Senior Cantik Incaranku

Senior Cantik Incaranku
Ada aku di sini


__ADS_3

Pov. Ayuna Maharani


Suara berat Danu, permintaan maafnya yang terdengar tulus serta tatapan matanya kepadaku, membuat aku hanya bisa memalingkan pandangan kearah lain.


"I'm Sorry, Ayuna," ucapnya disertai suara yang berat dan pelan.


"Aku lancang, aku salah, tolong jangan hukum aku dengan batasan-batasan yang kamu buat. Aku nggak bisa!" Lanjutnya lagi.


Danu, kenapa kamu nggak bisa? Apa susahnya menjalani batasan yang aku buat ini? Toh, kita hanya rekan kerja yang tidak harus terus-menerus berkomunikasi selain di kantor, bukan?


Hatiku tak mampu menanggapi ucapannya. Aku hanya berani merutuk didalam hati. Yeah, hanya itu yang bisa kulakukan, dan akhirnya hatiku yang tadi mengeras, kini sedikit melunak. Mencoba mengalahkan keegoisanku dan memaafkan Danu. 


Dari perbuatannya kemarin, mungkin karena efek hubungannya dengan Fathin. Lagi pula Danu terlihat tak sadar karena mabuk. Aku berusaha untuk memakluminya.


"Jangan ulangin lagi," ucapku. Meski tak secara langsung memberinya kata maaf. Tetapi, dengan cara ini aku harap Danu paham. 


Danu mengangguk, "aku janji, nggak akan ngelakuin kesalahan yang sama lagi." 


"Jadi, kita sudah bisa saling bicara kayak biasanya 'kan??" Tanya Danu disertai senyum kecil.


"Jangan terlalu banyak bicara. Apalagi hal yang nggak penting!" Jawabku. 


"Okey, udah dikasih kesempatan baik kayak gini aja, aku dah bersyukur." 


Entah kesempatan apa yang dia maksud.Tak ingin lagi aku menanggapi Danu. Setelah kemacetan yang kami hadapi kini telah dilalui. Hingga jalanan yang hampir tengah malam ini terasa lengang. 


"Rumahnya dimana, Yuna?" Tanya Danu masih fokus dengan setir mobilnya. 


"Lampu merah depan, belok kanan," jawabku singkat.


"Wah, lumayan jauh juga ya dari sini kalo pergi ke kantor!" 


"He'um," anggukku.


"Berenti di depan gang itu aja!" Tunjukku pada Danu agar mobilnya menepi. 


"Kenapa di sini? Aku bisa anter sampe depan rumah, Yuna." Tawarnya. 


Aku masih menolak. Bagiku sudah diantar sampai gang ini sudah cukup. Tapi gang ini bukanlah jalan yang biasanya aku lewati. Karena biasanya aku melewati jalan tikus yang lebih sempit. 


"Terimaksih, Danu." 


Setelah mengambil koper yang baru saja Danu keluarkan dari bagasi. Aku segera berjalan menuju rumah kontrakanku. Melalui gang yang lumayan sepi ini. Sedikit asing rasanya, tapi ini adalah satu-satunya jalan yang bisa ku tempuh agar mobil Danu bisa masuk.


Sengaja tak ku tengok lagi keberadaan Danu di sana. Aku yakin dia sudah pulang, perjalanan yang menyita waktu ini pasti melelahkan baginya. Apalagi dia menyetir mobil sendiri. Tanpa ada gantinya.

__ADS_1


Drtt..... Drttttt....


Aku mencoba meraih ponsel yang bergetar dari dalam tas selempang kecilku. Namun belum sempat aku merogoh benda pipih ini, dihadapanku sudah ada dua orang pria berbadan besar yang membuatku terkejut.


"Lu bininya Bagus 'kan???" Tanya pria bertato itu dengan suara keras dan tatapan menyeramkan.


"Iya, ni orangnya. Gue yakin!" Sahut pria berambut gondrong. 


"Eh, mau kemana lu? Mau kabur?"


Karena perasaanku sudah takut dan campur aduk. Aku pun memilih berlari, meninggalkan koperku. Menghindar dari mereka di gang sepi yang lumayan panjang ini


"WOY! Jangan kabur lu!" Teriak kedua pria itu.


Aku terus berlari disertai perasaan takut. Siapa sebenarnya mereka? Apa yang mereka mau dariku? Apa hubungan Mas Bagus dengan pria-pria itu? Banyak sekali pertanyaan yang muncul. Semakin membuatku panik.


"Mau kemana lu, hah??" Pria bertato telah berada di depanku. Merentangkan kedua tangan, menghalangi jalan. 


Aku terus mundur, ketika kedua pria itu semakin maju dan mendekatiku. Hingga tubuh bagian belakangku pun terbentur dengan tembok pembatas yang tinggi. 


"Mau apa kalian???" Tanyaku takut. Namun suaraku masih lantang.


"Ape lu?? Mana Bagus? Lu umpetin dia dimana?" Tanya pria berambut gondrong dengan kedua tangan berada dipinggang.


"Cepetan jawab! Lu istrinya 'kan?" Ancamnya lagi, namun kali ini ia mengeluarkan belati yang menyilaukan mataku.


Tolongg!!!" Teriakku. Namun ternyata di sekitar gang ini tak ada seorang pun yang lewat.


"Jangan teriak, atau gue tusuk lu!!!" Ancamnya lagi.


"Dimana Bagus? Kapan dia mau bayar utangnya?" Tanya pria bertatao dengan mata yang semakin  membesar.


"Hutang apa? Aku nggak tahu apa-apa!" Sergahku. Karena aku tak ingin dihubungkan dengan Mas Bagus lagi.


"Bohong, Lu!!!!" 


Kali ini bukan hanya diancam dengan belati tajam. Tapi rambutku juga sudah di tarik dengan kuat oleh pria menyeramkan itu.


"Ngomong nggak, lu! Atau gue suntik nih pake barang gue!" Ucap pria bertato itu dengan iringan tawa.


"Gue duluan yang nyuntik, enak aja lu!" Pria berambut gondrong itu pun menyela. 


"Tolong lepasin saya. Saya nggak tahu apa-apa," rintihku menahan sakit akibat rambut yang semakin ditarik kuat. Belum lagi rasa takut ini. 


"Halah udah, sikat aja Bro!!!" 

__ADS_1


Pria itu tersenyum Smirk "Lumayan, ni cewek bening banget!"


"Tolong, saya mohon ...."


"WOY lepasin dia!!!!!!" 


"Berengs*k!!!!" 


Bugh! bugh!


Danu melayangkan pukulannya kearah pria bertato. Kemudian melayangkan tendangan kakinya kearah pria berambut gondrong hingga tersungkur.


"Apa-apaan lu! Mau jadi jagoan, hah??" Tanya pria bertato itu pada Danu menantang.


"Beraninya sama cewek lu! Dasar b*nci!!" Ejek Danu kemudian membuang ludah kasar. 


Melihat tindakan Danu, kedua pria itu naik pitam. Kemudian mereka sama-sama melakukan baku hantam. Dua lawan satu. Aku yang melihat hal itu pun merasa semakin ketakutan. Takut jika terjadi apa-apa dengan Danu. Namun aku hanya bisa diam, bersandar pada tembok beton ini. Tak bisa membantu apa-apa.


Bugh!! 


Tak disangka, Danu memiliki ilmu bela diri yang cukup baik. Hingga kedua pria itu bisa dihajar habis-habisan oleh Danu.


Bugh! Bugh!


Danu menendang kedua pria itu dengan kuat secara bergantian. Hingga mereka pun jatuh dan tersungkur.


"Danu, cukup!!!" Teriakku. 


"Inget! Jangan ganggu cewek gue! Kalo lu nggak mau mati!!!" Ancam Danu, yang hanya ditanggapi dengan ringisan oleh kedua pria asing itu akibat kesakitan.


Bugh! Bugh! 


Danu kembali menendang kedua wajah pria itu hingga mereka bangun kesakitan dan lari tunggang-langgang.


"Berengs*k. Urusan kita belum selesai, awas lu!" Ancam pria bertato itu kearahku. 


Setelah mereka pergi, Danu menghampiriku dengan tatapan kekhawatiran serta nafas tersengal. 


"Yuna, kamu nggak apa-apa?" 


Di saat itulah, air mataku pun jatuh hingga aku menderu. Entah karena rasa takut yang teramat dalam atau karena hatiku yang memang terlalu cengeng akibat kejadian barusan. 


"Yuna, tenang," ucapnya mencoba menenangkanku.


Anehnya, ketika Danu menyentuh wajahku dengan kedua tangannya. Tak ada penolakan sedikitpun dariku. Aku malah merebahkan kepalaku hingga menjadikan dadanya sebagai topangan. 

__ADS_1


"Jangan khawatir Yuna. Ada aku di sini."


__ADS_2