
Pov. Ayuna Maharani
Aku, sekuat hati untuk menahan diri agar tetap tegar. Sekuat hati menahan mata, agar tak menangis. Tapi, ternyata hatiku tak sekuat itu.
Meskipun aku sudah berusaha semaksimal mungkin, aku tetaplah aku. Terasa semakin lemah ketika menerima perlakuan seperti ini. Mendapat tuduhan yang begitu menyakitkan hati dari Gita.
Ketika membuka isi pesan grup kantor, semua membahas tentangku. Tak terfikirkan olehku, ternyata dampaknya akan berkepanjangan seperti ini.
[Wah, bookingan Boss nih!]
[Pengen Booking juga, lumayan cantik!]
[Udah dibooking sama sekretarisnya, telat luh!]
[Aku maauuu! Tapi nggak bahaya tah?]
[Bahaya!!! Bahaya!!! SIKAT AJA!!]
Aku terduduk lemas. Kepalaku semakin berdenyut, tanpa bisa mengatakan apa-apa lagi setelah mataku fokus menatap layar ponsel.
Tes!
Buliran bening itu pun menetes kembali.
Di hadapan Gita, Syifa dan .....
Danu.
"Kalau kamu emang mau nyari tambahan uang, jangan bawa-bawa nama kita, Ayuna!!"
Gita masih dengan caci-makinya. Tak henti terus menghujatku. Aku yang mendengarnya saja merasa sangat lelah.
"Gita, kamu udah keterlaluan!!!" Bela Danu.
"Kenapa kamu lebih percaya sama gosip murahan kayak gini, hah??" Lagi-lagi Danu membela.
"Apa kamu nggak bisa denger dulu penjelasan, Ayuna!!!" Tambahnya lagi.
"Danu, sekarang aku tahu!" Ucap Gita menyeringai, "jangan-jangan bener dugaanku ...,"
Ya Tuhan, apa lagi yang akan Gita katakan?
Aku langsung menutup kedua telinga ini dengan tangan kuat-kuat.
"Kalau kamu udah lebih dulu booking dia waktu di Bogor!!!"
Duar!!!
Bagai tersambar petir di siang hari. Ucapan Gita membuatku semakin terasa jatuh dari tebing yang curam. Remuk redam, sakit sekali.
"Gita!!!!! Jaga ucapan kamu!!!!" Danu sudah terlihat semakin marah. Bahkan jari telunjuknya sudah mengarah ke wajah Gita.
Dengan rahangnya yang terlihat kencang, sorot mata tajamnya, serta satu telapak tangannya yang telah mengepal keras.
Aku tak pernah melihatnya semarah ini.
Aku yang telah membuat kekacauan diantara kami.
Aku bersalah.
Ya, ini semua salahku.
Aku terus menyalahkan diri, aku pantas mendapatkannya.
__ADS_1
Tess!!!
Buliran bening itu pun kembali mengalir, mengucur deras tiada henti.
"Danu, Gita, udah ...." Syifa kini buka suara. Mencoba meredam suasana tegang kali ini.
"Udah, kasian Mba Ayuna," lanjut Syifa, dengan mata berkaca-kaca, mengusap punggungku lembut berulang kali.
"Gita, kamu udah bikin kita semua kecewa," tanpa henti Danu terus membela.
"Kalau kamu temen Ayuna, harusnya kamu nggak percaya sama omongan orang di luar sana!" lanjut Danu masih membela. Namun kali ini suaranya sudah sedikit meredam. Tak seemosi tadi.
"Aku tahu Ayuna nggak mungkin ngelakuin semua yang baru aja kamu tuduhkan!"
Deg!
Ada segelintir keanehan dalam hatiku. Ketika mendengar ucapan Danu yang terus saja membelaku. Dia benar-benar melindungiku. Perasaan sedihku kali ini bisa sedikit mereda, karena masih ada orang yang percaya padaku.
Namun, rasa sesak di dada malah semakin kuat. Seolah ada yang mengganjal seperti batu di dalamnya.
"Udah, Mba. Aku juga percaya sama Mba, Yuna. Jangan nangis lagi," ucap Syifa lirih. Memelukku dengan erat.
Gita menatapku seolah semakin menantang, "nggak usah pura-pura nangis. Semua orang udah tahu kelakuan kamu, Ayuna!!"
Aku hanya bisa menggelengkan kepala ini berulang kali, mencoba membuka mulut ini untuk membela diri. Namun nyatanya, dadaku malah semakin sesak. Hingga menumpahkan air mata yang beranak sungai.
"Bukti sudah jelas, aku nggak ngerti kenapa kalian berdua masih belain Dia?" Gita menatap Syifa dan Danu secara bergantian.
"Kita bakal buktiin, apa yang aku omongin ini pasti bakal terbukti!!!"
Gita keluar dari ruangan membanting pintu dengan keras. Sekeras hatinya. Hati yang tak mau mendengar penjelasanku terlebih dahulu. Malah lebih memilih mempercayai orang lain di luar sana.
"Mba, aku pulang dulu. Sekalian ngejar Gita," pamit Syifa.
Namun, gara-gara aku kali ini hubungan mereka menjadi sedikit merenggang. Bahkan mungkin telah retak.
Sepeninggalan Syifa, Aku berusaha menghapus semua sisa-sisa air mata dipipi. Mencoba menarik nafas lebih panjang dan menghembuskannya dengan kencang. Berharap, dadaku yang sesak ini akan sedikit lega.
Tetapi, sesak ini malah semakin terasa. Hingga menimbulkan suara isakan yang memalukan.
"Aku anter pulang," ajak Danu dengan suara paling lemah.
Aku menoleh ke arahnya yang masih menunjukkan wajah emosi. Meski begitu, suara lemahnya masih bisa terdengar jelas ditelingaku.
"Danu, aku bisa jela ...."
Danu memotong ucapanku, "nggak perlu. Aku percaya sama kamu, Ayuna."
Mendengar penuturannya, mataku yang sudah kering kini kembali berkaca-kaca.
"Kamu nggak usah peduliin apa omongan Gita atau orang di luar sana," lanjut Danu. Menatapku penuh dan dalam.
"Mereka cuma bisa nyebarin gosip, karena iri sama kamu."
Ucapan Danu menjadi motivasi untukku.
"Jika ada orang yang memfitnah kamu, percayalah, itu semua karena mereka iri padamu!"
"Udah nggak usah nangis lagi, matanya sampe bengkak begitu," Danu memberikan satu helai tissue wajah ke arahku.
Aku pun dengan sigap menerima pemberian tissue darinya, "te-rimakasih, Danu," ucapku tertatih, sembari terus terisak.
"Waktunya pulang," Danu mengingatkan dengan menunjuk arloji ditangannya.
__ADS_1
"Kamu duluan aja," pintaku. Masih menghapus sisa-sisa air mata di mata dan pipi.
"Kamu mau pulang sama siapa, kalau bukan sama aku?" Tanya Danu.
Pertanyaan yang membuatku merasa terjebak.
"Hah?? Maksudnya?" Aku pun berbalik tanya. Mencoba membuat Danu menjelaskan lebih.
"Pulang sama aku, biar aku yang anter sampe depan rumah," pinta Danu.
Aku menggeleng, "kamu bisa pulang duluan, Danu."
"Aku nggak bisa biarin kamu pulang sendiri, kecuali kamu pulang dengan orang yang bisa aku percaya!"
Aku hanya diam, tak lagi menanggapi ucapan Danu barusan.
Memilih merapihkan meja kerja, kemudian barang-barangku yang lainnya.
"Ayuna, banyak orang di luar sana yang bakal nyakitin kamu lagi ..."
Ucapan Danu masih menggantung. Meski tak menatapnya, aku bisa mendengar nafasnya yang kini mulai tak teratur.
"Aku nggak bisa biarin kamu sendirian, Ayuna."
"Danu, aku tahu niat kamu baik. Tapi aku ..."
"Kenapa? Kenapa kamu nggak pernah mau terima niat baik dariku, Ayuna???"
Apa-apaan ini? Kenapa pertanyaan Danu sejak tadi malah menjebakku? Haruskah aku menjawabnya?
"Aku tanya sekali lagi, kenapa??" Tanya Danu dengan penuh penekanan.
"Karena aku bukan tipe orang yang mudah nerima niat baik orang lain."
Yah, untuk saat ini otakku masih bisa memberikan alasan yang rasional. Mudah-mudahan Danu tak lagi melontarkan pertanyaan yang lainnya.
"Heuh!" Danu menyunggingkan senyuman miring.
"Aku mau lindungi kamu ..."
"Aku juga mau jaga kamu ..."
"Aku bahkan nggak bisa berenti mikirin kamu, Ayuna!"
Danu beranjak dari duduknya, mendekat ke arah meja kerjaku. Dan aku tidak menyangka, Danu berani melakukan hal ini di kantor.
Cup!
Mataku membola, mendapatkan perlakuannya. Meski hanya mengecup puncak kepalaku, hal ini membuat seluruh tubuhku bergetar hebat.
Kali ke tiga.
"Danu, kenapa kamu ngelakuin ini??"
Aku memberanikan diri menatap matanya, butuh sekali penjelasan.
"Kamu masih belum bisa rasain kenapa aku lakuin ini, Ayuna?"
Bukannya menjawab, Danu malah memberikan pertanyaan kepadaku kembali.
"Aku belum terima penjelasan apapun dari kamu, Danu!" Sergahku, dengan nada bergetar.
Masih menatap matanya. Yang juga ia balas dengan tatapan penuh dan dalam.
__ADS_1
"Karena aku ...."