
Pov. Ayuna Maharani
"Aku terus mikirin kamu, bahkan aku ngerasa nggak bisa jauh-jauh dari kamu, Ayuna."
"Apalagi setelah semalem, aku ngerasa kalau kita sudah pernah ketemu sebelumnya,"
"Apa kamu ngerasain hal yang sama?"
Aku tak bisa berkutik lagi, saat ini sepertinya Danu tengah berbicara hal serius. Terlihat dari tatapan matanya. Menatapku dalam-dalam, hingga hampir saja ingin menghanyutkanku kembali.
"Yuna?" Panggilnya, menyadarkanku yang belum bisa menjawab pertanyaannya.
"I-ya," jawabku kaku.
"Kamu kenapa?" Tanyanya dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Hah??" Aku mencoba merilekskan diri, "tadi kamu ngomong apa??" Tanyaku, yang berpura-pura tak mendengar ucapannya.
Ia hanya tersenyum, kemudian mencubit puncak hidungku.
"Danu, aku nggak denger, bisa ulangin?" Tanyaku merasa tak enak hati.
"Nggak ngomong apa-apa," bisiknya lirih, dekat sekali dengan telingaku.
Ada apa ini? Mengapa aku seperti mengharapkan hal lebih darinya? Mengetahui jika ia tak mau mengulangi ucapannya barusan membuat hatiku sedikit kecewa. Padahal jelas, jika aku mendengarnya.
Apa-apaan ini?
Oh, diriku.
"Danu, jangan kayak gini terus," pintaku, menahan nafas yang kini terasa memburu, "aku nggak suka," jelasku lagi sembari mengusap-usap telingaku yang entah seperti apa rasanya.
Danu langsung menggeser posisinya, kemudian menyibakkan selimut dan beranjak dari tempat tidur.
Kini posisinya pun sudah berdiri tegak, dengan penampilan rambut yang sedikit berantakan, membuat pandanganku tak bisa berkedip lagi.
Mata, tolong jaga pandanganmu. Situasikan hati dan jantungmu saat ini.
"Oke, kita nggak akan kayak gini terus!" Ucapnya bersemangat.
"Aku janji," lanjutnya lagi dengan menyunggingkan senyuman ke arahku.
Apa ini? Seperti ada desiran aneh dihatiku. Seakan menolak ucapan Danu barusan yang mengharuskan jika kami tak akan seperti ini lagi.
Catat, Ayuna! Kalian berdua tidak akan seperti ini lagi. Danu sudah memutuskan, kamu harus bisa menerima.
Aku yang sudah membuatnya bertindak sebagaimana mestinya. Aku merasa sedikit menyesal telah mengatakan hal itu, hingga membuatnya harus kembali mundur dari batasanku.
Dua kali, diwaktu yang sama aku mengecewakan diriku sendiri.
Danu keluar dari kamar, meninggalkanku sendirian yang hanya bisa mematung meratapi sesal yang terus mengganjal dihati. Kemudian menarik selimut, menutupi wajahku dan terus merutuki diri sendiri dibaliknya.
Dasar bo*doh!
Aneh!
Kenapa tidak berfikir panjang sebelumnya?
Seperti biasa, seolah waktu terulang kembali. Ketika aku meminta Danu untuk menjauh, tapi diriku sendiri yang akan kembali mendekatinya.
Semunafik ini kah aku?
__ADS_1
Aku melihatnya tengah bersibuk ria di dapur, meski sebenarnya kami berada di dalam gedung yang sama dan unit yang berada dalam satu lantai, ternyata unit yang dimilikinya lebih luas dibandingkan milikku.
Aku menarik kursi, duduk dengan menopang wajah sembari menatapnya tanpa henti.
"Jangan negeliatin aku terus!"
Deg!
Aku kembali tertangkap basah karena tengah memandanginya yang entah sedang membuat apa di sana. Meski hanya menatap punggungnya karena posisinya yang membelakangiku, tetapi aku heran mengapa ia bisa tahu jika aku tengah terpaku menatapnya.
Ia menoleh, menyunggingkan senyuman ke arahku. Kemudian kembali sibuk dengan aksinya kembali.
Tak ada yang bisa aku katakan, rasanya hatiku ini meleleh dengan senyumannya itu. Senyuman semanis madu yang tak pernah aku jumpai sebelumnya.
Ah, hilang sudah rasa maluku ini.
Tak lama, ia datang mengahampiriku di meja makan. Dengan tangan yang membawa dua buah mie cup.
"Laper 'kan?" tanyanya sembari menyodorkan satu cup mie ke hadapanku.
"Aku cuma punya ini," ujarnya, "kamu tahu sendiri 'kan isi kulkasku."
Ia mengaduk-aduk cup yang berisi mie dengan garpu, kemudian menyendok mie dan meniup-niup hingga uap panas itu mengebul dan menimbulkan aroma yang menggugah selera.
Jiwa laparku pun meronta-ronta.
"Kok nggak di makan? Nggak doyan, ya?" Tanyanya padaku, yang sejak tadi hanya diam tanpa kata.
Kemudian ia menyuapkan mie yang sudah ia tiup-tiup tadi ke arah mulutku, "aaa........"
Aku terheran akan aksinya. Beginikah caranya memperlakukanku? Sungguh, aku merasa menjadi seseorang yang spesial hari ini.
"Yuna," panggilnya.
"Ini udah nggak terlalu panas," lanjutnya lagi.
"Aaaaa...."
Dengan sigap, aku pun menangkap suapan itu dari tangannya. Menimbulkan senyum sumringah lagi dari sudut bibirnya.
"Kamu makan yang ini," ia menukar mie cup yang tadi sudah ia aduk-aduk, dengan mie cup yang ada di hadapanku.
Aku pun menurut saja dan memakan perlahan mie cup yang kini sudah tak terlalu menimbulkan uap panas.
"Udah nggak terlalu panas 'kan?" tanyanya.
Aku hanya mengangguk, karena mulutku ini masih penuh dengan mie yang tengah aku kunyah. Sementara ia masih sibuk meniup-niup mie cup yang tadi ia tukar.
Benar, dia telah memperlakukanku bak ratu. Meski hanya dengan kudapan sederhana, tapi aku merasa sangat diperhatikan.
"Apa kamu makan mie terus?" Tanyaku membuka suara. Mencoba menghilangkan kecanggungan yang kini aku rasa.
Ia hanya tersenyum, sembari menggeleng perlahan.
Kemudian menuangkan air dari botol kaca ke dalam gelas dan menyodorkan ke arahku.
Lagi, ia lebih mengutamakanku.
"Udah abis?" Tanyanya, menengok cup dari tanganku yang kini sudah tandas.
"Masih kurang nggak?" Selorohnya, menyodorkan mie cup yang kini ada ditangannya kepadaku.
__ADS_1
Aku menggeleng malu, kemudian segera meraih gelas dan meneguk air putih itu hingga tandas. Dari balik gelas, aku tengah merasakan kebahagiaan yang teramat sangat.
"Kamu jangan makan mie terus," ujarku, meletakkan gelas ke atas meja.
"Makasih atas perhatiannya," jawabnya, menatapku dengan senyumannya.
Aku membuang pandangan ke arah lain, tak berani menatapnya lagi. Perasaan malu ini membuat wajahku merah merona.
Danu, kamu apakan aku?
"Temenin aku yuk!" Tiba-tiba ia mengajakku entah kemana.
"Ke??" Tanyaku singkat.
"Ke hatimu!"
"Ck!" Aku hanya bisa berdecak mendengar jawabannya, jika saja kami berdekatan dan tak duduk bersebelahan mungkin ia sudah kupukul.
Namun, hatiku ini begitu senang mendengarnya.
"Aku bercanda," ungkapnya sembari terus terkikik kecil.
Sadar diri, Ayuna! Baru beberapa detik rasa senang yang timbul akibat ia melambungkanmu setinggi langit, kini kamu telah dijatuhkan olehnya.
Aku hanya membisu, sembari menunggunya menghabiskan mie yang tersisa dengan perasaan yang kesal.
"Mau 'kan?" Tanyanya lagi.
"Mau apa?" Aku pun balik tanya dengan wajah datar.
"Temenin aku," jawabnya sembari menyeruput habis kuah mie cup.
"Enggak!" Tolakku.
Matanya pun membola, "lah, kenapa?"
Aku hanya bungkam, mengalihkan tatapanku ke arah lain.
"Kamu marah?"
"Dih!" Aku langsung mencibir, "ngapain aku marah!!"
"Tapi, aku lihat kamu emang lagi marah!" Jelasnya.
"Marah?? kenapa??" Tanyaku, memberanikan diri menatapnya. Seakan otakku menampik tuduhannya, sedangkan hatiku mengakui.
"Tuh, 'kan!" Ia hanya menyunggingkan senyuman. Bahkan tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Udah, jangan manyun-manyun!" Ia beranjak dari duduk, mengambil bekas cup mie yang sudah tandas dari hadapanku. Membawanya ke arah di mana kotak sampah berada.
"Hayuk, mau ikut nggak?" Ajaknya lagi. Entah akan pergi ke mana, aku pun tak tahu.
"Nggak mau!" Tolakku.
"Terus??" Ia mengangkat sebelah alisnya, mencondongkan tubuhnya hingga berada sedikit dekat denganku.
"Aku mau pulang!" Aku tak punya pilihan lain, menghindarinya saat ini adalah tindakan yang harus aku ambil, meski sebenarnya itu tidak tepat.
Aku pun beranjak dari kursi, meninggalkan dia yang masih terpaku di sana tanpa kata.
Aku mencoba membuka pintu, namun kini tanganku telah di genggam erat olehnya.
__ADS_1
"Nggak usah pulang, aku mau kita berdua dulu,"