Senior Cantik Incaranku

Senior Cantik Incaranku
Obat nyamuk


__ADS_3

POV. Ayuna Maharani


Begitu bergabung bersama Danu dan Syifa, aku bisa langsung mengerti dengan situasi saat ini. Apalagi dengan beberapa perhatian Syifa terhadap Danu. Meski terbilang hanya perhatian kecil, tapi aku bisa menebak jika Syifa memiliki perhatian khusus untuk Danu. Bukan hanya perhatian biasa.


Mungkinkah Syifa memiliki perasaan terhadap Danu??


Ini bukan tentang perasaan Syifa, melainkan perasaanku yang terasa terobrak-abrik saat melihat Danu diperlakukan dengan manis oleh Syifa.


"Danu, kamu mau pesen makanan apa?"


"Danu, makanan favorit kamu apa?


"Kalau minumannya?"


"Mau nambah lagi?"


"Ternyata kamu lucu juga, ya..."


Banyak sekali penawaran yang Syifa berikan untuk pria yang bernama Danu. Aku yang melihatnya saja merasa teralihkan. Pasalnya, Syifa terkesan hanya berkomunikasi dengan Danu. Sedangkan keberadaanku di sini, dianggap sebagai obat nyamuk, yang terus memberikan asap di sekeliling mereka.


Hingga Syifa menyendokkan sepotong cake ke arah mulut Danu, "Danu, cobain punyaku deh?"


Mataku terbelalak, kata-kata 'punya-ku' yang Syifa sebutkan malah terasa mengilukan telingaku. Seolah mengandung arti yang lain.


Aku pun memilih membuang jauh-jauh fikiranku yang entah sedang menilai hal apa. Lebih baik aku menikmati minuman dingin pesananku.


Aku hanya bisa mengerlingkan mata, sembari menghisap habis lemon tea di hadapanku. Mereka fikir dunia ini hanya milik mereka berdua saja?? Lalu, aku hanya menumpang? Atau aku hanya mengontrak?


"Fa, maaf. Aku nggak suka makanan manis." Tolak Danu menghadang suapan dari tangan Syifa dengan telapak tangannya.


"Oh, maaf!" Ucap Syifa dengan nada pelan dan raut wajah sedikit kecewa.


Sementara aku hanya bisa memasang wajah datar, sembari sesekali melirik ke arah Danu. Tapi, penolakan Danu malah membuat hatiku terasa lega.


Ketika kuarahkan mataku kepadanya, mata kami berdua malah bertemu. Hingga ia menyunggingkan senyum semanis madu kepadaku, sampai-sampai membuatku terbatuk-batuk.


Uhukkk! Uhukkk!


"Yuna, kamu nggak apa-apa?" Danu mengulurkan gelas yang berisi air putih kepadaku.


Aku langsung meraih gelas dari tangannya, tanpa berbasa-basi lagi dan segera meneguk air itu hingga tandas.


"Loh, itu 'kan gelas Danu, Mba??"


Ucapan Syifa menyadarkanku, ternyata aku meneguk air minum milik Danu.


"Nggak apa-apa, Fa. Lagian aku juga udah selesai makannya," jawab Danu dengan ramah.


Sementara raut wajah Syifa terlihat tak mengenakkan pandanganku. Namun aku lebih memilih membuang pandangan ke sembarang arah. Karena aku tahu, apa yang sedang Syifa fikirkan saat ini.


Akankah dia kecewa hanya karena air minum??


"Udah pada selesai 'kan makannya? Bentar lagi masuk, nih!" Danu mengingatkan kami dengan menunjukkan arloji di tangannya.


Aku dan Syifa hanya menganggukkan kepala perlahan.

__ADS_1


"Hayuk," ajak Danu.


"Ladies first," ucap Danu mengarahkan kami untuk berjalan lebih dulu.


Aku hanya bisa mencibir ketika mendengar ucapan Danu.


"Hayuk, Fa," aku meminta Syifa berjalan lebih dulu. Dan ternyata Syifa menuruti perkataanku.


Syifa pun hanya mengangguk, "iya, Mba."


Syifa berjalan lebih dulu, di susul aku yang tepat berada di belakangnya. Kemudian Danu yang ada di urutan paling belakang.


Namun betapa terkejutnya aku ketika tiba-tiba ada yang menggenggam jemariku. Merekatkan jemari ini hingga saling mengait satu sama lain.


"Danu??"


Danu hanya tersenyum menatap ke arahku yang hanya bisa menampilkan mulut menganga, tanpa bisa berkata apa-apa atas perlakuannya kepadaku.


"Lepasin!" Pintaku dengan membolakan mata ke arahnya.


Namun, Danu tetaplah Danu. Ia tetap terus berjalan perlahan dan semakin mengeratkan genggamannya.


"Danu, lepasin!!" Ucapku memperingatkan.


"Ini di kantor, Danu!" Jelasku lagi.


Danu menghentikan langkah kakinya, sementara kulihat Syifa sudah berjalan dengan jarak sedikit jauh dari kami.


"Jadi, kalau nggak di kantor boleh???" Tanya Danu dengan suara lirih.


"Danu, lepasin!!!" Aku mengingatkannya kembali.


"Kenapa sih, kamu selalu minta aku buat...."


"Nggak penting!!!" Potongku.


Karena aku malas membahas hal ini dengan Danu. Jika terus dilanjutkan, maka akan panjang lebar seperti satu bab cerita novel.


"Ayuna, kamu kenapa?" Tanya Danu, "dari tadi mukanya ditekuk mulu!" Celetuknya.


"Gandengan aja sama Syifa!" Ucapku sembari menggerutu.


"Hah??" Danu malah tersenyum dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Aku pengennya gandengan sama kamu, kok malah disuruh gandeng Syifa?" Ucap Danu sembari terus mengulum senyumannya.


Aku tak menghiraukan perkataanya, lebih baik diam. Itulah caraku untuk mencari aman.


"Apa jangan-jangan kamu cemburu???"


Deg!


Pertanyaan Danu yang satu ini tidak bisa mengendalikan jantungku. Rasanya jantungku malah semakin berdegup kencang.


"Jadi bener??" Tanya Danu lagi, menatapku dengan penuh senyuman.

__ADS_1


"Lepasinn!!!"


Setelah Danu melepaskan genggamannya, aku pun segera berjalan lebih cepat dan mendahuluinya.


Danu memang menyebalkan. Pembuat masalah, tapi merasa tak memiliki masalah. Setelah puas bermesraan dengan Syifa, beraninya dia menggenggam tanganku.


Bukan itu saja, bahkan hari ini dia sudah hampir membongkar hal yang harusnya kami sembunyikan di depan Satria.


Aku tidak mengerti lagi bagaimana cara untuk menghadapi tingkah konyol seorang Danu.


Tiba di dalam ruangan, ternyata sudah ada Gita di sana.


"Fa, kenapa mukanya lesu gitu!?" Tanya Gita sedikit bersuara keras.


"Nggak apa-apa, Ta." Jawab Syifa singkat.


"Nggak apa-apa kok mukanya kelihatan be-te gitu??"


Syifa tak menjawab pertanyaan Gita, ia lebih memilih mengerjakan pekerjaannya.


"Eh, Danu!!!" Panggil Gita.


Danu yang baru saja tiba di gawang pintu pun segera menoleh ke arah Gita, "kenapa??"


"Eh, kamu apain Syifa??"


"Aku??" tunjuk Danu pada dirinya sendiri.


"Iya! Abis keluar makan bareng kok malah bikin sedih sahabat aku!!!" Celetuk Gita.


"Ta, aku nggak kenapa-kenapa."


Rupanya Syifa pun menanggapi perkataan Gita. Namun, jawaban itu malah menunjukkan jika dirinya saat ini memang sedang ada masalah.


"Tuh, denger sendiri 'kan?? Syifa nggak kenapa-kenapa!" Jelas Danu.


"Jadi, nggak usah nuduh aku macem-macem!" Danu pun berlanjut menuju meja kerjanya.


"Aku nggak nuduh! Ini mah fakta!" Elak Gita. Ternyata ia tak mau mengalah juga.


"Gita, Syifa juga udah bilang kalau dia nggak kenapa-kenapa. Kenapa jadi kamu yang sewot??"


Aku tidak tahu dari mana datangnya keberanian untuk ikut andil dalam perdebatan Gita dan Danu. Dari ucapanku ini, tatapan Gita seolah mengibarkan bendera perang denganku.


Semua mata tertuju padaku.


Mata Syifa menunjukkan sebuah kesedihan, disertai kekesalan.


Mata Gita menjelaskan sebuah kebencian yang teramat dalam terhadapku.


Sementara, mata Danu malah memancarkan sebuah kebahagiaan yang terus disertai dengan senyuman di bibirnya.


Prok! Prok! Prok!


Gita menyunggingkan senyuman pahitnya, bertepuk tangan beberapa kali sembari terus menatapku, "udah bisa ngomong ya, sekarang??"

__ADS_1


"Apa jangan-jangan Syifa sedih gara-gara kamu, Ayuna???"


__ADS_2