlah orang seperti yang aku tuduhkan. Ayuna selalu berfikir realistis. Dia juga selalu bertindak seadanya, tanpa embel-embel ataupun alasan yang tak masuk akal.
Aku tersenyum kecil, "jadi, kita makan dulu, ya?"
"Enggak ah," tolak Ayuna sembari menggelengkan kepala.
"Lah, aku laper, Yuna!" Jawabku bersikeras ingin mengajaknya makan.
"Ini masih sore, aku belum laper!" Timpalnya.
"Ya udah, kita makan malem aja kalo gitu!"
"Katanya kamu laper, malem kan masih lama!" Jelas Ayuna.
"Nggak apa-apa, aku bisa tahan yang penting makannya sama kamu!"
Tak ada lagi tanggapan dari Ayuna. Ia hanya tersenyum masam dibelakangku. Meski senyuman masam yang ia berikan, aku sungguh menikmati pemandangan ini dari pantulan kaca spion.
"Kita itu satu tujuan, satu hati."
"Jadi, apa-apa harus barengan, Ayuna."
"Jangan sendiri-sendiri, nanti nggak kuat!"
"Kamu ngomong apa, sih??" Tanya Ayuna.
"Aku nggak denger!!" Sambungnya lagi.
Astaga!
Mengapa setiap aku berbicara hal yang serius, Ayuna tak mendengarnya. Apakah aku harus mengulanginya kembali?
Aku lebih memilih menaikkan kecepatan sepeda motor matic ini, daripada berbicara tapi tak didengar olehnya.
"Udah sampe," aku menghentikan sepeda motor dan mematikan mesin.
"Makasih," Ayuna mencoba melepaskan helm, namun ternyata pengait helm itu sangat sulit untuk dilepas.
Melihatnya kesusahan, aku pun berniat ingin membantunya.
"Sini aku bantu," tawarku.
__ADS_1
Ayuna menghindari tanganku yang sudah terulur, "nggak usah, aku bisa sendiri!"
Aku hanya bisa menelan salivaku ketika mendapatkan penolakan darinya. Aku fikir dengan membantunya, akan seperti adegan di filem-filem romantis. Ternyata aku salah.
"Makasih," ucap Ayuna lagi setelah berhasil melepaskan helm kemudian memberikannya kepadaku.
Aku mengangguk, mengikuti langkahnya dari belakang.
"Kamu nggak capek?" Tanya Ayuna.
"Capek kenapa?" Aku pun balik bertanya.
"Ditanya malah balik nanya!" Gerutu Ayuna.
Aku mengggaruk kepalaku yang tak gatal, ternyata berada didekat Ayuna memang serba salah. Dia bisa merubah sikap kapan saja. Kadang bersikap dingin, kadang bersikap menggemaskan, tetapi dia tak pernah bersikap lembut terhadapku.
Ah, jangan terlalu banyak berharap, Danu! Diizinkan berada di dekatnya saja harusnya kamu sudah bersyukur.
Jangan meminta seseorang untuk merubah sikap atau sifatnya demi dirimu.
"Danu, kenapa kamu ngikutin aku terus?" Ayuna mendadak menghentikan langkah kakinya.
Aku hanya bisa tersenyum, tak menanggapi ucapannya.
"Emangnya kamu nggak capek?" Tanyanya lagi.
Tumben sekali wanita pendiam dan ketus ini banyak bicara. Suatu kemajuan yang bagus.
"Kita itu satu tujuan, apa kamu lupa?" Tanyaku dengan menatap matanya dengan dalam.
"Oh, sorry," Ayuna melanjutkan langkah dengan wajah sedikit memerah. Sepertinya dia baru ingat jika aku adalah tetangga rumahnya.
"Yuna," panggilku.
"Eum," Ayuna menoleh, memasang wajah seriusnya.
"Jam tujuh," ucapku.
Aku tersenyum, kemudian melangkah mendekatinya, "jam tujuh malem, aku jemput," ujarku sedikit berbisik.
Ayuna menatapku, kemudian menekan pascode pintu unitnya dengan cepat.
Setelah pintu dibuka, tubuh ramping itu pun masuk namun tak segera menutup pintunya.
"Oke, aku tunggu."
Mataku terpana, menatapnya dari balik pintu. Entah apa yang aku rasakan saat ini. Mendengar jawabannya barusan hatiku terasa sangat bahagia.
Dapat aku lihat senyum kecilnya, kemudian hilang setelah pintu itu tertutup rapat.
"Yesss!!" Aku kegirangan, tanpa sadar harus melompat beberapa kali saking senangnya.
Untung saja tak ada siapapun yang lewat di sini. Jika tidak, itu akan sangat memalukan. Lebih baik aku segera masuk ke dalam unitku, mempersiapkan diri untuk malam nanti.
Begitu masuk, aku melihat meja yang berisikan makanan pesanan pagi tadi. Aku pun segera membereskan rumah terlebih dahulu.
Setelah selesai, aku segera membersihkan diri dan mandi.
"Pake apa, ya?" Batinku menelisik setiap ruang di dalam lemari pakaian.
Namun, aku merasa tak ada kostum yang pantas. Hingga semua yang ada di dalam lemari pun sudah keluar dan berantakan di atas tempat tidur.
"Ya, ampun!!" Melihat pakaian berserakan aku segera merapihkannya kembali. Mataku sungguh tak suka memandangnya.
Setelah selesai, aku memilih membaringkan tubuh di atas ranjang. Teringat pagi tadi ada sosok wanita yang sudah tidur di atasnya.
Jika kembali mengingatnya, rasanya aku tak ingin beranjak dari tempat tidur ini.
Oh, Ayuna. Mengapa kamu membuatku menjadi seperti orang gila?
Aku mengangkat tangan sebelah kiri, menatap arloji hitam yang kini sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam.
__ADS_1
Karena tak memiliki waktu lama, aku memilih memakai celana jeans, kaos putih, kemudian dilapisi kemeja hitam saja. Setelah selesai merapihkan rambut, aku membuka ponsel untuk mencari referensi restoran atau tempat makan yang akan aku kunjungi bersama Yuna malam ini.
Masih ada waktu lima belas menit sembari menunggu tepat pukul tujuh.
Klik!
Aku menjentikkan jari, ketika melihat sudah pukul tujuh malam dengan tepat. Segera aku bergegas untuk menemui Ayuna dengan perasaan tak sabar.
Setelah menekan bell, tak butuh waktu lama Yuna langsung membukakan pintu.
"Yuna," sapaku dengan perasaan bergetar.
Bergetar, karena tak kuat melihatnya. Sungguh, malam ini Ayuna terlihat sangat cantik dengan kaus hitam yang ia kenakan. Belum lagi rambutnya yang terurai sedikit basah. Membuatku semakin jatuh hati berkali-kali kepadanya.
"Danu, maaf aku baru selesai mandi." Ungkapnya.
"Silahkan masuk," pinta Ayuna mempersilahkan dengan sopan.
Aku hanya mengangguk, kemudian memilih masuk ke dalam tanpa kata.
Bukan tak bisa berbicara, tetapi hatiku ini terus bergetar karena melihat penampakan Ayuna yang begitu memikat mataku.
Dia terlihat cantik sekali.
Danu, kendalikan dirimu! Buang jauh-jauh hayalan belakamu itu.
"Rapih banget?"
Sepertinya Ayuna memperhatikan penampilanku malam ini.
"Oh, ini ...." kalimatku masih menggantung, tak bisa berfikir lagi karena sepertinya Ayuna sudah menghipnotisku.
"Danu??" Ayuna menyadarkan lamunanku.
Lamunan yang masih terus memandanginya tanpa jemu.
"Hah? I-ya?"
"Kamu ngelamun?" Tanya Ayuna.
"Kamu cantik," ucapku tanpa fikir panjang.
Ayuna tertawa sumbang, kemudian mengalihkan pembicaraan.
"Aku cuma masak seadanya," ucap Ayuna.
"Hah??" Aku tak mengerti arah pembicaraannya. Kenapa dia harus membahas soal masakan??
Ayuna berdiri, "hayuk!!" Ajaknya sembari berjalan ke dalam.
"Kemana?" tanyaku tak paham, karena Ayuna malah mengarah masuk ke dalam. Hal itu justru membuat perasaanku tak menentu.
"Hayuk!!" Ajak Ayuna lagi.
Akhirnya aku mengikuti Ayuna yang berjalan di depanku, kemudian berhenti di ruang makan.
Mataku membola ketika melihat di atas meja sudah banyak berbagai hidangan yang tersaji.
"Yuna, ini....."
"Duduk," potongnya. Memintaku duduk di kursi makan tepat bersebrangan dengannya.
Aku menarik kursi, memandangi isi di atas meja yang sudah tersedia berbagai makanan ala rumahan.
"Kenapa? Kamu nggak suka?" Tanya Yuna.
"Oh, enggak, bukan gitu." jelasku tak enak hati. Mencoba mengumpulkan beberapa nyawaku yang terasa sudah mengambang diawang-awang.
"Terus, kenapa bingung? Katanya mau makan??" Seloroh Ayuna, menatapku santai.
__ADS_1
"Aku udah masakin buat kamu, Danu."